Nahyanna

Nahyanna
BAB 89


__ADS_3

Fitting gaun pengantin berjalan dengan lancar. Keluarga Rabusy memborong empat gaun pengantin yang terpilih. Lalu, Anna pulang diantar oleh Dhyo.


Dhyo memang minim ekspresi dan pendiam, tapi beruntung Dhyo menanggapi semua celotehan Anna. Cowok itu baik, sangat baik malah. Tapi, bagi Anna lebih cocok dijadikan sebagai kakak.


“Nahyan gak ganggu kamu kan?” Dhyo bertanya.


Senyum Anna perlahan menghilang. Bibirnya sedikit berkedut. “Ah? Nggak kok, Kak,” jawab Anna seadanya. Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan posisi kepala yang sedikit menunduk.


Dhyo mengangguk.


“Maafin Mama ya?” Anna menoleh pada Dhyo yang sibuk menyetir.


“Untuk?” Anna berpura-pura tidak mengerti.


Dhyo menggelengkan kepalanya.


“Temenin ke mall, ya?" alihnya.


Anna menggaruk kepalanya. “Iya, Kak. Tapi mau ngapain?”


“Makan.”


Alis Anna terangkat. Makan? Memangnya ini jam berapa sih? Anna melihat jam di ponsel. Jam 8 lewat 14 menit, itulah yang tertera di ponselnya. Memang sudah waktunya makan malam sih. Tapi, Anna pikir kalau mereka makan malam dulu pasti memakan waktu yang tidak sedikit.


“Oke, Kak.” Sepertinya Anna harus menunggu beberapa saat lagi untuk memeluk guling kesayangan.


Malam itu, Anna dan Dhyo makan malam dengan tenang. Dhyo memesankan banyak menu makanan, dan minuman. Anna sangat senang dibagian itu sebab saat moodnya tidak baik hanya makananlah yang mampu membuatnya lebih baik. Dhyo tipe cowok yang cukup peka dengan orang di sekitarnya. Dia menyesuaikan langkahnya dengan langkah kecil milik Anna. Berbeda sekali dengan Nahyan.


Anna tersenyum sembari mengayunkan langkah. Hembusan dari angin malam menembus pakaian, membuat seluruh tubuh Anna merinding. Anna menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba untuk dapat memerangi rasa dingin yang kian menyiksa.


Gadis itu sengaja meminta turun di depan gang karena tiba-tiba saja dia merasa ingin sendirian.


Anna memegangi dada bagian kirinya yang terasa sesak. Seperti ada yang tertahan. Nahyan. Adalah penyebab rasa sesak di dadanya.


“Hiks,” Anna menangis tertahan.


Manusia bisa saja jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi membutuhkan waktu lama untuk mengobati patah hati. Satu bulan, dua bulan, satu tahun, dan bahkan ada yang bertahun-tahun. Tak mudah menghapus rasa ketika hati sudah memutuskan untuk menancapkannya kepada seseorang.


“Padahal saling sayang, saling cinta. Tapi sayangnya gak ada yang mau berjuang. Ternyata begini ya rasa sakitnya patah hati,” Anna tersenyum pahit.


Anna menatap bulan yang hanya terlihat separuh.


Ini bukanlah salah Anna, juga bukan salah Nahyan. Tidak ada yang bisa mengatur rasa jika cinta sudah menyapa. Tapi, salahkan dirinya yang mencintai seseorang yang belum tentu menjadi bagian dari hidupnya.


...***...


05.00 AM


Anna bangun tidur dengan perasaan lega luar biasa setelah menangis hingga larut malam. Semalaman tidurnya lumayan nyenyak.


Usai membasuh diri dan bersiap-siap memakai seragam sekolah, Anna segera menyiapkan buku-buku pelajarannya. Setelah selesai, Anna yang lapar segera turun ke bawah untuk mencari sedikit makanan.


Pada saat yang sama, sinar matahari mulai mencabik sapuan benang kabut. Semenjak Anna diantar-jemput oleh Dhyo, mau tidak mau Anna harus bangun pagi.


