
Hampir genap satu bulan sejak Anna sekolah di SMA Y. Hari-harinya dilalui jauh lebih baik dari pada yang dibayangkan sebelumnya.
Jujur saja, di sekolah lamanya penghuninya rata-rata mempunyai sifat dengki, angkuh, dan sok jagoan.
Meski Anna tidak pernah terlibat masalah, tetap saja dirinya sebagai penonton merasa terganggu. Banyak sekali target bully hingga menyebabkan korbannya stress, terluka, hingga bunuh diri.
Anna merasa lega.
Sejauh ini SMA Y tidak sepenuhnya penghuni sekolah mempunyai sifat sampah seperti yang disebutkan tadi. Sebenarnya ada, tapi ya tidak separah di sekolahnya dulu.
Teman-teman sekelas Anna semuanya solid, asyik, dan baik. Tapi ya tidak tau waktu di belakang, sih. Hanya saja, Anna sangat bersyukur.
Penilaiannya tentang kelasnya saat ini 9 dari 10. Terlalu cepat untuk menilai sebenarnya, tapi segala sesuatu pasti ada lebih dan kurangnya masing-masing, kan?
Kehidupan Anna di sekolah sangat nyaman, aman, dan damai. Tanpa harus menghadapi masalah meski dia memiliki awal yang buruk di sini.
Seiring berjalannya waktu Anna menyadari kekhawatirannya tentang 'Bule Sawah' hanyalah kekhawatiran yang semu alias tidak perlu. Toh, hidupnya aman-aman saja tanpa harus menjadi buronan sekolah.
Lagipula, Nahyan tidak seburuk yang dia pikir. Tapi itu dulu, sebelum Anna benar-benar melihat Nahyan yang memukul orang seperti kesetanan. Dengan kedua mata kepalanya.
14 lawan 1.
Jika menggunakan logika, Nahyan sudah pasti kalah. Tapi, kenyataannya tidaklah begitu.
Nahyan memenangkan perkelahian itu meski seorang diri. Terlebih lagi, semua lawannya mengalami cedera yang parah.
Anna menggelengkan kepalanya.
Memang sepatutnya Anna tidak membuat masalah dengan cowok itu.
Beruntung, Nahyan melupakan dirinya, dan Anna benar-benar bahagia dengan fakta itu.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak Anna.
Suatu hal yang ia pikir awalnya salah kirim, malah terus-terusan terkirim padanya. I mean, sebuah surat ditemui Anna setiap harinya selama hampir satu bulan ini.
Meski penasaran, Anna tidak pernah tau siapa pengirim itu. Walaupun dia sudah berusaha mencari tau.
...***...
Hari ini adalah pagi yang damai. Tanpa ada PR yang perlu dikerjakan di pagi hari sebelum ****.
Saat ini Anna sangat mengantuk, sebab semalam dia berangkat pergi ketempat tidurnya sekitar jam 3 pagi. Hanya demi menyelesaikan anime Violet Evergarden-nya.
(**** 'Kegiatan Belajar Mengajar')
Untungnya, dia sudah mengerjakan---lebih tepatnya menyalin tugas matematika Deana tadi malam---sebelum streaming. Alih-alih, Pak Sem guru yang paling killer dari semua guru yang tercap sebagai guru killer.
Pak Sem sudah lama mengajar di SMA Y, dan dia memang terkenal killer. Bahkan, dia menyandang gelar 'The Killer since 10 years ago'.
Bel masuk akan berbunyi sekitar setengah jam lagi.
Anna sudah terkantuk-kantuk hingga saatnya dia tidur di atas meja dengan pulas. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik mejanya hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur. Membuat anak-anak kelasnya tertawa renyah.
"Wahahaahaha!" tawa satu kelas.
Ini bukanlah pembullyan, hanya saja terkadang penghuni kelas jahilnya keterlaluan. Contohnya seperti ini.
"Zidaaaan! Brengsek lo ya!" teriak Anna sambil mengejar Zidan yang sekarang tengah berlari keluar kelas sambil tertawa terbahak-bahak.
"ZIDAN BERHENTI! DASAR SIYALAND! GUE SUMPAHIN LO SIAL!" teriak Anna sambil mencak-mencak ketika dia mulai merasa letih berkejar-kejaran.
Masalahnya, mereka sudah tiga kali berlari bolak-balik lantai 1 dan 2.
Anna berhenti berlari, begitu juga dengan Zidan.
"Wah mak lampir kecapekan," ejek Zidan dengan tawa menyebalkannya.
