Nahyanna

Nahyanna
BAB 66


__ADS_3


"Yo!" sapa Anna yang baru saja datang. Untungnya, dia bisa tiba di kelas tepat waktu. Tentu saja karena dia berlari kencang makanya bisa keburu, padahal jarak antara kelasnya dan kantin cukup jauh apa lagi kelasnya berada di lantai tiga.


Bella hanya memutar bola matanya, bosan.


"Nih, buat lo." Anna menaruh kantung plastik berisi makanan dan minuman yang dibelinya di atas meja Bella.


"Gak," tolaknya.


"Dih, kenapa sih emangnya?" tanyanya yang memperhatikan Bella yang mulai kembali menulis di buku tulisnya.


Tak mendapatkan respon, Anna memasukan kantung plastik itu ke dalam laci milik Bella. Syukurnya, Bella tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghalangi Anna.


Anna penasaran sebenarnya apa yang Bella tulis di buku itu? Soalnya, yang dilakukan Bella sepanjang sekolah hanya menulis, menulis, dan menulis.


Anna memiringkan tubuhnya lalu mengintip isi buku tulis teman sebangkunya itu. Merasa seperti ada yang memperhatikannya, Bella menoleh untuk menatap Anna. Segeralah Anna pura-pura melengos.


"Makan, Bell. Itu dari Suga," kata Anna.


Bella mengerutkan dahinya, lalu dikeluarkan kantung plastik yang ditaruh Anna tadi di dalam lacinya.


"Ambil! Gue gak mau!" katanya sambil mendorongkan kantung plastik pada Anna.


"Kenapa? Ini rotinya enak tau. Gue beliin rasa keju, keju susu, cokelat, daging, terus ... eumm apa ya tadi? Oh iya, greentea. Minumnya juga ada air putih sama yogurt."


"Gak!" Bella keras kepala.


Dia benar-benar tidak ingin terlibat apapun dengan Suga. Walaupun hanya membelikan makanan dan minuman, Bella tetap tidak akan menerimanya karena dia takut kalau kebebasan yang dia impi-impikan selama ini tida akan terpenuhi. Berurusan dengan Anna saja sudah merepotkan, apa lagi kalau ditambah dengan Suga? Bella tidak ingin menambah satu lagi manusia rese dalam hidupnya.


"Udah terima aja. Lo pagi belom sarapan kan pasti? Makanya perut lo keroncongan gitu. Udah lah, kali ini terima aja. Gak usah malu-malu."


Bella melotot, "Gue gak malu-malu!" sanggah Bella.


"Nah, yaudah. Terima aja! Gak usah banyak cincong." Anna memasukkan kantung plastik ditangannya ke dalam tas Bella.


"Lo apaan--" Anna memeberi isyarat Bella untuk berhenti.


"Diem aja, oke? Lo gak mau kan mulut gue beser?" ancam Anna.


Bella memutar bola matanya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Anna tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, dia bersandar di bahu Bella sedangkan Bella hanya bisa diam pasrah.


"Bell, gue ada cerita...," ujar Anna sambil melihat apa yang Bella tulis.


Bella menutupi bukunya dengan tangan, alhasil Anna yang sedang bersandar kepalanya hampir saja membentur senderan di kursi.


"Pelit sekali...." Anna melirik Bella dnegan raut wajah cemberut.


"Bell! Gue mau cerita! Dengerin gue!" Anna berbisik.


Anna mengguncangkan lengan Bella, "Bell! Pokoknya ya lu harus dengerin cerita gue! Ini tuh emergency!"


Bella menghela napas berat, lalu menoleh untuk menatap Anna. "Apaan? Cepet!"


"Jadi gini, kemaren tuh ya ...." Anna diam, dan Bella serius menyimak.


"Nungguin yak?" tangil Anna abil cengengesan.


Bella membuat gerakan seakan-akan ingin memukul kepala Anna.


"Hehehe...." Anna menaik-turunkan alisnya.


"Gak penting banget," kata Bella yang merajuk. Lebih tepatnya, dia kesal setengah mati pada Anna. Padahal, dia sudah memasang telinga untuk mendengarkan cerita dari gadis itu. Mengesalkan memang.


