
⚠Tinggalin JEJAK. Aku takut sama HANTU soalnya 😊❤
🌟Enthusiasm chapter 22🌟
Happy reading, Guys!
09.55 AM
Istirahat Pertama
Kelas 12 A-4 terlihat sunyi karena rata-rata penghuni kelas yang lapar berhamburan munuju kantin sekolah.
Deana terkekeh geli saat melihat wajah Anna yang tertidur lelap di sampingnya.
"Woy, beler!"
Deana mengguncang-guncang tubuh Anna. Namun, memang pada dasarnya Anna yang kebo, tidur gadis itu sama sekali tidak terusik.
Deana menghela napas, lalu memilih memainkan game yang akhir-akhir ini sangat dia gemari. Terlebih lagi, dia dapat teman mabar yang asik saat diajak ngobrol.
"Deana!" Felisa yang baru saja masuk ke kelas langsung mendekati Deana dan menarik kursi di dekat gadis itu.
Deana mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Kenapa?" Deana menjawab dengan acuh tak acuh.
"Itu Nahyan buat keributan apa sih?" tanya Felisa.
Anna mengerutkan dahinya saat Felisa menyebut nama Nahyan. Meski dia sedang tidur, dia samar-samar mendengar percakapan orang. Tau tidur ayam? Begitulah kira-kira.
Deana mengerutkan dahinya. "Mana gue tau. Gue kan dari tadi di kelas terus. Jagain kebo satu ini," jawab Deana sambil menunjuk ke arah Anna.
Felisa mengerutkan dahinya. "Bukannya elo sering ngumpul sama rombongan Nahyan?"
"Memang sering. Tapi gak begitu berinteraksi sama Nahyan."
"Anna gak cerita apa-apa gitu? Soalnya itu Nahyan sampe masuk ke--"
"Anjiir! Nahyan diskorsing karena kemarin ngehajar Aliya dkk woy!" teriak Mewa teman dekat Felisa.
Brak!
"SUMPAH DEMI APA?!" teriak Anna sambil menggebrak meja, membuat Deana dan Felisa terkejut.
Anna melangkah lebar mendekati Mewa.
"Serius Mew?" tanya Anna sambil memegang kedua bahu Mewa.
"Serius gue," jawab Mewa.
"Sekarang dia di mana?" tanya Anna yang panik.
"Itu lagi di ruang BK," jawab Mewa yang tidak mengerti dengan reaksi Anna yang panik.
Anna langsung berlari menuju ke ruang Bina Konseling atau yang disingkat BK.
__ADS_1
"Anna kenapa?" tanya Deana sambil mengangkat dagunya pada Felisa.
Felisa menggelengkan kepalanya. "Kayaknya Singa lepas kandang tanpa sepengetahuan Pawang," jawab Felisa asal.
Anna menghentikan langkahnya di depan kerumunan siswa-siswi yang penasaran tentang apa yang terjadi di depan ruang BK. Anna berjalan menerobos kerumunan itu dengan perjuangan.
"Permisi! Permisi! Aer panas. Aer panas---woy pegang bagian mana itu!" teriak Anna saat merasa ada yang menyentuh bokongnya.
"Sorry. Kesenggol," jawab sebuah suara. Untungnya, itu adalah suara perempuan bukannya suara laki-laki. Kalau tidak, hilang sudah kesucian bokong Anna yang telah dia jaga seumur hidupnya.
Anna melanjutkan menerobos lautan penuh manusia-manusia kepo. Gadis itu merasa lega saat sebentar lagi mencapai pintu ruang BK.
Anna meraih handle pintu dengan susah payah karena orang-orang disekitarnya asik saling mendorong.
Anna merasa cemas. Bukan kepada Nahyan, tapi pada objek yang menjadi sumber keributan yang dibuat. Anna takut jika sikap Aliya dkk akan semakin menjadi karena ulah Nahyan. Hidupnya sudah ribet, tolong jangan ditambah ribet!
Saat Anna berhasil meraih handle pintu dan membukanya tiba-tiba saja banyak tangan-tangan jahil yang mendoronf punggung Anna.
Bruk!
Seketika suasana menjadi hening.
Anna meringis. "Ukh...." Gadis itu bangkit dengan susah payah. Dia tidak sadar dengan perubahan suasana yang mendadak.
Anna merasakan tatapan tajam dari arah depan.
Gadis itu menggaruk kepapalanya yang tidak gatal saat secara tidak sengaja kontakan mata dengan Bu Dian a.k.a guru BK.
Anna beralih pada wajah-wajah memelas gadis-gadia yang sedang duduk di sofa. "Pffft...!" Anna menahan tawanya saat melihat begitu acak-acakan penampilan manusia-manusia yang pernah membully-nya di gudang peralatan olahraga itu.
