Nahyanna

Nahyanna
BAB 27


__ADS_3

⚠PERHATIAN!


Semua yang ada di sini hanya fiktif belaka alias HALU. Di INDONESIA belum ada rumah yang lebih gede dari istana negara (maybe?) 😆


❤ LIKE dan KOMEN itu PENTING!!😢⚠


🌟Enthusiasm chapter 27🌟


Happy reading!


Anna menatap takjub saat mobil yang di tumpanginya melewati pagar hitam yang sangat tinggi.


"Ini... perumahan?" tanya Anna dengan ragu pada Nahyan.


"Bukan," jawab Nahyan seadanya.


Anna menelan salivanya.


"Ha-halaman rumah lo...?" tebak Anna yang tak bisa berkata-kata.


"Hm."


Lagi-lagi Anna menelan saliva.


"Anjim. Beneran lebih besar dari istana negara dong rumahnya," batin Anna yang mengingat ucapannya saat bertengkar dengan Nahyan.


Sekitar lima menit memasuki halaman kediaman Rabusy, akhirnya terlihat mansion yang besar dan mewahnya membuat Anna sakit kepala hingga ingin menangis darah.



Anna memegang jantungnya yang sedari tadi berdetak sangat kencang. Apalagi saat kakinya menginjak bagian dalam kediaman keluarga Rabusy.


Anna memandang takjub sekelilingnya. Dalam mansion ini benar-benar mewah dan elegan. Kalau hidup seperti ini, rasanya mati muda pun tidak apa-apa.


"Jiwa missqueen-ku meronta," kata Anna.


Nahyan mengusap wajah Anna yang tak henti-hentinya berbinar dan menatap antusias rumah mewahnya ini.


"Sadar!" ujar Nahyan dengan kalem.


"Beneran rumah lo?" tanya dengan antusias.


"Hm," jawab Nahyan sambil melirik Anna yang binar di matanya bertambah.


"Biasa aja. Gak usah norak!"


Kalau saja Anna dalam mode normal, sudah pasti yang Nahyan dapatkan saat ini adalah tendangan di bagian tulang keringnya. Tapi berhubung Anna sedang senang dan sangat antusias, gadis itu memilih tak mengacuhkan perkaraanya Nahyan.


Anna mengerlingkan matanya pada Nahyan, lalu mengeluskan kepalanya ke lengan cowok itu.


"Lo beneran anak sultan ternyata," ucap Anna dengan suara semanis mungkin.


Nahyan berdecak sebal, lalu menyingkirkan kepala Anna dari lengannya.


"Berisik!" Nahyan berjalan mendahului Anna.


"Eh, tunggu!" Anna mengekori sambil memegangi baju bagian belakang Nahyan.


Selagi mengikuti langkah cowok itu, Anna memanfaatkan waktu itu untuk mengagumi interior yang mewah, dan se-aesthetic itu.


"Yan," panggil Anna.


"Apa?" jawab Nahyan.


"Kita mau ke mana sih? Kok dari tadi gak sampe-sampe?"


"Makan."


"Cuma berdua?"


Nahyan tidak menjawab.

__ADS_1


"Kenapa rumah lo ga ada satupun orang ?" tanya Anna.


Duk!


Kepala Anna menabrak punggung Nahyan yang berotot dan terasa keras itu. Merasa Nahyan yang tak berkutik, Anna menyembulkan kepalanya dari balik tubuh Nahyan untuk melihat apa yang diperhatikan Nahyan.


"OMG!!" batin Anna berteriak. "Gila, gila, gila! Itu om-om hawt banget!!"


Anna secara tak sadar memukul punggung Nahyan sanking senangnya. "Harus minta foto," gumam Anna sambil berjalan mendekati Om ganteng.


Nahyan menarik kerah baju bagian belakang Anna. "Gak usah macem-macem!" kata Nahyan yang terlihat kesal.


Anna mengerucutkan bibirnya.


"Apaan. Gak macem-macem, kok. Orang cuma mau satu macem," gumam Anna yang masih bisa ditangkap oleh telinga Nahyan.


"Udah punya anak itu!" kata Nahyan dengan galak.


Anna terbelalak. "Are you seriously? Gue pikir om-om 28 tahunan," jawab Anna yang merasa tidak percaya.


Nahyan menatap datar Anna. "Anaknya udah dua," Nahyan menatap pria hot yang dibilang Anna. "salah satunya gue."


"Owalah ... EHH?!" kata Anna yang akan berteriak kaget kalau saja tangan Nahyan tidak membekap bibirnya.


Nahyan menyeret Anna menjauhi tempat itu.


"Mau kemana?" tanya Anna yang diseret Nahyan.


Nahyan hanya diam.


"Nahyan~" Sebuah suara dari arah belakang mengalun lembut.


Saat mendengar suara itu, tubuh Nahyan menegang dan dengan gerakan patah-patah cowok itu menghadap ke belakang.


Anna memperhatikan sikap Nahyan yang menurutnya aneh, lalu menatap wanita paruh baya yang sedang memakai apron.


"Baru pulang?" tanya seorang wanita dengan senyumnya yang menyeramkan.


Tunggu, tunggu, tunggu.


Ma?


Nahyan memanggil wanita itu Mama? Bukankah itu berarti wanita ini adalah Nyonya Rabusy?


