Nahyanna

Nahyanna
BAB 8


__ADS_3

DRAP! DRAP! DRAP!


Langkah kaki sekelompok cowok mendominasi koridor sekolah. Tiga cowok terdepan yang merupakan the most wanted di sekolah ini, menyita perhatian seluruh umat manusia di sekolah ini.


Saat mereka mendekat ke arah Anna, meski Anna juga tak yakin kalau mereka menuju kearahnya, gadis itu langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menjauhi cowok-cowok itu.


"Anna!!" teriak Nahyan membuat Anna sontak memberhentikan langkahnya yang terkesan mirip orang kesetanan.


Astaga. Dag, dig, dug, duer jantung gue, batin Anna sambil meringis.


Anna perlahan-lahan membalikkan badannya.


"Duh! Males banget berurusan dengan Nahyan. Pasti gak kelar-kelar," gerutu Anna sambil menggigit bibir bawahnya.


Sebenarnya, tadi pagi cowok itu miss call Anna dari jam 3 dini hari hingga jam 6 pagi. Nahyan pasti sudah kehilangan akalnya. Lalu, bagaimana dengan Anna? Tentu saja tidurnya terganggu. Dia juga merasa sangat kesal, dan akhirnya dia mode silent kan ponselnya. Kenapa tidak dari tadi? Anna juga baru kepikiran me-silent ponselnya.


Anna menggenggam tali tasnya kuat-kuat ketika orang yang ingin dihindarinya kini berada tepat di depannya.


"Bawain tas gue!" katanya memerintah dengan wajah datar.


Sepertinya, Nahyan sedang kumat dan berada dalam mode menyebalkan sekaligus sensian melebihi Anna yang sedang PMS.


"Dasar babu!" lanjutnya sambil memberikan tasnya yang berat. Anna merasa sedang membawa beban 10 kg.


Anna hampir saja kehilangan keseimbangan saat menerima tas cowok itu. Entah apa yang ada di dalam tas itu. Namun, yang Anna heran untuk apa Nahyan membawa barang berat-berat sedangkan ujung-ujungnya dia akan bolos dengan antek-anteknya itu. Biasa, nongkrong di Warung Emak.


Anna menghela napas berat lalu mengikuti cowok bangs-at itu menuju ke kelasnya.


"Uh, berat banget!" gumam Anna sambil membenarkan letak tas Nahyan yang hampir jatuh dari pelukannya dengan bantuan kaki.


"Lo bawa apaan sih sampai berat banget?! Gue yakin bukan buku yang lo bawa," omel Anna entah bagaimana kalimat itu berani terlontar dari mulutnya. Gila? Anna juga berpikir bahwa dia sudah gila.


Nahyan menengok ke arah Anna di belakangnya. Sedangkan gadis itu sedang ketar-ketir atas kelancangan mulutnya.


"Anak kecil gak boleh tau," ejek Nahyan dengan seringai-an alanya.


Satu kata buat Nahyan saat ini, ganteng. Huhuhu, kalian harus tau Nahyan itu sangat-sangat ganteng. Anna yang haus akan cogan, mana tahan godaan. 😭


Anna mendengus kesal saat mendengar cowok itu mengejeknya, meski sempat terpesona. Anna sadar diri, tingginya memang sedikit rendah. Hanya 151 cm tapi bukan berarti dirinya anak kecil. Anna itu remaja! Harga diri Anna benar-benar terluka. Hiks.


"Dasar genter sableng!" gerutu Anna tapi masih bisa ditangkap oleh telinga Nahyan. Entah telinga cowok itu yang terlalu tajam ataukah karena Anna yang tidak sadar suaranya besar.


"Apa? Gue gak denger," katanya sambil membungkukkan badan untuk mendekatkan telinganya di depan bibir Anna.


"Nyebelin!" kata Anna setengah berteriak.


Fabian dan Suga yang merupakan teman dekat Nahyan, hanya bisa menonton tingkah laku ketua gengnya dan babu ketuanya itu bertengkar. Tidak biasanya ketua mereka itu menanggapi seruan cewek. Apalagi cowok itu terlihat menikmati setiap momen dalam pertengkaran.


...***...


