
LIKE BODO AMAT!
KOMEN WAJIB ANJ!
Happy reading!
🌟Enthusiasm chapter 34🌟
"Nahyan sayang... kangen sama aku ya?" tanya Kinan dengan suara yang manja sambil merangkul lengan Nahyan.
Beberapa hal yang perlu diketahui, Kinan adalah ketua T-ID27 yang termasuk geng besar karena mempunyai anggota dari SMA Y hingga SMA lain. Dia ratunya SMA Y, dan jelas Kinan menyukai Nahyan.
Nahyan menepis rangkulan Kinan.
Demi apapun, Nahyan merasa marah ketika Kinan dengan lancang menyentuhnya. Padahal, sudah bagus gadis itu menghilang selama hampir dua bulan karena mempunyai kasus penganiayaan terhadap adik kelasnya. Dengar-dengar, karena adik kelas itu pernah digendong ke UKS oleh Nahyan saat pingsan di tengah-tengah upacara. Nahyan khawatir, kalau Kinan tau dirinya sedang dekat dnegan Anna, Kinan akan bertindak nekat.
"Kali ini gak boleh lengah, karena ini menyangkut Anna," batin Nahyan sambil memakai headphone yang sedari tadi dikalungkan di lehernya.
Cowok itu menghidupkan lagu-lagu yang jadi soundtrack anime Jepang karena ulah Anna yang tak henti-hentinya meracuninya dengan segala yang berbau anime.
Kan Nahyan jadi demen.
"Nahyan!! Ih, Nahyan!!" teriak Kinan sambil menarik paksa headphone Nahyan.
"Apaan sih lo?!!" bentak Nahyan membuat semua perhatian menuju ke arahnya, walaupun memang sedari tadi Nahyan telah menjadi pusat perhatian.
"Kamunya cuek gitu siih...." kata Kinan msih dengan genit. Dia tak peduli dengan raut wajah Nahyan yang kesal.
"Lo sadar gak sih, selama ini lo udah ganggu waktu tenang gue?! Dan gue udah cukup bersabar ngehadepin lo. Gue harap lo gak gangguin gue lagi." Nahyan kesal lalu meninggalkan Kinan.
Nahyan membuka loker nomor 17.
SRUUT!!
Berpuluh-puluh surat bahkan lebih, berjatuhan ke lantai karena kepenuhan di dalam lokernya. Nahyan duduk jongkok mengacak-acak rambutnya frustasi.
Nahyan membersihkan semua sampah itu dari lokernya, dan menutup lokernya dengan kasar.
"Tiap pagi selalu aja gini! Kurang kerjaan banget," gerutu Nahyan sambil mengumpulkan semua sampah itu dan membuangnya pada tempatnya.
Nahyan pergi menuju kelasnya.
"Hey, Broo!!" sapa Suga sambil mengepalkan tangannya di udara.
Nahyan yang tak mengerti, hanya mengikuti Suga mengepalkan tangannya di udara. Suga menyeringai dan menumburkan pelan di kepalan tangannya pada tangan Nahyan.
"Hm," sapa Nahyan lalu menaruh tasnya di kursinya.
Nahyan menghela napasnya. "Nih cewek-cewek hobi banget ya ngasih-ngasih surat kayak gini," kata Nahyan heran sambil membersihkan surat-surat itu dari lacinya.
"Gak habis pikir gue. Tiap hari laci dan loker gue di penuhi sampah kayak gini. Capek gue," keluh Nahyan pada teman-temannya.
Gak ngerti gue punya Anna apa? Nahyan membatin.
"Yaelah, enak lu. Gue aja seumur hidup belum pernah ada yang ngasih surat," celetuk Aldi yang berada di belakang Nahyan.
"Makanya, permak dulu muka lo, Di. Banyak duit kan?" ucap Suga dengan seringaian khasnya.
Aldi berpose seakan ingin melempar buku tebal di tangannya. Hanya untuk menggretak.
Nahyan menggelengkan kepalanya. "Apa gunanya banyak yang ngasih surat cinta, kalau gak ada satupun dari Anna?"
Suga dan Fabian dibuat saling melirik.
"Coba lo periksa." Fabian mengisyaratkan dengan gerakan kepala.
