Nahyanna

Nahyanna
BAB 29


__ADS_3

Hai gais, Miranda (Induknya Nahyan) aku ganti aja jadi Nyonya Rabusy ya. Lebih enak gitu. Jadi berasa orang kayanya :v


🌟Enthusiasm chapter 29🌟


Happy Reading!


"Yakin lo bisa ngalahin gue?" Nahyan mengambil stick billiard dari dalam lemari kaca dan melemparkannya pada Anna. Lalu dia mengambil stick billiard untuk dirinya sendiri.


"Fifty-fifty, lah...." Anna mengoleskan kapur biru berbentuk kotak pada ujung stick billiard.


"Tapi, jangan remehin gue gitu."


"Gue gak yakin cewek bisa main billiard."


Anna mendelik.


"Gimana kalau kita taruhan?" saran Anna sambil menunjukkan senyum dua jarinya.


"Yang kalah, harus bayarin makan. Gimana?"


Nahyan mendecak. "Makan aja pikiran lo. Utang nasi goreng lo aja gue yang bayar," sindir Nahyan.


Anna mengambil ancang-ancang untuk memukul Nahyan dengan stick billiard.


Greget Anna, tuh.


"Gue ngamuk ini," ancam Anna membuat Nahyan menyunggingkan senyumnya. Namun, sedetik kemudian senyum itu menghilang.


"Oke, yang kalah jangan nangis." Nahyan sangat percaya diri dengan skill-nya.


Anna tertawa dalam hati. Dia tidak sabar untuk menguras isi dompet Nahyan dan membeli macam-macam makanan yang dia mau.


"Siapa takut!"


"Gue bola solid dan lo stripes." kata Nahyan pada Anna


Beberapa menit kemudian...


"Ah, sial!" kata Nahyan saat Anna berhasil memasukkan bola 8 saat semua bola stripesnya sudah habis.


Anna memenangkan telak permain. Jujur saja, Anna dulu sering mengikuti turnamen billiard. Jadi, tidak heran dia bisa mengalahkan Nahyan. Meski dia sudah lumayan lama tidak bermain billiard.


"Nah, Tuan Muda Nahyan yang Terhormat, siap-siap dompet lo gue kuras abis." Anna memasang ekspresi menyebalkan.


Nahyan berwajah datar. "Gak akan abis," jawab Nahyan yang dongkol.


Nahyan tidak terima. Bagaimana mungkin dia bisa kalah? Nahyan yang terjago di antara teman-temannya.


Anna menepuk pundak Nahyan. "Terima kekalahan, Nahyan. Dan traktir gue makan sepuasnya."


Nahyan menghela napas, lalu mengacak-acak rambut Anna. "Iya, Nona Anna yang Terhormat."


Anna tertawa kecil.


"Anna? Nahyan? Yuk! Makan siangnya udah jadi," ucap Nyonya Rabusy yang tiba-tiba saja sudah berada di ruang billiard.


•••


"Anna di sekolah sekelas sama Nahyan?" tanya Nyonya Rabusy sambil memegang garpu dan sendok di masing-masing tangan.


Anna menikmati makan siangnya bersama keluarga Rabusy, namun sepertinya Nahyan tidak berpikir begitu juga. Sedari tadi, cowok itu bergerak gelisah di samping Anna.


Bisa kena damprat Nahyan kalau Ibunya sampai tau anaknya memperbabu anak orang.


"Anna beda sekolah sama Nahyan!" sela Nahyan yang diakhiri kerutan di wajahnya. "Maksudnya, beda se ... beda kelas."


Ibu Nahyan mengerutkan keningnya.


"Yang tanya kamu siapa?"


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ibunya, Nahyan berdecak sebal lalu menyantap makan siangnya dengan gegana alias gelisah galau merana.


"Nahyan di sekolah gimana?" tanya Ibu Nahyan menampilkan senyum ramahnya.


Nahyan berkeringat dingin.


Menyadari reaksi Nahyan yang aneh, Anna menjawab. "Baik kok, Tante." jawab Anna yang membuat Nahyan merasa sedikit lega.


"Ah, yang bener? Tante itu sering lho dapet telepon dari gurunya Nahyan," ucap Ibu Nahyan. "Kerjanya bolak-balik ruang BK."


Anna mengerjapkan matanya beberapa kali.


Kalau sudah tau anaknya bagaimana, kenapa harus bertanya pada Anna? Kan Anna jadi khawatir, kalau-kalau dia salah menjawab makhluk bar-bar yang berada di sampingnya nanti mencak-mencak.


Omong-omong, ternyata Nahyan punya saudara laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya. Namanya Dhyo Rabusy. Seperti yang diharapkan dari keluarga Rabusy, Dhyo tidak kalah tampan dengan Nahyan atau Om-Om hot alias Tuan Rabusy.


