
Like WOOOOT! LIKE WOOY!
🌟Enthusiasm chapter 42🌟
Satu hari sebelum DBL
Drrrt! Drrrt!!
Ponsel Anna bergetar di atas nakas. Dari beberapa hari yang lalu, sengaja ia mode getar ponselnya karena sempat merasa kesal nada deringnya mengganggu saat si cowok bar-bar meneleponnya berkali-kali.
Anna mengerutkan dahinya.
Jelas sekali getaran ponsel itu mengganggu tidurnya.
Anna meraba-raba nakas yang berada tepat di samping tempat tidur tanpa berniat membuka mata. Anna menggeser layar ponsel---yang sekiranya tombol hijau dengan ibu jarinya.
"Halo...?" ucap Anna yang lebih mirip menggumam.
"YA AMPUN! BANGUN WOY! BARU PULANG SEKOLAH UDAH TEPAR AJA LO!"
Anna menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara Deana yang memekak telinga.
"Ck. Apaan sih, De...? Gue ngantuk."
"Ayo ikut gue!"
"Nggak, ah."
"Ayolahhh. Temenin gue!"
"Kemana?" tanya Anna yang malas
"Nyari cogan!"
Doeng!
Mata Anna langsung terbuka lebar begitu mendengar kata 'cogan'.
"Kapan? Dimana?!"
"Sekarang. Kita muter-muter mall plus nonton bioskop! Mumpung hari Jum'at agak murah harganya."
"Gila! Gue siap-siap dulu. Bau apek gue anjim!"
"Gue tunggu setengah jam dari sekarang. Lewat, gue tinggal."
"Oke-oke siap!"
...***...
Anna membuka pelan pintu kamarnya lalu menoleh kanan kiri untuk memeriksa keadaan sekitarnya. Saat dirasa sudah aman, gadis itu pergi keluar dengan menenteng sepatu sneakernya.
Anna berjalan mengendap-endap tanpa suara.
Cepet! Sebelum kepergok sama Nenek Sihir dan Si Kaleng Rombeng!
Dengan pelan-pelan Anna menuruni tangga tanpa menimbulkan sedikit suara. Namun, sedikit lagi mencapai pintu keluar, sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.
"Gue perhatiin di sekolah baru malah jadi sering ngejamet ya?" sindir Ami sambil membaca sebuah majalah dipangkuannya. Setelah menegu jus jeruknya, Ami mendongak untum menatap wajah Anna. Dilihatnya raut wajah Anna yang penuh dengan kekesalan.
Anna mengepalkan tangannya untuk menahan amarah yang membuncah.
"Gue perhatiin lo betah amat ya ngurusin hidup orang lain?" balas Anna yang sengit.
"Lho, yang ngurusin hidup lo itu siapa? Pede banget!" Ami menjawab dengan tenang. "Tapi, kalaupun itu bener seharusnya lo bersyukur. Lo kan cuma anak yatim piatu. Kurang kasih sayang orangtua. Ya gak?"
"Kalay gak punya orangtua itu ya tau diri, kek. Mending lo diem di rumah dan tingkatin nilai lo yang anjlok itu. Bukannya ngejamet gak jelas. Udah gitu sering pulang malem. Gak kapok tah kena hajar Ayah gue?"
Anna merasakan sakit di dadanya yang bagaikan ditusuk ribuan jarum. Bahkan, setelah mengambil napas panjang pun rasa sakit itu masih tetap ada.
Anna melangkah maju karena ucapan Ami yang keterlaluan.
"Lo apa sih---?" Anna tak bisa berkata-kata dibuatnya.
Apakah kalian tau rasa ingin membantah ucapan orang lain, namun keinginan itu kalah karena sudah lelah dan rasanya percuma? Jika benar, selamat kalian bernasib sama. Karena Anna sedang berada dalam posisi itu.
Sangat melelahkan dan ... menyakitkan.
Anna bergegas pergi keluar rumah dengan membanting pintu. Ah, sepertinya tempat itu tidak cocok dikatakan sebagi rumah karena arti sebuah rumah adalah tempat untuk berlindung yang terasa nyaman dan hangat. Tapi, tempat itu tidak memiliki hal itu.
Ami menaikkan sebelah alisnya tak peduli. "Yang gue omongin itu bener, lho." Gumam Ami lalu membaca majalahnya kembali. Sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali.
Anna menyentuh layar ponselnya.
"Hallo De? Kayaknya nontonnya lain kali aja."
__ADS_1
"Yah, gimana dong! Gue udah Starbak mall nih. Nungguin elu."
"Tenang aja. Sebagai gantinya kita main ke rumah lo gimana? Gue mau ngapelin bapak lo yang ganteng."
"Eh Anjim! Gue gak mau ya Bapak gue punya istri kedua!"
Anna tertawa pelan.
"Terserah. Gue otw rumah lo. Sekalian minep ya. Bye!"
