
...Rasa kita memang sama, tapi tidak ada yang benar-benar berjuang di antara kita....
...°...
...°...
...°...
Anna menggigit ibu jari. Gadis itu sedang duduk di pojokan ruangan sambil memeluk kaki. Dia sedang berada dalam situasi gawat darurat!
“Mati gue…,” gumamnya berulang kali. Anna melirik ke arah pintu toilet. Kemudian dia berdiri tegap. Dia harus mencari tempat persembunyian.
Mata Anna menelusuri ruangan yang merupakan kamar Nahyan. Cowok menyebalkan itu berani-beraninya mengunci pintu kamar yang hanya ada dirinya dan Nahyan. Untungnya, Nahyan sekarang sedang mandi. Wait, wait, mandi? YES!! MANDI! Pikiran Anna benar-benar dibuat traveling.
Deg deg deg
Jantung Anna berdegup kencang. Anna bisa gila. Seharusnya dia tidak memprovokasi Nahyan tadi. Alhasil beginilah jadinya, dia dibawa bolos sekolah oleh Nahyan.
“Duhlah, gue takut ….” Anna mencari tempat persembunyian.
Anna memasuki sebuah ruangan khusus pakaian yang terhubung dengan kamar. Dasar orang kaya!
“Seenggaknya ini bisa ngulur waktu,” ucap Anna pelan sambil membuka pintu lemari yang berada di dalam closet pakaian dan bersembunyi di dalam sana.
Anna dibuat hampir gila karena bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Nahyan padanya, atau apa yang akan mereka lakukan nantinya.
Krek!
Jantung Anna mencelos saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Bagaimana ini? Anna benar-benar takut hingga tubuhnya bergetar.
“Naa!” panggil Nahyan dari luar sana.
Anna menutup mulut dengan tangan.
“Jangan ke sini, please,” batin Anna.
Nahyan mencari sosok Anna yang menghilang sambil mengencangkan tali jubah mandi yang melilit di sekitar pinggangnya. Kemudian memakai sandal dalam ruangan yang tepat beradi di depan pintu kamar mandi.
Dimana gadis itu?
Nahyan menyeringai lebar. Bermain petak umpet, huh?
“Naa!” Nahyan memanggil dengan senyumya yang tidak luntur-luntur.
Nahyan menarik laci, dan menutup laci meja keci ldi samping tempat tidurnya agar menimbulkan suara seolah-olah Nahyan sedang mencari tempat persembunyian Anna.
Pasti Anna tengah ketakutan setengah mati saat ini, pikir Nahyan yang membayangkan ekspresi ketakutan Anna.
Lucunya, batin Nahyan.
“Naa! Kemana sih?” Nahyan melirik bawah tempat tidur dengan mendengus geli. Lalu dimasukinyalah ruang ganti pakaiannya.
“Keluar gih, Na! Nanti gue pesenin makanan,” goda Nahyan sambil membuka lilitan jubah mandinya. Tangan Nahyan bergerak mengambil baju berwarna putih namun dia teringat sesuatu.
Nahyan membuka pintu lemari, dan tiba-tiba ….
“AAAKH!! GILA! MESUM!” teriak Anna dari dalam lemari sambil berdiri.
Duk!
“Aw!” Anna memegangi kepala bagian atas yang terbentur lemari.
“Luka gak?” tanya Nahyan sambil menyentuh bagian kepala Anna yang terbentur. Nahyan mengerti sakitnya terbentur, terlebih lagi kayu lemari yang dipakai adalah kayu jati.
Anna menatap wajah Nahyan yang terlihat khawatir, lalu matanya makin lama semakin turun, turun, dan hingga ke benda masa depan cowok itu.
Anna tanpa sadar menelan saliva.
Monster.
Nahyan mengikuti arah pandang Anna.
(O_O)
__ADS_1
Nahyan melotot dan langsung mendorong kepala Anna masuk ke dalam lemari hingga terdengar suara ‘duk’. Dia menutup pintu lemari itu rapat-rapat.
Hilang sudah harga dirinya.
“Kenapa lo sembunyi di sini?” tanya Nahyan. Cowok itu mengusap wajahnya gusar. Dia benar-benar tidak menyangka gadis itu bersembunyi di sini. Nahyan pikir Anna bersembunyi di bawah tempat tidur atau balkon.
“….”