Hah, memangnya sejak kapan Anna gak nyebelin?


"Ih! Dengerin gue, Bella! Kali ini gue seriuss!" katanya sambil menggguncang-guncang Bella yang sedang menulis.


"Diem anj-" pekik Bella sambil mneggebrak meja dan berdiri dari duduknya ketika bukunya tercoret.


Tiba-tiba saja, suasana kelas yang berisik menjadi hening begitu saja.


Bella meringis, lalu menundukkan kepalanya. Dengan cuek, Bella kembali duduk dengan tenang.


"Ini gurunya ke mana, sih? Kenapa gak dateng-dateng coba?!" batin Bella yang merasa dongkol.


Anna menahan tawa. "Jadi gini, Bell. Kemaren tuh gua gabut. Scroll-scroll toonstagram sampe jam satu malem," cerita Anna. Meski Bella sibuk menulis, gadis itu membuat Anna merasa seperti yah, Bella benar-benar memasang telinga dan mendengarkan. Bukannya seperti merasa seperti tidak didengarkan dan tidak dihargai.


Bella melirik Anna sebentar, lalu kembali lagi pada buku tulisnya. "Terus?"


Anna menyeringai. Tuh, benarkan Apa kata Anna? Gadis itu benar-benar mendengarkan dengan serius.


"Nah gue gak sengaja yaa ... gilaa beuh! Dapet poto roti sobek rasa cokelat tau gak! Gila! Beuh lekukannya mantap!"


Bella berhenti menulis. "Roti sobek?" Gadis itu mengerutkan dahinya.


"Astatang! Lo gak tau roti sobek? Sini gue tunjukin." Anna mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


"Nah, ini dia!" Anna menunjukkan layar ponselnya pada Bella.

__ADS_1


Bella sedikit mendekat ke samping.



(O . O)


Bella menatap Anna seperti Anna adalah orang teraneh di dunia ini. Gadis ini benar-benar sinting pikirnya.


"Sebenernya, ini masih sedikit kurang hot sama yang gue temuin di toonstagram. Yang kemaren itu ototnya berisi, warna cokelat, dan bener-bener gede. Ditambah lagi, dia cuma pake ******!" ujar Anna sambil cekikikan karena membayangkan betapa indahnya lekukan-lekukan otot-otot pria di foto yang dia temukan.


"Gue kasian sama cowok yang jadi pacar lo," kata Bella. Dia membalik halaman bukunya dan kembali menulis di halaman yang kosong.


"Kenapa?" tanya Anna heran.


"Makan hati terus pasti," jawabnya.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


Bella menghela napas. "Udah tau punya pacar, masih aja mata jelalatan," sarkasnya tanpa menatap lawan bicaranya.


Anna mengerucutkan bibirnya. "Mata boleh jelalatan, tapi hati hanya untuk Nahyan seorang," balas Anna sambil menyeringai lebar.


Bella hanya melirik Anna sinis.


"Tap--" ucapan Anna terpotong karena seseornag yang baru saja datang ke kelas.


"Assalamualaikum, Anak-Anak. Maaf, Bapak telat. Soalnya tadi ada walimurid dari kelas yang bapak bimbing datang ke sekolah," ujar guru yang baru saja datang.


Dia membuka buku cetak dan mencari halaman yang dia cari, "Oke, Bapak minta kalian buka buku PKN BAB 3 awal," titah Pak Yahya.


...***...


Anna masuk ke dalam ruang inap Nahyan yang sepi. Dilihatnya Nahyan tengah memainkan ponselnya. Anna bisa tau kalau cowok itu sedang memainkan PAPJI dari suara tembakan yang keluar dari ponsel cowok itu.


"Sendiri aja?" tanya Anna sambil menarik kursi ke samping ranjang.


Nahyan melirik Anna sinis, lalu kembali menatap ponselnya.


Anna menyeringai. Imut juga kalau lagi ngambek pikirnya. Anna yang peka, mendekati Nahyan untuk melihat layar ponsel cowok itu. Namun sayangnya, Nahyan malah tidur membelakangi Anna.


Anna tertawa pelan, "Kenapa semalem gak spam telepon gue? Ngechat aja enggak," tanya Anna sambil menusuk-nusuk pelan pipi Nahyan.