"Tung---"
Anna menekan tombol merah, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana jeans yang pendekny 8 cm di atas lutut.
Setelah berjalan hingga menemuka jalan raya, Anna menyetop sebuah taxi.
S**ekali-kali pake taxi. Biar elit dikit, batin Anna.
"Perumahan Horang Kayah ya, Pak!" ucap Anna sesaat setelah menaiki taxi.
"Siap Mbak!"
Anna memainkan ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Sebenarnya, ada lebih dari 300 pesan dan 78 panggilan tak terjawab dari cowok paling gila seantero sekolah versi Anna. Siapa lagi kalau bukan Nahyan?
Anna berdecak sebal.
Untung saja, Anna sempat membisukan Nahyan. Apa jadinya kalau pesan dan telepon cowok itu selalu menghantuinya disetiap ada kesempatan? Terlebih lagi, jumlah mereka sudah tidak wajar.
Anna hanya membaca pesan dari Nahyan. Namun, saat akan keluar dari room chat terlihat pemberitahuan Nahyan yang sedang mengetik. Jadilah ia buru-buru keluar dari aplikasi chatting itu.
Kapten👮️💕: Berani cuma read pesan gue?
Anna memelototkan matanya. "Anjim! Ini cowok punya mata batin apa gimana sih? Gercep amat taunya," gumam Anna sambil menggigit ujung kuku ibu jarinya.
Anna mengerutkan dahinya begitu tau ada suatu hal yang aneh.
Sejak kapan nama kontak Nahyan di ponselnya menjadi Kapten? Pakai lope-lopenya segala lagi. Anna tidak pernah merasa mengganti nama kontak Nahyan, bahkan setelah mengganti ponselnya.
"Antara Deana sama Suga, nih!" gumam Anna yang merasa kesal.
Kapten👮️💕: BACA ANNA! ATAU GUE DATENGIN LO!
Anna menelan salivanya.
Dari pada membuka chat dan membalas pesan Nahyan, Anna memilih melakuan hal sebaliknya. Anna tidak berani untuk membalas pesan Nahyan. Pasti ngertilah bagaimana ngerinya menghadapi cowok dengan tempramen yang naik turun seperti Nahyan. Anna tidak mau kena semprot lebih jauh dari ini. Lagi pula, tidak mungkin Nahyan menghampirinya saat ini.🙄
Anna melebarkan matanya. "Buset. Pake titik segala di ujungnya," gumam Anna.
Anna tak menghiraukan pesan dari Nahyan dan memilih membuka aplikasi Instangram dan melihat-lihat postingan-postingan yang menghibur.
Anna mengalihkan tatapannya dari ponselnya saat taxi yang ditumpanginya berhenti mendadak.
Duk!
"Awh...." Anna meringis kesakitan saat kepalanya terbentur lumayan keras.
Anna memperhatikan sang sopir taxi yang dengan buru-buru melepas sabuk pengamannya dan keluar dari taxi.
Anna mengerutkan dahinya melihat sang sopir yang memukul-mukul mobil di depannya sambil marah-marah. Ingin tau apa yang terjadi, Anna ikut turun dari taxi bertepatan dengan pemilik mobil yang di depan turun.
Anna mengerjapkan matanya saat tau siapa pemilik mobil.
"Gimana sih, Mas? Jangan main potong jalan gitu dong!" kata si Bapak dengan memasang tampang galak.
"Maaf, Pak." kata Nahyan sambil menatap tajam Anna yang wajahnya seperti habis melihat hantu alias pucat.
"Kalau saya gak sempat injak rem tadi gimana? Kamu mau tanggungjawab?!"
Anna memalingkan wajahnya karena tak sanggup lagi menatap Nahyan yang tak kunjung berhenti menatapnya, dan menyadari kalau mereka sudah menjadi pusa perhatian.
Merasa sudah tak tahan dengan ocehan dan makian si Bapak, Nahyan mengeluarkan dompetnya dan secara acak mengambil sejumlah uang lalu diberikannya uang itu ke tangan si Bapak.
Nahyan melangkah mendekati Anna, sedangkan Anna sedikit tersentak hingga mundur beberapa langkah. Namun, pada akhirnya gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
Seharusnya, Anna tidak main-main dengan perkataan cowok itu. Padahah sudah beberapa kali, Anna mendapati Nahyan yang melakukan apa yang telah dikatakannya. Memang dasarnya Anna yang selalu menganggap remeh hal-hal sepele.
Begitu di dekat Anna, Nahyan menyeret gadis itu menuju mobilnya.
"Pelan-pelan, Nahyan!" ujar Anna yang hanya bisa pasrah. Malu kalau dirinya memberontak setelah keributan ini. Jadi, lebih baik ia diam dan menurut. Hanya untuk kali ini.
