
DI LIKE dulu kek 🐒
🌟Enthusiasm chapter 39🌟
Nahyan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidam jauh dari apotek sambil menenteng sebuah plastik kecil berwarna putih. Nahyan menarik knop pintu, dan masuk ke dalam mobilnya.
"Beli apa?" tanya Anna.
"Obatlah. Masa makanan," ketus Nahyan sambil membuka botol alkohol khusus luka dan menuangkan sedikit ke kapas.
Anna menjauh begitu tangan Nahyan yang memegang kapas yang dilumuri alkohol mendekat padanya.
"Gak mau. Perih," kata Anna sambil menggelengkan kepalanya. "Cuma lebam kecil, ngapain pake alkohol?"
Nahyan mendecak sebal, lalu merangkul leher Anna. Sebenarnya, dari pada merangkul lebih terlihat seperti mengapit.
"Lebam lo ini ada luka nya juga. Gak liat ada darah kering di sini?" ujar Nahyan sambil menekan-nekan pelan kapas ditangannya ke luka di pelipis Anna. Sedangkan tangannya yang lain, menahan Anna agar tak bergerak.
"Aw! Sakiiit! Pelan-pelan!" teriak Anna dengan mata berkaca-kaca.
Nahyan memutar bola matanya. "Udah pelan juga."
"Shhh... udahhh lepas lhoo...." kata Anna yang merasa tak tahan dengan rasa perih.
"Tahan dikit lagi." Setelah memastikan seluruh luka Anna sudah bersih, Nahyan melepaskan apitannya.
Anna melotot begitu tau Nahyan menuangkan obat merah ke kapas yang baru.
"Gak mau pake itu! Itu obat merah china kan! Gak!Ogah!" Anna menahan dada bidang Nahyan yang mendekat padanya.
"Gak akan perih. Lo kan udah pake alkohol!" Nahyan yang kesal, kembali mengapit leher Anna.
"Huaa... gak mauuu! " teriak Anna yang meronta. Lalu, ditariknya rambut Nahyan.
"Akh!" Nahyan meringis kesakitan. Merasa akan percuma kalau menyingkirkan tangan Gadis itu, Nahyan sedikit menekan luka Anna menggunakan kapas yang dibaluri obat merah.
"Aww!!" pekik Anna kesakitan. Dilepaskannya tangannya dari rambut Nahyan.
Nahyan menjawab dengan santai. "Nah, perih gak?" sindir Nahyan setelah memberikan obat merah dan melepas apitan tangannya dari leher Anna.
Anna mengerucutkan bibirnya.
"Lo jahattt banget sih!"
"Iya. Lo yang bilang."
"ISHH!!"
Anna memasang tampang bete. Memang tidak perih sih. Tapi kan, dulu waktu lututnya terluka di SMP Anna pakai obat merah merk china dan sakitnya itu bukan main.
"Sini bentar. Kayaknya ada yang belum kena," ujar Nahyan sambil menarik tangan Anna agar mendekat dan Anna hanya menurut saja. Toh, memang tidak sakit rasanya.
Setelah obat merah itu merata, Nahyan meniup luka Anna hingga kering sebagai sentuhan akhir.
"Selesai."
Anna mengangkat kedua alisnya. "Udah? Gitu aja?" tanya Anna yang tak percaya.
"Gak diplester?"
"Kalau luka kecil karena keiris pisau gak masalah lo plester. Tapi, kalau luka begini jangan. Lama nanti keringnya."
Bibir Anna membentuk bulat.
"Ini beneran udah selesai kan?"
"Iya. Emang ada luka yang lain?" tanya Nahyan membuat Anna tersentak kaget.
Anna mengulum bibirnya, tanda dirinya kebingungan harus menjawab apa.
"Shh...." Anna meringis saat rasa perih timbul di bibirnya begitu dirinya mengulum bibir.
Nahyan mengangkat dagu Anna untuk melihat dengan jelas luka di selaput bibir gadis itu.
"Oh iya. Bibir lo belum di obatin." Nahyan mengusap tengkuknya, lalu melihat ke sekelilingnya.
"Gak ada es batu di sini."
