Nahyanna

Nahyanna
BAB 17


__ADS_3

🌟Enthusiasm chapter 17🌟


Hahahaha judulnya, berasa judul lagu aja :v


Gua sebeel ya ampuun! Kekerasannya gak lebay kok. Lama banget reviewnya 😓😭😒😥


mo meninggal aja😔


Yaudahlah yah,


Happy reading, Guys!


•••


Anna berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur dengan menggendong tas sekolah di punggung. Gadis itu berjalan menuju meja makan, lalu langsung mengambil roti tawar.


Anna memoleskan selai stroberi di atas rotinya dan menimpa rotinya dengan roti yang baru, lalu memoleskannya lagi dengan selai stroberi dan menimpanya dengan roti baru lagi, begitu pula selanjutnya hingga roti tawarnya menjadi 6 lapis.


Anna memakan santai sarapan paginya tanpa peduli tatapan kesal dari Ami yang baru saja datang.


"Hai, Kak." sapa Anna mencoba menjadi ramah.


For your information, Ami adalah anak hasil gulatan Dewi dengan pamannya Yudis. Artinya, Ami adalah sepupu Anna.


Ami memutar bola matanya kesal.


"Tadi ada cowok yang nyariin lo tau," ucap Anna tanpa menatap Ami.


Ami menatap Anna penuh tanya.


"Di depan ada cowok. Nyariin lo," ulang Anna.


Sebenarnya, ini hanya tipu-tipu saja. Saat Ami berlari meninggalkan dapur menuju ruang tamu, Anna tertawa geli.


Anna bersiap-siap menyediakan bacot-bacotnya jika saja Ami datang dengan semburan kuah yang berasal dari mulutnya.


"Apa sih?! Yang ada dia nyariin lo," ucap Ami kesal karena merasa dipermainkan.


Anna mengerutkan dahinya.


Seorang cowok mencarinya? Siapa? Jika ini hanya bacotan Ami untuk membalasnya, dia rasa tidak mungkin. Otak Ami tidak sepintar itu untuk membalasnya.


"Gue kira nyariin gue beneran," gumam Ami pelan sambil berjalan ke kamarnya. Pagi ini Ami sangat malas ke kampus, padahal jam 8 nanti dosen killer yang akan mengajarnya.


"Padahal ganteng banget tuh cowok. Sialan emang."


Anna terlihat berfikir sebelum ia memakai tas sekolahnya dan menghampiri 'cowok' yang katanya mencari dirinya. Saat melihat cowok itu lutut Anna terasa lemas.


Anna meneguk saliva-nya.


"Tau rumah gue dari mana?" tanya Anna dengan suaranya yang seperti tikus terjepit.


"Berangkat bareng yuk, Na?" tanya Galen dengan senyum manisnya.


Anna melting dibuatnya.


Ingat! Anna adalah pecinta cowok ganteng. Dimana ada cowok ganteng, di situlah Anna menggila.


Anna menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum senang. Dan tanpa ba-bi-bu, Anna langsung masuk ke mobil Galen.


"Tau dari mana rumah gue, Len?" tanya Anna sambil memasang sabuk pengaman.


"Nyari alamat cewek kayak lo mah kecil," jawab Galen sambil menyalakan mobilnya.


Anna mengerutkan dahinya.


"Emang gue cewek kayak mana?" tanya Anna yang sedikit merasa tersinggung.


Galen melirik Anna lalu tersenyum jahil. "Kayak upil," jawabnya membuat Anna mendelik kesal.


Anna memukul bahu cowok di sampingnya, yang sekarang sedang tertawa terbahak-bahak.


Tidak beberapa lama, mobil Galen memasuki tempat parkir sekolah mereka.


Saat mereka berdua turun dari mobil, mereka menyita perhatian orang-orang yang berada diparkiran.


Salah satu hal yang paling Anna tak suka adalah menjadi pusat perhatian. Dan sekarang, dirinya dan Galen menjadi pusat perhatian.


"Ayo!" ajak Galen dengan senyum manisnya.


Meleleh aku, Bang! Meleleh!


Anna menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Gadis itu membalas Galen tersenyum.


Galen memegang tangan Anna.


Anna yang terkejut langsung menatap Galen, yang balas menatapnya.