Tidak mendengar jawaban, Nahyan kembali khawatir. Mungkinkah gadis itu pingsan karena dia mendorong kepalanya terlalu kuat? Nahyan cepat-cepat membuka lemari, namun sebelum itu dia melilitkan kembali ikatan jubahnya.
Bukannya menemukan Anna yang pingsan, Nahyan malah menemukan Anna dengan ekspresi wajah yang aneh. Tersenyum tapi terasa aneh.
“Lo kenapa?” Nahyan meletakkan tangan di dahi gadis itu. Takut-takut kalau gadis itu demam.
“Lo gak gila hanya karena kebentur dua kali, kan?” tatapan mata Nahyan terlihat iba.
Anna masih tersenyum, namun kali ini dia menaik-turunkan alisnya kepada Nahyan. “Ini kan yang lo cari?” ujar Anna sambil menunjukkan sebuah benda keramat yang dipegang menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
Nahyan melotot dan merampas benda keramat itu. “Cewek macam apa sih yang santai megang ****** cowok?” sembur Nahyan yang malu. Sudah jatuh, tertimpa tangga.
“Macam guelah. Kan gue murahan,” jawab Anna cuek. Sebenarnya, dia sedang menyindir Nahyan.
Nahyan menghela napas. “Maaf,” ujarnya sambil menutup pintu lemari.
“Jangan keluar sampe gue panggil.”
Nahyan mengambil pakaiannya dan pergi keluar dari walk in closet.
...***...
Anna memainkan Mobile Lijend yang berada di ponsel Nahyan. Benar-benar noob. Nahyan yang sedari tadi menonton cara Anna bermain benar-benar gregetan. Untungnya, yang Anna mainkan adalah akun tuyulnya.
“Noob banget sih! Gitu aja mati,” komen Nahyan. Cowok itu merebut ponsel dari tangan Anna.
Anna mengerucutkan bibirnya, lalu melihat cara bermain Nahyan. “Ya kan udah gue bilang gue Cuma bisa maen Laela, malah lo suruh maen Chouo," kilahnya.
Nahyan tidak menjawab lagi. Dia terjun ke dunianya sendiri.
Anna menghela napas bosan sambil memangku wajah dengan kedua tangan dengan sesekali melirik ke arah layar ponsel Nahyan. Tak lama kemudian, gadis itu terus-terusan memperhatikan wajah Nahyan. Anna berupaya menanamkan raut wajah tampan Nahyan di dalam pikirannya.
Tiba-tiba saja Nahyan bersandar di bahu Anna.
“Gue tau gue ganteng,” ujar Nahyan setelah membunuh lawannya.
‘Savage!’ itulah yang terdengar dari ponsel Nahyan. Cowok ini benar-benar jago dalam bermain game.
“Iya, ganteng.”
Nahyan tersenyum miring saat Anna mengakuinya. Menjadi tampan ternyata tidak buruk juga.
“Tapi sayangnya pemaksa, boros, omongan pedes,” sambung Anna.
Gadis itu mendorong kepala Nahyan yang seenaknya bersandar di kepalanya. Bersandar di kepala? Jangan heran saudara-saudara, maklum, perbedaan tinggi Anna dan Nahyan begitu mencolok.
“Mau kemana?” Nahyan mencekal tangan Anna begitu dia berdiri.
“Kemana-mana hatiku senang,” Anna menjawab asal.
“Gue gak bilang lo boleh pergi.”
Anna memasang ekspresi penuh tanya. “So what? Gue gak pernah bilang mau nurutin lo.”
Nahyan melengos, dan saat itu juga keheningan pun tercipta. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Anna menunduk melihat ujung jari kakinya, lalu menyelipkan rambut di belakang telinga.
“Gue sebenernya sering bertanya-tanya,” Anna menatap Nahyan yang sekarang berdiri dari duduknya. Handphonenya pun sudah ditaruhnya di lantai.
“Lo bener-bener pernah suka sama gue gak sih?”
Nahyan membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun gadis itu menghentikannya.
“Tapi kalau pun gak pernah, semuanya terdengar sangat masuk akal. Lo yang begitu bersinar terang ke mana pun lo pergi, suka sama gue? Gue rasa gak mungkin,” mata Anna berkaca-kaca.
