Nahyanna

Nahyanna
BAB 85


__ADS_3

Rencananya, Anna hanya akan manggung di ICaffe beberapa kali lagi saja. Tapi siapa sangka Nahyan yang tipe cowok pencemburu dan posesif melihatnya manggung hari ini? Terlebih lagi dia manggung bersama Galen di sini. Nahyan kan sangat sensitif kalau dia berhubungan dengan Galen.


Anna menatap Nahyan, dan dia tidak dapat beralih. Seolah-olah ada magnet yang membuatnya tidak dapat berhenti menatap Nahyan meski cowok itu sekarang tengah bergegas pergi dari Caffe.


Anna termenung sejenak.


Tatapan matanya ... pasti dia sedang kecewa bukan?


Tanpa basa-basi, Anna meninggalkan panggung dan bergegas menyusul Nahyan ke luar Caffe. Dia tidak menghiraukan suara Galen yang memanggilinya.


Ah, sepertinya Anna harus meminta maaf pada Galen. Tapi nanti karena sekarang Anna perlu meluruskan kesalahpahaman dengan Nahyan. Dia tidak mau terlihat buruk di mata Nahyan terlalu lama.


"Nahyan! Tunggu!" panggil Anna sambil menggapai tangan cowok yang sekarang sedang berjalan cepat menuju parkiran.


Tak!


Anna terkejut saat Nahyan menepis tangannya.


Dulu, setajam apapun ucapan Nahyan, cowok itu tidak pernah menepis tangannya seperti ini. Apakah efek dari kecewa sebesar itu? Kalau iya, siapapun, katakan pada Anna sekarang bagaimana caranya agar Nahyan tidak kecewa lagi?


"Jangan sentuh gue!" bentak Nahyan.


"Huh? Ma-maaf...." Tanpa disadari matanya berkaca-kaca.


Nahyan memejamkan mata frustrasi. Hampir saja dia memeluk gadis di depannya sesaat setelah melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca. Saat ini dia bukanlah siapa-siapa Anna, dan jangan lupakan dirinya yang sedang marah dan kecewa pada gadis itu.


"Apa?!" sembur Nahyan. Wajah cowok itu terlihat sangat datar tanpa ekspresi, dan terasa dingin, seolah-olah hati cowok itu sudah membeku dan tidak dapat mencair lagi.


Sakitnya...


Anna menjawab, "Gue mau jelasin!" Anna berusaha memegang tangan Nahyan, namun sayangnya cowok itu malah melangkah mundur untuk menghindari tangannya.


Nyut!


Anna menarik kembali tangannya. Rasanya sakit sekali. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya.


Siapa pun tolong!


Tolong Anna kali ini saja!


Tolong katakan semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Anna mengepalkan tangan sekaligus memejamkan mata. Dia berusaha agar air matanya tidak jatuh dan mengalir begitu saja. Anna tidak ingin Nahyan melihatnya menangis dan mengira kalau dia salah. Anna tidak mau. Benar-benar tidak mau.


"Jelasin?" tanya Nahyan yang mengambil langkah untuk mendekati Anna dan berbicara tepat di depan wajah gadis itu.


Anna menelan salivanya. Gadis itu menatap balik mata Nahyan agar terlihat tidak lemah, lalu gadis itu memberanikan diri mengangguk dan menjawab, "Iya, gue mau lo dengerin penjelasan gue kalau ini cuma sal--" Namun sayangnya, Nahyan memotong ucapannya.


"Apa yang perlu lo jelasin?" ujar Nahyan dengan cepat. Cowok itu menjauh dari Anna, dan tersenyum miring.


Nahyan menyatukan kedua tangannya seolah-olah dia baru saja mendapat ide yang cemerlang.


"Ah, gue paham. Maksud lo jelasin betapa murahannya lo?" tebak Nahyan dengan tatapan tajam.


Alis Anna tertaut. "Gue... gue gak murahan," sanggah Anna dengan suara yang bergetar. Dia benar-benar akan menangis saat ini kalau saja tidak ingat kalau dia tidak sepenuhnya bersalah.


Bukan ... bukan seperti ini yang Anna harapkan.


"Habis jalan sama Abang gue, malemnya sama cowok lain. Apa lagi kalau bukan murahan?" hina Nahyan.


