Nahyanna

Nahyanna
BAB 90


__ADS_3

Anna melangkahkan kakinya ke dalam perpustakaan. Bukan karena dia ingin membaca buku, melainkan dia melupakan uang jajannya. Jadi, terpaksa Anna tidak ke kantin. Padahal, dia berniat menonton Nahyan bermain basket.


Anna berkeliling mencari spot yang sepi dan tidak akan terlihat orang lain. Setelah menemukannya, Anna langsung duduk di lantai dan mengambil sebuah buku secara acak dari rak buku.


Gadis itu menaruh ponselnya ke dalam buku. “Kuota gue masa berlakunya tinggal tiga hari lagi. Mana masih banyak gini sisanya,” pikir Anna setelah mengecek kuota data miliknya.


Anna menatap layar ponselnya dengan galau. “Ini paket yang 20 GB 7 hari yang harga 5 ribu kenapa udah gak ada? Aihlah, gak ngerti gue lagi hemat apa?” gerutu Anna merasa sebal.


Lalu Anna memasukkan ponselnya ke dalam saku rok. Menaruh kembali buku yang di ambilnya. Gadis itu berkeliling-liling rak buku hanya untuk membaca judul-judul dari buku-buku di perpustakaan.


“Nyari buku apa?” tanya seseorang dari arah samping.


Anna menoleh, lalu tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. “Gak nyari buku. Cuma gabut aja,” jawab Anna.


Galen tersenyum tipis, lalu mendekati Anna. “Gimana sama Nahyan?” tanya Galen.


“Hm? Gimana apanya?” Anna bertanya balik.


“Waktu itu berantem kan sama Nahyan karena lo manggung bareng gue?” tanya Galen dengan berhati-hati.


Anna mengulum bibirnya. Langsung saja ingatan saat dirinya yang tiba-tiba turun dari panggung untuk mengejar Nahyan. Anna langsung menatap Galen. Dia merasa sangat bersalah pada cowok itu, dan lagi dia belum meminta maaf.


“Aaa, Galen … maaf ya?” Anna memegang tangan kedua tangan Galen.


Cowok itu terlihat salah tingkah, dan langsung melepas tangan Anna. Lalu, Galen menggaruk tengkuknya karena merasa gugup.


“Gue bener-bener minta maaf. Waktu itu gue gak bermaksud ninggalin panggung gitu aja,” mohon Anna sambil menyatukan kedua tangannya.


“Please, maafin gue ya?”


Galen menganggukkan kepalanya. “Gue ngerti kok.”


Anna menyunggingkan senyumnya. “Makasih banyak, ya ….”


Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung.


“Lo putus sama Nahyan karena gue ya, Na?” Galen tidak berani menatap Anna. Dia merasa bersalah dengan gadis itu hingga beberapa hari ini tidak bisa tertidur nyenyak.


Anna mengangkat alisnya terkejut. “Hah? Apaan sih? Nggak ah! Emang lo kata siapa?” bantah Anna.


“Jadi lo beneran udah putus?” tanya Galen.


“Ya-ya gitu.”


Galen menganggukkan kepalanya.


“Kalau gitu, bisa kasih gue kesempatan?”


...***...


Bella menaiki tangga sebuah gedung setengah jadi sambil menenteng sebuah plastik berwarna putih. Gadis itu duduk di pinggiran gedung.


“Kalau jatuh dari sini mati gak ya?” pikirnya iseng-iseng sambil melihat ke bawah.

__ADS_1


Bella mengeluarkan plester, obat merah, dan salep untuk lebam dari dalam plastik, lalu melepas jaket yang dia kenakan. Terdapat banyak luka lebam, dan luka bekas punting rokok di tangannya.


“Gue lupa beli alkohol sama kapas,” pikirnya.


Karena sudah terlanjur, Bella dengan cueknya langsung meneteskan obat merah china ke luka tanpa dibersihkan terlebih dahulu.


“Shh ….” Bella memejamkan matanya menahan rasa perih yang cukup menyiksa.


Lalu, gadis itu meniup lukanya. Setelah rasa perih mereda, Bella kembali meneteskan obat merah ke luka lainnya. Masih terasa perih, tapi setidaknya dia tidak terkejut seperti yang pertama. Dan itu masih berlanjut hingga dua luka karena puntung rokok lainnya.


Tiba-tiba saja ponsel Bella berbunyi. Nomor yang tidak dikenal menelepon. Bella memilih mengabaikan panggilan telepon itu. Mungkin saja salah sambung, pikirnya. Lagi pula, siapa yang akan meneleponnya selain neneknya? Dan sekarang, sang nenek pun sudah tidak ada lagi.


Setelah panggilan itu terhenti, beberapa detik kemudian ponselnya kembali berbunyi.


“Siapa sih?” gumam Bella yang merasa terganggu sambil menekan tombol hijau pada ponselnya yang hanya bisa menelepon dan mengirim SMS itu.


“Halo?” sapa Bella.


“Lo ke mana?! Di suruh beli makan kenapa gak pulang-pulang?! Lo seneng kalau gue kelaparan, hah?!” bentak seseorang dari seberang sana.