Anna menatap Nahyan yang tengah memakai sabuk pengaman dengan alis yang berkerut. Jelas sekali kalau cowok itu sedang marah.
"Rumah Deana belok kanan btw," ucap Anna yang langsung membungkam mulutnya begitu mendapati tatapan tajam dari Nahyan.
"Kan cuma ngomong doang," cicit Anna yang menunduk.
__ADS_1
.......
.......
"Jelasin kenapa lo menghindar dan gak pernah angkat telepon atau sekedar balas chat gue?" ujar Nahyan dengan memasang tampang dingin.
Anna hanya duduk diam sambil menundukkan kepalanya, dengan sesekali melirik Nahyan. Saat ini ia berada di dalam apartemen milik Nahyan. Anna harus bersikap tenang. Karena bagaimana pun juga ia sedang berada di kandang singa. Salah sedikit bisa-bisa ia jadi makanan cowok itu.
"Jawab Anna!"
Anna hanya diam dan memasang puppy eyes. Berharap cowok itu akan melunak dan tak memperpanjang hal ini.
"Shit Anna! Jawab aja apa susahnya sih?!"
Anna mengerutkan dahinya. "Kok lo kasar sih ngomongnya?! Ngajak gelud?!"
"Jawab Gue Anna! Jangan ngalihin topik!"
"Gue gak ngalihin topik! Gue cuma gak suka lo ngomong kasar!"
"Apa bedanya sama lo selama ini, hah?!"
Anna terdiam. Bagaimana pun juga, omongan Nahyan adalah benar. Selama ini Anna sering berkata kasar meski ia adalah perempuan.
"Selama ini gue udah bersabar karena lo cewek. Tapi lo malah menjadi-jadi!"
"Ya terus kalau gue cewek kenapa?! Hidup-hidup gue kok lo yang ngatur?!"
"Begitu juga gue!"
Anna menatap Nahyan penuh dengan amarah. "Yaudah, urusin urusan masing-masing!" ujar Anna yang beranjak dari duduknya.
"Anna!" teriak Nahyan sambil menyusul Anna.
Nahyan menarik lengan Anna hingga gadis itu terpental ke belakang. Kalau saja Nahyan tak menangkapnya, Anna akan jatuh terpelanting ke belakang.
"Selesaiin apa yang perlu diselesaiin!" kata Nahyan yang penuh dengan penekanan.
"Gak ada yang perlu diselesain! Kita gak ada masalah!"
"Kalau gitu. Tetap di sini! Gak usah kemana-mana!"
"Gak! Gue gak mau! Biarin gue pergi!"
"Gak akan!"
"Lepas!"
"Gak!"
Anna dan Nahyan saling beradu pandang dan saling menampilkan wajah yang sinis. Entah sampai kapan itu berlangsung, tapi yang pasti hal itu berhenti ketika sebuah suara lain terdengar dari arah samping.
"Kenapa berisik? Vinie Masih ngantuk tau!" kata seorang gadis canti dengan suara khas orang yang habis tidur.
Anna dibuat tak bisa berkata-kata karena kehadiran gadis yang menyebut dirinya sebagai Vinie muncul secara tidak terduga.
What the...
"Bajingan..." desis Anna pelan, lalu menepis kasar tangan Nahyan dan berlari menuju keluar apartemen Nahyan seperti orang kesetanan.
Gue bodoh!! Harusnya lo jangan menilai orang secepat itu. Nyatanya Nahyan itu cuma cowok brengsek yang sok suci. Cowok amjinc yang pura-pura jadi anak Mama yang gak suka sentuhan sama cewek lain, padahal dia ngebiarin anak gadis ornag tidur diapartemennya.
Anna berhenti berlari saat otak kecilnya memikirkan hal-hal yang negatif. Jangan-jangan, tentang dia yang tidak erokok dan minum-minuman adalah bohong? Anna menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya saat ini benar-benar kacau.
"Seharusnya gue tau bakal begini."
Di malam hari, Anna hampir tidak bisa memejamkan mata. Jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 02.45, tapi ia masih saja tak dapat tidur. Dia gelisah memikirkan gadis bernama Vinie yang berada di apartemen Nahyan. Sampai saat ini ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Anna mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap langit-langit kamar.
Tadi dirinya dan Nahyan bertengkar kecil. Hanya karena hal sepele. Oh, bagaimana kalau cowok itu kalah dalam pertandingan basket karena pertengkaran kecil mereka? Haruskah ia datang ke DBL untuk berbaikan dengan cowok itu?
Anna berdecak.
Tarik napas. Tahan. Jangan buang. Mubazir.
Anna tidur menyamping dan memeluk erat gulingnya, lalu memejamkan matanya. "Gue harus dateng!"
°°°
Bersambung...
✔LIKE
✔ KOMEN
__ADS_1
Udah lakuin 2 hal wajib itu? Fix GUE cinta sama elu.