Nahyanna

Nahyanna
BAB 37


__ADS_3


LIKE dan KOMEN please🤗


🌟Enthusiasm chapter 37🌟


'Ting tong. Saatnya jam pertama dimulai. Ting tong. It's time to begin the first lesson. Ting tong.'


"Ketua kelas siapkan." Bu Isma memasuki ruang kelas 12 A-4, lalu menaruh semua barang-barang yang dibawanya di atas meja.


Abel sang Ketua kelas berdiri tegap, lalu berkata, "Berdiri siap!"


Makhluk penghuni kelas mengikuti aba-aba sang Ketua kelas kecuali, Deana yang sedang menidurkan kepalanya di meja.


Berkat posisi tempat duduknya yang tertutup, Deana bisa lolos tanpa terkena omelan dari Bu Isma yang terkenal sebagai guru paling bawel soal perilaku murid-muridnya saat di kelas.


"De... pssst! Banguuun! Hey! Mapel Bu Isma nih!" Bisik seseorang di sampingnya.


Deana yang hanya tidur ayam, langsung terbangun karena bisikan orang di sampingnya.


"Bangun, Njim!"


Deana mengusap-usap matanya agar daprt melihat dengan jelas. "Iya, Na. Ini udah bangun," ujar Deana yang masih setengah sadar.


"Na? Gue bukan Anna. Gue Chimmy."


Pupil mata Deana membesar.


Lho, kok?


Deana menengok ke samping kirinya. Tempat itu kosong. Anna tidak berada di sana.


"Chimmy Nabila," ucap Bu Haryati yang sedang berkutik dengan buku absen.


"Hadir!" ucap Chimmy.


"Deana Andaresta."


Suasana Kelas A-4 menjadi hening. "Deana Andaresta!" ulang Bu Isma.


Segera Deana tersadar, dan langsung menjawab, "Hadir, Bu!"


Bu Isma melanjutkan acara absennya hingga nama terakhir yang berada dibuku absen miliknya.


"Berarti hanya Anna yang tidak hadir?" tanya Bu Isma memastikan.


"Iya, Bu." Jawab siswa-siswi penghuni kelas.


"Yang biasanya dekat sama Anna siapa?"


Deana mengacungkan tangannya.


"Saya, Bu." Deana menjawab dengan suara yang gugup.


"Kamu tau kenapa Anna gak masuk sekolag tanpa ada keterangan?" tanya Bu Isma.


Deana menggelengkan kepalanya.


"Gak tau, Bu," jawab Deana.


"Dia gak kabarin kamu atau ngomong sesuatu sama kamu?"


"Gak, Bu. Sejak kemarin malam Anna gak bisa dihubungi."


Bu Isma menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu." Bu Isma menutup buku absen dan segera memulai pelajarannya.


***


Terlihat seorang gadis bertubuh mungil sedang duduk meringkuk di sudut ruangan. Di sekitar gadis itu terlihat remang-remang karena lampu kamar yang di matikan. Hanya ada sedikit sinar matahari yang menembus gorden jendela kamarnya.


Anna.


Itulah namanya.


Tatapannya terasa kosong. Seolah jiwanya terbang ke tempat yang sangat jauh, sedangkan tubuhnya diam di kamar ini.


Sesuatu lain yang janggal selain tatapannya, adalah beberapa luka ditangan, kaki, dan wajahnya.


Anna menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah jam dinding.


09.55


Itulah angka yang ditunjukkan.


Seharusnya, istirahat pertama sekolahnya sudah lewat 10 menit yang lalu.


Anna hari ini tidak masuk sekolah, pasti guru atau teman-temannya akan bertanya padanya.


Anna merangkak di atas tempat tidur, lalu mengambil ponsel yang tak jauh darinya dan kembali ke tempat semulanya.


Anna menyalakan ponselnya yang semalam dia matikan.


Anna merasa lelah. Sudah beberapa tahun selalu begini. Setiap pamannya pulang ke rumah, pamannya seolah selalu mencari-cari kesalahan Anna. Dan saat ia menemukan kesalahan itu, tanpa ragu-ragu dan tanpa ampun pamannya menyakiti Anna. Seperti memukul dan menendang contohnya.


Anna menatap layar ponselnya tanpa minat. Banyak sekali notifikasi-notifikasi yang didapatnya setelah menonaktifkan mode pesawat di ponselnya.


