Nahyanna

Nahyanna
BAB 60


__ADS_3

"Ini uangnya, Pak. Kembaliannya ambil aja," ujar Anna setelah memberikan uang pada supir taksi yang ditumpanginya.


"Oh iya, Neng. Terima kasih ya," ujar si Bapak dnegan wajah yang tersenyum senang.


Anna hanya tersenyum, lalu turun dari mobil taksi. Dia berlari menuju  ke apartemen Nahyan. Sesampainya di apartemen, Anna memasukkan kode keamanan dan langsung masuk ke apartemen.


"Permisi!" kata Anna sambil memasuki apartemen. Namun, hanya kesunyian yang menyambutnya.


"Mereka mana? Masa ke RS duluan? Guenya gak dikabarin nih? Udah bawa baju gue buat nginep," gumam Anna sambil memasuki apartemen Nahyan lebih jauh.


Anna menghidupkan lampu di dekat dapur, lalu saat tatapannya mengarah ke arah TV matanya menangkap benda asing yang menempel di layar kaca TV. Di dekatinyalah TV itu dan mencopot sebuah notes yang tertempel disana.


Seperti yang gue bilang, gue mau ngapelin cewek-cewek gue. Nahyan ada di kamarnya. Lo langsung ke atas aja. Gue percayakan Nahyan pada lo 😙


^^^Tertanda,^^^


^^^Suganteng^^^


Selesai membacanya, Anna meremukkan notes itu dengan perasaan kesal. "Terus gue sendirian gitu ngebopong dia ke RS? Gila apa ya?" gerutu Anna kesel. Meski begitu, dia tetap ke atas juga.


"Nahyan?" panggil Anna sambil membuka pintu kamar Nahyan.


Nahyan yang baru akan melepas boxernya, melotot saat melihat kepala Anna menyembul dari balik pintu.


"KELUAR!!" teriak Nahyan.


"I-iya, iya!" gagap Anna sambil mencuri-curi pandang pada roti sobek milik Nahyan, lalu perlahan matanya turun, semakin turun ke bawah, dan berhenti pada boxer yang dipakai cowok itu.


Anna tersenyum seperti orang mesum.


'Njiir, Tayo'


"KELUAR ANNA!" ulang Nahyan.


"Iya lho ini mau keluar!" ketus Anna dengan wajah yang seperti kepiting rebus.


"Tayo," ejek Anna sambil tersenyum miring sebeum dia benar-benar keluar dari kamar Nahyan.


Nahyan menghela napas berat. Sebenarnya dia berniat mandi karena badannya terasa lengket. Tapi, sepertinya tidak memungkin dengan kehadiran Anna di sini.


Nahyan mengambil celana yang tadi dilemparnya sembarang tempat dan memakainya.


"Tok, tok, tok udah selesai belum?" ucap Anna dari luar kamar.


Nahyan yang sudah memakai celana, membukakan pintu kamarnya. Anna berbalik saat Nahyan membuka pintu, dan tepat saat itu juga Anna menutup bibirnya dengan kedua tangan. Siapa sih yang gak kaget di sambut roti sobek cowok seganteng Nahyan.


"Njim, lo pamer apa gimana?" tanya Anna.


Nahyan memutar bola matanya, dan hanya masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa.


"Lo ngapain berdiri di situ? Fungsi lo di sini ngobatin gue kan?" sindir Nahyan yang kesannya acuh tak acuh.


Anna mengerucutkan bibirnya. Di bukanya pintu kamar lebar-lebar, lalu duduklah dia dipinggir tempat tidur tepatnya di samping Nahyan yang membelakanginya.


"Ambilin kotak P3K di bawah tempat tidur. Gue gak bisa ngebungkuk," ujar Nahyan.


Anna melakukan seperti yang dibilang Nahyan. Gadis itu membungkuk dan mengambil kotak P3K.


"Kok bisa lebamnya gede-gede gini?" tanya Anna sambil menyentuh lebam Nahyan yang terletak di punggung.


Nahyan memejamkan matanya saat tangan Anna menyentuh kulit telanjangnya. Ada sensasi yang berbeda saat Anna melakukan itu.


"Diem. Kasih aja salepnya," kata Nahyan yang berusaha tetap pada akal sehatnya.


Anna mengerucutkan bibirnya, lalu mengambil sebuah salep untuk luka lebam dan mengoleskannya pada tempat-tempat yang ada luka lebamnya.


