Nahyanna

Nahyanna
BAB 10


__ADS_3

"Anna!" panggil Galen sambil mendekati Anna yang sedang berjalan pelan menuju kelasnya.


"Hm?" jawab Anna yang tidak niat untuk membuang banyak energi. Anna merasakan sakit di kepalanya. Mungkin efek dari taperwer maut.


Galen tersenyum tipis. Dan itu benar-benar manis!! Ya ampun, Anna rasanya tertusuk oleh panah cinta.


"Jidat lo kenapa?" tanya Galen sambil lebih mendekat ke arah Anna dengan tangan yang memegang dahi gadis itu yang sudah diperban.


Anna hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Manggil gue kenapa?" tanya Anna tidak ingin berbasa-basi. Dia takut jika Nahyan melihat dirinya sedang mengobrol dengan Galen, cowok bar-bar itu akan berubah menjadi orang yang super menyebalkan dan merepotkan, atau parahnya cowok itu akan mengamuk sambil membanting meja dan kursi.


"Ada tugas dari Bu Silvi. Habis ini mapel Bu Silvi kan?" ucap Galen.


Anna menganggukkan kepalanya. Dan nyut... kepalanya terasa nyeri. "Fabian Bangshat," batin Anna yang memaki Fabian.


"Nih. Nanti ketua kelas fotokopiin ini di ruang TU," jelas Galen sambil memberikan beberapa lembar kertas yang sudah di staples menjadi satu.


"Selesai kan hari ini, habis itu kumpul di meja Bu Silvi."


"Bu Silvi gak masuk ya?" tanya Anna setelah menerima lembar kertas itu dari Galen lalu melihat lembar terdepan secara keseluruhan.


"Iya, nih. Katanya izin karena anaknya masuk rumah sakit," jawab Galen dengan senyum yang tidak luntur. Ketika tersenyum, kedua pipi galen ada tiga buah garis yang mengingatkan Anna pada Naruto.


"Uh, semoga cepat sembuh anaknya Bu Silvi," gumam Anna yang masih bisa terdengar oleh Galen.


"Oh iya, ini buat lo," kata Galen sambil memberikan sebuah susu kotak rasa cokelat.


Anna menerima susu kotak itu dengan canggung. Sebenarnya dia kurang suka dengan susu rasa cokelat. Tapi kalau cokelat batangan dia benar-benar suka. Hanya saja kalau itu dalam bentuk susu, Anna merasa malek.


Nanti buat Deana aja deh. Manusia itu kan maniak banget sama susu cokelat, pikir Anna.


"Yaudah, gue ke kelas dulu ya!" pamit Galen lalu mengacak-acak rambut Anna sambil tersenyum lebar.


"Galen!" pekik Anna yang melengking dengan suara yang manja.


Anna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Oh my ... tenggelamkan Anna sekarang! Dia malu sekali telah mengeluarkan suara yang sok manja itu.


Galen terkekeh geli. "Dah!"


Anna melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat terhenti.


Seseorang dari sisi yang tidak terlihat menonton interaksi Anna dan Galen dengan geram. Kedua tangan orang itu mengepal hingga buku-buku tangannya memutih.


"Lihat apa yang akan terjadi, Jalhang," ujar orang itu pelan lalu beranjak pergi dari tempat ia berdiri.


...***...


"Ya, pelajaran hari ini berakhir. Silakan berkemas dan pulang," ucap Pak Anton sebelum pergi melangkah meninggalkan kelas.


Semua orang mulai mengemas barang-barang mereka. Lalu satu persatu orang-orang pulang.

__ADS_1


Anna memasukkan semua buku yang berada di atas meja ke dalam tas sekolahnya dengan pikiran kosong. Anna menutup resleting tas sekolahnya saat dirasa buku-bukunya sudah berada di dalam tasnya semua.


"De! Ini pena lo gue balikin," ucap Anna sambil menyerahkan sebuah pena yang tadi pagi dia pinjam. "makasih, ya!"


Deana mengangguk.


Anna merogoh isi laci mejanya dan mendapat sesuatu yang dia cari. "Eh, De! Ini susu cokelat buat lo," kata Anna sambil menaruh susu kotak pemberian Galen di atas meja Deana.


Deana tersenyum tipis. "Makasih lho!" ucap Deana sambil menusuk sedotan pada kotak susu dan meminumnya.


"Oh iya. Tadi gue ada liat cewek yang buka-buka tas lo waktu lo di UKS," kata Deana sambil memakai tas.


Anna mengerutkan dahinya. "Oh ya? Siapa?" tanya Anna yang merasa penasaran. Anna buru-buru kembali membuka resleting tas sekolahnya.


"Gak tau. Dia pake masker," jawab Deana.


Anna menemukan sepucuk surat. Bukan surat yang di amplop oleh amplop untuk mengamplop di resepsi pernikahan seperti biasa. Hanya surat tanpa amplop. Anna cepat-cepat membuka isi surat itu karena tidak mau tenggelam dalam rasa penasaran.