300+ panggilan tak terjawab


10.213 pesan dari 3 chat


Saat membuka aplikasi chatting, 97 persen dari 10.213 adalah dari Nahyan.  Sedangkan 3 persennya untuk dua nomor yang tak dikenal. Anna tebak, itu pastilah Fabian dan Suga. Dan 300+ telepon tak terjawab itu semuanya dari Nahyan.


Anna tak tahan untuk tidak berdecak.


Nahyan itu benar-benar mengerikan.


Anna membuka  room chat dengan dua nomor yang tak dikenal itu. Isinya jelas mencari keberadaan Anna semua.


Anna sedikit terkejut karena tiba-tiba saja layar ponselnya beralih ke sebuah panggilan.



Bule Sawah is calling...


Begitu melihat nama kontak orang yang memanggilnya, reflek Anna melempar ponselnya.


Anna memegang dadanya, tepatnya di jantungnya yang berdetak kencang.


Anna sengaja tidak mengangkatnya.


Gadis itu merasa lega, aplikasi chat di ponselnya sudah diatur agar tidak memperlihatkan kapan terakhir dirinya online.


Namun, sebuah notifikasi muncul sekali lagi.


Bule Sawah : Angkat!


Meski begitu, Anna tidak mengindahkan perintah Nahyan ketika cowok itu kembali meneleponnya. Anna hanya membiarkannya sampai panggila  itu terputus sendirinya.


Setelah telepon dari Nahyan mati, Anna kembali mendapat notifikasi.

__ADS_1


Bule Sawah : Gue tau 1 menit yang lalu lo online


Anna mendecak sebal. Terpaksa Anna harus mengangkat telepon dari Nahyan yang muncul kembali.


"LO GILA?!"


Anna menjauhkan ponsel dari telinganya, begitu suara teriakan Nahyan terdengar.


Anna hanya diam.


"Kenapa hari ini gak masuk?!"


"..." Anna menggigit bibir bawahnya.


"Jawab gue Anna!"


"..."


"Jawab atau gue datengin rumah lo!"


Anna menghela napas berat.


"I’m fine. But, don’t come to my house and stop calling me, please. I need the time for my self. So please, if you want to help me, just do it." Setelah mengatakan itu, Anna memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Apa---"


Anna melempar pelan ponselnya. Lalu, merangkak dan turun dari tempat tidurnya. Anna membuka kancing seragam sekolahnya dari yang paling atas. Sejak semalam, Anna tak berniat untuk mengganti pakaiannya.


Mengingat tentang masalalu, saat Anna dibully oleh gadis berambut ombre dan kedua temannya, Anna tidak merasa begitu takut ataupun kesakitan dengan beberapa luka lebam yang mereka buat padanya. Alasannya?


Anna melihat tubuhnya yang berada di cermin seuukuran tubuhnya.


Alasannya cukup simple.


Anna menatap pantulan cerminan dari dari dirinya. Dari atas wajahnya hingga jatuh kepada luka sayat dibagian pinggang dan beberapa bekas luka lainnya. Lalu, beralih ke beberapa luka lebam baru yang sekepalan tangan anak kecil besarnya.


Karena ... dibandingkan dengan apa yang pernah pamannya lakukan,


apa yang mereka lakukan itu belum seberapa.


Anna tertawa miris dan menatap kosong pada luka-luka yang berada di kulit putihnya.


Setelah beberapa saat tatapannya tak beralih dari luka sayat di pinggangnya, tatapan mata Anna menajam dan dipenuhi oleh kebencian.


Semua luka-luka ini...


Benar-benar mengganggu!


°°°


Bersambung...


...âš HAL-HAL YANG WAJIB DILAKUKANâš ...


...✔ LIKE...


...✔ KOMEN...


...Masih gak mau lakuin Itu??...


...FIX HANTU!!...


Wahhahahaha akhrinya selesai juga.... ya ampun... aku sampe minta pendapat beberapa orang karena gak pede sama cara penyampaiann aku di chapter kali ini.... Bhakkkk... kwkkwkwk


...•CAST GALENDRA SAPUTRA•...

__ADS_1



Berhubungan kemarin2 aku bingung nahyan castnya young hoon atau eun woo.... jadinyaa nahyan eun woo dan galen Young hoon ehehehe... peacee✌...


__ADS_2