Anna memalingkan wajahnya, lalu bernapas lega. Untung saja, luka di selaput bibirnya benar-benar menyelamatkannya. Anna kembali menolehkan kepalanya untuk melihat wajah Nahyan.
Anjim, ganteng banget.
Anna secara tak sadar menggigit bibir bawahnya, tepat dimana lukanya berada.
"Ack!" ringis Anna.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya. "Gak usah digigit-gigit makanya," ujar Nahyan sambil menyentil dahi Anna.
Pletak!
Anna mengusap-usapdahinya yang terasa perih. "Gak ada otak! Sakit banget buriq!" Anna cemberut. Kalau mau menyentil, boleh saja. Tapi ya kira-kira lho. Anna itu cewek lemah, lembut, gemulai, aselole.... Perlakukan Anna layaknya ratu gitu lho.
"Jadi?" Nahyan memperhatikan wajah Anna dan tingkah lakunya.
"Apanya?" ketus Anna yang bersamaan dengan itu terdengar suara perut dari Anna.
Kruuk kruuk~~
Anna meringis malu. "Udah gak makan berapa abad lo?" ejek Nahyan.
Anna berdecak sebal. "Elo sih, gak nafkahin gue. Kan lo majikan, harusnya memperhatikan bawahannya. Peka gitu, lho," sewot Anna.
Nahyan menoyor pelan kepala Anna. "Bilang aja mau ditraktir." Nahyan menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Gue penasaran," Nahyan berucap tanpa mengalihkan perhatiannta dari jalanan. "bisa luka gitu ceritanya gimana? Ada yang ganggu lo lagi? Ukh, tapi kayaknya gak mungkin lo diganggu. Karena jelas gue udah memastikan lo aman." Nahyan menggumam.
Anna sibuk dengan pikirannya sendiri. Sibuk mencari jawaban yang tepat tanpa harus membongkar masalah pribadinya. Anna tidak ingin orang luar sampai mengetahuinya, dan ia tidak memerlukan rasa kasihan dari orang lain. Anna bisa mengatasinya, tanpa harus dikasihani.
__ADS_1
"Woy! Gue nanya."
Anna menelan saliva-nya, lalu berusaha menjawab dengan setenang mungkin.
"Oh ini ... gue ja-jatuh! Iya, gue jatuh kepleset gitu... terus kepentok meja. Bolot emang gue itu ehehehe," jawab Anna dengan tawanya.
Nahyan menggigit mulut bagian dalamnya sambil mengepalkan tangan kanannya yang memegang stir. Kalau luka Anna hanya di pelipisnya,mungkin Nahyan akan percaya saja dengan omongan Anna. Tapi Nahyan tidak bodoh, mana ada kalau jatuh lukanya di selaput bibir, kecuali satu. Ada seseorang yang memukul Anna.
"Gue baru tau, kalau jatuh kepleset bibir bisa ikutan luka." Anna terdiam mendengarnya. "Gue gak bodoh, Anna."
"Gak bilang kalau lo bodoh, tuh," jawab Anna dengan bibir yang mengerucut. "Lagian, ini kan masalah gue. Kok lo sewot. Bukan siapa-siapa gue kan?"
"Ya, bukannya gitu. Gue mau tau ...."
"Nah, yaudah. Gak ada alasan gue untuk ngasih tau lo," sela Anna dengan jantungnya yang berdebar kencang. Bukan karena roman-roman remaja, tapi lebih ke rasa takut Nahyan mengetahui sesuatu tentangnya.
Nahyan menarik napas panjang-panjang lalu menghembuskannya.
"Oke, maaf. Kalau lo emang gak mau cerita, gak masalah. Gue gak akan maksa."
Nahyan melirik Anna yang hanya diam sambil menatap jalanan dari jedela di sampingnya.
"Laper kan?" Anna menolehkan kepalanya.
"Ya iyalah. Gak denger perut gue bunyi?" ujar Anna sambil menunjuk perutnya dengan jari telunjuknya.
"Ikisopotoh gimana?" tanya Nahyan merekomendasikan cafe terdekat dari tempat mereka berada.
"Ayo aja. Kan lo yang bayar."
...***...