__ADS_1
“GUE SUKA LO!” bantah Nahyan dengan setengah berteriak. “Kenapa lo mempertanyakan itu sih?! Apa pernah lo liat gue tertarik sama cewek selain lo?”
Anna terkejut, namun detik selanjutnya dia tersenyum lemah. Gadis itu menghapus air mata yang mulai menetes.
“Kalau pun iya, gak ada di antara kita berdua yang bener-bener berjuang mempertahankan hubungan,” Anna menutupi wajahnya saat dia tak bisa menahan air matanya. Setelah hubungannya dengan Nahyan berakhir, Anna tidak pernah benar-benar meluapkan isi hatinya. Yang dia lakukan hanya menelan bulat-bulat semua emosinya.
Rahang Nahyan mengeras. “Gue gak akan menyangkal,” jawab Nahyan dengan ekspresi wajah yang tidak tertebak.
Anna membelakangi Nahyan. “Kalau gitu jangan bersikap seolah-olah hubungan kita masih ada harapan," dia berusaha menahan tangisnya.
“Sikap gue yang mana yang buat lo ngerasa hubungan kita masih ada harapan?”
Anna terdiam. Dia tidak dapat menjawabnya. Mungkinkah sikap Nahyan yang sangat peduli padanya itu hanyalah imajinasinya saja?
“Gue pikir gak ada yang perlu di bicarain lagi. Gue pamit ya,” ucap Anna. Butuh keberanian yang begitu banyak untuk mengucapkan itu tanpa suara yang bergetar, dan butuh banyak energi juga untuk menahan tangisnya yang akan pecah.
Sesaat setelah Anna mengucapkan itu, tangan Nahyan menjulur ke arah Anna dan memeluk gadis itu erat. Dan saat itu tangis Anna pecah.
Nahyan membalik tubuh Anna dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya, lalu mengelus-elus kepala Anna.
"Nangis sepuas lo, Na," kata Nahyan dengan suara yang parau.
Anna berhenti menangis.
Dia benar-benar harus mengakhiri ini.
"Gue mau pulang," kata Anna masih sesegukan.
"Tapi, Na--"
"Gue bilang mau pulang!" jawab Anna cepat.
Nahyan memejamkan matanya beberapa saat, lalu menghela napas.
"Oke, tapi gue anter."
"Gak perlu. Mulai saat ini kita bener-bener gak ada hubungan. Gue harap lo gak usah sok peduli lagi sama gue, dan jangan pernah deketin gue lagi."
Nahyan mengepalkan tangannya.
"Jangan pergi, Na," hanya itu yang dapat Nahyan ucapkan.
Anna melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Nahyan walau rasanya sangat berat. Anna meraih knop pintu, namun saat pintu itu terbuka Nahyan mendorong pintu agar kembali tertutup.
"Please, Na. Gue bener-bener gak mau ini jadi yang terakhir kalinya. Gue cinta lo. Gue sayang lo. Gimana caranya supaya lo percaya itu?" lirih Nahyan yang duduk berlutut dilantai sambil memegang kedua tangan Anna.
"Perjuangin gue, bisa?" tantang Anna. Namun lagi-lagi Nahyan terdiam.
Anna mendengus. Dia benar-benar lelah dengan semua ini. Cowok ini benar-benar pengecut.
"Gak bisa kan? Yaudah biarin gue pergi," setelah mengucapkan itu Anna benar-benar pergi dan menghilang dari balik pintu.
Nahyan tidak menyusul Anna seolah-olah sudah pasrah dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Dia menangis dalam diam. Hatinga benar-benar hancur.
Di lain sisi, Anna menumpahkan air matanya. Cinta benar-benar menyakitkan.
"Permisi, Mbak. Mau tanya, apartement nomor 19 dimana ya? Saya mau nganter pesanan pizza," tanya seseorang sambil dengan membawa sebuah kotak pizza.
"Ah? Atas nama Nahyan ya?"
"Iya, Mbak."
Anna mengangguk dan mengambil kotak pizza itu. "Itu apartement nimor 19. Mas bilang aja, pizzanya udah sampe ke Anna," ujar Anna lalu pergi membawa kabur pizza.
"Mbakkk!!"
Anna pergi dengan terburu-buru, lalu mengambil sepotong pizza.
Galau juga butuh tenaga.
°°°
Bersambung.
__ADS_1
YOK KOMEN ANAK-ANAKKUUU ❤