Suga menempelkan tangannya di jidat Nahyan, lalu beralih ke jidatnya sendiri.
"Gak panas. Mungkin, kena santet."
Nahyan melayangkan tatapan sinis ke arah Fabian dan Suga yang sekarang sedang tertawa kecil.
"Pinjem tugas Biologi," kata Suga.
"Ambil," jawab Nahyan.
"Lo ngerjain gak?" tanya Suga pada Fabian saat tengah mengambil buku tugas milik Nahyan.
"Gak deh, gua mau ngegame dulu." jawab Fabian sambil mengeluarkan ponselnya.
"Nahyan dipanggil nih!" teriak Ucup sambil menunjuk seorang gadis mungil yang mengenakan seragam sekolah yang berbeda.
Nahyan menghampiri seorang gadis yang sedang berdiri di depan kelasnya. Baru sesaat Nahyan keluar dari kelasnya, dia sudah menjadi perhatian semua orang. Bukan hanya Nahyan, namun gadis yang di depan Nahyan juga.
"Hai!" sapa gadis itu sambil menunjukkan senyumnya termanisnya.
...•••...
"ZIDANNN! ASTAGA DRAGON! SEPATU GUE BALIKIN!" teriak Anna yang setengah berlari mengejar Zidan yang memimpin beberapa meter.
"HAHAHAHA SINI, SINI!"
Kalau saja Anna tidak sedang lemas, sudah pasti Zidan akan terkejar oleh dirinya yang merupakan mantan anggota eskul atletik di sekolahnya dulu.
"Sepatu lo baunya anjim banget, Na!" ejek Zidan yang sekarang tertawa terbahak-bahak. Untungnya, Zidan menghentikan permainan kejar-mengejar ini.
"Ngarang lo! Ini sepatu gua laundry seminggu sekali tau gak?" bantah Anna sambil mengambil kasar sepatunya yang berada di tangan Zidan.
Anna menjatuhkan sepatunya di depan, lalu memasukkan kakinya ke sepatu itu dengan sesekali membenarkan bagian tumit sepatu agar kakinya masuk seluruhnya.
"Gak percaya ah. Bau bunga sepatu aja bangga," ejek Zidan sambil menaik-turunkan alisnya.
Anna mendelik sebal.
"Elu tuh hobi banget ya jahilin gue!" kata Anna sambil memukul punggung tangan Zidan dengan kuat.
"Canda, Na. Lagian di kelas tadi cuma lo yang gue liat lagi free." Zidan mengedipkan matanya genit.
"Mata lo free! Gue lagi nikah sama Pangeran Arab malah lo rusuhin." Zidan menampol pelan wajah Anna.
"Gaya lo nikah sama Pangeran Arab, urus dulu sono muka lo yang buriq!" kata Zidan.
Anna melotot.
Dia tidak suka wajahnya dibilang buriq.
"Mahal-mahal aku beli skincare, kau bilang muka ku buriq? Tak de otak kau! Lagian, ko mo cari yang bagaimana? Ko mo dapat juga dimana?" kata Anna melankolis.
Zidan menyeringai lebar. "Yang kayak gitu," jawab Zidan sambil menunjuk ke arah belakang Anna. Reflek gadis itu menoleh ke belakang.
"Yang namanya cewek seharusnya gitu. Adem senyumnya, mukanya kinclong, rambutnya cetar membahana badai, bodynya berisi. Gak kayak seseorang yang mukanya buriq, pendek, tepos, idup lagi."
Zidan melirik ke arah Anna yang tumben-tumbennya tidak membalas ucapannya. Anna kan biasanya sensi kalau diejek buriq.
Zidan memiringkan kepalanya untuk melihat raut wajah Anna, lalu menyeringai melihat Anna yang hanya terdiam tak berkutik. Zidan cukup peka untuk yang beginian.
__ADS_1
"Itu... kenapa berantem ya? Yang beda seragam itu siapa? Terus yang tampangnya jamet itu siapa?" tanya Anna tanpa mengalihkan perhatiannya dari tiga, ups, dua orang---karena yang cowok hanya diam----yang sedang berseteru.
Zidan terkekeh geli mendengar sang Ratu sekolah dikatai jamet oleh Anna. "Itu Kinan,"
"Yang seragamnya beda?"