Anna masuk ke kelas 12 A-4 dengan sempoyongan. Semua orang memperhatikannya, namun Anna cuek bebek alias tidak peduli. Anna meletakkan tas sekolahnya di atas meja lalu menaruh kepalanya di tas sekolahnya.


"Gila! Gue gak bakal mau ke tempet terkutuk itu lagi!" ucap Anna mengundang lirikan dari orang yang duduk di sampingnya.


Mengingat isi kelas 12 A-7 yang absurd, membuat Anna bergidik ngeri. Pasalnya dirinya habis jadi bulan-bulanan di sana. Dia habis digoda oleh cowok-cowok fucek boy. Mending ganteng, muka sebelas dua belas sama pantat kuda saja banyak tingkah. Terlebih lagi bau kelas yang apek karena cowok-cowok itu habis bermain bola di dalam kelas, dan mereka semua bertelanjang dada!


For your information, kelas 12 A-7 semuanya cowok dan kelas itu berisi cowok-cowok yang dicap bandel tidak tertolong.


"Hilih, bicit!" ujar Deana.


Deana fokus ke novelnya yang judulnya berbeda dengan yang kemarin.


Anna merasa aneh dengan perubahan Deana. Pasalnya, Deana ini manusia unik. Kalau orang lain pasti awalnya pendiam dan saat sudah merasa nyaman malah cerewetnya gak ketulungan.


Nah, Deana ini beda dari yang lain. Dia malah hiperaktif diawal dan pendiam diakhir.


Anna memicingkan matanya, lalu merebut paksa novel Deana.


"Eh, Bhangke! Kembaliin!" kata Deana berusaha mengambil novelnya kembali.


Anna menyembunyikan tangannya yang memegang novel di belakang. Gadis itu tersenyum penuh arti.


"Deana cantik, pinjem PR MTK dong!" pinta Anna dengan suara yang manja.


Deana ingin muntah mendengarnya. "Dasar sarap! Kalau lo mau pinjem ya ambil aja. Gak usah rebut novel gue!" jawab Deana sambil mengambil kembali novelnya.

__ADS_1


Deana mengambil buku tugas Matematika miliknya dari dalam tas, lalu menyerahkannya pada Anna.


"Cepet nyalinnya! Sepuluh menit lagi bel masuk. Pak Sem jam pertama hari ini," ucap Deana sambil memberikan buku tugasnya yang disambut oleh Anna.


Anna mengambil buku tugasnya di dalam tasnya.


"De, pinjem pena dong!" kata Anna.


"Yaelah. Gak modal banget sih!" cibir Deana sambil mengambil sebuah pena cair berwarna hitam dan memberikannya kepada Anna.


"Aduh jangan yang warna item dong! Yang warna biru aja," protes Anna langsung mengambil pena berwarna biru dari kotak pensil Deana begitu saja.


"Udah minjem betingkah!" 


Anna mengangkat bahunya tak peduli.


"EH BUSET!" pekik Anna saat membuka buku tugas milik Deana.


"Ini beneran sebanyak ini?" tanya Anna sambil membolak-balikkan halaman buku.


"Hooh."


Anna menepuk kuat keningnya.


"Mati gue!" Anna cepat-cepat menyalin tugas Deana dengan secepatnya.


Waktu pun berlalu, 10 menit adalah waktu yang sangat singkat. Pak Sem yang merupakan guru matematika melangkah masuk ke dalam kelas 12 A-4. Langkah yang terdengar seperti suara terompet kematian.


Anna menelan saliva-nya.


"Mati! Gue belom selesai!" gumam Anna dengan wajah memelas. Jika saja ini dunia komik, pasti dirinya terlihat sedang meleleh.


Ketua kelas langsung memberi komando.


"Berdoa, mulai!" komando ketua kelas. Lalu seluruh penghuni kelas menundukkan kepala mereka dan berdoa di dalam hati.


"Selesai!" Setelah aba-aba tersebut, salam diucapkan.


"Minggu kemarin saya kasih PR kan?" tanya Pak Sem sebagai formalitas.


Pak Sem menganggukkan kepalanya.


"Silakan kumpul di depan barisan masing-masing. Saya mau cek siapa saja yang tidak mengerjakan."


Sontak seluruh siswa-siswi mengumpul buku tugas mereka. Anna mengumpul buku tugas dengan gelisah.


