Nahyanna

Nahyanna
BAB 44


__ADS_3

Hahaha!


Finally gue COMEBACK! Tapi jangan berharap banyak sama gue. Maaf gue Gak bisa nepatin janji karena gue bakal sibuk banget sama dunia NYATA. Yang minta crazy up? Im sorry for you, aku gak bisa lakuin itu. karena sebulan ini aku sibuk banget (seterusnya juga) dan gak bisa memenuhi itu. Then, sorry.


Btw, aku bingung mau kontrakin karya ini apa engga. karena yah... aku gak yakin gitu di sini. tapi kan aku juga pengen gitu punya group kayak orang lain :(


...Total '13 orang' komentar baru aku up....


...÷÷÷...


...÷÷...


...÷...


Demi apapun, Anna menyesal telah datang. Benar-benar menyesal. Jujur saja, ia merasa sakit hati atas ucapan yang ditujukan Nahyan padanya. Gadis mana sih yang tidak sakit hati jika mendengar ucapan seperti itu?


"Mulai sekarang lo pacar gue," bisik Nahyan tepat di telinga Anna.


Gadis itu merasa merinding di sekujur tubuhnya begitu Nahyan memeluknya dari belakang, apalagi saat mendengar suara Nahyan tepat ditelinganya.


Deg! Deg! Deg!


Seketika Anna merasakan tenggorokannya kering. Otaknya yang tak seberapa menjadi blank hingga tak mampu membedaka hal yang nyata dan tidak. Ia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya, lalu dengan gerakan cepat menarik rambut cowok itu.


"Sok keren lo!"


Anna menyikut perut Nahyan.


"Minggir! Geli tau gak?!" ucap Anna dengan tatapan sinis pada Nahyan yang memegang bagian perut yang terasa nyeri.


"Akh!" Nahyan terlihat kesakitan.


Anna melirik Nahyan sekilas sebelum pergi meninggalkan Nahyan.


"Anna!" panggil Nahyan lalu mengejar gadisnya.


Gadisnya? Ya benar. Meski Anna tampak kesal, gadis itu tidak menyangkal ucapannya. Jadi, tak salah bukan jika Nahyan menganggap Anna adalah gadisnya?


Saat mengetahui Nahyan mengejarnya, Anna segera melarikan diri.  Yang tadinya hanya berjalan cepat, kini berubah menjadi lari. Untung saja ia memakai sepatu sneakers hingga dapat berlari bebas.


Anna menoleh ke belakang untuk memeriksa keberadaan Nahyan. Cowok itu hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia mulai menaikkan kecepatan larinya ke level maksimal.


Anna tersenyum miring pada Nahyan yang pupil matanya melebar dan kecepatan belarinya yang berkurang.


"Terkesan dengan kecepatan lari gue kan?" batin Anna yang merasa bangga.


Nahyan kembali menaikkan juga kecepatan larinya ke level maksimal.


"Bahaya Na!" teriak Nahyan yang berlari lebar berusaha menggapai tangan Anna saat terlihat sebuah mobil truk.


Deg!


Jantung Anna berdetak dengan kencang. Matanya terbelalak melihat truk besar tepat di depannya.


Gue belum mau mati!


...***...


Deana menyerahkan sebotol air mineral yang diambilnya dari dalam tas berwarna hitam di pelukannya pada Fabian. Fabian menerimanya sambil menyunggingkan senyumnya.


"Lo mainnya hebat ya!" puji Deana.


Fabian menggaruk tengkuknya. Bingung harus merespon seperti apa.

__ADS_1


"Gue cuma pemain cadangan," ujar Fabian lalu meminum air.


Deana tersenyum sambil memperhatikan jakun Fabian yang naik-turun. Menurutnya, itu sangat lucu.


"Walaupun cuma cadangan, permainan lo hebat. Lo selalu tau kapan dan kemana lo harus ngoper bola. Atau nyari peluang buat rebut bola."


Fabian menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Sok tau!" ujar Fabian dengan lembut.


"Iyalah!" jawab Deana disertai tawa kecil.


"ANJAAY! AKHIRNYA DIBUKA BLOKIRANNYA!" teriak Suga hingga melompat dari duduknya sambil menatap ponsel di tangannya.


Fabian menaikkan sebelah alisnya. Merasa kepo, ia mendekati Suga dan mengintip layar ponsel itu. Ia terbelalak saat melihat Suga sudah mengirim foto Anna yang menyuapi Galen pada Nahyan.


"Lo belum nyerah juga?" tanya Fabian yang merasa tak percaya.


"Pasti. Kapan lagi bisa manas-manasin Nahyan," jawab Suga sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya.


"Tarik! Kita lagi tanding bodoh!"


"Tandingnya besok bodoh!"


Fabian menatap Suga dengan permusuhan dan Suga dengan senang hati membalasnya.


Fabian menghela napas dan memilih mengalah. "Terserah. Apapun yang terjadi, itu salah lo."


Fabian kembali mendekati Deana yang melihat pertandingan yang sudsh berlanjut sambil memeluk tas miliknya.


"Ayo pulang!" ujar Fabian yang langsung dibalas sebuah anggukan oleh Deana.


"Temenin Vinie!" kata Fabian disela-sela kepergiannya.


...***...


Nahyan meraih tangan Anna, namun sepertinya terlambat. Posisi Anna terlalu jauh dari jangkauannya. Kaki Nahyan melemas.


"ANNAA!!" teriak Nahyan yang menyayat hati.


Gadis yang memperhatikan betapa putus asanya Nahyan beberapa saat lalu, berdecak sebal sambil mengupil dengan jari kelingkingnya. 


