
11783 pesan dari 3 chat
279 panggilan tak terjawab
Anna melihat ponselnya yang sedari tadi dalam mode 'jangan ganggu'. Seperti biasa, selalu ada spam chat dan panggilan dari Nahyan.
Anna tersenyum samar. Setidaknya, jika suatu hari dia menghilang mungkin ada yang akan mencarinya seperti saat ini.
"Cepat pakai ini," ujar Dewi sambil melempar lima buah gaun pada Anna yang sedang duduk di sofa yang di sediakan di dalam mall.
Anna mengerutkan dahinya.
Tumben-tumbenan Tante tercintanya itu berbaik hati membelikannya gaun, terlebih lagi semuanya adalah merk-merk ternama dan pastinya harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit.
"Gak. Sikap Anda ini pasti ada apa-apanya kan?" selidik Anna sambil menaruh semua gaun itu ke sampingnya.
"Oke," Dewi melayangkan tatapan sinis pada Anna, dan detik selanjutnya semua gaun yang dia lemparkan tadi pada Anna di ambilnya kembali. Wanita itu menuju ke kasir.
"Mam! Ini punya Ami!" ujar Ami yang menyerahkan setumpuk gaun ke kasir.
Dewi melirik putrinya itu, "Ini, bayar pakai ini. Mama mau menghampiri Anna," ujarnya sambil menyerahkan sebuah platinum card.
Ami menerimanya dengan suka cita. Saat sang Ibunda sudah pergi jauh, Ami kembali menaruh beberapa gaun lagi. "Tolong hitung yang ini juga, Mbak," katanya.
"Kamu akan dijodohkan dengan anak tertua dari keluarga Rabusy, dalam beberapa minggu acara pernikahan akan digelar secara tertutup," ujar Dewi yang berdiri di depan Anna sambil bersedekap.
Anna mengerutkan dahinya.
Anak tertua dari keluarga Rabusy? Dhyo Rabusy maksudnya?!
Tidak, tidak, tidak!
Anna bisa saja diam diperlakukan buruk selama ini. Tapi pernikahan? Ini soal masa depan, dan kehidupannya. Bagaimana mungkin Anna harus memghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang tidak dia cintai, terlebih lagi orang itu adalah kakak dari kekasihnya sekarang. Anna benar-benar tidak bisa menerima itu.
"Apa? Gak! Saya gak mau!" tolak Anna tegas.
"Heh, kamu harus menerimanya!! Kamu tidak punya pilihan, dan tidak diberi pilihan!" kata Dewi membuat Anna naik pitam.
Hilang sudah rasa hormatnya pada Dewi yang selama ini dia pertahankan karena mengingat Dewi adalah saudara yang dia miliki dari pihak Ayah.
"Kenapa harus gue?! Lo mikir dong, gue masih SMA! Kenapa gak anak lo aja? Dia kan udah kuliah selama 5 tahun tapi skripsi belum juga selesai! Masa depan anak lo suram tuh!"
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Anna. Gadis itu memegang pipinya sambil menatap Dewi penuh amarah.
"Pokoknya kamu harus terima! Atau pergi dari rumah kamu sekarang!" ancam Dewi membuat Anna terpaku dan tak bisa berkata-kata.
Melihat Anna yang terdiam, dan sedang terpojok. Dewi menambahkan, "Kamu boleh menolak, tapi silakan pergi dari jauh-jauh. Sekali kamu pergi, jangan pernah berharap untuk kembali dan mendapatkan hak-hak atas warisan Ayahmu."
"Yah, walaupun kamu menerima perjodohan ini kamu tetap pergi dari sini. Tapi setidaknya, kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan suamimu. Tambahan, saya akan bagi 10 persen harta warisan milik Ayahmu."
Anna menatap tajam ke arah Dewi. Tatapannya penuh dengan kebencian dan amarah yang sayangnya hanya bisa dia tahan.
"Saya sarankan kamu menerimanya. Karena apa pun yang terjadi pada dirimu adalah tanggung jawabmu," ucap Dewi sebelum pergi meninggalkan Anna untuk mengambil gaun-gaun yang sudah dibayar.
__ADS_1
Bangs*t!!
Anna menundukkan kepalanya dan menangis tertahan.
Tak bisakah sedikit saja dia hidup dengan tenang? Bagaimana mungkin dia bisa menikahi Dhyo yang notabenenya kakak dari Nahyan, yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya?
"Hiks..." Anna mati-matian menahan tangisnya.
Dia sedih. Sangat sedih. Baru saja dia merasa bahagia. Namun, sekarang kebahagiaan itu kembali direnggut darinya.
"Ganti pakaianmu sekarang dengan gaun ini," ujar Dewi yang memberikan sebuah gaun simple berwarna putih.
Anna segera menghapus air matanya, dan menerima gaun putih itu dengan setengah hati. Anna melengos saat Dewi menatap wajahnya.
Dewi menyeringai, "Tidak ada gunanya kamu menangis seperti itu. Hal ini sudah ditentukan dan tidak dapat diganggu gugat. Ini juga demi kebaikan kamu."
Kebaikan dengkulmu! Bilang saja ini demi keinginan egoismu serta keluarga kecilmu itu!
"Gue bener-bener benci lo," ujar Anna sebelum pergi menuju kamar pas.
Dewi tersenyum sambil menutup matanya.