Kalau Anna perhatikan, Nahyan lebih ekspresif dibanding kakak dan ayahnya. Semua itu terbukti, mereka tidak banyak menampilkan ekspresi. Sebenarnya, Anna gemas dengan Dhyo. Ekspresinya yang datar itu lho yang imutnya gak ketulungan. Kalau Nahyan kan, ekspresi datarnya menyeramkan sepeti gerandong. Berbeda dengan Dhyo, cowok itu benar-benar imut meski hanya memasang tampang datar.

__ADS_1


Harus minta foto!


Nahyan melayangkan tatapan menghunus saat tau Anna menatap Dhyo hingga hampir mengeluarkan air liur.


Sadar akan tatapan tajam Nahyan, Anna menundukkan kepalanya.


"Kamu tau gak, masalah Nahyan yang katanya mukul perempuan itu?" tanya Nyonya Rabusy.


Anna dan Nahyan saling melirik.


"Ah iya, tau Tante." Anna menjawab dengan ragu-ragu.


"Anna kenapa ngeliatin Nahyan terus?" tanya Nyonya Rabusy.


Mamp-us, ini emak-emak frontal amat!


Anna tersenyum kaku, lalu menggaruk pelipisnya. "Nggak, Tante."


"Kamu tau kronologinya gimana? Soalnya Nahyan gak mau ...."


"Ma, biar Anna-nya makan dulu," ucap Tuan Rabusy lalu memasukkan sesendok kuah soup.


Nahyan tersenyum samar. Ini yang dia tunggu-tunggu sedari tadi. "Iya, Ma. Kasian, Anna. Tadi ngerengek minta makan dia sama Nahyan."


Anna memelototkan matanya.


Sejak kapan dirinya merengek?!


Nahyan seolah tidak mengetahui Anna yang memprotes lewat tatapannya.


•••


"Anna pulangnya hati-hati ya," ucap Nyonya Rabusy sambil memegang kedua tangan Anna.


"Iya, Tante." Anna menjawab dengan senyum canggung.


"Anna biar Nahyan aja yang anter, Ma," kata Nahyan dengan wajah memelas.


"Anna dianter Pak Sujoyo aja. Mama ada perlu sama kamu." Nyonya Rabusy tersenyum penuh misteri.


Nahyan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jelas dia tidak bisa menghindari Ibunya dan kabur ke apartemennya.


"Kalau gitu Anna pulang, Tante." Anna masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Rabusy.


"Hati-hati," Setelah mengatakan itu, mobil yang ditumpangi Anna pun melaju.


Anna menjilat bibirnya setelah memberikan lambaian pada anggota keluara Rabusy.


Benar-benar tidak seperti orang kaya yang sombong.


Anna sempat berfikir dan khawatir, ibunya Nahyan akan melemparkan sejumlah uang pada Anna agar dirinya menjauhi Nahyan, begitu tau kalau Anna bukanlah siapa-siapa. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Padahal, kalau dirinya dilempari uang, dengan senang hati Anna memungutnya. 🙂


Astaga, Anna ini berdosa banget.


Anna menggigit ibu jarinya karena merasa ada sesuatu yang janggal. Seperti ada yang kurang.


Ah, benar!


"Pak, bisa kita putar balik arah? Ponsel saya tertinggal." Anna berkata dengan ragu.


"Oh, siap Nona." ucap Pak Sujoyo sambil memutar stirnya.


Mobil yang Anna tumpangi berbalik arah menuju kediaman Rabusy kembali. Setelah sampai, Anna masuk ke dalam mansion mewah milik keluarga Nahyan yang untungnya pintunya masih terbuka lebar.


Anna sedikit kebingungan karena dia tidak menemukan satu orang pun di ruangan terdepan ini. Jika ingin masuk lebih dalam, Anna merasa tidak enak karena dia bukan siapa-siapa.


Saat Anna menoleh ke samping kanannya, Anna mendapati Nahyan yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.


Anna tersenyum lega, dan tanpa ragu mendekati Nahyan.


Plak! Plak!


"Akh!" Nahyan meringis kesakitan.


Anna membeku saat melihat apa yang terjadi.


"Ayo, ngaku! Berapa kali kamu sentuhan sama lawan jenis?" tanya Nyonya Rabusy setelah memukul telapak tangan Nahyan menggunakan rotan.


"Empat kali, Ma," jawab Nahyan yang seperti seekor tikus yang hendak dimangsa ular.


"Tadi Mama udah mukul dua kali. Jadi, tinggal dua kali lagi." kata Nahyan saat ibunya akan memukulnya kembali dengan rotan.


Sret!


Secara tidak sengaja, Anna menyenggol bingkai foto di atas meja. Untungnya bikai foto itu tidak terjatuh ke lantai dan rusak.