"Urusan saya selesai," ucap Nahyan dengan dingin lalu beranjak dari sofa yang didudukinya.
Nahyan mengapit leher Anna dengan siku tangannya, lalu menyeret gadis itu keluar dari ruang BK.
Saat berada di luar ruang BK, lautan manusia yang memenuhi bagian depan ruang BK secara ajaib membelah. Orang-orang itu memberi jalan pada raja hutan--ups! Maksudnya pentolan sekolah itu.
Anna memukul-mukul lengan Nahyan. "Gila. leher. gue.KECEKEK!!!" kata Anna yang tersendat-sendat.
Nahyan melepaskan apitannya. "Ngapain lo di sana?" tanya Nahyan dengan nada suara penuh penekanan.
Anna menaikkan sebelah alisnya.
Bukankah seharusnya Anna yang bertanya begitu? Anna hanya menggelengkan kepalanya.
"Bukannya lo tidur? Siapa yang berani usik tidur lo, hah?!" kata Nahyan dengan galak.
"Ih, kok ngegas!" jawab Anna yang merasa sebal.
"Ngapain lo ke ruang BK?!" Ucapan Nahyan membuat Anna mengingat tujuannya datang ke ruang BK.
Anna mendongakkan kepalanya. Ditatapnya mata tajam yang sedang menatap Anna dengan tatapan menerawang.
"Alasan lo ngehajar Aliya dkk itu apa?" tanya Anna menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut.
Nahyan itu tipe manusia yang kalau ngegas dibalas ngegas malah nambah ngegas. Sayangnya, Anna terkadang malah terbawa perasaan untuk menjawab segala perkataan yang keluar dari bibir kissable milik Nahyan itu.
__ADS_1
Nahyan memalingkan wajahnya untuk memutuskan kontak matanya dengan Anna.
"Gue gak masuk sehari aja lo langsung buat keributan. Apalagi gak masuk selama berbulan-bulan," ujar Anna yang merasa sebal.
Nahyan mengerutkan dahinya, lalu menyentil kuat dahi Anna.
"Aw!" jerit Anna sambil mengusap-usap dahinya yang terasa sakit.
Nahyan menyeringai. "Gak usah terlalu percaya diri. Sebelum ada lo juga gue sering buat keributan," ujar Nahyan lalu berjalan meninggalkan Anna.
Anna mencekal lengan Nahyan dan berdiri tepat di depan cowok itu.
"Lo kenapa hajar Aliya dkk?" tanya Anna.
Nahyan hanya menaikkan kedua alisnya lalu menunduk untuk menatap Anna. Maklum, faktor perbedaan tinggi yang sangat mencolok.
Melihat dari gerak-gerik Nahyan, cowok itu tidak berniat menjawab pertanyannya.
"Gue tau, meski lo bar-bar lo gak bakal mukul perempuan gitu aja."
Nahyan mengerutkan dahinya.
"Lo ngira gue mukul Aliya?" tanya Nahyan yang merasa tersinggung.
Nahyan bukan orang bodoh, satu sekolah juga tau dia adalah seorang jenius. Sangat mudah mengetahui maksud perkataan Anna, meski kata-katanya sudah diperhalus. Gadis itu mengira dirinya telah memukul perempuan. Nahyan benar-benar tidak menyukai itu.
"Ya... gitu," jawab Anna tanpa menatap Nahyan.
Nahyan tertawa lewat hidungnya. "Bukan gue yang mukul, tapi mereka bertiga yang saling tuduh sampe berantem!" kata Nahyan. "Jelas itu bukan perbuatan gue."
"Aliya dkk emang buat gue kesel dan marah setengah mati karena ngusik lo. Tapi bukan berarti semarah apapun gue bakal mukul perempuan Anna!" jelas Nahyan dengan ekspresi wajah datar.
Nahyan tidak mengerti mengapa dia harus menjelaskan itu pada Anna. Biasanya, mau sebesar apapun orang lain salah paham padanya, Nahyan tidak merasa penting untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Tidak berguna, itulah yang dipikirkannya. Tapi sekarang? Nahyan merasa harus menjelaskannya pada gadis itu.
"Tanem itu diotak lo, Na." tekan Nahyan, lalu bergegas melewati gadis itu. Namun, dengan gerakan cepat, Anna menahan tubuh Nahyan.
"Kenapa kalau bukan lo yang mukul, malah lo yang di skorsing? Apa alasan Aliya dkk saling tuduh-menuduh? Dan...." Anna menatap mata Nahyan. "Kenapa lo marah kalau Aliya ngusik gue?"
Nahyan menatap Anna dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan.
Setelah beberapa detik hanya diam tak berkutik, Nahyan berkata,
"Gue...."
°°°
Tbc
⚠Next?! Dibilang Like dan Komen dulu❤⚠
Salam hangat,
Juecy.bell
21 September 2020
__ADS_1