
"Huh?" Anna mengerjapkan matanya. "Nahyan gak masuk sekolah?" tanya Anna yang memastikan.
"Hooh. Gak masuk. Liat aja tasnya gak ada," jawab Epen yang memberikan celah agar Anna bisa melihat sendiri dalam kelas 12 A-7.
Anna menyembulkan sedikit kepalanya untuk melihat tempat duduk Nahyan. Benar saja, tidak ada satupun benda di meja itu.
Anna menganggukkan kepalanya. "Kalau Suga dan Fabian?"
"Ntah. Paling lagi ke kantin."
Anna mengulum bibirnya, "Oke, deh. Makasih, ya."
Epen menganggukan kepalanya.
Anna berjalan kembali ke kelasnya dengan perlahan dan hati yang kecewa. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Besok dia masih bisa mencarinya.
"Lo yakin udah ngerjain tugas?" tanya Bella pada Anna yang menidurkan kepalanya di atas meja.
"Belum sebenernya," jawab Anna sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar dalam keadaan mood yang buruk hari ini.
"Terus?" tanyanya.
"Gak terus-terus," kata Anna yang malas menjawab.
Bella menghela napas, "Udah gue duga lo belom ngerjain. Nih, gue udah kerjain tugas lo. Hanya kali ini aja tapi," ujar Bella yang memberikan buku tugas yang pada sampulnya sudah tertulis nama Anna.
"Lo ngerjain dibuku gue?" tanya Anna. Dia menerima buku pemberian Bella, lalu memeriksanya. Benar saja, ini adalah buku tugas miliknya. Anna memeriksa tugas terakhirnya. Ada tulisan tangan Bella di sana. Sungguh tulisan yang bagus dan rapi. Berbeda dengan tulisannya.
"Hm." Bella kembali meneruskan acara menulisnya.
"Kalau tulisannya ketahuan beda gimana?" tanya Anna sambil menaruh buku tugasnya di laci, masih dengan posisi kepala yang ditidurkan di atas meja.
"Derita lo," jawab Bella yang tidak mau ambil pusing memikirkan hal yang akan terjadi jika Anna ketahuan tugasnya dikerjakan oleh orang lain, lebih tepatnya dikerjakan olehnya.
Anna berdecak sebal. "Kalau sampe ketahuan terserahlah. Tapi, gue ucapin makasih. Gue sangat-sangat terbantu."
"Hm."
Anna memperhatikan Bella yang sibuk menulis. Sebenarnya Anna penasaran apa yang ditulis Bella. Tapi, yasudahlah. Gadis itu seperti tidak mau menunjukkan isi tulisannya. Meski Bella melakukannya secara terbuka. Anna tidak mau melanggar privasi seseorang. Toh, dia sendiri tidak suka privasinya dilanggar.
"Kenapa lo hari ini baik banget sama gue?" tanya Anna iseng. "Eumh.... Bukan baik ya, lebih tepatnya kayak berinisiatif."
"Berinisiatif gimana?" tanya Bella tanpa melihat Anna.
"Ya, kayak gitu. Lo pasti taulah," jawab Anna yang susah menjelaskan.
"Oh...." Bella terlihat acuh tak acuh.
"Dih, oh doang!" Anna meninju pelan bahu Bella.
"Y."
Anna berdecak sebal. Ternyata, bisa juga Bella membuatnya kesal. Biasanya, dia yang selalu membuat gadis itu kesal.
Keheningan menghampiri kedua gadis itu. Anna tidak memulai pembicaraan, apa lagi Bella. Gadis itu sibuk dengan acara menulisnya itu.
Anna memperhatikan wajah Bella. Gadis ini benar-benar cantik. Wajahnya bahkan mulus seperti pantat bayi. Bibirnya juga mungil dan berwarna pink alami, dan bulu matanya juga lentik. Kalau anaknya saja seperti ini, bagaimana dengan orang tuanya Bella ya?
Anna menghentikan pikirannya itu. Tiba-tiba saja ada suatu hal yang diingatnya. Sesuatu hal yang ingin dia tanyakan sejak lama. Bahkan, sejak pertemuan pertamanya dengan Bella.
"Bel, sebenernya dari lama gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi, gue ragu karena gue pikir itu privasi lo," ucapnya.