Nahyan menyingkirkan tangan Anna. Dia masih tidak mau berbicara.


"Jadi, game lebih penting dari gue ya? Okelah. Gue balik dulu. Bye!" ujar Anna.


"Haish!" Nahyan bangkit dan menatap Anna dengan dahi yang ditekuk.


Anna menarik kursinya lebih dekat ke ranjang Nahyan. Lalu, mengubah pembatas ranjang agar tidak menghalangi. Kemudian, dia menidurkan kepalanya di ranjang dan menghadap ke Nahyan.


"Nahyan." Sang Empu nama yang dipanggil tidak menjawab.


"Jawab, loh! Berasa ngomong sama batu," Anna merebut ponsel Nahyan.


Setelah ponselnya direbut, Nahyan tidur miring mengahap ke Anna. Dan menatap wajah kekasihnya yang sejak kemarin tidak dilihatnya.


Merasa ada hal yang berbeda, Anna mengerutkan dahinya. "Lo ganti HP baru?" tanya Anna.


"Hm," jawab Nahyan sebagai jawaban ya.


"Kok lo ga ngasih tau gue, sih?" tanya Anna. Entah mengapa jantungnya berdebar-debar kencang. Namun, debarannya ini bukan debaran yang nyaman seperti biasanya kalau dia dekat dengan Nahyan.


"Lo beneran bosen sama gue apa gimana?" tanya Anna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mana ada!" bantah Nahyan tegas.


Anna hanya diam menunduk sambil memain-mainkan ponsel baru Nahyan. Padahal, dia tidak tau apa yang dia lihat.


Nahyan bangkit, dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kemaren, temen setongkrongan gue dateng ke sini. Sengaja juga gak hubungin lo biar ga ke sini. Terus malemnya, gue dapet chat dari nomor yang gak dikenal. Lo tau isi chatnya apa?" Nahyan menatap Anna, dan Anna balas menatap Nahyan.


"Foto lo sama Galen," sambungnya yang menjawab pertanyaannya sendiri.


Tiba-tiba saja rasa bersalah Anna mendominasinya. Memang dia akui dia salah karena tidak menolak ajakan Galen. Tapi kan, situasinya agak berbeda saat itu. Anna tau Galen sudah berada di depan rumahnya, jadi kalau menolakpun rasanya tidak enak.


"Gue--"


"Dengerin dulu." Anna terdiam mendengar suara rendah Nahyan yang mengintimidasi.


Nahyan melanjutkan, "Gue pikir Suga yang ngirim, dan langsung aja gue marah-marah ke dia. Salah gue sih yang nuduh sembarangan, padahal dia di sini terus. Akhir cerita, gue sama dia berantem dan Suga langsung balik. Tapi sebelum itu, dia ngambil HP gue. Gak mungkin kan gue gak megang HP? Jadi gue beli lagi," jelas Nahyan yang panjang lebar.


"Tapi lo gak bisa ngabarin gue? Kalau lo gak tau nomor gue kan lo bisa minta sama Fabian," kata Anna yang menggebu-gebu. "Gue nungguin lo sampe jam satu malem tau gak?! Udah gitu seharian ini juga gak ada kabar. Gak tau lo masih hidup apa enggak."


Nahyan menatap lurus ke mata Anna, "Lo gak lupa kan gue lagi ngambek? Gue pikir lo udah tau alesannya."


Anna menidurkan kembali kepalanya ke ranjang, dia merasa lemas.


"Gue sama Galen gak ada apa-apa!"

__ADS_1


"Iya, tapi lo jalan sama dia."


"Ya, maaf.... Gue tau gue salah."


"Hm," jawab Nahyan yang sepertinya masih tidak terima.


"HP lo mana?" tanya Nahyan.


Anna bungkam. "Gak tau."


Nahyan menatap tajam Anna.


"Iya! Iya! Ini HPnya!" ujar Anna yang tidak tahan ditatap seperti itu. Anna menyerahkan ponsel ditangannya.


"Yang gue minta HP lo, Anna. Bukan HP gue."


Anna mengerucutkan bibirnya, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas sekolahnya dan memberikannya pada Nahyan.


