Nahyanna

Nahyanna
BAB 70


__ADS_3

"Yang lomba ranking satu, makan kerupuk silakan tetap di plaza, lompat jauh di lapangan dekat kantin, tarik tambang, estafet dan lari putra-putri di lapangan besar gedung B! Ayo cepat! Cepat!" intruksi Wakil Kepala Sekolah menggunakan toak.


Segera semua siswa-siswi berhamburan menuju tempat mereka masing-masing berlomba.


"BELL! BELLA! BELLA ZEYENK!" teriak Anna yang terlihat senang saat menemukan Bella diantara kerumunan orang-orang.


"Eeeh..." Anna berjalan mundur ketika baju bagian belakangnya ditarik.


Anna yang tidak terima diperlakukan begitu  langsung menghadap ke belakang dan bersiap untuk memaki orang yang menarik bajunya itu. Kan kalau bajunya melar Anna yang rugi.


"Apaan sih Anj--" makian Anna terhenti saat terpampang wajah galak Nahyan.


"Anj apa? Coba lanjutin," ujar Nahyan dengan nada suara dingin.


Anna tersenyum paksa, "Anj... Anjani! Iya, Anjani! Gue pikir lo temen sekelas gue yang namanya Anjani."


Nahyan memutar bola matanya. "Sejak kapan lo punya temen sekelas yang namanya Anjani?" tanyanya


"Sejak tadi!" jawab Anna yang langsung kabur untuk mencari Bella.


Anna kesana-kemari untuk mencari sosok Bella, namun tidak kunjung dia temukan, malah sosok Zidan cs yang dia temukan.


"Liat Bella gak?" tanya Anna yang menghampiri total tujuh cowok anak kelasnya.


"Gak liat. Biasanya kan dia diem di kelas doang," celetuk Fadil.


Anna menggaruk kepalanya, "Enggak ih! Gue liat dia tadi!"


"Lomba lari putra 200 meter akan segera dimulai!"


"Agra, Joshua, Bisma, Tanjung, Nitra! Yang namanya disebutkan diharap langsung ke lapangan!!"


"Woooaaaah!" lalu yerdengar sorakan heboh saat satu persatu orang yang namanya dipanggil turun ke lapangan.


...***...


"Brengsek! Jala*ng kecil itu...," geram Yudhis sambil menyingkirkan semua barang-barang yang berada di atas meja kerjanya setelah menerima laporan dari orang-orang yang dibayarnya untuk mengawasi Anna dan orang-orang sekitarnya.


Yudhis memegangi kepalanya yang terasa sakit.


BRAK!!


Digebraknya meja saat dia mendapati jalan buntu.


"Bagaimana mungkin keluarga Rabusy dan keluarga Vijaya menyelidiki aku kalau bukan karena Jala*ng itu! Ya! Pasti karena Jala*ng itu!" murkanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Para investor tiba-tiba membatalkan kontrak begitu saja dan membuat aku menderita kerugian miliaran rupiah."


"Akan kubuat Jala*ng itu menyesal karena telah membocorkannya," desisnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Setelah sambungan telepon terhubung Yudhis berkata, "Siapkan mobil sekarang!"


Seseorang yang sedari tadi mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka menutup mulutnya erat-erat dengan tangannya, lalu segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Anna dalam bahaya!


...***...


"KYAAAAAK! NAHYAAAAAN! SUGA! FABIAN! GANTENG BANGET ASTAAGAAAA!" teriak siswi-siswi perempuan yang heboh dari tribun penonton.


"NAHYAAAAAAN!!!"


"KAK NAHYAAAAN! I LOVE YOUUUUU!"


"GO NAHYAN GO NAHYAN GO!"


"GILAA LAPANGAN KELAS 12 A-7 SILAU BANGET!!"


Anna tertawa terbahak-bahak mendengar teriak-teriakan heboh dari arah sampingnya. Saat ini sudah menjelang siang hari. Perlombaan dalam rangka tujuh belasan in sudah berjalan sejak pagi tadi. Walaupun begitu, lomba estafet putri belum juga mulai karena ada kesalahan teknis dibagian perlengkapan.


"Nahyaaaan!" teriak Anna menyemangati.


"Si anjim! Dukung kelas elu napa! Malah cowoknya yang di dukung," ujar Fadil yang duduk di belakang Anna.


Anna menoleh ke arah Fadil, "Yeee.... kelas kita kan udah banyak yang dukung, gue dukung kelas cowok gue gak masalah kan?"


Fadil memutar bola matanya, "Lo gak liat jamet-jamet kelas kita gabung jadi suporter anak A-7?" sarkasnya sambil menunjuk rombongan suporter yang sedari tadi tidak henti-hentinya berteriak menyebutkan nama Nahyan, Suga, dan Fabian.


Anna tertawa pelan, "Ude nasibnya gak ada suporter!"