Nahyan menyeret Anna untuk mendekati mamanya. Nahyan mencium tangan sang Ibunda tercinta dan Anna mengikuti setelahnya.


"Ini siapa?" tanya Miranda alias mama Nahyan dengan senyum yang hangat.


Anna ingat. Wanita ini adalah wanita yang pernah ditemuinya di rumahnya dulu.


"Eh. Eumh... ini...." Nahyan terlihat bingung menjelaskan ke ibunya.


"Nama lo siapa?" bisik Nahyan yang tiba-tiba saja melupakan segalanya saat menghadapi aura ibunya yang berbeda.


Mungkin, orang lain menyangka itu adalah ekspresi yang normal. Namun bagi Nahyan yang sudah bersama ibunya dari orok, itu adalah ekspresi yang menandakan datangnya bahaya.


Anna mengerutkan dahinya lalu segera menjawab, "Saya Anna, Tante."


"Owalah, jadi ini yang namanya Anna," ucap Miranda dengan senyum penuh misterius.


"Kamu takut kucing ya?" Wanita itu melirik Nahyan yang sudah berkeringat dingin.


"Ma!" rengek Nahyan. Dirinya punya firasat yang buruk tentang ini.


"Eh, iya Tante." Anna bingung harus menjawab apa. Sebab, atmosfer di sekitarnya terasa aneh.


"Itu lho, si Nahyan. Tadi sibuk nelponin orang rumah supaya kandangin semua kucingnya." Mama Nahyan memegang kedua pundak Anna dan menatap Nahyan dengan senyum licik.


"Maaaa...." Nahyan merengek dengan wajah memelas.


Melihat wajah memelas anaknya, membuat Miranda tersenyum puas. Sudah cukup untuk bermain-main dengan ekspresi anaknya itu.

__ADS_1


"Kamu siapanya Nahyan?" tanya Miranda dengan lembut.


"Saya temannya Nahyan, Tan."


Mendengar itu, Miranda menganggukkan kepalanya. Mengerti.


"Kamu bawa Anna jalan-jalan dulu. Mama mau lanjut memasak," ucap Miranda pada Nahyan yang sekarang sedang menghela napas lega.


"Iya, Ma."


"Awas kamu kalau macam-macam!" ancam Miranda sambil tersenyum penuh misteri.


Nahyan menelan salivanya.


"Iya, iya. Nahyan gak macem-macem. Cuma satu macem kok, Ma." jawab Nahyan yang langsung dihadiahi cubitan pedas pada lengan kekarnya.


"Ukh!" Nahyan meringis kesakitan. Entah bagaimana dia bisa berkata seperti itu. Ini semua karena ucapan anna yang terngiang-ngiang di pikirannya.


Cuma satu macam.


Nahyan menghela napas berat.


"Yaudah. Tante tinggal ya." Setelah mengatakan itu, Miranda segera pergi ke dapur untuk memasak.


Miranda memang banyak mempekerjakan asisten rumah tangga, namun kalau soal memasak dan mencuci baju masih dikerjakannya sendiri. Ini keinginannya untuk mengisi waktu luangnya.


"Emak lo cantik banget ya...."


Anna berkata dengam kagum setelah kepergian Miranda, ibu Nahyan.


"Tapi sayang, anaknya buriq." Anna berkata dengan cekikikan.


Mood Anna sangat baik saat ini. Hampir saja Anna berburuk sangka dengan orang tua Nahyan. Anna selalu mengira, orang kaya pasti memiliki sifat sombong. Tapi, sepertinya keluarga Nahyan tidak seperti itu.


Nahyan menjitak kepala Anna.


"Lo yang buriq."


"Gue ini shining, shimmering, splendid. Lihat baik-baik." Anna berkata sambil membusungkan dadanya dengan bangga.


Nahyan melihat Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Dengan wajah datar Nahyan menjawab, "Yang gue liat cuma keburiqan."


Nahyan berjalan melewati Anna.


"Ck! Tungguin dong!" kata Anna dengan setengah berlari, menyusul langkah kaki Nahyan yang lebar.


Anna mencegat langkah Nahyan. "Gue mau lo memperlihatkan sesuatu ke gue."


"Lo mau liat apa?" tanya Nahyan dengan kalem.


Anna menyengir.


"Lantai 2, boleh?" tanya Anna dengan mata yang berbinar-binar.


Nahyan memperhatikan ekspresi Anna yang menurutnya imut.


"B-boleh aja. Ayo!" Nahyan berkata dengan gugup.


Sebenarnya, ada sesuatu hal di lantai 2 yang membuat Nahyan khawatir jika Anna melihatnya. Tapi, yasudahlah. Nahyan bisa meng-handle itu.


°°°


Tbc


⚠LIKE dan KOMEN WOYYY!❤


Wadoh, aku semalem keasikan baca Kakaop*ge. Maap ehehhehe...


Pemberitahuan

__ADS_1


Halo kaum rebahan, aku mungkin selama 1 minggu, mulai hari rabu hingga selasa depan bakal menghilang seperti di telan bumi. AKU PTS GAIIIISS 😱 MALAH RABU ITU KIMIAA. AKU GAK NGERTI MATERI TERMOKIMIAA WADOH GIMANA COBA. 😭😭😭


__ADS_2