Nahyanna

Nahyanna
BAB 84


__ADS_3

WARNING!!


Be a good reader!


Like and Komen!


"Mau kemana lagi kamu? Baru aja pulang 30 menit yang lalu sudah mau keluar lagi?" tanya Dewi pada Anna yang baru baru turun dari tangga sambil bercermin dengan cermin kecil di tangannya.


"Have fun-lah!" Anna menutup cermin hingga menimbulkan suara 'tuk'.


"Kan suntuk di rumah terus. Gak ada aura-aura positifnya sama sekali."


Dewi meringis sambil memegangi kepalanya. Kalau mengingat tingkah laku Anna, dia selalu merasa kepalanya langsung berdenyut.


"Ingatlah sebentar lagi kamu akan menikah dengan--" Ucapan Dewi terpotong karena ponsel Anna berdering kencang.


Anna mengambil ponselnya, lalu berjalan melewati Dewi. "Hallo? Iya Galen? Udah di deket gang? Tunggu ya gue ke sana," setelah mengatakan itu, Anna menekan tombol merah pada ponselnya.


Dewi menyusul Anna, kemudian dia menarik pundak gadis itu agar menghadap dirinya. "Kamu pergi sama cowok?" tanya Dewi yang menginterogasi.


Anna tertawa pelan lewat hidung. "Namanya aja Galen. Udah pasti cowoklah. Aneh!" gadis itu kembali berjalan melewati Dewi, namun tangannya dicekal oleh Tantenya itu.


"Jangan macam-macam! Kamu tidak lupa bukan akan menikah dengan Dhyo?!" Dewi melotot. Hal  itu berhasil membuat Anna bergidik ngeri. Bagaimana tidak? Mata Dewi saat melotot saja membuat Anna merasa habis melihat hantu. Apalagi, memang mata Dewi sudah besar dari sananya.


Anna tersadar dari lamunan tidak jelasnya. Kemudian, gadis itu melepaskan tangan Dewi yang mencekal lengannya sambil berkata, "Saya gak akan protes lagi tentang pernikahan politik yang Tante rencanakan. Tapi sebelum pernikahan itu terjadi, jangan harap bisa mengatur tingkah laku saya."


Anna mengambil napas panjang. "Biarkan saya bebas sebelum tanggal pernikahan," sambung Anna. Setelah mengucapkan itu, Anna pergi dengan setengah berlari. Dia benar-benar malas mendengar Dewi membicarakan soal pernikahannya lebih banyak lagi.


Dewi menatap sendu punggung Anna yang pergi menjauh, dan menghilang dari balik pintu.


Apakah pilihannya ini benar?


...***...


Anna terlihat kesulitan turun dari motor mewah milik Galen. Sebenarnya, Anna kurang senang menaiki motor gede atau disingkat moge seperti ini. Terlalu tinggi untuk dirinya naiki dan terlalu membuka ruang untuk berdempet-dempetan. Kalau saja Galen bukan cowok baik-baik dan wajahnya tidak tampan, mana sudi Anna dibonceng motor seperti ini.


Galen yang sadar akan kesulitan Anna terkekeh pelan, lalu membantu gadis itu. Gadis berperawakan mungil itu memang tidak mempunyai wajah yang sangat cantik, namun senyumnya dan tingkah lakunya yang dapat membuat sekitarnya cerah itulah yang membuat Galen terpesona.


Galen melirik Anna yang sedang membuka helm. "Gak bisa juga lepasin helm?" ejek Galen dengan senyum kalem khasnya.


Anna menyipitkan matanya. Senyum Galen terlalu silau.

__ADS_1


"Gak usah senyum!" pinta Anna.


Seketika senyum Galen lenyap. "Kenapa?" tanyanya. Kedua alis Galen sedikit mengangkat. Apakah senyumannya mengganggu? pikirnya.


"Silau! Kasian jantung gue," Anna kembali berusaha mencari celah kuncian helm agar terlepas.


Galen yang merasa gemas sendiri dengan usaha Anna membuka helm yang tak kunjung berhasil, langsung berinisiatif membantu Anna. "Silau sama jantung apa hubungannya?" tanya Galen.


"Ada pokoknya. Yuk masuk!" ajak Anna sambil menarik lengan baju Galen masuk ke dalam Caffe.


Sesaat setelah menginjakkan kakinya di dalam Caffe, suasananya langsung terasa berbeda. Meriah, dan berisik. Cukup mengobati rasa kesepian Anna. Dia itu suka suasana saat keramaian, tapi terkadang dia juga merasa sepi saat keramaian. Walau begitu, itu masih lebih baik dari pada sendirian.


...***...


"Widih... ini dia anak Sultan yang dari tadi ditungguin," Yovi menyambut kedatangan Nahyan sambil merentangkan kedua tangan, bermaksud memelu cowok itu. Namun sayangnya, Nahyan melengos dan duduk di samping Dava.


Yovi menggaruk kepalanya dan kembali ke tempat duduknya. "Sialan!" gumam Yovi yang merasa malu.


"Suga sama Fabian mana?" tanya Dava sesaat setelah menyeruput es kopi.


"Ngebucin. Kan masing-masing udah dapet cewek, terutama Fabian. Kalau gak salah kemarin itu dia cerita baru jadian sama siapa sih itu... yang temennya mantan pacar Nahyan," yang menjawab bukanlah Nahyan melainkan Epen.