"Baacot, anjim!" umpat Anna sambil mencopot sebelah sepatunya lalu melemparkan sepatu itu ke kepala Zidan.
Yeah, kena kan kepala lo.
Eh?
Mati gue!
Anna membalikkan badannya dan berjalan cepat-cepat tanpa mengambil sepatunya.
Gadis itu merasa bahwa ini benar-benar akhir dari masa-masa SMA-nya yang nyaman, aman dan damai.
__ADS_1
"Gue nyumpahin Zidan sial, kok malah gue yang sial?" gumam Anna merasa gelisah.
Masalahnya, yang kena lempar 'sepatu maut' Anna bukanlah Zidan, melainkan Nahyan Rabusy. Perlu diulang? Nahyan Rabusy! Manusia yang masuk daftar teratas orang yang harus Anna hindari.
"Ini semua gara-gara Zidan. Tunggu gue lilos dari Bule Sawah, gue bakal sumpel mulut lo pake kaos kaki. Tunggu gue Zidan!" batin Anna menjerit.
(*PS: Jangan suka nyumpahin orang)
Anna tidak peduli lagi dengan Zidan, tidak peduli dengan sepatunya, tidak peduli orang-orang yang menatapnya seperti dirinya alah hal teraneh di muka bumi. Yang Anna pedulikan adalah bagaimana cara-nya agar tidak tertangkap.
Saat otak imut milik Anna sedang asyik mencari cara meloloskan diri, sebuah tangan kokoh mencekal lengannya dengan kasar.
"WOY!! LO KAN YANG LEMPAR SEPATU INI?!" ujar Nahyan membentak Anna di depan umum.
Jujur, saat ini Anna mati kutu. Anna takut sekali. Dari yang dia dengar, Nahyan terkenal sadis. Entah cowok atau pun cewek, kalau membuat gara-gara dia tidak segan-segan menghajar orang itu. Walaupun dirinya sendiri belum pernah menyaksikan Nahyan memukul seorang perempuan.
Tapi, sepertinya sebentar lagi Anna akan menyaksikan Nahyan memukul seseorang, atau bahkan sampai dirinya sendiri yang merasakan pukulan itu.
"A-apa?" tanya Anna dengan suara bergetar.
"Gue bilang, lo kan yang lempar sepatu ini?!" bentak Nahyan sambil memegang kerah baju Anna dan tangan satunya memperlihatkan sepatu berwarna hitam putih.
"Bukan!" pekik Anna tanpa sadar.
Nyatanya, bentakan Nahyan benar-benar berpengaruh padanya.
Nahyan tersentak kaget dengan pekikan Anna yang memang sangat memekik telinga.
Cowok itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap Anna tajam. Setajam silet. Njiir... alay banget.
Aduh, ini mulut kenapa sih? batin Una sambil memukul-mukul mulutnya
"Gak usah bohong! Lihat kaki dan sepatu lo!!" kata Nahyan sambil melepaskan kerah baju Anna.
"Maafin gue, please. Gue gak sengaja. Serius!" Anna memasang wajah imut.
"Sebenernya salah lo juga. Gak menghindar," gumam Anna yang masih terdengar dengan jelas oleh telinga Nahyan.
Terlihat rahang cowok itu mengeras. Sepertinya sedang menahan emosi-nya yang memuncak.
"Lo gak tau di-"
Nahyan menyingkirkan jari telunjuk Anna dari bibirnya.
"Apaan sih-"
"Ssstt!!" Lagi-lagi Anna menaruh jari telunjuknya di bibir sexy itu lagi.
Jujur, bibir Nahyan itu kissable banget. Jika Anna tidak ingat cowok di depannya ini adalah Nahyan yang terkenal sadis, sudah pasti Anna menyeret cowok itu ke tempat sepi lalu memakan bibir Nahyan hingga cowok itu meminta ampun padanya.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Sadar Anna! Jangan tergoda untuk mencium bibir itu!" batin Anna menepis semua pikiran mesumnya.
"Diem dulu! Gue tau gue harus apa," ujar Anna sambil melepaskan jari telunjuknya dari bibir Nahyan sebelum dia khilaf.
Cowok itu menaikkan sebelah alis-nya, menatap Ana yang seperti orang bodoh dimatanya.
"Pertama, gue minta sepatu gue di kembaliin," kata Anna sambil mengambil sepatunya dari tangan Nahyan seenaknya dan langsung memakainya.
"Kedua," kata Anna menggantung kata-katanya dan tersenyum terpaksa.
"Kabur!" ucap Anna dengan cepat sambil berlari kencang, sekencang-kencangnya.