"Lo piket kan hari ini?" tanya Deana.


Anna menganggukkan kepalanya. "Hm," jawab Anna dengan singkat.


"Lo mau gue tungguin?" tanya Deana yang mulai gregetan karena Anna tidak menatapnya saat dia berbicara.


"Gak usah. Lo pulang duluan aja. Gue ada urusan," jawab Anna masih fokus menatap isi surat.


"Isinya apaan, sih?" tanya Deana sambil memajukan kepalanya agar bisa melihat isi surat itu.


Deana memicingkan matanya curiga. "Lo mau ditembak cowok ya?" goda Deana sambil menyenggol tubuh Anna dengan pinggangnya.


"Ma-mati dong gue," ujar Anna yang terlihat gugup.


Deana menoyor kepala Anna. "Ganti gih otak lo. Udah karatan soalnya," kata Deana sambil melirik Anna yang sedang menggaruk-garuk kepalanya meski tidak merasa gatal.


"Hmpf, yaudah deh lo gue tinggal, ya! Bye... kabarin gue kalo lo udah ganti status," ucap Deana sambil cekikikan.


Anna hanya menggelengkan kepalanya ke mana perginya Deana yang pendiam???! Tolong jawab!


Setelah sosok Deana hilang, Anna menatap kembali isi surat itu.


Gue tunggu lo di taman belakang.


Itulah yang tertulis di dalam surat itu. Anna mendesah gelisah, bimbang antara datang atau tidak. Anna melipat kembali surat itu dan menarunya di atas meja.


"Na, lo sapu yang sebelah sana aja. Gue sebelah sini," ucap Melan teman sekelasnya.


Anna mengangguk. "Cuma kita berdua?" tanya Anna.


"Iya, yang lain pada ada urusan katanya. Jadi mereka piketnya pagi. Gak usah bersih-bersih amat nyapunya. Sekilas aja," jelas Melan.


Anna mengangguk dengan senyum kecil yang terpampang. Lalu mereka berdua pun mulai menyapu lantai. Tidak sampai 10 menit, mereka sudah selesai piket.

__ADS_1


"Gue duluan ya!" ucap Melan pada Anna lalu langsung melangkah pergi saat Anna menganggukkan kepalanya. "Dah!"


Anna melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis. Lalu senyum itu luntur tergantikan dengan raut wajah penasaran ketika melihat surat yang berada di atas mejanya kembali.


Anna membolak-balikkan surat itu. Masih berpikir apakah dia akan datang atau tidak.


Anna menggigit bibir bawanya.


"Anna lo harus jadi anak yang berani. Sama Bule Sawah itu aja lo berani, harusnya yang begini gak takut dong. Ayo kita datangi orang itu!” pikir Anna dengan semangat yang menggebu-gebu.


Kenyataannya, bukan soal berani atau tidaknya Anna. Namun soal rasa penasarannya yang lebih besar terhadap si pengirim surat. Tentang alasan sang pengirim menunggunya di taman belakang.


"Bawa tas gak ya?" pikir Anna sambil memsgang dagunya.


"Gak usahlah! Paling bentar doang," ucap Anna sambil berjalan menuju taman belakang.


"Eh, HP gue mana ya?" gumam Anna saat dirinya hampir sampai di taman belakang.


Anna mencoba mengingat-ingat dimana dia meletakkan ponselnya. Sebab, setelah sekolah di sini dia selalu saja kelupaan menaruh ponselnya.


Masalahnya, ponsel Anna kerap menjadi korban disembunyikan oleh tangan-tangan jahil. Apalagi kalau si cowok bar-bar lagi mencak-mencak mencari Anna, tangan-tangan itu semangat sekali untuk menyembunyikan ponselnya.


Grab!


Tiba-tiba saja ada orang yang membekap Anna dengan kedua tangannya yang di pegang di belakangnya.


"Hmphh...!" Anna memberontak, tapi hasilnya orang yang menahannya bertambah menjadi dua orang.


"Cepet, pake borgol ini!" ucap seorang gadis dengan rambut ombre panjang sambil menyerahkan sebuah borgol. Tentu saja ini borgol yang asli.


Setelah tangan Anna terborgol, gadis berambut pendek langsung membekap Anna dengan sebuah saputangan. Anna merasakan jarak pandangnya mengabur dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.


"Cepet seret dia sebelum ada yang lihat!" perintah si gadis ombre.


Gadis ombre tersenyum miring sambil memaikan ujung rambutnya.


"Let's play a game," ujarnya sambil menyusul kedua temannya yang terlihat was-was saat menyeret tubuh Anna.


°°°


Tbc


NEXT? ❤🌟👍💬


Like, Comment, rate 5 nya ya 😢


Biar aku semangat update-nya ❤


Salam hangat,


Juecy.bell

__ADS_1


24 Agustus 2020


__ADS_2