Anna mengoleskan selai stroberi pada roti tawar yang banyak-banyak, dan dia tumpuk kembali dengan roti tawar lainnya hingga 4 tumpukan. Anna memakannya dengan nikmat.


Setelah itu, Anna membuka freezer dan mengambil tiga buah kubus kecil es batu untuk mengompres matanya yang pastinya terlihat sembab.


Ting!


Anna membuka ponselnya dan mendapati sebuah chat dari Dhyo.


Kak Dhyo : Udah siap kan?


Kak Dhyo : Aku di depan


Anna seketika setengah berlari menaiki tangga untuk mengambil sepatu dan tas sekolahnya sembari mengoles-oleskan es batu pada kedua matanya.


Anna : Iya, Kak

__ADS_1


Anna : Sebentar ya!


Anna : Mau pakai sepatu dulu


Kak Dhyo : Oke


...***...


"Eh, kemarin lusa gue liat Nahyan berdua sama cewek!"


Langkah Anna terhenti saat mendengar anak kelas lain yang sedang bergosip.


"Palingan itu Anna."


"Gak! Bukan Anna! Itu cewek lain!"


"Ah, yang bener lo? Nahyan kan keliatan banget bucin sama Anna."


"Iya serius!”


"Terus Anna?"


"Udah putus palingan. Akhir-akhir ini juga gak keliatan kan mereka bucin? Udah gue duga sih gak bakal bertahan lama. Hahhaha...."


"Jangan ngomong gitu. Nahyan denger bisa marah dia."


"Kan udah putus. Lagian ya, wajar Nahyan putus sama Anna. Orang cewek kemarin yang berduaan sama dia jelas jauh lebih cantik dari Anna."


Tidak tahan mendengar itu semua, Anna langsung menghampiri kedua gadis itu dan menatap mereka tajam.


Kedua gadis itu tiba-tiba saja terdiam. Anna memutar bola matanya. Beraninya ngomongin orang di belakang, batin Anna yang merasa dongkol.


"Minggir! Ngehalangin jalan aja lu berdua! Dikira jalan punya nenek moyang lo apa!" kata Anna sambil menyelip di antara kedua gadis itu.


Anna mendengar kedua gadis itu tertawa pelan di belakang. "Sensi karena gak nerima kenyataan," kekeh gadis berambut pendek.


Anna memasuki kelas. Gadis itu menghampiri Deana yang terlihat sedang duduk berdua dengan Fabian.


Deana tersenyum malu-malu, lalu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fabian dia berkata, "Gue jadian sama Fabian. Jadi terserah gue kan?"


Anna memicingkan matanya, mencibir. "Eh, pulang sekolah lo sibuk gak?" tanya Anna.


Deana tersenyum, lalu menatap Fabian. "Iya sibuk. Gue mau jalan-jalan nanti sama Fabian."


"Gak bisa tunda dulu gitu? Gue mau spill-spill cerita nih sama lo," tanya Anna lagi.


"Kamu hari ini sama Anna aja dulu. Aku gak apa," ucap Fabian.


Cowok itu benar-benar tidak mau dianggap merebut waktu Deana dengan Anna, sahabat pacarnya itu.


Deana terlihat ragu. "Sebentar ya," bisiknya pada Fabian. Kemudian, Deana mengajak Anna ke bangku belakang, lebih tepatnya bangku Anna.


"Maaf nih, gue gak bisa kalau hari ini. Soalnya gue denger-denger dari Suga, Fabian mau secara resmi nembak gue di resto mahal," ujar Deana pelan.


Anna membentuk bibirnya menjadi 'o'.


"Tapi bukannya kalian udah jadian? Kok Fabian nembak lagi? Gak takut Suga bohongin lo?" tanya Anna bertubi-tubi. Anna memiringkan kepalanya bingung.


"Ck, jangan sampelah. Kalau sampe Suga bohongin gue, liat aja gue gangguin kalau dia mau deketin Bella." Deana terlihat berapi-api.


"Lo belum jawab. Kan lo udah jadian, kenapa Fabian mau nembak lagi?" ulang Anna.


"Ya... gak taulah gue. Tapi, kemarin-kemarin itu Fabian nembak gue cuma dari HP sih."