Cowok itu mengejar Anna dengan lari-nya yang seperti kesetanan.
Anna bergidik ngeri lalu menambah kecepatan larinya.
Tuhan, tolonglah aku!
Anna berlari sekuat tenaganya, hingga dia menemukan tembok yang tinggi. Seketika, sekujur tubuh Anna terasa lemas.
Ya tuhan mengapa engkau begitu tega kepadaku? Cobaan apa lagi yang engkau berikan? Engkau telah menetapkan ku sebagai jones! Aku terima itu, tapi kenapa harus ada tembok di sini? batin Anna dengan melankolis.
"Kayak gini aja gak ada yang mau apalagi nanti gue dihajar Nahyan," gerutu Anna yang merasakan kakinya melas.
Anna melihat ke belakang, lalu bernapas lega karena cowok itu tidak terlihat.
Baru saja ingin pergi dari tempat itu, dari arah samping seseorang mendorong Anna ke tembok hingga jaraknya dengan orang yang mendorongnya berbeda tipis.
__ADS_1
Orang itu menaruh kedua tangannya di samping kanan-kiri Anna, mencegah gadis itu kabur.
Anna menatap wajah Nahyan yang menyeramkan sekaligus ganteng, dan benar-benar membuat siapapun akan terpesona oleh kegantengannya. Serius, gak bercanda.
Anna menelan saliva-nya karena merasa gugup.
Saat ini, wajah mereka berdua hanya berjarak 5 cm saja.
"Lo...."
"Diem!" bentak Anna sambil mendorong tubuh cowok itu agar menjauh dari-nya.
Anna terlihat sedang mengecap-ngecap lantai berakting layaknya orang yang matanya bermasalah.
"Mana sih kacamata gue?" teriak Anna dengan kebegoannya.
Bodoh maksimal! Otak lo udah konslet ya?! Lo kan gak pake kacamata, batin Anna merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Nahyan hanya diam menatap Anna. Dan lagi-lagi Anna hanya bisa menelan saliva saat dirinya beradu tatap dengan mata tajam milik Nahyan.
Anna berdiri dari duduknya, dan bersiap meloloskan diri dari Bule Sawah yang barbar. Namun, Nahyan lebih gesit.
Cowok itu mencekal lengan Anna.
Bye-bye kehidupan SMA yang nyaman, aman, dan damai. 😭
"Sorry...," ucap Anna dengan suara dan tubuh yang gemetar ketakutan.
Apalagi ketika manik mata berwarna amber tersebut berkilauan seperti orang psikopat yang tidak tahan ingin menikam mangsanya.
Jika saja mata itu menatapnya dalam keadaan normal, Anna akan sangat bahagia dan sangat terpesona. Namun, kenyataannya tidaklah begitu.
"Lo...."
"Maafin gue, gue serius gak sengaja!" Anna mengambil napas panjang saat Nahyan diam tidak bergeming.
"Gue mohon. Gue bakal lakuin apapun. Tapi please, jangan jadiin gue target bully lo!" ucap Anna dengan takut-takut.
Nahyan hanya diam.
Merasa cowok itu sedang berfikir, Anna hanya diam menunggu saja.
Apapun akan Anna lakukan asal cowok itu tidak memukul hingga wajahnya tak berbentuk.
Anna belum pernah merasakan indahnya memadu kasih soalnya. Jadi, asal wajahnya baik-baik saja Anna akan melakukan apapun.
Sebenarnya, Nahyan tidak mengerti maksud gadis itu tentang kata-katanya tadi.
Jangan jadikan dia terget bully.
Ingin rasanya Nahyan tertawa, tapi diurungkan niatnya itu karena dia memiliki tujuannya sendiri.
Nahyan tersenyum miring.
"Salto dari lantai 3," kata cowok itu.
Anna melebarkan matanya, sontak memeluk kaki Nahyan.
"Gue gak mau mati. Ringanin dikit dong!" pinta Anna dengan wajah yang memelas.
Nahyan berjongkok di depan Anna, membuat gadis itu melepaskan tangannya dari kaki Nahyan.
"Kalau gitu," Nahyan tersenyum. Sungguh senyum yang menakutkan. "jangan hilang dari pandangan gue." sambung cowok itu tepat di telinganya.
Sontak sekujur tubuh Anna merinding.
°°°
Bersambung...
NEXT? ❤🌟👍💬
Like, Comment, rate 5, favorite dulu 😢
Biar aku semangat update-nya ❤
Salam hangat,
Juecy.bell
__ADS_1
17 Agustus 2020