Anna melihat sekelilingnya dengan tampang kelaparan. Malam ini, Ikisopotoh tengah ditongkrongi oleh sekumpulan remaja cowok yang gaya dan tampangnya keren abis.
Anna mengeluarkan ponselnya untuk menambah koleksi albumnya. Namun, saat akan memotret salah satu cowok tampan, kamera ponsel Anna tiba-tiba hanya menampakkan sebuah dada bidang yang terlihat kokoh.
Anna menatap ke depan dan mendapati Nahyan yang sedang menatap tajam ke arahnya.
Anna menyembunyikan ponselnya, takut kalau ponsel itu akan di lempar lagi oleh cowok itu.
Nahyan berdiri dari duduknya.
"Kita gak jadi makan di sini," ujar Nahyan dengan dingin.
Anna menahan lengan Nahyan. "Ih, jangannn... makan di sini aja. Tuh, liat makanannya udah dibawa." Anna melihat pelayan yang membawakan makanan dan minuman pesanan mereka.
"Ya biarin. Udah dibayar juga kan." ketus Nahyan dengan wajah cemberut.
"Gue laper."
"Terus?"
"Gue mau makan. Terserah lo mau apa." Anna kembali duduk di tempatnya. Dan menatap semua makanan yang sedang ditaruh pelayan di atas meja.
"Oke. Pulang sendiri," ujar Nahyan sambil berjalan meninggalkan Anna yang tengah menyuapi ayam BBQ pedas ke dalam mulutnya.
"Oh! Gue telpon Galen, deh!" Anna berpura-pura mengotak-atik ponselnya.
"Gue di sini. Gak usah telepon dia." Nahyan menopang dagunya dengan kedua tangannya, memperhatikan Anna yang tengah makan dengan lahap.
Anna menyunggingkan senyum kemenangan ke arah Nahyan yang wajahnya ditekuk. Lalu, kembali melahap makan malamnya.
"Gak makan?" tanya Anna tanpa menatap Nahyan.
"Gak bisa makan pedes," jawab Nahyan.
Anna menganggukkan kepalanya.
"Owh gitu." Anna membalas dengan acuh tak acuh.
.......
.......
Nahyan menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia pikit, Anna bukan tipe gadis yang bersikap jaim, apalagi kalau tentang makanan. Tapi, Nahyan tidak pernah memikirkan kalau perut Anna segentong itu. Gadis itu dapat menghabiskan porsi makan yang seharusnya untuk 8 orang.
Nahyan menutup mulutnya.
Hanya dengan melihat Anna makan, Nahyan merasa mual.
Bagaimana mungkin, gadis mungil seperti Anna mempunyai nafsu makan yang sangat besar.
"Gue ke kamar mandi sebentar," ujar Nahyan sambil mendoring kursinya ke belakang.
Anna menganggukkan kepalanya, masih sibuk dengan paha ayam di piringnya.
"Aah... kenyang!" Anna mengusap-usap perutnya yang terasa membuncit. Lalu, meminum air putih di gelas yang disediakan.
Prank!
Anna mengerjapkan matanya karena terkejut.
Caffe yang tadinya ramai suara, kini menjadi hening.
Dia menatap gadis cantik di depannya yang menatap penuh amarah ke arahnya.
Anna mengerutkan dahinya setelah sadar apa yanv gadis itu lakukan padanya.
"Lo gila? Asal lempar gelas gue? Kalau kena orang gimana?"
Rahang gadis itu mengeras, lalu dengan geram gadis itu menarik rambut panjang Anna.
"Bangsat! Lo godain Nahyan?! Apa yang lo kasih sampai Nahyan mau makan malem sama lo, hah?!" teriak gadis itu tak hentinya menarik rambut Anna.
Anna berusaha melepas tarikan tangan gadis itu.
Anna tau siapa gadis ini. Dia adalah Kinan. Ratu sekolah yang kata Zidan naksir pada Nahyan.
__ADS_1
"Bilang sama gue! Lo pasti ngasih tubuh lo kan? Dasar murahan!" Gadis itu menampar pipi Anna.
What the...
Anna memegangi pipinya yang terasa nyut-nyutan.
