
Nahyan masuk ke ruang rawat inap Anna sambil menenteng sebuah kantung plastik berukuran besar.
Sadar Nahyan datang, Deana memindahkan keranjang buah ke pinggir agar mempunyai ruang untuk kantung plastik yang Nahyan bawa.
"Nih!" Nahyan hanya bereskpresi datar, lalu melirik Anna yang masih menutup mata. Dia merasa sedih dan terluka melihat kondisi gadis itu, dia juga merasa gagal sebagai seorang kekasih.
"Na... bangun. Ini Nahyan udah bawa makanannya," ujar Deana sambil mengguncang pundak Anna pelan.
Nahyan yang melihat itu mengerutkan dahinya. "Lo gak usah gila. Ngapain lo paksa cewek gue bangun? Biarin siuman sendiri!" sinis Nahyan.
Deana memutar bola matanya. "Anna udah sadar dari tadi keles. Kasian juga tadi dia cuma makan sedikit roti."
Mendengar sebuah keributan, Anna perlahan membuka matanya. Tiba-tiba saja indra penciumannya mengendus sesuatu yang sepertinya enak.
"Makanannya mana?" tanya Anna yang bersemangat. "Anjiir, laper bener bener gue."
"Tuh, kan. Cewek lo laper," sindir Deana sambil mengambil sekotak bubur ayam dari dalam kantung plastik.
Nahyan memutar bola matanya tak peduli. Kemudian, menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang berada tak jauh dari ranjang.
"Oi!" panggil Deana pada Nahyan yang sibuk memainkan ponsel.
Nahyan melirik Deana sekilas.
"Suapin Anna gih!" ujar Deana.
"Ngapain njiir? Kan lo bisa," bisik Anna.
"Shht! Diem aja!" balas Deana yang juga sambil berbisik.
"Woi! Gue ngomong sama batu apa gimana sih?" Sarkas Deana yang sebal karena tidak mendapat respon dari Nahyan.
"Dia punya tangan kan? Yaudah," balas Nahyan yang cuek sambil memainkan game offline di ponselnya.
Deana menyerah. Nahyan itu terlalu batu. Kalau ini terus berlanjut, bisa-bisa Deana makan hati yang ada.
Deana mengaduk bubur ayam agar bumbunya merata. "Na, lo inget kan yang gue ceritain tadi? Ada cowok yang kabur dari pertandingannya pas denger lo kecelakaan?" pancing Deana sambil menyuapi Anna.
Awalnya Nahyan tidak peduli. Namun, karena ada suatu hal yang membuatnya tertarik, alhasil ia diam-diam menguping seraya memainkan game diponselnya.
Anna yang tak tau harus merespon seperti apa, hanya tersenyum paksa.
Mending senyum aja. Bisa gawat kalau gue salah ngomong, batinnya sambil melahap sendok berisi bubur ayam yang Deana suapi.
"Pas nyampe sini, dia ngoceh-ngoceh karena lo di tempatin di ruangan untuk dua orang, padahal lo abis kecelakaan. Alhasil, dia ngamuk-ngamuk ke perawat dan minta mindahin lo ke ruang president suite."
Entah mengapa kuping Nahyan menjadi panas saat kata 'ngamuk' keluar dari bibir Deana.
"Oh iya satu lagi! Lo tau gak, orang itu masa nangis-nangis kejer liat lo---"
"GUE AJA!" kata Nahyan yang entah sejak kapan sudah berada di samping Deana.
"Lo pergi sana! Ngerusak pemandangan!" ujar Nahyan sambil merebut bubur ayam dan sendoknya.
Deana berdecak sebal. "Cowok lo itu dari tadi ngeselin bener, Na. Aplause dari gue kalau lo bisa tahan lama sama cowok model dia!" Deana yang dongkol langsung berpindah tempat ke sofa yang berhadapan langsung dengan TV.
Nahyan duduk di kursi yang Deana pakai tadi. Cowok itu mengaduk-aduk bubur dengan sendok tanpa melihat ke arah kekasihnya itu. Jujur saja, dia merasa enggan dan malu.
"Aaa!"