"Duh, gimana nih De? Gue belom selesai," bisiknya pada Deana.


"Paling disuruh keluar Na," jawab Deana sambil cekikikan.


"Jahat!"


"Siapa suruh gak ngerjain," kata Deana sambil memutar bola mata berwarna cokelat terang itu.


"Gue itu lupa tau gak? Kalaupun gue inget, gue mau ngerjain gimana? Kapasitas otak gue gak mencukupi."


Deana menoyor kepala Anna pelan.


"Bilang aja lo males!" celetuk Deana pada Anna yang terdiam. Bukan karena ucapannya, melainkan Pak Sem yang sedang memeriksa buku di barisan Anna.


"Yang namanya Anna maju!"


Anna menelan saliva-nya lalu menatap ke arah Deana. Gadis itu yang Anna tatap malah memainkan alisnya naik-turun dengan senyum yang menyebalkan.


"Sialan!" gerutu Anna pelan membuat Deana terkekeh geli.


"Mana ini yang namanya Anna?" tanya Pak Sem penuh dengan penekanan.


Anna dengan ragu-ragu mengangkat tangannya lalu berjalan menuju ke depan.


"Kamu tau kesalahan kamu?" tanya Pak Sem pada Anna yang menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya kuat-kuat.


"Maaf, Pak," lirih Anna.


"Keluar!" usir Pak Sem dengan dingin.

__ADS_1


"Kalau minggu depan kamu mengulanginya lagi tidak usah ikut pelajaran saya selama satu semester," kata Pak Sem dengan menatap Anna datar.


"Iya, Pak. Maaf. Saya permisi," jawab Anna lalu keluar dari kelasnya.


Anna menghela napas berat saat berada di luar. Anna berjalan tidak tentu arah.


"Salah gue sih...," gumam Anna sambil menempelkan kepalanya di dinding.


Tuk! Tuk! Tuk!


Anna menjenturkan kepalanya pelan ke dinding sambil merutuki kebodohannya.


"Begobegobego!"


Di sisi lain...


"Ahaha... dasar pantaat semok!" ejek Suga sambil berlari dengan dikejar Fabian.


"Anjim, ngeselin lo tayi!" maki Fabian yang kesal dengan kejahilan Suga lalu melempar baperwer yang diambilnya diam-diam dari dalam tas Nahyan ke arah Suga.


Pletak!


"Aw!" teriak seseorang.


Suga perlahan berhenti berlari lalu meringis kesakitan. Padahal bukan dia yang terkena lemparan taperwer maut dari Fabian.


"Taperwer!!"


"Anna!"


Teriak Suga dan Fabian bersamaan. Lalu berlari mendekati sang korban.


"Maaf, Na. Dahi lo jadi luka gitu," ucap Fabian dengan raut wajah menyesal. Bisa dihajar Fabian kalau Nahyan tau Anna terluka karenanya.


"Ya, iyalah! Ini sakit banget," batin Anna sambil menyentuh dahinya yang habis kena baperwer.


"FABIAN! GAWAT!" teriak Suga sehabis memungut taperwer yang masih terisi penuh--yang terpental tidak jauh dari tempat Anna berdiri.


"Taperwer-nya cacat! Nahyan ngamuk pasti!"


Fabian menarik rambut Suga hingga kepala cowok itu terjengkang ke belakang.


"Na? Sakit ya? Maaf banget Na," lirih Fabian seolah tidak merasa bersalah pada Suga.


Anna yang merasa seperti kepalanya buntung, mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum paksa.


"Nggak apa...," tiba-tiba saja pandangan Ana terganggu oleh kegelapan yang seolah-olah menelan cahaya di sekitarnya, "kok?"


Bruk!


Tidak sampai sedetik Anna sudah ambruk.


Kenapa dirinya terus sial hari ini? pikir Anna sebelum kegelapan benar-benar menelan cahaya.


"Anna!" teriak dua sejoli itu bersamaan. Fabian dan Suga terlihat sangat panik.


°°°


Bersambung...


NEXT? ❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya ya 😢


Biar aku semangat update-nya ❤


❤ NoticeMe!


💋 Anak Micin


Salam hangat,


Juecy.bell


20 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2