"Boleh, kan?" tanya Galen dengan suara lembut.


Anna benar-benar lemah dengan cowok ganteng, lebih lemah lagi kalau cowok itu bersikap lembut padanya. Rasanya mau meninggal aja. 😆


"Gak boleh!" ucap sebuah suara bariton sambil melepaskan genggaman tangan Galen dari tangan Anna.


Baru saja ingin menjawab dan memperbolehkan Galen memegang tangannya, suara tegas lain yang menjawabnya.


"Nahyan!" batin Anna yang merasa gugup.


Nahyan berjalan mendekati Galen, lalu menepuk pundak cowok itu.


"Gue udah bilang, jangan deketin dia. Anna dibully karena lo." bisik Nahyan dengan tatapan mata yang tajam.


Galen mematung. "Lo kalau gak bisa jaga dia, jangan harap deket-deket dia!" lanjut Nahyan dengan penuh penekanan.


Nahyan beralih menatap gadis mungil yang tingginya hanya mencapai siku tangannya itu.


Nahyan mengambil lengan Anna dan menyeret gadis itu pergi dari sana.


Anna menengok ke arah Galen yang diam mematung, lalu berkata maaf tanpa suara.


Galen tersenyum kecil lalu mengangguk.

__ADS_1


"Bawa!" kata Nahyan dengan wajah datar.


Anna hampir saja kehilangan keseimbangan saat menerima tas Nahyan. Entah apa yang ada di dalam tas itu.


Anna heran, buat apa Nahyan membawa barang berat-berat sedangkan ujung-ujungnya dia akan bolos? Setidaknya itu yang Anna dengar tentang Nahyan si Black Prince.


"Dasar babu." Maki sambil memberikan tasnya yang beratnya dahsyat gile dan berjalan di depan Anna.


Anna mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih.


Tolong dong, siapa aja kembalikan Nahyan yang sweet dan lembut seperti beberapa hari yang lalu! Nahyan yang sekarang kembali seperti semula. Nahyan yang menyebalkan, dingin, galak, dan menyeramkan.


"Gila, tas lo berat banget! Bawa apaan sih? Gue yakin orang kayak lo gak mungkin bawa buku." kata Anna kesal sambil menenteng tas Nahyan karena luka lebam di bagian punggungnya belum sembuh benar.


"Diem dan bawa aja tas gue!" jawab Nahyan ketus.


Diam-diam Anna memeletkan lidahnya.


"Diem aja dan bawa tas gue," cibir Anna menirukan Nahyan.


"Hilih.Tahi kucing."


"Gak usah protes, Anna! Lakuin aja tugas lo dengan benar!" kata Nahyan tanpa menoleh dengan suara yang meninggi.


Anna menekuk wajahnya sedih.


"Mukanya emang pantes jadi babu."


"Mamp*s!"


"Gak tau diri sih, kena akibatnya kan."


"Hahaha, cabe kampungan!"


Anna menggigit bibir bawahnya saat mendengar omongan-omongan orang yang nyinyir padanya.


Gadis itu mengusap matanya yang mulai berair. Anna menggelengkan kepalanya.


"Jangan nangis di sini, malu!" kata Anna dengan pelan pada dirinya sendiri.


Anna menatap sinis orang-orang yang mengejeknya, lalu memeletkan lidahnya pada mereka.


Anna jelas salah, dia terlalu awal menilai siswa-siswi di sekolah ini tidak bar-bar layaknya sampah. Tapi kenyataannya sama saja. Anna jadi percaya kalau sampah memang di mana-mana.


Anna terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga tidak menyadari cowok di depannya sudah berhenti berjalan.


Bruk!


"Shhh... kalo mau berhenti jalan ngomong dong! Biar gue siap-siap dulu," celoteh Anna sambil memegangi hidungnya yang menabrak punggung Nahyan.


"Banyak bacot lo!" kata Nahyan ketus.


"Kok lo ngegas sih? Kan lo yang ...." Anna tidak melanjutkan bicaranya saat melihat wajah Nahyan yang terlihat sangat dingin.


Benar-benar menakutkan.


Nahyan menatap Anna yang sedang menundukkan kepalanya.