"Please, dengerin gue dulu!" mohon Anna sambil memegangi baju bagian bawah milik Nahyan. "Gue yakin setelah lo dengerin penjelasan gue lo gak akan marah lagi."


"Please.... Gue mohon," pinta Anna. Kelihatan sekali dari raut wajah gadia itu kalau dia sedang sedih.


Memang brengsek, batin Nahyan yang merutuki dirina sendiri.


"Gue gak mau denger penjalasan lo. Saat lo sama gue pun lo udah terlalu sering deket Galen," balas Nahyan.


Ayo kita pergi dari sini! pikir Nahyan.


"Memang bagus keputusan gue buat ngelepas lo."


Oke, berhenti di sini!


"Bisa-bisanya gue tertarik sama cewek murahan seperti lo."


Oh ****!! Lo bener-bener bajing*n Nahyan!! Nahyan merutuki kebodohannya sendiri.


Cowok itu melirik Anna yang terlihat terluka. Dia menelan salivanya, lalu dengan ragu di awalnya Nahyan melangkah pergi meninggalkan Anna dan menuju tempat motornya terparkir.


Mengetahui Nahyan meninggalkannya, Anna duduk jongkok sambil menutupi wajahnya. Pecah juga tangis yang sudah dia tahan-tahan sedari tadi.


"Ada apaan sih itu?"

__ADS_1


"Kayaknya Mbak itu ketahuan selingkuh."


"Ckckckck! Bagus-bagus dapet cowok ganteng. Malah selingkuh. Sok kecantikan ceweknya."


Tangis Anna semakin kencang saat sayup-sayup mendengar ucapan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan perdebatannya dengan Nahyan. Dia malu, lebih tepatnya malu pada dirinya sendiri.


Anna bergegas berdiri dan berjalan menepi begitu dari arah belakangnya terdengan suara klakson motor. Anna berjalan pergi dari ICaffe sambil menundukkan kepalanya. Mungkin memang seharusnya Anna tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain karena dia hanya bisa menyakiti orang lain.


Anna menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti.


Tin! Tin!


Anna kembali berjalan menepi. Kira-kira harus kemana Anna malam ini? Pulang? Yah, memang seharusnya seperti itu.


 Tin! Tin!


Anna mengerutkan dahinya, lalu menengok ke belakang. Siapa sih pengendara motor rese yang kerjanya menekan klakson seperti itu? Padahal Anna sudah berjalan dipinggiran. "Kenapa sih?! Gak liat gue lagi sedih apa?! Lagian gue udah jalan di pinggir!!" teriak Anna lantaran merasa kesal. Beranni-beraninya acara galau dan sedihnya malah diganggu.


"Naik! Gue anter!" ujar sang pengendara motor tanpa melepas helm teropongnya.


Anna diam terpaku dengan mata yang melebar. Itu adalah suara Nahyan! Kemudian, terbesit rasa senang dalam benak Anna.


"Cepet sebelum gue berubah pikiran!" gertak Nahyan.


"I-iya," cicit Anna sambil mendekat ke motor Nahyan. Gadis itu kesusahan saat akan menaiki motor Nahyan yang begitu tinggi, terlebih lagi masalah mereka berdua tadi masih terbayang-bayang di otaknya. Makanya Anna sangat kesusahan.


Nahyan menghela napas berat. Lalu, dia membungkuk dan menarik footstep (pijakan) untuk memudahkan Anna dalam menaiki motornya. Kemudian, diambilnyalah tangan Anna dan ditaruh dipundaknya.


Anna menatap Nahyan dalam-dalam. "Tunggu apa lagi?" ketus Nahyan membuat Anna cepat-cepat menaiki motor mahal milik Nahyan itu.


Ternyata, tujuan Nahyan menaruh tangan Anna dipundaknya tak lain untuk menjadi tempat tumpuan sehingga semakin memudahkan Anna naik.


"Pegangan!" katanya sebelum menarik gas.


Nahyan pasrah. Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis ini dan dia tidak bisa berpura-pura tidak peduli pada gadis itu. Nahyan menarik napas panjang. Hanya kali ini saja.... Ya, hanya kali ini.


°°°


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2