
Bella terbangun dari tidurnya. Dia langsung mengambil ponselnya untuk memeriksa jam berapa saat ini.
19.25
"Lama juga," Bella turun dari tempat tidurnya.
Gadis itu segera mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu dan dompet yang berada di atas meja kecil yang biasa dia gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah.
"Eh, tau gak Ibu-ibu. Janda yang nempatin rumah susun paling ujung itu, aku lihat dia sering bawa laki-laki yang berbeda-beda masuk ke rumahnya."
"Iya, aku juga sering lihat laki-laki keluar-masuk rumahnya."
"Benarkah? Aku gak merhatiin. Sibuk ngurusin anak-anak sama suamiku."
Bella yang baru saja keluar dari rumah langsung disuguhi ibu-ibu tetangga yang sedang asik menggosip.
Gadis itu meringis. Ibu-ibu zaman sekarang mengerikan. Tau hari sudah berganti malam, masih saja asik menggosip.
"Eh, ada Bella." Bella yang merasa namanya terpanggil langsung menengok. Padahal, dia berniat menghindari tetangga-tetangganya itu makanya dia memilih jalan yang lebih.
Bella tersenyum paksa. "Malem Tante Evi, Bude Sri, dan Bu Aya," sapanya dengan canggung.
"Mau ke mana, Bell?" tanya Bu Evi.
"Ini mau nyari makan. Bahan makanan rumah udah abis, jadi gak bisa masak," jawab Bella.
Bu Evi dan yang lainnya manggut-manggut. "Acara 40 harian nenekmu gimana Bell? Kamu sudah nyetak yasin, dan nyari-nyari info katering?"
Bella terdiam.
Benar. Hampir saja Bella lupa. Tapi masalahnya, uang yang Bella kumpulkan tidak sampai setengah dari biaya yang dibutuhkan untuk acara 40 harian.
Mata Bella terlihat tidak fokus.
Tiba-tiba saja Bella merasa sangat putus asa.
"Belum. Saya belum sempat karena sibuk sekolah dan kerja."
"Gimana kalau nyetak yasin dan kateringnya sama temen Ibu saja?" sela Bu Aya.
Bella tersenyum pahit. "Bella gak tau, Ibu-ibu. Uang Bella belum cukup kalau mau 40 harian. Mungkin nanti waktu 100 harian Bella ada uangnya."
"Lho? Minta saja sama Ayah mu," ujar Bude Sri.
Alis Bella tertaut. Mengapa tiba-tiba membahas tentang Ayahnya? Selama beberapa tahun tinggal di sini Bella hanya tinggal berdua dengan Neneknya. Dan karena sang Nenek sudah tiada beberapa minggu yang lalu, Bella tinggal sendirian sekarang.
"A-Ayah?" Bella memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Iya, tadi pagi kan dia datang ke sini. Tapi kamunya sudah berangkat sekolah."
__ADS_1
Bella menjatuhkan ponsel yang berada ditangannya. Dia menutup mulut dengan tangan kanan, dan tanpa dia sadari dia melangkah mundur secara perlahan.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin Ayahnya kembali menemukannya. Selama hampir tiga tahun ini, Ayahnya tidak bisa menemukan tempat tinggalnya. Tapi sekarang mengapa bisa?
"Bell? Kamu kenapa, Bell?" tanya Bude Sri saat melihat mata Bella yang berkaca-kaca dan raut wajahnya yang terlihat putus asa.
Bella tidak menjawab.
"Oh, itu dia Ayah kamu," ujar Bude Sri sambl menunjuk ke arah belakang Bella. Dan saat itu juga dia merasakan kehadiran seseorang tepat di belakangnya.
"Malam, Ibu-ibu," sapa seorang pria paruh baya sambil tersenyum.
"Malam, Pak...,"
"Ketemu juga lo," bisik pria itu pelan sehingga Tante Evi, Bude Sri, dan Bu Aya tidak dapat mendengar kecuali Bella.
"Jangan coba-coba lari lagi, Bella."
...***...
"Makasih ya, Kak. Udah dianterin pulang terus pake ditraktir segala," ujar Anna yang menatap Dhyo dari jendela mobil bagian penumpang yang sengaja di buka.
Dhyo mengangguk dengan kalem. Ekspresinya itu lho yang buat Anna gemas sendiri. Benar-benar membuat jiwa-jiwa pecinta cogan Anna meronta-ronta.
Anna menaikkan kedua alisnya.
Sejak kapan Nahyan turun dari mobil?