Aneh bukan kalau Anna tidak penasaran saat mengetahui seorang gadis remaja ingin bunuh diri di roftoop rumah sakit?
"Kalau tau yaudah gak usah nanya," jawab Bella tak acuh. Dia juga tidak penasaran apa yang mau ditanyakan Anna padanya.
"Lama-lama kok jadi elo yang ngeselin ya, Bell?"
"Hanya perasaan lo."
Anna mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Gue pengen...." Ucapan Anna terhenti saat sebuah suara dari orang yang baru saja datang menyelanya.
"Na! Ini gue bawain roti sama susu rasa coconut delight," Deana memberikan sebuah kantung plastik kecil berwarna hitam pada Anna.
Anna duduk tegap. "Ngapain?" tanya Anna.
Sebenarnya, diantara Deana dan Anna belum ada kata maaf. Tapi, yah, begini saja tidak apa. Anna juga tidak mau berlama-lama berdiam-diaman dengan Deana hanya karena pemikirannya tentang hubungan Fabian dan Deana yang menurutnya adalah salah.
Deana memutar bola matanya, lalu duduk di bangku di depan Anna. "Ya, apalagi selain dimakan?" jawabnya.
"Berapa?" tanya Anna yang ingin mengeluarkan uang dari saku bajunya.
"Gak perlu keles. Santai. Kayak udah sama siapa aja," tolak Deana.
Anna menganggukkan kepalanya. "Oke. Makasih," ujarnya sambil tersenyum tipis. Sebenernya terlihat seperti dipaksakan.
"Lo kenapa lemes gitu? Terus Nahyan mana? Biasanya kan lo sama dia atau gak sekarang lo bakal dapet chat dari dia?"
"Gak tau."
"Lah, aneh. Lo pacarnya atau bukan sih?"
"Gak tau."
"Jangan bilang lo berdua putus?"
"Gak tau."
"Gue nanya serius Anna!"
"Ya, gak tau."
"Lo kenapa? Coba sini cerita. Dari pada lo loyo-loyo kayak gini kan. Menebar aura-aura negatif tau gak?"
"Gak tau lho! Gue gak tau!" Anna menjawab dengan frustrasi. "Paling dia marah sama gue kan. Dari semalem gak ada satupun chat yang dibales atau telepon yang diangkat. Hari ini juga dia gak masuk sekolah. Terus gue mau cari kemana coba? Nanya Fabian dan Suga? Emangnya mereka berdua keliatan bisa diajak kerja sama? Udah pasti Nahyan sekongkol sama dua sejoli itu!"
Deana mengerjapkan matanya. "Tinggal lo samperin ke rumahnya aja apa susahnya?"
Anna memang tidak bisa beekunjung ke rumah keluarga Rabusy untuk mencari Nahyan. Tapi kalau apartemen Nahyan ....
"Atau gue samperin aja ke apartemennya ya?" gumamnya.
Apartemen.
Mungkin saja Nahyan ada di sana.
Anna menyeringai lebar. "Hehehehe...." Gadis itu tertawa jahat.
Deana menatap Bella. "Ini manusia kenapa?"
Bella mengangkat kedua alisnya. "Lo nanya sama gue? Sejak kapan kita berdua sedeket itu?" sinis Bella.
Deanna mengumpat, "Bangs*t!"
...***...
Saat ini Anna berada di dalam lift yang menuju ke lantai apartemen Nahyan berada. Sehabis dari sekolah, dia langsung bergegas ke sini. Takut-takut dia terlambat semenit saja Nahyan sudah pergi dari apartemen.
Ting!
Lift terbuka tepat di lantai yang Anna tuju. Dengan jantung yang berdebar kencang dan pikiran yang menerka-nerka seperti apa reaksi Nahyan saat melihatnya nanti. Anna berdiri tepat di pintu apartemen Nahyan.
Gadis itu mengggigit bibir bawahnya. Kemudian, dengan tangan yang gemetar dia memasukkan password untuk membuka kunci pintu apartemen.
Semoga passwordnya belum diganti, harapnya.
Anna merengut saat ternyata password yang dia masuki adalah salah.
"Gak mungkin! Please! Masa udah diganti sih?" suara Anna tidak kalah gemetar dengan tangannya yang kembali mencoba memasukkan password yang sama. Siapa tau tadi jarinya terpeleset sehingga memasukkan password yang salah, kan?