"Suatu saat kamu akan mengerti dan berterima kasih pada saya, Anna," batinnya.
...***...
"Woi! Lo belum jawab pertanyaan gue!" ujar Suga pada Bella yang tengah berjalan sendirian.
Bella yang tidak merasa punya masalah dengan orang lain, hanya terus berjalan tanpa menolehkan kepalanya ke belakang sekadar mengecek siapa yang berbicara seperti itu.
Saat ini sudah jamnya pulang sekolah, banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang. Hari ini jadwal pulang sekolahnya dipercepat.
"Lo beneran gak denger atau pura-pura gak denger?" tanya Suga.
Bella mengerutkan dahinya.
Kenapa seharian ini Bella bertemu terus dengan cowok playboy ini? Sebenarnya dosa apa yang dia lakukan sebelumnya sampai-sampai bertemu dan berurusan dengan Suga?
"Urusannya sama lo apa?" judesnya menatap tajam Suga.
"Tentu aja ada! Lo kenapa benci gue?" tanya Suga.
Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli jika orang lain yang membencinya. Tapi saat dia tau Bella membencinya, dia selalu memikirkan apa alasan gadis itu membencinya. Ada sesuatu hal yamg janggal menurutnya tentang Bella. Tapi dia tidak tau apa itu. Gadis itu menyita perhatiannya sejak pertama kali bertemu di kantin bersama Anna dan Deana waktu itu.
Bagaimana dia bisa melewatkan gadis cantik seperti Bella selama ini?
"Apaan sih? Gak jelas banget! Yang bilang benci lo itu siapa?"pekik Bella yang mengundang perhatian orang sekitar. Dia berusaha melepaskan cengkraman Suga dari tas sekolahnya.
"Udah lepas! Gue mau pulang!"
"Jawab dulu! Kenapa lo benci gue?!"
"Gue gak benci lo! Gak usah ngada-ngada!"
"Lo bohong! Lo benci gue! Pikiran lo yang--"
__ADS_1
"Apa?! Pikiran gue kenapa?! Emangnya lo cenayang yang bisa baca pikiran gue, hah?!" Bella melotot. Dia sengaja mengatakan itu. Sekali-sekali memojokkan Suga tak apalah.
Suga terdiam sejenak. "Gue--Aaah! Pokoknya lo benci gue! Mata lo yang bilang gitu!" jawabnya yang mencari alasan.
"Apa sih gak jelas!" makinya lalu pergi dari hadapan cowok itu.
Suga mencekal lengan Bella. "Tunggu! Gue belum selesai ngomong!"
Mata Bella melotot melihat lengannya dipegang Suga. Lalu dengan satu sentakan dilepasnyalah pegangan itu.
"Gak usah sentuh-sentuh!"
Suga mengangkat kedua tangannya seolah-olah sedang ditodong senjata tajam oleh polisi karena melakukan kejahatan.
"Oke, gue gak nyentuh. Tapi, bisa kan lo kasih alasannya?"
Bella menatap mata Suga. "Lo mau tau alasannya?"
"Iya," Suga mengangguk mantap.
"Pertama, karena lo di SMP beasiswa gue dicabut. Kedua, lo cowok yang suka mainin perempuan. Ketiga, lo gak pernah mau ngalah. Keempat, lo keras kepala. Kelima, tingkah lo menjijikkan. Keenam, ...."
"Stop! Sejak kapan gue buat beasiswa lo dicabut?!" tanya Suga.
"SMP!! Tuh kan, lo itu menjijikkan. Gak pernah inget sama kesalahan yang lo buat ke orang lain."
"Gak. Gue gak ngerasa--"
"Lo inget, masalah rokok yang lo masukin ke tas anak perempuan saat lagi razia?" Bella berjalan mendekat ke arah Suga. Namun cowok itu perlahan melangkah mundur.
"Inget saat anak perempuan itu dipermaluin di depan orang ramai? Inget saat saat anak perempuan itu sujud di kaki Kepala Sekolah untuk gak cabut beasiswanya karena kasus itu? Sedangkan lo apa anj--Lo seneng-seneng sama temen-temen cewek lo, ketawa sana-sini. Lo gak pernah berniat untuk ngaku kalau itu adalah rokok punya lo. Bahkan, yang paling menjijikkannya lo lupa sama masalah itu dan hidup tenang seperti gak ada dosa."
Suga menelan saliva saat merasakan tenggorokkannya yang tiba-tiba terasa kering. Suga ingat jelas tentang itu. Dia akui dirinya yang dulu memang sangat-sangat nakal dan tak berperasaan. Tapi, dia tidak menyangka hal itu akan menjadi boomerang baginya.
Suga mengusap wajahnya. "Oke, gue minta maaf. Gue akui gue salah. Tapi, gue pikir lo gak butuh beasiswa saat lo punya uang buat bayar sekolah kan?"
Bella tersenyum ketir, "Ya, kalau lo punya uang," ujar Bella penuh penekanan lalu pergi meninggalkan Suga yang terpaku.
Deg!
Hati Suga terasa tertusuk saat melihat ekspresi wajah Bella yang tersakiti.
'Ya, kalau lo punya uang.'
'Kalau punya uang.'
'Uang.'
"Oh, shit!!" umpat Suga sambil mengusap wajahnya gusar.
Dia benar-benar bersalah pada Bella.
°°°
Bersambung...
__ADS_1
Yuk follow IG @incesnanana