Anna diam seribu bahasa saat Nahyan memeriksa isi ponsel Anna. Dia berkeringat dingin. Bagaimanapun juga, semalam karena menunggu kabar Nahyan dia mendadak bosan dan akhirnya menge-stalk toonstagram dari cowok-cowok tampan di sekolahnya. Mulai dari adik kelas hingga ke alumni dari SMA Y. Lalu, setelahnya dia melihat postingan dengan hastag sixpack.


Nahyan menatap Anna sambil memegang ponsel. "Lo punya pacar apa enggak?" tanya Nahyan.


Anna hanya diam. Itu pasti pertanyaan yang menjebak alias mau pilih yang manapun pasti dia kena semprot juga.


"Gak ngerti lagi gue," lirihnya yang kecewa. Lalu menidurkan tubuhnya membelakangi Anna, namun masih dengan memeriksa ponsel Anna.


"Maaf, Nahyaaan!" Anna mengguncang-guncang tubuh Nahyan. Namun, sedikitpun cowok itu tidak mau menatapnya.


"Gue minta maaf. Gue bosen nungguin lo yang gak ada kabar!"


"Sehari gak ada kabar aja gini, apa lagi bertahun-tahun?" sindirnya.


Anna menekuk bibirnya,lalu mutari ranjang untuk melihat wajah Nahyan. Namun, cowok itu bergerak dan kembali membelakanginya.


"Gue minta maaf, lho!" katanya yang mengguncang-guncang tubuh Nahyan dengan kuat.


"Diem! Tulang gue ini masih retak!" ucap Nahyan saat merasakan sakit di bagian tulang rusuknya.


"Maafin gue ya?" bujuk Anna yang lagi-lagi tidak dapat balasan dari Nahyan.


Anna diam saat kehabisan akal untuk membuat Nahyan memaafkannya. Lalu, ide gila tiba-tiba saja muncul di otaknya. Agak memalukan sebenarnya, tapi tidak apa asal Nahyan memaafkannya.


Anna menaiki ranjang lalu menimpa Nahyan yang tidur menyamping sambil memainkan ponsel miliknya.


"Shhh...." Nahyan meringis sakit. "Jangan gini, Na. Lo berat. Bisa-bisa bukan cuma tulang gue yang retak, tapi semua tulang gue remuk gara-gara lo."


Anna tersenyum, melayangkan senyum imut yang menurut Nahyan mirip kucing yang disukainya. "Udah maafin gue belum?" tanya Anna tengil.


Nahyan berdecak sebal.


Meski kesal, dan marah, mana tahan Nahyan mendiami Anna berlama-lama seperti ini. Tadi saja dia sudah meminimalkan bicaranya pada Anna. Namun? tetap saja tidak bisa. Dia terlalu menyayangi Anna untuk mendiaminya seperti ini.


"Ini udah gue blok semua cowok yang follow lo dan yang lo follow di toonstagram. Gue juga udah blok nomor Galen." Nahyan menyerahkan ponsel ditanganya kepada pemiliknya.


Anna melotot, lalu dia memeriksa jumlah followersnya.


"ISHLAAAAAH NAHYAAAN!" Anna cemberut. "Dari sembilan ratusan jadi empat ratus gini!" katanya yang mencak-mencak.


Nahyan memutar bola matanya tak peduli.


"Susah tau gak sih nyari followers itu?!"


"Cuma followers. Gak bisa dimakan juga."


"Tau ah! Sebel sama lo!" katanya yang cemberut lalu beranjak turun dari ranjang.


Nahyan menahan tangan Anna, lalu membawa gadis itu ke pelukannya.


"Udah diem. Temenin gue tidur. Ge ngantuk," katanya sambil memejamkan matanya.


Anna memberontak, namun tidak begitu kuat karena dia mengingat tulang rusuk Nahyan yang retak.


"Lepas Nahyan!! Nanti emak lo rotan tau rasa!"


"Biarin."


Anna berdecak sebal. "Gimana kalau ada yang liatm!"


"Gak peduli."


"NAHYAAAAAAAAAAN!!"


°°°


Bersambung...


40 kata lagi 2000 njir😂


No edit. maap kalau banak typo.

__ADS_1



__ADS_2