Anna mengedipkan matanya beberapa kali saat Nahyan menyodorkan sendok berisi bubur dengan kepala yang tertunduk.
"Ck! Ada ya yang nyuapin orang tapi kepalanya nunduk?" sindir Anna. Pasalnya, hampir saja hidungnya kemasukan bubur ayam.
Nahyan mendongak, lalu melayangkan tatapan tajam.
"Diem! Lo berisik!"
Anna memutar bola matanya malas.
Nyinyinyinyi.
"Gak usah betingkah!" kata Nahyan yang tak senang dengan respon Anna. "Cepet makan!"
Anna cemberut, namun akhirnya dia tetap melahap bubur ayam yang disuapi Nahyan.
"Nih!" Nahyan menyendoki lagi bubur ayam itu.
Anna mengerutkan dahinya, kemudian menelan bubur itu. "Lo nyuapin gue atau lagi lomba lari? Kasih gue waktu nyerna makanan gue dulu, kenapa!"
"Bawel banget sih lo! Kayak emak-emak!" sewot Nahyan.
Anna terperangah.
__ADS_1
Ajaib sekali tingkah cowok satu ini.
"Ya elu itu!"
Nahyan balas melotot. "Makan sendiri!" kata Nahyan yang sebal sambil menaruh kotak bubur ayam ke atas nakas, lalu duduk kembali di sofa. Cowok itu mengeluarkan ponselnya.
Anna mencibir Nahyan. "Emangnya gue gak bisa makan kalau gak lo suapin? PD amat anda!"
Nahyan menatap tajam Anna, yang ditatap pun melayangkan tatapan yang tak kalah tajam.
"Apa lo liat-liat?! Naksir?!"
"Ya elu yang naksir gue!"
"Idih ogah! Amit-amit! Jangan sampe... iyuuuh!"
"Pergi sana lu! Eneg gue liat lu!"
"Oke siap boss!"
Anna bergegas melepas jarum infus yang melekat di tangannya. Sesungguhnya, sejak tadi ia merasa risih dengan benda itu. Terlebih lagi, meski ini ada ruang president suite, tetap saja Anna merasa tidak betah karena tempat ini tetaplah rumah sakit. Apalagi, kalau dia sampai harus mencicipi bubur yang tidak tau apa rasanya itu.
Nahyan langsung mencegah tindakan Anna.
"LO GILA?!"
Deana yang sedari tadi memperhatikan interaksi pasangan jadi-jadian itu hanya menghela napas bosan. Entah apa yang dua manusia absurd itu ributkan. Akhirnya, ia memilih mengirim pesan pada pacarnya Ian.
"Kan lo yang nyuruh gue pergi. Gimana sih?!"
"Gak usah betingkah! Baru kecelakaan, juga."
Anna cemberut. "Tadi ngusir, giliran gue mau pergi malah dibilang betingkah," cibir Anna.
"Gue denger Anna."
Anna melirik Nahyan sekilas dan membungkam mulutnya. Anna memperhatikan Nahyan yang duduk di kursi dekat ranjang. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika Nahyan kembali mengambil kotak bubur ayam yang berada di atas nakas.
"Makan."
"Siapa?"
"Yang nanya."
"Ngebet banget mau diseriusin."
"Nahyaaaaan!"
"Ganteng."
Nahyan melirik Anna yang sedang cemberut sekilas. Entah mengapa menyenangkan sekali menjahili gadis itu.
"Gak mau kan? Gue yang makan kalau gitu." Nahyan memakan bubur ayam milik Anna dengan lahap.
Anna melotot, lalu ia bergerak ingin mengambil mangkuk dari buburnya dari tangan cowok itu. Namun, Nahyan dengan sigap menghabiskan bubur ayam itu hingga tak bersisa.
😢
"Aaaaaah! Lo tega banget sih! Gue masih laper! Ngalah dikit kek sama pacarnya!" Anna yang bete langsung menidurkan tubuhnya membelakangi Nahyan.
"Gak usah lebay!"
Anna tak bergeming.
"Gak usah kayak orang susah! Cuma bubur ayam aja kayak kehilangan emas batangan."