"Bisa gak pelan-pelan ngolesinnya? Kasar banget." Nahyan menoleh dengan tatapan sinis. Padahal aslinya, jantungnya sudah berdetak sangat kencang.


Nahyan diam-diam melirik ke arah belakang tepatnya ke arah Anna, meski dia tau wajah Anna tidak akan terlihat kalau dia tidak menoleh.


Bagaimana mungkin Anna tetap tenang berada di tempat yang hanya ada Nahyan dan dirinya? Seharusnya gadis itu lebih waspada dan tidak mempercayai Nahyan sepenuhnya. Bagaimanapun juga, Nahyan adalah laki-laki normal. Masih ada insting pada lawan jenisnya, terlebih lagi pada Anna yang disukainya.


"Ya maaf," Anna menutup salep, "udah selesai. Kita ke RS yuk?"

__ADS_1


Nahyan berjalan mengambil bajunya yang tergeletak di lantai menggunakan kaki.


"Gak. Cuma luka kecil." Nahyan memakai bajunya.


Anna memperhatikan gerak-gerik Nahyan yang terlihat gelisah saat memakai baju.


Merasa kesal karena merasakan sakit yang luar biasa dibagian punggung, dan pundaknya Nahyan melempar baju ditangannya ke sembarang arah.


"Sakit, kan? Ayo kita ke RS aja," bujuknya masih memperhatikan gerak-gerik Nahyan. Cowok itu sekarang sedang memungut bajunya kembali dengan kakinya.


"Lo gak ada niat bantuin gue apa gimana? Mending pulang, deh!" ucap Nahyan tanpa melihat Anna.


Anna menaikkan kedua alisnya dan tersenyum geli. Sikap pacarnya yang gengsi dan malu-malu benar-benar menggemaskan baginya.


Anna bergerak dari atas tempat tidur, lalu berdiri.


"Sini ngedeket," ujar Anna yang berdiri di atas tempat tidur. Maklum, Nahyan sangat tinggi. Kalau Anna turun jelas yang ada dirinya hanya menambah beban saja.


Anna membantu Nahyan memakai bajunya. "Akh! Pelan-pelan!"


"Ini udah pelan!"


"Shit! Gue bilang pelan apa susahnya sih?!"


"Ini udah pelan ******! Makanya kalo disuruh ke RS itu ya nurut! Susah sendiri kan jadinya. Mau gue telepon emak lo apa gimana?"


"JANGAN!" Anna tertegun. Untuk pertama kalinya Anna melihat wajah Nahyan yang ketakutan.


"Yaudah, nurut sama gue!"


Nahyan memasang tampang bete.


"Ini tangannya kok bisa luka gini?" tanya Anna menangkap telapak tangan Nahyan yang berdarah. Meski tidak banyak, luka sayat itu masih mengeluarkan darah segar.


"Kegores."


"Yang bener jawabnya!"


"Terus? Jangan setengah-setengah ngomongnya!"


"Ada manusia."


"Hooh. Terus?"


"Mau nusuk gue waktu gue sibuk mukulin temennya. Habis itu gue pegang pisaunya, terus dia narik paksa pisau yang gue pegang. Selesai."


"Kenapa gak pegang tangan orangnya dari pada pegang pisaunya?"


"Gak kepikiran."


Anna berdecak. "Kalah apa gimana?"


"Hm?" Nahyan menatap Anna aneh.


"Waktu itu lo 14 lawan 1 aja menang. Masa sekarang enggak? Kenapa? Udah karatan?" ejek Anna sambil memperhatikan luka sayatan Nahyan. Sebenernya dia gemas ingin menekan luka itu hingga berdarah. Tapi, yah, janganlah sayang, Nahyan pacar satu-satunya yang Anna miliki.


"Siapa bilang gue kalah?"


"Kata Suga lo dikeroyok."


"Emang dikeroyok, tapi bukan berarti gue kalah."


"Tapi keadaan lo begini. Gimana ceritanya menang?"


Nahyan menyeringai. "Lo pikir yang ngelawan gue kondisinya bakal lebih baik dari gue? Jangan remehin gue Anna. Selama ini belum ada orang yang berantem sama gue gak dirawar di rumah sakit."


Anna terdiam mendengar ucapan Nahyan. Yah, sebagai orang yang pernah menyaksikan Nahyan berkelahi, Anna akui Nahyan sangat hebat bahkan, cowok itu mirip monster yang mengamuk.


"Ini lukanya gue bersihin dulu, sama yang dimuka lo juga gue bersihin dulu. Habis itu kita ke RS. Gak usah bantah!" kata Anna dengan aura yang mendominasi.