"Gila ya?" Ujar Anna yang terkesan santai.
Anna menoleh ke kanan dan ke kiri. Sudah 5 menit lamanya, namun sosok Nahyan belum muncul juga.
"Ke kamar mandi aja lama banget. Masa iya, dia boker di sini?" Gumam Anna.
Kinan yang merasa sebal karena tak diacuhkan, mengangkat tangannya kembali untuk menampar Anna. Namun, sebuah tangan yang lebih besar menahannya.
"Lo ngapain?" Nahyan muncul entah dari mana.
Anna melirik Nahyan sebal. "Pacar lo marah, nih. Lo kalau punya pacar, ya jangan ajak gue makan lagi. Liat nih pipi gue!"
Nahyan mengerutkan dahinya.
"Lo gue tinggal bentar aja langsung kena masalah, ya."
Anna mendelik sebal.
"Au ah, gelap. Mau beli sunlight."
Anna berjalan melewati Nahyan. Namun, lengannya ditahan oleh cowok itu.
"Lo urus masalah sama pacar lo ini dulu. Gue gak mau disangka orang ketiga." Anna melirik sinis Kinan yang tengah bersedekap yang balas menatap Anna sinis juga.
"Siapa yang pacar siapa?" Nahyan mulai emosi.
"Lah, dia marah pas gue makan sama lo," ujar Anna sambil menunjuk ke arah Kinan.
Kinan melotot karena tidak terima ditunjuk-tunjuk.
Nahyan melayangkan tatapan tajamnya ke Kinan.
"Lo mau mati?" Nahyan bersikap kalem. Namun, tatapannya mematikan.
Kinan diam membatu.
"A-aku... aku yang udah lama suka kamu. Aku gak terima kalau dia---"
"Berisik!" Sela Nahyan sambil melangkah mendekati Kinan.
Nahyan menundukkan kepalanya dan berbisik dari samping Kinan. "Gue gak peduli siapa yang lo lukai. Tapi, gue gak akan tinggal diam kalau yang lo lukai adalah Anna. Camkan itu!" Setelah mengatakan itu, Nahyan menari tangan Anna untuk pergi dari tempat itu.
"Jus stroberinya belum gue minum!"
Nahyan menatap tajam ke arah Anna dan gadis itu menutup mulutnya.
Nahyan mendorong pelan Anna ke dalam mobilnya, setelah itu dia berjalan memutar ke arah kursi pengemudi.
Nahyan memasang sabuk pengaman saat sudah berada di dalam mobil.
"Kenapa gak lo balas pukul?"
"Hah?"
"Gue heran, kenapa lo gak pernah balas pukul mereka yang nindas lo?"
"Gue yang salah kan, makan malem sama pacar orang."
"Gue bukan pacar orang Anna. Gue Nahyan."
"Hah?"
Nahyan mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Gue gak pernah punya pacar!"
"Oh..."
Reaksi yang Anna tunjukkan, membuat Nahyan gemas ingin mengarungi Anna lalu membuangnya ke dalam laut.
"Kalau gitu... cewek yang waktu itu siapa?" tanya Anna pelan.
Anna mengingat gadis cantik yang mencium pipi Nahyan tempo hari.
"Siapa?" Nahyan menaikkan sebelah alisnya.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Gak."
Nahyan melirik Anna.
Ambil nafas. Jangan dibuang. Mubazir.
"Lo harus dateng ke DBL." Nahyan mengalihkan topik pembicaraan sambil mengjidupkan mesin mobil.
"Hah? Oh, oke."
Malam itu, pembicaraan mereka hanya sampai di situ hingga Nahyan mengantarkan Anna pulang.
"Hati-hati," ujar Anna sebelum menutup pintu mobil.
Nahyan hanya diam menatap lurus ke depan.
Setelah kepergian mobil Nahyan, Anna menarik napas panjang dan membuangnya. Lalu, tanpa berkata-kata dia memasuki gerbang rumahnya.
°°°
Bersambung...
No Edit
TOLONG YEE LIKE DAN KOMENNYA⚠🐖🐷🐽🐗🐕🐩🐶🐒🐵
__ADS_1
...•CAST DEANA ANDARESTA•...