Anna bangkit lalu menatap Nahyan dengan wajah yang ditekuk.
"Gue orang susah terus kenapa?! Mentang-mentang anak sultan. Tapi, bubur ayam aja pake ngerebut punya orang."
"Yang beliin siapa emang?" sindir Nahyan.
"Anak Sultan kok perhitungan!" balas Anna cepat.
Nahyan menghela napas. Susah. Susaaaah! Kalau Anna ngambeknya begini, lebih baik dia mengalah.
"Di plastik masih ada tiga kotak. Jadi, berhenti ngambek gak jelas."
"Bodo!"
"Gak mau?"
"Bodo!"
__ADS_1
"Gue abisin aja nih?"
"Gak peduli!"
"Yakin? Ini enak lho. Gue tadi udah mintain ekstra ayam dan kacangnya, terus gue juga belinya pake cinta."
"Bodo! Bodo! Bodo! Gue gak peduliii! Pergi sana!" kata Anna sambil menutup kedua telinganya.
"Owh, gue abisin ya." Nahyan sengaja memperdengarkan aktifitasnya membuka kotak bubur ayam, lalu wanginya sengaja ia kipasi agar menuju ke arah Anna.
"Hm... Enak. Gue makan ah!"
"ISH GAK PEKA BENER LHO! BIARIN AJA GITU! GUE INI LAPER!" teriak Anna sambil menatap Nahyan marah.
"Rayu gue kek!" gerutu Anna yang msrasa sebal.
Enak saja mau dihabiskan semua. Anna kan sudah sedari tadi menahan lapar. Apa lagi, kemarin Anna belum sempat memakan makanan hasil sogokan dari Nahyan. Sudah dipastikan dia sangat kelaparan saat ini.
Oh ya!
Makanannya yang kemarin bagaimana?!
Nahyan tersenyum puas. Kemudian, cowok itu membukakan sekotak bubur ayam yang baru untuk Anna.
"Gue suapin atau--"
"Sendiri!" kata Anna sambil merebut bubur ayamnya.
Nahyan tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepala gadis itu.
"Gak usah pegang-pegang. Tangan lo bau! Cebok gak cuci tangan gitulah!" kata Anna yang menepis tangan Nahyan.
😒
Nahyan memasang wajah datar.
Dasar tuman!
Nahyan mengapit leher Anna diketiaknya.
"Nahyan! Nanti tumpah!!"
Nahyan tidak menyerah dan masih tak mau melepaskan Anna. Dan tak akan pernah dia melepaskan Anna.
"Astaghfirullah Nahyan! Gue ini abis siuman, bukannya disayang-sayang malah di buat kesel terus!"
Di sisi lain...
Deana hanya bisa menggigit jari mendengar dan melihat keuwu-uwuan temannya itu. Dia jadi kangen Fabian.
Deana menggelengkan kepalanya.
Gak Deana! Sadar! Lo punya Ian! pikir Deana, lalu menengok ke arah Anna dan Nahyan yang sedang bercandaan.
"Njirlah, jadi nyamuk gue!"
Deana tidur terlentang di sofa. Entah mengapa ia merasa bosan LDR-an seperti ini. Dia tidak hanya butuh hati, tapi dia juga butuh raga. Bahkan, dia merasa iri pada Anna yang mempunyai pacar yang satu wilayah tempat tinggal.
"Coba gue mau buburnya!"
"Idih ogaaaah! Bekas jigong lo!"
"Pelit banget sih!"
Deana berdecak sebal. "Lo berdua ini anjim banget ya?" ujar Deana yang mengundang tanya.
Anna menaikkan alisnya saat Deana bergegas pergi dari ruang rawat inapnya.
"Sarap kali ya?" kata Anna.
"Kawan lo," ujar Nahyan sambil menyendong bubur ayam dan melahapnya.
"Allahuakbar Nahyan!"
°°°
Bersambung...
😈 KOMEN (yang banyak!!)
🌷 LIKE
Masih aku pantau kalean yang ghosting.
__ADS_1
Dateng baca, gak meninggalkan apa-apa dan pergi begitu saja 🙃