"Ngapain teriak-teriak?! Berisik tau gak?!" sewot Anna yang merasa malu karena orang-orang sekitar memperhatikan mereka berdua.


"Kok?" Nahyan mengerutkan dahinya. Bukannya tidak senang gadis itu baik-baik saja. Tapi, aneh rasanya jika Anna bisa selamat dari mobil truk dengan jarak yang sangat dekat.


"Ya iyalah selamat. Orang truknya aja gak jalan!" ucap Anna yang seperti membaca pikiran Nahyan. Gadis itu menunjuk mobil truk berwarna hijau yang memang sedang terparkir cantik di pinggir jalan.


"Dasar beg*o," ejek Anna dengan senyum sinis sebelum kembali berlari menjauh meninggalkan Nahyan yang masih belum sadar dengan apa yang baru terjadi.


Sebenarnya tadi cukup menakutkan. Jika saja truk itu sedang berjalan, ia tak tau seperti apa nasibnya. Anna memejamkan matanya sekejap. Jantungnya masih berdetak sangat kencang. Anna bersyukur ia baik-baik saja.


"Gue pikir beneran bakal mati."


...***...


Anna berjalan menuju rumahnya dengan sepatu yang ditenteng sebelah. Tampangnya acak-acakan dan terdapat banyak luka kecil di beberapa bagian tubuhnya.


Anna menekuk bibirnya.


Ini semua salah dirinya yang sok-sok naik angkot dari pada ojek dengan dalih menghemat uang yang kian hari kian menipis. Alhasil, ia dikejar anjing galak saat lewat di depan rumah seorang tetangga yang kebetulan sedang tak mengikat anjing dengan rantai. Beruntung, ia berbekal juara 1 lari 400 meter. Kalau tidak, dirinya bisa habis digigit anji*ng. Kan tidak elit.


"Anji*ng sialan! Mana gue sempet jatuh ngegrusuk!" Anna menendang sebuah kaleng yang menghalangi jalannya sebagai ungkapan kekesalan.

__ADS_1


Klang!


"Ah! Kampr*et!"


Anna meringis kesakitan.


"Ukh...."


Gadis itu memungut kaleng yang ia tendang yang jaraknya tidak jauh dari posisi semulanya.


"Orang gila mana sih yang ngisi kaleng pake batu!" gerutu Anna sambil melempar kaleng ditangannya kesembrang tempat.


Gadis itu berjalan pincang menuju rumahnya yang hanya berjarak dua rumah lagi. Rasanya, ia ingin cepat-cepat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang telah ia tinggalkan beberapa jam yang lalu. Pasti tenpat tidurnya sudah lumutan karena ia tinggal.


Setelah sampai di dalam rumahnya, Anna merasakan kembali perutnya kerocongan. Roti yang Galen berikan tadi benar-benar tidak cukup untuknya, Anna masih saja merasa lapar.


Anna melangkah menuju ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas. Lalu, ia melangkah menuju kamarnya sambil membuka segel botol air. Hitung-hitung menunda lapar.


*a/n: mi gelas dong :v


Anna melirik kanan-kiri. Meski rumah ini selalu terasa sepi, namun kali ini sepinya benar-benar berbeda. Tapi di sisi lain, ia merasa lega karena tidak akan mendengar kata-kata mutiara dari penghuni rumah lainnya.


Anna menarik kursi yang berada di dalam kamar dan duduk di sana. Gadis itu meneguk air hingga air di dalam botol tinggal setengah.


Mulai sekarang lo pacar gue.


Anna tersedak saat tiba-tiba terlintas ucapan Nahyan di pikirannya.


"Uhuk, uhuk." Anna memukul-mukul pelan dadanya agar batuknya mereda.


Bukankah artinya ia sudah menjadi pacar Nahyan? Benar tidak sih? Kalau dipikir-pikir, tadi Anna tidak menyangkal ataupun menerimanya. Lalu, siapanya Nahyan Anna ini?


Anna beranjak dari duduknya. Pikiran-pikiran di otaknya sekarang benar-benar membuat kepalanya menjadi panas. Lebih baik ia membersihkan diri saja. Toh, tadi pagi ia tidak sempat mandi karena bangun kesiangan. Sekalian mengobati luka-luka miliknya.


Anna membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah daster bergambar Dorademon, lalu masuk ke kamar mandi.


Hampir satu jam waktu yang Anna butuhkan untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi benar-benar membuat tubuhnya terasa lebih fresh. Terlebih lagi, ia baru saja ganti sabun mandi. Jadi betah lama-lama di kamar mandi.


Anna keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang dililitkan ke rambutnya. Tujuannya, supaya air tidak menetes sana-sini. Maklum, Anna tidak mempunyai hair dryer.


Ditengah-tengah ritual mandi kembangnya tadi, Anna mendapatkan sebuah ilham. Apa mungkin Nahyan yang tabiatnya pemaksa dan tukang marah-marah itu suka padanya?


Anna duduk di pinggir tempat tidur.


"Jangan-jangan dia larang gue deket-deket sama Galen karena suka sama gue?" duga Anna. Senyum manis terbit di wajahnya. Anna merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.


Entah mengapa Anna menyukai dugaan ini.


Anna mengambil dan memeluk erat bantal yang kebetulan ada di sampingnya.


"Jadi kangen," gumam Anna sambil memejamkan matanya.


°°°


Bersambung...


Hanya Total komentar '13 orang' baru aku up.


Have a nice day ^^


...yang +❤ 247 orang, yang Read 110++ orang...


...masa yang KOMEN itu-itu doang?...

__ADS_1


__ADS_2