Anna medesah gelisah saat password yang dia masuki kembali salah. "Segitunya gak mau ketemu sama gue kah?" lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca dan kembali memasukkan password yang dia tau.
__ADS_1
"Kenapa salah terus sih?!"
"Coba masukin tanggal jadian kita."
Anna mengangguk dan segera memasukkan tanggal jadiannya dengan Nahyan.
Cklek!
Pintu terbuka.
Bisa!
Anna tersenyum lebar, lalu memutar balikkan badannya. "Maka--" ucapannya terhenti saat melihat sosok cowok yang sejak semalam dia cari dan dia tunggu-tunggu.
"Lo kemana aja sih?" lirih Anna yang entah sejak kapan air matanya mengalir deras.
Nahyan tersenyum lemah. "Masuk dulu," ucapnya sambil merangkul leher Anna dan menyeret gadis itu masuk ke dalam apartemen.
Nahyan berjalan masuk ke dalam apartemennya diikuti Anna dari belakang. Cowok itu menaruh belanjaannya di mini bar, lalu membuka kulkas untuk mengambil sebotol air putih dingin.
"Kenapa?" tanya Nahyan sambil tersenyum geli saat melihat ekspresi menggemaskan yang Anna buat saat mengintilinya.
"Kenapa gak bales chat gue? Telepon gue juga kenapa gak diangkat?" tanya Anna dengan raut wajah kesal bercampur sedih.
Nahyan menarik kursi di mini bar, lalu duduk di sana. Di tatapnyalah Anna, "Menurut lo kenapa?"
Anna terdiam. Dia tidak dapat menjawab. Namun, dia menatap wajah Nahyan lekat-lekat.
Ya Tuhan... Anna benar-benar mencintai cowok ini.
"Ini kenapa gini lagi?" tanya Nahyan sambil menarik tangan Anna agar mendekat. Lalu, dipegangnyalah bagian bibir Anna yang terluka.
"Gue berantem kemaren," jawab Anna sambil menundukkan kepalanya.
"Tatap gue Anna," kata Nahyan sambil menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya agar melihat ke arahnya. Hanya ke arahnya.
Anna menangis. "Hiks...."
"Kenapa nangis?" tanya Nahyan lembut sambil menyelipkan sejumput rambut Anna ke belakang telinga.
Sikap lembut Nahyan yang seolah-olah tidak pernah terjadi apapun kemarin membuat hati Anna semakin sakit.
"Hiks... hiks... ah... hiks...." Anna menangis sesegukan, bahkan gadis itu tidak berniat untuk menahan tangisannya. Sudah terlalu banyak tangis yang dia tahan. Kalau kali ini dia menahannya lagi, tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan nanti.
Nahyan kembali menarik Anna dan membawa gadis itu ke pangkuanya. Nahyan mengusap air mata gadis di pangkuannya itu dnegan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
"Jangan nangis, Na. Bukannya ini pilihan lo?" ucap Nahyan yang terdengar sarkas. Namun, tatapannya terlihat bersahabat dan suaranya juga lembut.
Saat Anna mendengar kata-kata Nahyan, dia menghentikan tangisnya. Namun, sedetik kemudian tangis Anna pecah. "Hiks... hiks... maaf... maaf. Maafin gue Nahyan... Maaf... hiks...."
Nahyan yang tidak tega, segera memeluk Anna erat dan mengusap-usap punggung gadis itu agar merasa tenang.
Jujur saja, perkataan Nahyan ini memang ditujukan pada Anna. Lebih tepatnya untuk menyakiti gadis itu. Agar Anna tau kalau keputusannya menerima perjodohan itu adalah salah. Tapi, entah mengapa malah hatinya yang terluka.
Nahyan tersenyum pahit.
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya Nahyan merasa seperti seorang pengecut.
Mungkin memang ini yang terbaik, pikirnya setelah mencium puncak kepala Anna.
°°°
Bersambung.
Hari terakhir aku Update ✌
Update 7 chapter 7 hari berturut-turut nyiksa cuy 🙃
Aku heran sama orang yang bisa sehari 3-4 chap dan updatenya hampir setiap hari.
__ADS_1