"Yang kata lo kayak jamet." Zidan menjawab dengan menahan tawa.
"Terus... yang satunya siapa?" Anna menatap Zidan penuh dengan keingintahuan.
"Gue gak tau. Tapi kalau Kinan, dia merupakan Ratu sekolah ini. Dan yang pastinya ...," Zidan membalas tatapan Anna dengan penuh misteri. "dia naksir Nahyan."
"Owalah...." Setelah itu Anna kembai terdiam.
Tubuh Anna menegang saat gadis sberseragam berbeda itu mencium pipi Nahyan di depan umum. Tapi, Anna lebih terkejut melihat Nahyan yang tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada gadis itu.
"Bukannya Nahyan anti sama cewek ya?" batin Anna.
Zidan menghela napas. Zidan peka, Zidan mengerti. Meski Anna tidak begiti menunjukkan, tapi Zidan cukup mengerti keadaan gadis ini.
"Udeh, gak usah liatin. Tepos mah tepos aja," kata Zidan sambil menyeret leher Anna kembali menuju kelas mereka.
.
.
.
.
.
Sebelumnya...
"Hai!" sapa gadis itu sambil menunjukkan senyumnya.
Nahyan mengerutkan keningnya. "Ngapain lo ke sini? Mau bolos lo ya?"
"Enggak! Di sekolah aku hari ini gurunya pada meeting semua. Jadi bebas," jawab gadis itu.
"Ooh. Ngapain ke sini?" tanya Nahyan lagi.
Gadis itu tersenyum. "Nih, kunci motor kesayanganmu aku balikin," Gadis itu memberikan sebuah kunci motor pada Nahyan.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya. "Gak pulangin ke rumah gue aja?"
"Aduh, gak mau. Nanti ketemu Dhyo," Gadis itu memajukan bibirnya. "Oh ya. Aku punya berita bagus!"
"Apaan?" tanya Nahyan.
"Aku barusan dapet kabar, kalau motor yang kakak incar bisa didapetin!!" teriak gadis itu.
"Sumpah?! Kapan sampai di rumah gue?" tanya Nahyan yang terlihat antusias. Selain botol minuman beralkohol, Nahyan suka mengoleksi motor-motor mewah yang jumlahnya terbatas.
"Mungkin sekitar tiga mingguan."
Nahyan yang merasa senang, mengacak-acak rambut gadis itu. Senyumnya hampir tak pernah dilihat oleh penghuni sekolah ini. Tentu saja gadis itu mengundang rasa iri karena telah membuat Nahyan, si pentolan sekolah tersenyum senang.
Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang memekak telinga.
Raut wajah Nahyan berubah menjadi datar. Jelas, Nahyan tau suara siapa itu.
"Heh! Lo siapanya Nahyan, hah?!!" bentak Kinan sambil mendorong bahu gadis cantik itu.
Gadis itu menatap Nahyan dengan bingung, sedangkan yang di tatap hanya mengedikkan bahunya.
"Maaf, centil?" tanyanya memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
"Iya, C-E-N-T-I-L. Centil!" tegas Kinan.
"Seharusnya, kata-kata itu ditujukan sama kamu," jawab gadis itu dengan senyum di wajahnya.
"Kamu gak sadar, bahwa selama ini kamu nempel terus sama Nahyan seperti cewek murahan? Dan apa lagi baju kamu itu, mau sekolah atau ...." Gadis itu sengaja menggantung kata-katanya.
"Mau nyabe?" sambungnya, mencoreng harga diri Kinan.
"Apaan sih lo?! Jelas-jelas lo ya centil!!" bantah Kinan yang ingin menjambak rambut gadis itu, namun di cegah oleh Nahyan.
Gadis itu melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan dadanya.
Gadis itu menatap Nahyan kesal, sedangkan Nahyan hanya menahan tawanya.
"Keluarin aja, Vin." kata Nahyan tanp suara.
Gadis bernama Vinie itu menghela napasnya. Nahyan memang tampan, tak heran kalau ada manusia menyebalkan seperti Kinan yang menyukai Nahyan.
"Heh lu, masalah banget ya kalo gue kecentilan?! Apa salahnya kalo gue kecentilan sama kakak gue sendiri?!" teriak Vinie.