Anna mengangkat alis. "Terus? Lo terima?"


Deana mengangguk.


"Yaelah pengecut amat! Kalau gue jadi lo gak baka gue terima. Nembak cewek kok dari HP."

__ADS_1


"Iya, itu kalau elu. Tapi gue enggak." Anna melayangkan tatapan sinis pada Deana.


"Na. Lo kalau mau spill-spill gosip menarik, besok-besok aja ya? Ehm... atau gak besok lo nginep di rumah gue aja. Kita party," usul Deana sambil memainkan alisnya naik-turun.


"Mending gak usah deh. Keburu lupa gue," jawab Anna yang terkesan bercanda.


"Eh, Bella mana? Kok belum keliatan?" tanya Anna yabg mengalihkan pembicaraan.


"Gak tau deh. Gue bukan emak dia soalnya," jawab Deana.


"Yowis, lanjut bucinlah! Gue mau tiduran dulu. Mumpung kursi sebelah kosong," usir Anna. "Kalau upacara mau mulai bangunin gue, ya."


Deana mengangguk.


Anna mengambil earphone dari dalam tas dan langsung memakainya di kedua telinga, dan menyambungkannya ke ponselnya. Kemudian, dia menyalakan musik dengan volume sedang.


Anna menidurkan kepalanya menghadap ke jendela.


'Takkan pernah ada yang lain di sisi. Segenap jiwa hanya untukmu ....'


Saat lagu sampai dilirik itu, tiba-tiba saja setetes air mata Anna jatuh. Dia tidak berniat untuk menghapusnya.


Anna tersenyum lirih sambil memejamkan matanya. Cepet sembuh ya, my heart, batinnya.


Di sisi lain ....


"Anak SMA K nantang SMA Y gelud nih," ujar Suga sambil menunjukkan ponselnya pada Nahyan.


"Terus?"


"Terima gak? Terimalah. Udah lama gak gelud takutnya ilmu gua karatan," anjur Suga.


Lalu menatap Nahyan yang beberapa hari ini terlihat murung.


"Cuma cewek aja galau sampe segitunya. Nanti malem gue ajak lo ke club, deh. Ajeb-ajeb kita. Gue jamin lo bakal lupa sama Anna."


Sudut bibir Nahyan sedikit tertarik, dia tersenyum sinis. "Kalau semudah itu lupain orang yang disuka, gak mungkin sampe sekarang lo masih nyariin cewek itu."


Suga terdiam sebentar.


"Bener juga," gumamnya. "Heh! Gue sama lo beda! Sekarang gue udah punya gebetan!"


"Palingan besok ganti lagi," ketus Nahyan.


"Gak gitu juga, Bambank! Gue yakin sama Bella ini bakal tahan lama. Soalnya dia gak ngebosenin."


Nahyan tidak menanggapi.


"Enisha kemaren chat Toonstagram gue. Minta nomor lo. Kasih gak?" Suga kembali memulai pembicaraan.


Nahyan mengerutkan dahinya. "Gak usah," balasnya cepat.


"Terlanjur gue kasih," Suga menyengir.


"Lain kali gak usah gitu. Gue gak suka," ungkap Nahyan sambil membuka ponselnya. Dia berniat untuk mengganti nomor ponselnya.


"Lo coba dulu deh chatan sama Enisha. Anggep aja sebagai pelampiasan. Kalau dianya baper, dalih aja kalau lo cuma nganggep temen SMP."


Nahyan menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan isi kepala Suga. Cowok itu benar-benar tidak berperasaan.


"Sayangnya, gue gak sekuat itu untuk nerima balasannya dimasa depan nanti," Nahyan menepuk pundak Suga.


"Segala sesuatu yang lo lakuin, pasti dapet balesannya. Gue harap lo berhenti mainin cewek. Dimulai dari Bella," sambung Nahyan sebelum pergi meninggalkan Suga, dan menuju ke belakang kelas untuk bermain game bersama teman-temannya.


Suga menaikkan kedua bahunya tidak peduli. Sudah Suga bilang, dia tidak akan berhenti hingga menemukan gadis itu.


°°°


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2