Bella memejamkan matanya. Ini adalah suara Ayahnya, orang yang selama beberapa tahun ini dia dan neneknya mati-matian hindari.


“Iya, Ayah. Sebentar lagi Bella pulang.”


“Kalau 10 menit lagi lo belum sampai juga, gue bakar semua buku sekolah lo!” ancam sang Ayah.


“Bakar aja, Yah. Bella udah gak peduli lagi,” sayangnya kata-kata itu hanya berani dia ucapkan dalam pikirannya saja. Lagi pula, dia tidak tega kalau Ayahnya harus merasa kelaparan lebih lama lagi.


Bella segera mengenakan jaket kembali dan pergi dari gedung yang kebetulan dia temukan ini. Saat dia sedang menuruni tangga, mata gadis itu mendapati sesosok orang yang sangat dia hindari. Ya, dia adalah Suga.


“Gak sadar ya?” ujar Suga sambil membalikkan tubuhnya utnuk menatap punggung Bella yang menjauh dengan terburu-buru.


“Gue masang pelacak di ponsel lo!” kata Suga setengah berteriak setelah Bella tidak menghentikan langkah.


Suga sedikit kecewa karena tidak mendapatkan reaksi dari gadis itu. Akhirnya, Suga memutuskan untuk mengejar Bella.


“Bell, kenapa gak masuk sekolah?” tanya Suga sambil menarik lengan Bella.


“Shhh …,” Bella meringis pelan. Suga tepat memegang lengan Bella di bagian lukanya yang terbuka.


Gadis itu segera menyentakkan lengannya. Dia benar-benar tidak suka disentuh oleh orang lain, terlebih lagi jika orang lain itu adalah Suga.


“Stop sentuh gue!” bentak Bella membuat Suga terdiam.


“Denger, ya, Sugantoro Vijaya! Apapun yang dipikiran lo tentang gue atau rencana lo yang melibatkan gue, itu gak akan berhasil! Jadi, berhenti deketin gue!” Bella berucap sambil melotot.


“Camkan itu baik-baik!” Bella langsung pergi meninggalkan Suga yang sedang shock.


“Bell! Seenggaknya pulang bareng gue, Bell!” teriak Suga saat sudah kembali pada kesadarannya.


Dari kejauhan, Bella terlihat mengacungkan jari tengahnya.


Suga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Sia-sia gue ngelacak posisinya dan bolos sekolah cuma buat ketemu dia,” gumam Suga.


...***...


“Ada yang mau ditanya kan tidak?” ujar sang Guru matematika.


Anna mengangkat tangannya.


“Iya, Anna.”


“Anna izin ke toilet ya, Pak?” cengir Anna yang langsung mendapatkan muka masam oleh Pak Gurunya itu.


“Tadi kan istirahat. Kenapa saat pelajaran saya kamu besernya?”


Anna menggaruk kepalanya. “Gak tau, Pak. Namanya juga panggilan alam.”


Pak Guru menghela napas. “Yasudah, pergi sana!”


Anna tersenyum lebar, lalu dengan semangat berjalan menujur luar kelas.


“Jangan ke kantin!”


“Siap Pak!” Anna memberikan salam hormat.


Anna berjalan menuju toilet perempuan yang berada di lantai pertama. Tujuannya? Tentu saja agar lebih jauh, dan Anna bisa melihat kelas Nahyan yang sedang berolahraga di plaza.


Anna tersenyum tipis saat melihat Nahyan yang asik bermain bola voli.


“Ooh, materi mereka udah sampe voli. Cepet juga ternyata. Kelas gue mah bulu tangkis melulu," gumam Anna yang tanpa sadar menghentikan langkahnya.


Anna membuka aplikasi kamera dalam ponselnya. Anna mengezoom kamera ponselnya agar mendapatkan foto wajah Nahyan dengan sempurna.


Kedua sudut bibir Anna tertarik saat melihat hasil dari tangkapan gambarnya. Sepertinya Anna cocok menjadi photographer.


“Ganteng banget jodoh orang,” batin Anna.


Gadis itu kembali melihat ke plaza. Sialnya, matanya malah bertemu dengan mata Fabian. Segeralah Anna membuang muka dan setengah berlari menuju toilet terdekat sambil menutup-nutupi wajahnya.


Fabian yang melihat tingkah laku Anna hanya menggelengkan kepalanya.


“Jelas banget kalau masih saling sayang,” gumam Fabian dengan perasaan iba.


Hanya kali ini saja Fabian tidak akan ikut camput dan tidak akan membicarakannya pada Nahyan kalau gadis itu memperhatikan Nahyan secara diam-diam.


Nahyan menepuk pundak Fabian karena cowok itu terlihat melamun.


"Liatin apa?" Nahyan mengikuti arah pandangan Fabian. Namun, dia tidak menemukan suatu hal yang menarik untuk diperhatikan


Fabian menggeleng. "Gak. Cuma capek aja tadi," jawab Fabian.


"Oh."


°°°

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2