Nahyan yang tadinya ingin protes jadi berdiam diri karena mengetahui Anna sedang dalam mode kesal. Sebelas-duabelas dengan Mamanya kalau lagi marah.


"Oh iya. Kalo lo susah pake baju langsung, mending ganti pake kemeja," celetuk Anna sambil menyengir. "Kan mudah tuh,

__ADS_1


"...." 😐


...***...


"Menurut lo ada yang aneh gak?" ujar Suga yang tengah dikelilingi gadis-gadis cantik yang dikencaninya.


Fabian yang tengah memainkan game di ponselnya melirik teman dekatnya itu.


"Ntah," jawab Fabian seadanya lalu kembali fokus dengan gamenya.


"Gue serius!"


"Lo gak jelas!"


"Gue rasa ada yang salah sama Anna." Seketika tangan Fabian yang memainkan game terhenti mendengar ucapan Suga dan menatapnya penuh tanya.


"Apa?" tanyanya.


Suga tersenyum samar begitu tau Fabian terpancing. Sebenarnya dia sudah lama curiga, namun lebih memilih diam karena merasa ini bukanlah hal yang penting.


"Cantik-cantikku, coba main aja dulu di sana," bisik Suga pada gadis-gadis cantik di sampingnya. Tak perlu waktu lama, gadis-gadis itu meninggalkan Suga berdua dengan Fabian.


"Beberapa hari yang lalu, gue nyari tau tentang kecelakaan yang dialami Anna." Suga menatap serius Fabian. "Ada hal aneh yang gue temuin."


"Apa?" tanya Fabian dangan raut wajah yang tak bisa diartikan.


"Kecelakaannya seperti dibuat-buat, dan lagi gak ada bukti spesifik yang menyatakan kalau luka yang dialami Anna itu adalah tak lain kecelakaan."


"Jadi, maksud lo ada yang ...." Fabian mengusap wajahnya frustras begitu melihat Suga mengangguk. "Tapi siapa?"


"Itu dia. Gue gak bisa dapetin satupun informasi tentang siapa pelaku kekerasan yang dialami Anna. Ah, satu lagi," Suga menatap Fabian. "Ini hal yang paling ganggu pikiran gue."


"Menurut CCTV rumah sakit, ada dua orang yang masuk ke dalem ruang inap Anna. Lalu, setelah dua orang ini keluar, Anna nyusul keluar menuju arah yang berlawanan dengan dua orang tadi."


Fabian mengerutkan dahinya. "Gimana, gimana? Lo ada salinan videonya?"


Suga mengeluarkan ponsel dari dalam saku, lalu menyentuh dan menggeser-geser layarnya. Saat dia mrnemukan apa yang dicari, Suga menyerahkan ponselnya pada Anna.


"Menurut lo, kenapa seorang pasien keluar ruangan tanpa ngegunain infus?"


Fabian menggelengkan kepalanya. "Gak. Emang kenapa?"


"Gue juga gak tau," celetuk Suga dengan wajah serius. Fabian berdecak sebal.


"Nahyan tau ini gak?" tanya Fabian.


"Gue rasa gak. Karena kalau Nahyan tau, gue khawatir dia bakal ngelakuin hal ceroboh salah satunya menghubungi polisi. Gue juga khawatir ada orang besar dibalik semua ini. Soalnya, rapi banget nutupin jejaknya. Yah, meski gue yakin gak ada orang yang lebih berpengaruh dari keluarga Rabusy. Tapi kita gak bisa ambil resiko, bagaimanapun orang besar tetaplah orang besar."


"Gimana... kalau orang besar itu gak lain adalah keluarga Anna sendiri?" ujar Fabian sambil menatap Suga, "masuk akal kan kenapa hampir gak ditemuin jejak."


"Kalau gitu, Nahyan harus ta--" Fabian mencegah jalan Suga.


"Seperti kata lo tadi. Jangan ceroboh. Untuk sekarang, awasi aja dulu," bisik Fabian.


"Oke. Gue mau balik," kata Fabian sambil meninggalkan Suga yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Oh iya, berhenti maenin cewek atau karma yang lebih parah nunggu lo," ujar Fabian sebelum benar-benar pergi.


Suga menghela napas berat.


"Gue berhenti kalau gue udah nemuin dia."


°°°


Bersambung...


cek group BUCIN NAHYAN yuks..


gampang tinggal klik profilku ^^


Bebas promosi kok


__ADS_1


__ADS_2