Nyonya Rabusy dan Nahyan mengalihkan perhatiannya pada Anna yang sekarnag sedang tersenyum canggung.

__ADS_1


"Anu... sa-saya gak lihat apa-apa!" kata Anna dengan tersendat-sendat.


Nahyan mengusap wajahnya kasar.


Hancur sudah image yang dijaganya. Rahasia Nahyan juga terbongkar.


"Nahyan anterin Anna pulang dulu, Ma." Nahyan melangkah lebar menuju tempat Anna berdiri saat ini. Lalu menyeret gadis itu keluar dari mansion.


"Eh, eh ...."


"Ponsel gue ketinggalan di tempet billiard!" kata Anna saat Nahyan mendorong nya masuk ke arah kursi depan mobil yang ditumpangi Anna tadi.


Nahyan diam tidak merespon.


"Pak, biar saya yang antar Anna." ucap Nahyan setelah membuka pintu pengemudi.


Pak Sujoyo keluar dari mobil tersebut, lalu sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Nahyan yang telah menduduki kursi pengemudi.


•••


"Pffft...." Anna tak bisa menahan tawanya saat berads di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang ini. "HAHAHAHA!"


Nahyan melirik Anna sekilas. Dari ekspresi wajahnya, Nahyan terlihat sangat kesal.


"Sumpah. Ini. Lucu!" kata Anna yang masih tertawa terbahak-bahak.


Nahyan menarik selembar tisu di kotak tisu yang berada di atas dashboard, lalu memasukkan tisu itu ke dalam mulut Anna yang terbuka.


"Pweh!" Anna melepehkan tisu yang baru saja di masukkan Nahyan. "ISH! JAHAD KAMU YA!"


Nahyan memutar bola matanya. "Berisik!"


"Jadi, itu sebabnya?" tanya Anna.


"Apanya?" Nahyan masih fokus mengemudi.


"Lo gak ngerokok atau kenakalan remaja lainnya?"


Nahyan mengambil napas panjang-panjang lalu menghembuskannya.


"Ya, gitu. Gue gak dididik orang tua gue untuk ngerokok, minum-minuman. Dari kecil, Mama selalu tegas sama anak-anaknya. Selain itu, gue dididik gak boleh lecehin perempuan. Hal-hal kecil kayak nyentuh perempuan dengan sengaja aja gak boleh. Bisa kena rotan gue."


Anna mengangguk mengerti. "Jadi, ini sebabnya lo anti banget disentuh cewek sampe dikira homo?"


Nahyan berdecak sebal. Namun, itu benar adanya. Nahyan dikira homo karena anti banget sama yang namanya cewek, apalagi sampai disentuh.


Nahyan menganggukkan kepalanya. "Begitulah."


"Tapi, lo sering tuh megang-megang tangan dan ngacak-ngacak rambut gue."


Nahyan melirik Anna sebal. "Makanya itu, semenjak deket sama lo gue kena rotan terus!"


Anna kembali tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban Nahyan yang tidak terduga sama sekali.


"Aduh... tolong... perut gue sakit... hahaha..."


Anna mengarahkan tubuhnya menghadap Nahyan yang sedang mengemudi saat tawanya sudah mereda.


Gadis itu memperhatikan sosok tampan Nahyan lamat-lamat.


"Lama-lama muka gue berlubang, Na." sindir Nahyan yang langsung membuat Anna kembali tertawa.


Anna memegangi perutnya. "Aduh... ya ampun. Gue receh banget," kata Anna sambil mengusap air mata di sudut matanya.


Nahyan mendecak. Entah sudah keberapa kalinya Nahyan mendecak karena ulah Anna yang menyebalkan.


Anna tersenyum manis saat Nahyan meliriknya. "Lo sadar gak sih kalo lo itu ganteng," ucap Anna secara tak sadar.


CIT!!!


Nahyan menginjak rem secara mendadak karena mendengae ucapan Anna.


"Aw!" Anna meringis kesakitan saat kepalanya membentur dashboard karena dia tidak memakai sabuk pengaman.


Nahyan menatap Anna tajam.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi! Bahaya!" ucap Nahyan dengan galaklalu kembali melajukan mobilnya.


Bahaya untuk jantung maksudnya.


Nahyan meringis saar merasakan jantungnya berdetak tak karuan.


Kalau mendengar dari mulut gadis lain, Nahyan akan terkesan marah, tak nyaman, dan tak senang. Tapi, entah mengapa, jika Anna yang mengatakan dirinya 'ganteng', seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.


Anna yang sadar kalau dia sudah keceplosan, langsung memukul-mukul bibirnya pelan. "Kebiasaan!" gumam Anna.


°°°

__ADS_1


Bersambung...


LIKE, KOMEN, DAN RATE 5!! BOMAT, GAK MAU TAU! ❤⚠


__ADS_2