Nahyanna

Nahyanna
BAB 71


__ADS_3

Seperti biasa aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali, dimana gerbang sekolah baru saja dibuka oleh satpam. Aku menaruh tas sekolah ku di cantulan yang berada di samping meja. Tanpa sengaja, mataku mengarah ke meja di sampingku.


Kalau mengingat Anna, benar-benar bisa membuat tensi darah naik akibat tingkah laku gadis itu yang absurd, dan pemaksa. Dia juga suka bersikap seenaknya.


Contohnya, dia dengan santainya mendaftarkan namaku mengikuti lomba tarik tambang tanpa persetujuan dariku. Saat aku menemui Bu Shelly untuk menghapus namaku dari daftar yang mengikuti lomba, aku sudah terlambat karena daftar itu sudah diserahkan pada panitia lomba.


Aku mengeluarkan buku tulisku, dan menulis sesuatu di sana seperti cerpen, ataupun novel. Walaupun hasil imajinasiku itu selalu berhenti ditengah jalan.


Menulis. Itulah hobiku. Hobi yang kuminati secara diam-diam namun kulakukan secara terang-terangan. Mengapa? Aku selalu yakin, semakin kamu ingin menyembunyikannya, semakin diperhatikan pula oleh orang-orang sekitarmu. Intinya, kalau aku melakukannya terang-terangan, tidak akan ada yang peduli dengan itu. Dan, sampai saat ini tidak ada yang tau hobiku ini.


"Pagi Bella!" sapa seseorang yang hanya dengan mendengar suaranya saja sudah membuatku malas menoleh.


"Ih, sombong!" ujarnya sambil bersandar pundakku.


Entah mengapa gadis ini suka sekali bersandar di pundakku. Padahal, dia sangat berat. Mungkin saja dia sengaja melimpahkan beban tubuhnya padaku. Dasar Medusa!


Anna membuka pembicaraan, "Lo pake baju olahraga, Bell?"


Gak! Gue pake baju renang!


Aku berusaha untuk tidak mempedulikan ucapan-ucapan gadis absurd itu. Untuk sebagian orang aneh seperti Anna contohnya, jika terus ditanggapi pasti semakin menjadi-jadi.


"Semangat ya Bell narik tambangnya. Jangan mager. Nanti kalau kelas kita menang gue traktir kuaci deh! Satu biji aja tapi."


Aku melirik Anna yang sedang memperhatikan jari-jarinya. Entah kebetulan atau memang Anna yang punya mata tambahan di kepalanya, gadis itu tau aku sedang memperhatikannya. Kemudian, dibalas tataplah aku.


"Inget, ya. Satu biji. Bukan satu bungkus," jelasnya.


Abaikan saja!


Abaikan saja dia Bella! Jangan pedulikan dia. Anna itu memang termasuk sepesies manusia aneh. Jadi, lebih baik abaikan dia dan tahan rasa jengkelmu dari pada harus meladeni dan ikut-ikutan menjadi manusia aneh.


"Ayo anak-anak segera turun ke bawah! Dukung teman-temannya yang sedang lomba! Ayoo!"


Aku menahan napas. Sialan. Aku malas jika harus turun ke bawah dan berpartisipasi dalam perlombaan. Apalagi, aku satu team dengan Deana. Aku memang tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentang aku, hanya saja cara Deana menatapku mengingatkanku akan ingatan yang menyakitkan tentang seseorang. Maka dari itu sebisa mungkin aku menghindarinya.


"Ayo turun, Bell!!"


Anna menarik lenganku dengan paksa, dan kubalas dengan tatapan tidak suka.


"Gak!" tolakku.


"Tapi gue gak terima penolakan. Gue tuannya di sini," katanya sambil menyeret paksa diriku.


Saat sudah berada di luar kelas, aku harus menyaksikan tingkah laku bodoh Anna. Gadis itu hampir saja meneteskan air liur karena melihat cowok-cowok yang berlalu lalang.