Ya Tuhan! Bangunkanlah Nahyan dari mimpi buruk ini segera!


Dava mengangguk. "Lo gak mau mesen sesuatu?"


Alis Nahyan tertaut. Kemudian, dengan gerakan malas dia mengangkat tangan kanan sebagai isyarat kalau dia membutuhkan seorang pelayan. Beberapa saat kemudian, pelayan Caffe datang.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya sang pelayan dengan ekspresi wajah malu-malu. Tentu sjaa malu kalau meja yang sedang dia layani penuh dengan cowok tampan. Terutama Nahyan, tatapan tajam dan wajah tanpa ekspresinya itu sangatlah seksi di mata kaum hawa. Sejak awal cowok itu menginjakkan kakinya di caffe ini saja sudah menarik perhatian banyak mata, terutama perempuan.


"Gue mau semua yang ada di menu yang gak ada unsur-unsur pedes. Entah itu pedes cabe atau lada, gue gak mau. Gue ulangi, gue mau semua makanan di menu kecuali yang pedes." Nahyan menutup buku menu.


"Oh, dia gak suka pedes," gumam pelayan sambil mencatat pesanan.


Nahyan mengangkat sebelah alisnya mendengar pelayan itu menggumam. "Masih kurang jelas?" tanya Nahyan dengan nada suara tidak senang.


Ternyata galak, batinnya.


Si pelayan menggelengkan kepala, "Nggak, Kak. Tadi saya cuma mengingat pesanan Kakaknya aja biar gak lupa," jawabnya.


Nahyan hanya cuek dan memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Anu... minumnya?" tanya si pelayan itu lagi setelah selesai mencatat di note kecil yang dia bawa dengan sedikit perasaan takut. Meski tampan, cowok di depannya ini galak. Seolah-olah dia mau semuanya berjalan sempurna sesempurna wajah tampannya itu.


Nahyan sejenak membuka buku menuju, dan menutupnya lagi. Dia berpikir, dia ingin memesan kopi hanya saja ini sudah malam, bisa-bisa dia tidak bisa tidur hingga pagi. Es buah? Tidak tertarik. Di kulkas rumahnya sudah menyetok banyak. Teh? Tidak, tidak. Minum teh setelah makan bisa mengganggu pencernaan dan penyerapan nutrisi dalam tubuh.


"Air putih," jawabnya setelah berpikir keras hany  tentang apa yang akan dia minum. Walaupun ujung-ujungnya hanya air putih yang dipesan.


Yovi menyemburkan kopi yang baru saja diminum. "Jauh-jauh ke Caffe minumnya air putih? Gak salah?" ejek Yovi sambil terkekeh, "Mending minum di rumah aja!"


Nahyan tersenyum sinis, lalu mengusir pelayan hanya dengan gerakan tangan.


"Emangnya mau minum apa? Vodka? Nahyan mana mau. Dia kan cemen, takut dirotan Mama," timpal Epen. Cowok itu terkekeh geli.


Zaman sekarang, minum-minuman dianggap hal biasa. Bahkan para remaja seperti mereka ini sudah terbiasa minum. Hanya saja ajaibnya, Nahyan bisa mempertahankan prinsipnya untuk tidak menyentuh minum-minuman haram itu hingga sekarang. Namun lucunya, cara membuat anak yang benar saja Nahyan tidak tau. Mungkin saja orang lain tidak akan percaya mengingat betapa jeniusnya Nahyan, dan melihat begitu pesatnya teknologi berkembang. Tapi, ini benar adanya.


"Woi, itu yang baru naik panggung mirip mantan Nahyan gak sih?" tanya Samudra sambil menunjuk seorang gadis yang tengah bersiap untuk bernyanyi.


Nahyan mengerutkan dahinya. Lalu melihat jam di tangannya. Sudah jam delapan malam. Tidak mungkin kan Anna keluar malam-malam begini? Untuk menghilangkan rasa penasarannya, langsung saja Nahyan menoleh ke belakang. Dan benar saja, Anna sedang berada di atas panggung dan saat ini sedang bernyanyi.


Tangan Nahyan mengepal.


"Anna ngeband bareng Galen? Sejak kapan?" tanya Samudra. Dia beralih ke Dava, "Via ke mana?"


Dava mengangkat bahu. "Tadi pas gue ke rumahnya, dia gak ada. Lagi manggung."


"Widih, mantan lo hebat banget, Yan! Belum ada seminggu putus udah dapet pengganti aja," kata Epen yang memanas-manasi Nahyan. Dia terkekeh begitu melihat Nahyan yang seperti gunung merapi aktif yang siap meledak kapan saja.


BRAK!!


Nahyan menggebrak meja hingga caffe berubah menjadi hening, bahkan band Aileen yang baru saja manggung langsung menghentikan live musik. Nahyan menoleh, dan tersenyum sinis pada Anna yang menatapnya.


Tanpa sadar, Anna meneguk saliva. Matanya tidak bisa teralih dari Nahyan. Apa lagi saat melihat raut wajah Nahyan yang sepertinya sedang kecewa, dan yang membuat cowok itu kecewa tak lain adalah dirinya.


Tanpa mengatakan apapun, Nahyan bergegas keluar dari caffe. Dia tidak peduli meski teman-temannya memanggil-manggil namanya.


"WOI NAHYAN!! TAGIHAN PESANAN LO SIAPA YANG BAYAR?!" teriak Yovi.


°°°


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2