"A... apa?"
"Dia," Vinie menjewer kuping kakaknya itu.
"Ck, lepas!" Ringis Nahyan pelan.
"Cowok ganteng ini, Kakak gue!! Masalah gitu gue kecentilan sama Nahyan?!" benntak Vinie dengan volume suara yang tinggi. "Belom tau aja lo gue sering duitin Nahyan, dan mintain dia ini-itu."
Semua siswi perempuan yang menyaksikan tontonan gratis itu, menghela napas lega. Mengetahui gadis cantik itu adalah adiknya Nahyan.
"Udahlah, aku balik ya. Ditungguin suami aku, nih! Nanti dia ngomel panjang kali lebar kali tinggi lagi," bisik Vinie saat di dekat Nahyan.
Nahyan tersenyum pada adiknya. "Yaudah, hati-hati."
Sebenarnya, Vinie adalah adik sepupunya. Keluarga Nahyan sebenarnya lebih rumit dari yang terlihat. Dan fakta tentang Vinie, gadis itu menikah diusia muda. Lebih tepatnya saat masih duduk di bangku kelas 7 SMP. Semuanya terjadi begitu saja.
"Aku minta duit," ucap Vinie.
"Sama Rivat! Dia yang suami lo,"
"Pelit."
"Oh iya lupa!" Vinie berbalik dan mencium pipi Nahyan singkat.
"Cari cewek yang bener, ya!! Jangan yang kayak cabe!!" pesan Vinie sambil melirik Kinan yang terlihat canggung.
Nahyan memutar bola matanya. "Dah sana balik!"
Vinie memeletkan lidahnya.
"Bye-bye, Nahyan yang ganteng tapi boong!" teriak Vinie sambil berlari meninggalkan Nahyan dan Kinan.
"Masih gantengan Rivat," sambung Vinie dalam hati.
Nahyan melambaikan tangannya juga dengan senyum di wajahnya lalu pergi masuk kembali ke kelasnya, meninggalkan Kinan dkk yang sedang shock.
"Anjay... jadi dia adeknya Nahyan?! Kok gue bisa gak tau sih?!" tanya Kinan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Cantik banget lagi adeknya!"
"Ya gak salahlah Nan, kakaknya ganteng ya pastilah adeknya cantik," timpal Dania sambil mengipasi wajahnya dengan kipas tangan.
"Masalahnya, adeknya itu kelewat cantik! Gak pernah gue liat cewek secantik dia di Indonesia gini," ucap Kinan.
"Pasti perawatannya gak murah. Gue udah duga Nahyan itu pasti anak orang kaya."
"Tapi, lo liat gak tadi Nahyan tersenyum?! Gila ganteng banget kan?! Selama 3 tahun sekolah di sini, gak pernah gue liat dia tersenyum! Mukanya jutek terus!" kata Kinan heboh.
"Iya! Ganteng pake banget!"
...•••...
Anna menggigit tangan Zidan yang mengapit lehernya saat berada di depan kelasnya.
"Gila lo! Kecekek gue," semprot Anna sambil memegangi lehernya.
Zidan hanya menyeringai, lalu memasuki kelas.
"Dasar sarap!" maki Anna.
Anna melirik ke samping dan mendapati Deana yang tengah memainkan game di ponsel sambil duduk di kursi besi depan kelas. Anna bersandar di dinding.
"Ian, coba kamu ke turret tengah aja. Fokus aja, jangan lindungin aku terus...," ujar Deana.
Sumpah demi apapun, Anna yang mendengarnya ingin muntah. Deana di dunia nyata mana ada suaranya dimanja-manjain begitu.
Anna menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Anna duduk di samping Deana, lalu menoleh ke arah samping. Lebih tepatnya ke arah kelas 12 A-7 yang hanya terpisah beberapa ruangan dari kelasnya.
Anna memperhatikan Nahyan yang mengejar gadis cantik yang mencium pipi cowok itu tadi.
"Motor gue lo parkir di mana?"
"Oh iya, ayo Vinie tunjukkin!"
Anna tidak mengerti mengapa dirinya sekarang merasa tidak senang. Apalagi, melihat senyuman dan raut wajah antusias Nahyan sekarang.