Aku tersenyum samar saat dari arah kiri melihat rombongan Nahyan menuju ke arah aku dan Anna berdiri. Hal ini membuatku menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya, cukup menghibur melihat interaksi Anna dan Nahyan. Kedua insan itu memang serasi hingga terkadang aku merasa iri.


Kuperhatikan Nahyan yang menutup mata Anna dengan kedua tangannya.


"Jaga mata!"


Anna tersenyum lebar.


"Cowok gue ganteng banget deh!" katanya sambil menduselkan wajahnya ke dada bidang milik Nahyan. Sedangkan Nahyan memalingkan wajahnya dengan wajah yang sedikit merona.


Aku mengerutkan dahiku.


Ukh! Mereka berdua ini benar-benar menggelikan.


"Biasa aja," jawab Nahyan yang terlihat malu-malu.


Dasar gak bisa jujur sama diri sendiri!


"Itu yang mesra-mesraan ayo segera turun ke bawah! Jangan menghambat jalan!" ucap guru yang sedari tadi keliling menggunakan toa.


Kulihat Anna melepaskan pelukannya, dan menggumamkan sesuatu. Namun aku tidak bisa mendengarnya karena suaranya yang pelan.


"Ayo ke bawah!" ajak Nahyan sambil merangkul dan menyeret Anna pergi.


Aku menarik napas panjang, lalu masuk kembali ke kelasku. Untunglah Nahyan datang, jadinya aku tidak perlu membuang-buang tenaga ke bawah. Semoga saja ada yang menggantikan aku. Semoga.


Aku kembali sibuk dengan tulisanku. Hal ini benar-benar menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi, suasana hening dan aku yang sendirian begini sangat cocok untukku menulis sampai sebuah suara membuyarkan konsentrasiku.


"Oi! Ayo turun!"


Aku melirik sekilas ke ambang pintu kelas. Kupikir guru tapi ternyata hanya Suga. Sungguh mengesalkan, aku jadi lupa apa yang akan kutulis karena kehadiran cowok itu.


Aku kembali menulis tanpa mempedulikan Suga. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, namun lagi-lagi aku memilih tidak peduli.


"Oi! Denger gak?"


Lagi-lagi, konsentrasiku buyar. Aku angkat wajahku dan bersiap-siap untuk menyemprotkan kata-kata kasar pada cowok itu. Namun, hal yang terjadi selanjutnya malah membuatku shock. .


"Huh?" Cowok itu terlalu dekat!

__ADS_1


Saat bibirku hampir saja mencium bibir Suga, aku segera mengambil tindakan cepat seperti membuat gerakan mundur secara tiba-tiba. Namun, gerakanku terlalu bertenaga sehingga kursi yang kududuki tidak sanggup mendahan dorongan dan terjatuh.


Aku reflek menutup mataku.


"Aaah!"


BRAK!!


Bersamaan dengan teriakanku terdengar suara kursi yang menghantam lantai. Anehnya, aku tidak merasakan guncangan saat jatuh menjungkal.


Kubukalah sebelah mataku untuk melihat apa yang terjadi. Nyatanya, aku tidak terjatuh. Hanya kursiku saja yang jatuh.


Aku tersadar kalau masih ada orang lain di kelas ini selain aku.


Benci!


Gue benci!


Ngapain cowok playboy ini di sini sih?!


Gue bener-bener benci dia!


Aku benar-benar membenci Suga. Dari dulu hingga detik ini. Benar-benar membenci cowok itu.


"Hati-hati dong! Kalau ja--"


Aku mengerutkan dahiku saat ucapan Suga terhenti.


Dasar cowok Aneh!


Detik selanjutnya, aku sadar kalau tanganku dipegang oleh Suga dan saat itu juga aku menghempaskan tangan cowok itu dariku.


Aku memegangi bagian tanganku yang habis dipegang Suga. Sensasi saat tangan besar itu mencengkram lenganku masih terasa. Dan hal inilah yang membuat Bella merasa jijik.