"Udah sana masuk!" sewot Nahyan yang sengaja bersandar di pintu mobil bagian depan tempat penumpang untuk mengganggu pembicaraan Dhyo dan Anna.
"Gak usah pake-pake drama uwu-uwu segala! Alay!"
Anna memutar bola matanya. "Dari tadi perasaan gue lo sewot mulu. Cemburu?" ledeknya.
Nahyan menatap Anna tajam.
"Pede amat lo jadi cewek!" dengusnya yang tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri Anna yang begitu tinggi. Tapi, gadis itu memang tidak ada salahnya sih. Toh, Nahyan memang cemburu dan dia malu mengakui itu.
Anna mencibir. "Bilang aja cemburu."
"Otak lo itu susah ya mencerna bahasa manusia? Gue bilang enggak ya enggak!" Raut wajah Nahyan terlihat kesal.
"Heh! Kalau yang gue gunain sekarang bukan bahasa manusia, lantas bahasa apa?! Ikan mola-mola?!" Anna tidak tahan ingin menjambak rambut Nahyan. Cowok itu tidak pernah berubah menyebalkannya. Ah, sepertinya berubah. Berubah menjadi lebih menyebalkan maksudnya.
"Bahasa Opet. Papasi papa se," cibir Nahyan.
"Minggir! Lo ganggu," ujar Dhyo sambil mendorong Nahyan ke samping. Menyingkirkan adiknya itu agar tak lagi bersandar di mobilnya.
__ADS_1
"Hari Sabtu kita fitting baju," lontar Dhyo.
Anna yang langsung mengerti maksud Dhyo, menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara. Tidak terasa, tinggal satu bulan lebih lagi dan Anna akan menyandang nama belakang Rabusy. Hatinya terasa kosong.
"fitting baju apaan?" tanya Nahyan yang menyela. Dia benar-benar tifa tau apa-apa tentang ini. Keluarganya, terutama Mamanya tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.
Dhyo dan Anna hanya melirik Nahyan.
Melihat reaksi dua orang tersayangnya yang hanya diam saja, Nahyan mengangguk. Dia cukup tau. Dia juga bisa mengerti hanya dengan membaca raut wajah kedua orang itu.
"Oke. Gue paham," kata Nahyan dengan gerak bibir yang sedikit bergetar. Lalu, dia kembali masuk ke dalam mobil.
Anna menunduk.
Nyut!
Dadanya terasa sakit melihat ekspresi wajah Nahyan yang terlihat tak berdaya.
Dhyo memperhatikan gerak-gerik Anna. Dia merasa kasihan dengan gadis itu, terutama pada Nahyan. Karena kecerobohannya sendiri harus memisahkan kedua orang yang saling mencintai. Tapi, yang tersakiti di sini bukan hanya mereka berdua. Dia juga harus melepaskan orang yang dia sayang.
Drrrt!!
Ponsel ditangan Dhyo tiba-tiba bergetar. Dilihatnyalah layar ponselnya itu. Dhyo terlihat gelisah sehabis menatap layar ponselnya.
"Izin angkat telepon sebentar," kata Dhyo yang langsung berjalan menjauhi Anna.
Anna menganggukkan kepalanya. Tadi Anna sempat mengintip ponsel Dhyo. Dia sangat tau dan paham kalau apa yang dia lakukan adalah tindakan yang mengganggu privasi orang lain. Tapi yah, namanya saja penasaran.
Nama yang tertera di ponsel itu adalah Si Cengeng. Dari nama panggilan itu, sudah dipastikan kalau orang itu telah menempati hati Dhyo.
Anna mengulum bibirnya. Sebenarnya, apa yang Tuhan rencanakan? Dia merasa apa yang dia lakukan sekarang adalah kesalahan. Tapi egonya lebih tinggi. Anna sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia hanya akan menerima dan tidak akan protes. Mungkin ini adalah balasan dirinya yang asal memutuskan sesuatu saat sedang emosi.
Anna mendongak untuk menatap langit yang mulai menggelap. Sedangkan Nahyan, hanya memperhatikan gadis itu dari dalam mobil.
"Seandainya kita ketemu lebih cepat," gumam Nahyan.
°°°
Bersambung.
Maaf, baru update. Mamaku baru aja meninggal tanggal 18 Julis kemarin.
Maaf butuh waktu lama buat bangkit ^^
Maaf juga kalau chap ini keliatan kayak gak niat.
Maaf ya.
Oh, iya. Mohon doanya untuk Mamaku semuanya 😁
__ADS_1