"Nahyannn! Semangaaaaaaaat!" teriak Anna sambil melambaikan tangannya pada Nahyan yang sedang melakukan peregangan. Cowok itu ternyata mengikuti lomba estafet.


Nahyan menoleh ke arah tribun penonton untuk mencari sosok gadis mungil yang tak lain adalah pacarnya. Dilihatnya Anna yang tengah melambaikan tangan padanya dengan gerak bibir yang memanggil namanya.


"Kyaaaa! Nahyan ngelambai ke gue! Dia pasti naksir guee!"


"Gak! Dia ngelambai ke gue!"


Anna yang bingung dengan situasi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memperhatikan perdebatan dua gadis tentang kepada siapa Nahyan melambai.


Nasib punya pacar ganteng dan famous gini amat yak?


"Anna kan?" tanya seorang guru yang tiba-tiba saja menghampiri Anna.


"Ah? Iya, saya Anna, Bu."


"Bisa ikut Ibu? Ada yang mencari Anna," ujar Bu Guru dengan senyum penuh misteri.


"Iya, Bu. Bisa," jawab Anna dnegan perasaan kecewa sebab tidak bisa melihat Nahyan lomba. Saat perjalanan keluar dari lapangan dia mencuri-curi pandang ke lapangan. Pelari pertama sedang melakukan start jongkok.


"Bersedia! Siap!" intruksi wasit di samping lapangan, lalu mengarahkan tembakan ke atas.


"Dor!" ditariknyalah pelatuk tembakan itu, bersamaan dengan itu para pelari pertama langsung berlari kencang menuju pelari kedua.


"Anna, ayo!" ucap Bu Guru saat merasakan jalan Anna yang terlalu lambat.


"Ah, iya Bu!" Anna tersenyum tipis.

__ADS_1


.......


.......


.......


"Ini Annanya," ujar Bu Guru. "Boleh langsung pulang karena surat izinnya sudah diberikan pada wali kelas juga guru piket."


Ami yang sedang memegang tas sekolah Anna tersenyum tipis. "Iya, Bu. Terima kasih atas pengertiannya. Maaf, Mama saya hanya menunggu di parkiran karena waktunya yang sedikit."


Bu Guru itu menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak apa. Kalau begitu saya tinggal."


Setelah kepergian Guru itu, secara ternag-terangan Ami menunjukkan tatapan ketidaksukaannya terhadap Anna. Lalu dilemparnyalah tas Anna ke lantai.


"Bawa tas lo sendiri! Lo pikir gue babu lo apa?!" sinisnya.


Anna mengambil tas sekolahnya. "Santai dikit bisa kan? Gak usah lempar-lempar juga!"


"Ayo cepet ikut gue!" kata Ami sambil memimpin jalan.


Anna mengerutkan dahinya. "Ngapain? Ngikutin lu itu sesat!" jawab Anna.


Ami menghentikan langkahnya, lalu menghadap Anna yang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Lo gak ada hak untuk menolak, Anna," nada suara Ami terdengar sangat serius. Siapapun yang mendengarnya bisa mengira kalau dibalik ucapannya ada ancaman. Dan sayangnya, Anna tidka tau ancaman apakah itu.


Anna mengepalkan jari-jarinya, lalu tanpa mengatakan apapun lagi dan berjalan mendahului Ami.


"Heh Anak Yatim! Siapa suruh lo mimpin jalan? Gue gak sudi jalan di belakang lo!" kata sambil menarik dan mendorong Anna ke belakang.


"Kenapa sih lo?!"


Ami tidak mendengarkan, dia hanya diam-diam tersenyum senang. Memang benar tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari pada membuat Anna kesal. Terlebih lagi saat gadis itu tidak dapat membantas sedikitpun. Rasanya seperti jutaan kupu-kupu menggelitik perutnya.


"Cepet masuk! Waktu keluarga Rabusy terlalu berharga untuk nungguin Anak Yatim gak penting kayak lo!" katanya sambil mendorong Anna masuk ke dalam mobil.


Anna mengerutkan dahinya.


Mengapa keluarga Rabusy menunggunya? Terlebih lagi disaat-saat jam sibuk seperti ini?


Dewi yang berada di kursi kemudi, sedikit mengarahkan tubuhnya ke belakang dan melemparkan sesuatu yang diambilnya dari dalam tas bermerknya.


"Pakai gelang itu," ujar Dewi lalu menghidupkan mesin mobil


Anna melotot. Ternyata, gelang dari Nyonya Rabusy beberpaa waktu lalu memang berada di tangan Dewi.


"Ma! Kenapa dikasih lagi?! Ami kan bilang Ami suka gelang itu!" ujar Ami yang tidak terima.


Dewi melirik Ami yang duduk di sampingnya, "Diam!" titahnya lalu menginjak pedal gas.


°°°


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2