"Motor gue gak lecet kan?"
"Enggak, ya ampun. Sayang banget sama motornya. Jangan-jangan lebih sayang motor dari pada Vinie ya?!"
Anna bungkam saat mendengar sedikit percakapan mereka berdua.
Saat kedua umat manusia itu berjalan melewat kelasnya, Anna ingin menyapa. Namun, sepertinya Nahyan terlalu 'sibuk' berbincang dengan gadis cantik itu hingga Anna bahkan seperti tak terlihat.
'Yang namanya cewek seharusnya gitu. Adem senyumnya, mukanya kinclong, cantik, rambutnya cetar mebahana badai, bodynya berisi. Gak kayak seseorang yang mukanya buriq, pendek, dekil, tepos, idup lagi.'
Sialnya, saat melihat wajah cantik yang kelewat cantik itu, Anna malah teringat omongan Zidan yang tanpa filter itu.
'Tepos mah tepos aja.'
Owh, shit!!
Anna mengusap wajahnya gusar, lalu menunduk untuk menatap kosong ke arah sepatunya.
Anna jadi berpikir, apakah dirinya pantas?
"Aih, kenapa gue gini sih?!" gerutu Anna.
Anna menghela napas berat.
"De..." panggil Anna.
"Hm?" jawab Deana yang masih fokus terhadap game nya.
"Kok gue ngerasa gak seneng ya, De?"
"Kenapa?"
"Gak tau... gue juga bingung. Gue ngerasa kayak gak pantes... gue sedih terus kayak ada yang ganjel di hati gue. Kira-kira kenapa ya?" lirih Anna sambil menundukkan kepalanya.
"Waktu gue liat Nahyan ketawa, ngobrol antusias, bahkan dicium pipinya sama cewek lain gue ngerasa dada gue sesak. Gue tahan, tapi kok malah tambah sesak. Gue harus gimana?"
Anna melirik Deana yang selama beberapa saat tidak meresponnya.
"Ian.... siip iyaaaa kita menang!! YEAY!!" pekik Deana yang kegirangan.
Anna menghela napas berat.
Kan, dikacangin!
"BUCIN ANJIM!" semprot Anna lalu pergi memasuki kelasnya.
Deana menaikkan sebelah alisnya.
"Ih gila apa ya?"
...°°°...
...Bersambung...
LIKE n KOMEN WAJIB YAAA!!!⚠😊
âš âš âš âš âš BACAAAA!!!!!âš âš âš âš âš
YANG NGERASA CHAP INI KEK KURANG SREG, KESANNYA TERBURU-BURU. YOU YOU SEMUA BENER. GAK SALAH. BUT NTAR BAKAL GUA BENERIN
ANJIM!!
LO LO SEMUA MUNGKIN KESEL YA, GUE ILANG TIMBUL KEK TAHI. IYA KAN? NGAKU AJA!
GUE LAGI SEBEL ANJIM,
GUE AGAK SHOCK! LO TAU GAK CERITA GUE DI PLAGIATT!!
GUA SEBEL!! CERITA GUA INI GUA GARAP BERTAHUN-TAHUN. LAGIAN, GUA GAK NGERASA CERITA GUA BAGUS TUH. TAPI PLEASE LAHH..... KENAPA SELALU ADA ORANG-ORANG YANG SUKA PLAGIAT??
EMANG SIH SALAH GUE, PUBLISH CERITA DIBEBERAPA PLATFORM LAIN TAPI JARANG GUE PANTAU. TAPI YA KANNN INI MENYANGKUT HAK ASASI MANUSIA. ANJIM LEBAY.
DAH POKOKNYA GUA UPDATE LAMA GEGARA ITU.
GUE JADI BADMOOD GEGARA SI ONO ANJ.
TENANG AJA GUA BAKAL UPDATE
TAPI MUNGKIN KAMU KAMU KAMU BAKAL JENUH.
YANG MAU ILANG SILAKAN ILANG, YANG NUNGGUIN GUA BERSYUKUR DAN BERTERIMAKASIH BANGET.
OKELAH SEKIAN AJA
BUBYE!
__ADS_1
Btw, ngumpulin niat nulis ini lama banget.