Anna memberikan tas milik Nahyan menggunakan dua tangan. Tas cowok itu bener-bener berat.


Nahyan menerima tasnya hanya dengan satu tangan, lalu membuka resleting tas dan membuang semua isi dalam tasnya ke bawah.


Anna membuka mulutnya kaget.


"Jadi, selama ini ...." Anna tercekat. "Tas lo yang berat itu karena dalemnya batu?"


Anna menggeleng tidak percaya. Kesal kuadrat.


Nahyan menyeringai dengan wajahnya yang dingin.


"Terus kenapa?" kata Nahyan seolah tidak merasa bersalah sama sekali.


Anna mendengus kesal.


"Bener-bener gak lucu tau gak?" kata Anna dengan lemah, namun penuh penekan.


"Lo jahat!" lanjut Anna yang mendorong tubuh Nahyan dan pergi meninggalkan cowok itu.


•••


"De, liat tugas Biologi!" kata Anna sambil menaruh tasnya di kursi, lalu duduk di sana.


"Nih, gak usah terlalu buru-buru. Mapel Bu Tansil setelah istirahat pertama," ucap Deana sambil memberikan buku tugasnya di meja Anna.


"Iya." Anna mengambil buku tugas miliknya dari dalam tas. Tidak lupa dengan pena dengan kipas di ujungnya. Gadis itu menyalin tugas Deana.


"Badmood?" tanya Deana setelah melihat wajah Anna yang tidak mengenakan.


Anna berdecak sebal.


"Nahyan bajing-an! Gue benci! Dosa apa si gue ketemu jelmaan iblis. Anjim, bangs-at." umpat Anna yang merasa kekesalannya sampau dipuncak saat di tanya.


"Sumpah, Nahyan itu nyebelin! Baru aja kemaren-maren gue anggep dia anak baik. Toh, kenyataannya sikap dia mirip iblis."


"Jaga omongan. Gitu-gitu taunya dia jodoh lo," ucap Deana kelewat santai.


"Cuih, jodoh? Gak bakal. Nahyan itu masuk bl*ack list gue. Bahkan, untuk jadi besan pun itu gak akan mungkin."


Deana memutarkan bola matanya. "Liat aja nanti." kata Deana sambil menatap Anna.


Anna membalas tatapan sengit dari Deana.


"Kalau suatu saat lo makan omongan lo sendiri, gue yang bakal ketawa paling keras." batin Deana sambil tersenyum samar.


•••


"Ck, gak bener banget sih lo! Gue bilang jus nanas, bukan mangga!" bentak Nahyan sambil melempar sembarang cup jus mangga yang baru saja dibelikan Anna, membuat kantin senyap.


Penghuni kantin menonton interaksi Anna dan Nahyan.


"Biasa aja dong! Itu jus belinya pake duit bukan daon!" ketus Anna. "Lagi pula jelas-jelas tadi lo minta jus mangga."

__ADS_1


"Gue bilang nanas ya nanas! Ngerti gak sih lo?!" bentak Nahyan hingga wajahnya memerah.


Anna spe-echless, hampir saja dia menangis.


Nahyan menghela napas berat. "Sekarang, lo ke kantinnya Mbok Diah. Beliin gue nasi goreng paling pedes sembilan bungkus." suruh Nahyan sukses membuat Anna melotot.


"Sembilan? Gak kebanyakan?!" tanya Anna yang terkejut.


"Gue beri waktu 10 menit. Kalo lo gak dateng lo tau akibatnya." ucap Nahyan tak memperdulikan pertanyaan gadis itu


Anna menatap Nahyan pasrah. Kalau Anna protes, bisa-bisa waktu dia bisa dikurangkan oleh makhluk paling laknat ini. Anna menujulurkan tangannya.


"Apa?" tanya cowok itu dengan wajah datarnya seperti papan tripleks.


"Gak usah pura-pura beg-o, mana uang lo?" tangan Anna masih setia terulur.


Cowok itu tertawa lewat hidungnya. "Pake duit lo lah!" jawabnya enteng.


"Apa? Gue gak punya uang sebanyak itu." ucap Anna. "Uang jajan gue aja perhari cuma Rp15.000,00."