Dia bersentuhan langsung sama gue! Kenapa gue bisa lengah gini sih?!


"Gimana kalau dia baca pikiran gue?" batinku yang merasa gelisah.


Ya, aku tau Suga bisa membaca pikiran lewat sentuhan langsung dengan orang lain. Mungkin saja Suga tidak ingat, tapi aku akan selalu ingat bagaimana perlakuannya terhadapku saat di Sekolah Dasar dulu. Hanya karena aku tidak sengaja mendengar rahasianya, dia membuliku habis-habisan. Dan lagi, teman-teman yang lainnya juga ikut-ikutan.


Aku melayangkan tatapan sinis pada Suga, dan melangkah pergi dari tempat itu. Lebih tepatnya, aku melarikan diri dari Suga.


"Bell!"


Terdapat tekanan yang mengintimidasi dari nada suara Suga, sehingga secara tidak sadar aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah Suga yang berdiri membelakanginya.


"Lo benci sama gue?" tanya Suga sambil membalikkan tubuhnya. Cowok itu menatap wajahku intens.


Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat saat tatapan kami saling beradu.


Entah mengapa aku merasa kecolongan. Padahal, beberapa hari ini aku selalu menghindari kontak fisik secara langsung dengan Suga. Salahkan saja aku yang lengah.


"Lo gila?" tanyaku yang berpura-pura tidak tau apa-apa.


"Siapa lo dan siapa gue sampai-sampai gue benci lo?" sambungku.


Suga mneyeringai, lalu berjalan mendekat ke arahku.


"Tapi kenyataannya begitu kan?" bisik Suga di telinga ku.


Deg! Deg! Deg!


Jantungku memompa aliran darahku dua kali, tidak, tiga kali lebih cepat dari keadaan normal. Aku jadi takut, kalau Suga dapat mendengar suara detak jantungku.


Aku mendorong dada bidang Suga menjauh.


Kalau ada perantara seperti baju, tidak masalah harus menyentuh cowok itu. Asal jangan menyentuh kulit telanjang cowok itu.


"Mau benci atau nggak, gak ada urusannya sama lo kan? Lo gak harus peduliin gue," ujarku yang lalu pergi meninggalkan Suga dengan setengah berlari.


Lain kali, aku harus lebih hati-hati.


...***...


"Woi! Liat Anna gak?" tanya seorang cowok yang familiar bagi Bella.


Ah, Bella ingat. Dia adalah Fadil. Teman sekelasnya yang merupakan salah satu perusuh kelas.


"Gak. Gue aja abis selesai lomba," jawab Bella yang terkesan cuek.


"Lo harus gantiin!"


Bella mengerutkan dahinya.


"Gantiin apa sih?!" judes Bella yang merasa kesal. Dia tidak nyaman harus mengobrol lama-lama dengan orang lain

__ADS_1


"Estafet! Ayo! Gue cuma nemu lu anak cewek kelas kita!" ujar Fadil yang menyeret Bella menuju lapangan besar gedung B.


"Apaan sih?! Jangan nyeret-nyeret!" Bella memberontak.


Tau kalau hal ini tidak akan berhasil Fadil berkata, "Maafin gue ya, Bell," setelah itu dia mengangkat tubuh Bella layaknya sebuah bulu dan menaruh tubuh Bella di pundaknya.


"Apa-apan sih lo?!" teriak Bella yang berada di gendongan Fadil.


"Diem Bell! Nanti jatoh berdua kita!"


.......


.......


.......


Bella cemberut saat dipaksa masuk ke dalam lapangan.


"Semangat Bella," ujar Fadil yang lalu pergi menuju tribun penonton. Lebih tepatnya ke arah rombongan cowok-cowok kelasnya.


Bella menatap kesal ke arah Fadil yang sudah bersikap seenaknya, namun dia tetap masuk ke dalam lapangan.


"Lo gantiin Anna kan? Lo jadi pelari keempat bisa kan? Soalnya yang lain pada agak kurang larinya," ujar Nisa.