Sebenarnya uang jajannya lebih besar dari itu, hanya saja uangnya Anna tabung untuk masa depannya.


Nahyan menatap tajam ke arah Anna, auranya begitu menakutkan. Seperti orang yang tidak bisa nahan nafsunya untuk membunuh.


"Tinggal 9 menit lagi."


"I hate you." ucap Anna penuh penekanan lalu berlari.


"Yan, lo keterlaluan." kata Suga sambil menepuk bahu Nahyan. "Kasian Anna, lo liat tadi mukanya yang mau nangis."


"Mending lo diem!"


"Gue pikir, lo bener-bener udah keterlaluan." celetuk Fabian.


"Gak usah ikut campur."


•••


Anna memesan sembilan bungkus nasi goreng yang paling pedas. Dengan gelisah Anna melihat ke arah jam tangannya.


Sudah lewat 4 menit dari waktu yang ditentukan.


"Mbok... bisa cepet gak? Saya buru-buru." ucap Anna dengan suara yang bergetar, terlihat matanya sudah mulai berair.


"Iya, Neng. Ini tinggal diplastikin aja." Mbok Dia memasukkan semua bungkusan nasi goreng ke dalam plastik.


"Ini, Neng. Semuanya Rp108.000,00." ucap Mbok Diah sambil memberikan plastik nasi goreng.


"Ini uangnya Mbok, kurang ya!" Anna ingin pergi namun tangannya di cekal.


"Neng, ini cuma Rp15.000,00!" ucap Mbok Diah.


"Sisa-nya saya ngutang, ya Mbok? Saya gak bakal kabur kok." ujar Anna.


"Ini kartu pelajar saya di meja Mbok. Kalo besok saya gak bayar silahkan laporkan saya ke guru!" ucap Anna dengan wajah melas.


Mpok Diah melihat ke meja-nya, dan benar saja di sana ada kartu pelajar.


"Yasudah."


Anna setengah berlari


"Ini nasi gorengnya," ujar Anna sambil menaruh plastik itu di meja tepat di depan Nahyan.


Cowok itu melepaskan headphone yang dia pakai, lalu menatap dingin Anna.


"Telat 5 menit," kata Nahyan dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.


Lagi-lagi tatapan itu. Anna benci dengan tatapan yang seakan-akan meremehkannya itu. Anna sudah tak tahan lagi. Ingin rasanya dia pindah sekolah lagi.


"Y-yaudah cuma 5 menit, gak apa-apa lah."


"Gue gak suka keterlambatan. Walaupun itu cuma 5 menit," ucap Nahyan sambil berdiri dari duduknya.


"Lo mau kemana?"


"Kelas. Udah gak nafsu makan gue," jawab cowok itu dengan tatapannya yang datar lalu pergi meninggalkan Anna.


"Tapi nasih gorengnya gimana?!!" teriak Anna.


Tanpa disadari air matanya mengalir mulus melewati pipinya. Anna menatap punggung Nahyan yang menjauh tanpa menengok sedikit pun.


Anna duduk berjongkok, memeluk kedua lututnya. Air matanya mengalir deras. Tak ada yang perduli dengannya. Orang lain hanya menatapnya tak acuh.


"Hiks ... hiks ... hiks ...." tangis Anna pecah.


Disaat dirinya sudah berusaha, orang-orang malah tak menghargainya. Itu membuat hati Anna sakit. Sangat sakit.


"Maafin Nahyan ya, Na?" ujar Suga sambil berlutut di depan Anna.


Anna mendongak untuk menatap Suga.


Fabian mengelus kepala Anna. "Yang sabar ya? Mungkin Nahyan lagi ada masalah," ujar Fabian dengan suara lembut.


Anna menganggukkan kepalanya.


"Ayo. Kita anterin lo ke kelas," kata Suga sambil membantu Anna berdiri.


°°°


Tbc


⚠Tinggalkan LIKE KOMEN. Aku takut sama HANTU soalnya :(⚠❤


Haloo yang minta crazy up, maap aku belum bisa crazy up. Tapi chap ini sedikit lebih panjang dari chap-chap sebelumnya, kok. Bisa dibilang jadi 2 chap kalau aku nulis.


Salam hangat,


Juecy.bell


08 September 2020

__ADS_1


__ADS_2