"Terserah," jawabnya yang lalu berjalan menuju posisi pelari keempat.


Dalam estafet, biasanya pelari pertama dan pelari keempat adalah kunci kemenangan. Bella tidak merasa larinya cepat, namun yah dia tidak buruk juga dalam hal ini.


Bella sedikit melakukan peregangan pada kakinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Akan merepotkan kalau dia sampai mengalami otot tegang, atau yang paling parah keseleo.


Iseng, Bella melihat ke arah tribun penonton. Tapi sialnya, tatapannya malah langsung bertemu dengan Suga. Cowok itu menatap Bella dengan sangat intens dan tidak berkedip. Karena merasa tidak nyaman, Bella segera mengalihkan tatapannya.


"Kayaknya kedepannya bakal sulit buat menghindar," gumam Bella yang memasang posisi start berdiri saat wasit tengah memberikan aba-aba.


'Dor!'


Tembakan pun dilepas, pelari pertama segera berlari menuju pelari kedua. Bella memperhatikan gadis yang seingatnya bernama Vira berlari menuju pelari kedua, Sania.


Kelas A-4 memimpin.


Bella sedikit merasa senang, dan entah sejak kapan jantungnya berdebar kencang.


Bella tersenyum lebar.


Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini. Rasanya asing, namun tidak buruk juga.


Ketika Sania berlari menuju Nisa sekuat tenaga agar mempertahankan posisi mereka yang memimpin. Saat sudah berada di dekat Nisa, Sania segera menyerahkan tongkat estafet atau baton pada gadis itu.


Nisa menerima baton dengan mulus, namun saat berlari menuju Bell sang pelari keempat, Nisa terjatuh karena sejak awal kakinya tidak berhenti gemetaran.


Bella terkejut, dilihatnya Nisa yang seperti ingin menangis ketika peserta yang lain mendahuluinya.


"Ayo Nis! Jangan diem aja!" teriak Bella.


Nisa mengeratkan pegangannya pada baton, lalu kembali bangkit dan berlari dengan kencang walaupun memiliki luka di lututnya.


"Serahin sisanya sama gue," ujar Bella saat menerima baton.


Bella memang tidak terlihat seperti orang yang pandai dalam olahraga. Namun, jangan salah sangka. Dulunya dia sering berlari dari orang-orang yang buah dari pohon mangganya dia curi. Bahkan, sampai sekarang terkadang Bella masih mencuri mangga. Jadi, jangan heran kalau lari Bella termasuk cepat diantara gadis-gadis lain. Toh, dia sering berlari karena dikejar sang pemilik pohon mangga.


Bella berlari dengan langkah lebar untuk memaksimalkan jangkauan nya, dan berlari dengan seluruh tenaga yang dia punya. Alhasil, kelasnya kembali memimpin hingga mencapai garis finish.


"Wooooaaaah!!" para penonton berteriak heboh.


Bella menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Napasnya terlihat tersengal-sengal. Walaupun begitu, dia tersenyum lebar karena mendapatkan sorakan-sorakan heboh.


"Huaaa!! Lo hebat banget!!" Nisa menimpa tubuh Bella dan ikutan tiduran dilantai, disusul dengan Sania dan Vira.


"Ukh!" Bella meringis keberatan. "Minggir!" katanya sambil mendorong pelan tubuh Nisa yang menimpanya.


"Gue gak tau, lo sehebat itu."


"Gue pikir lo cuma kutu buku yang sibuk sama dunia lo sendiri."


Bella melirik sekilas Sania dan Vira. Dia tidak menjawab dan hanya menatap langit yang terlihat sangat biru.


"Gue harus berterima kasih sama Anna," batin Bella. Kalau bukan karena gadis itu, dia tidak akan pernah merasakan perasaan seperti ini.


°°°


Bersambung...


Au ah boma ye kan


Lusa ye aing updatenya. sengaja update hari ini karena besok mau ada acara.

__ADS_1



__ADS_2