PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Fitri Menutup Matanya


__ADS_3

"Awalnya Ry kira takdir, ternyata hanya mampir, Ry kira ada perasaan, ternyata cuma penasaran."


Zainel menghampiri Tary lalu dia menepuk punggung Tary.


"Ry gak apa-apa kan?"Zainel bertanya dengan wajah cemas kepada Tary.


"Ry sudah gak apa-apa kok."


"Alhamdulillah."Zainel merasa legah, dia berhenti menepuk punggung Tary.


"Zaza dari mana?"


"Kamar mandi, memangnya kenapa?"


"Tadi Ry cariin di ruangan keluarga tapi Zaza gak ada."


"Ada apa Ry cariin aku?"


"Terimakasih."Tary mengucapkan terimakasih kepada Zaza.


"Terimakasih buat apa?"Mendengar ucapan Tary membuat kening Zainel berkerut.


"Itu yang tadi."


"Yang tadi mana?" Zainel belum paham dengan ucapan Tary.


"Itu saat tangan Ry di cekal."


"Laki-laki itu mantan Ry kan?"


Tiba-tiba lidah Tary terasa berat untuk mengatakan Iya. Tary hanya menganggukkan kepalanya pelan-pelan.


Ternyata benar tebakanku kalau itu mantannya


Zainel menatap ke arah wajah Tary yang sedang menundukkan kepalanya.


"Ry udah ngantuk?"


"Belum."


"Sama aku juga belum ngatuk,bagaimana kalau kita ngobrol?"


"Boleh, kita mau ngobrol dimana?"


"Di ruangan tamu saja."


Mereka sudah duduk di sofa yang berada di ruangan tamu. Tary duduk di sofa yang panjang di ruangan tamu sedangkan Zainel duduk di sofa single yang berada di samping sofa tersebut.


"Ry."


"Apa?"


"Apa aku boleh bertanya?"


"Boleh."


"Itu tadi mantan pacar keberapa?" Zainel yang penasaran akhirnya bertanya.


"Pertama."

__ADS_1


"Hah, apa dia itu cinta pertama Ry?"


"Iya."


"Bagaimana kalian bisa putus?"Zainel penasaran ingin mengetahui penyebab Tary dan mantan pacarannya putus, sehingga dia bertanya langsung kepada Tary.


Tary terdiam lalu dia menundukkan kepalanya, raut wajah Tary terlihat sedih.


"Maaf."Melihat raut wajah Tary sedih membuat Zainel merasa bersalah.


Ini pasti gara-gara pertanya ku tadi


Maka nya wajah Ry berubah sedih


Ah nih mulut


Harusnya tadi aku gak usah nanya


Nunggu Ry yang cerita sendiri


"Maaf untuk apa?"


"Gara-gara pertanyaan ku membuat Ry sedih, kalau Ry belum siap untuk bercerita sebaiknya tidak usah cerita."Zainel tidak ingin melihat Tary bertambah sedih sehingga dia tidak memaksa Tary untuk bercerita.


"Apa kita berteman?"


"Iya kita berteman, kenapa Ry nanya seperti itu?"


"Kalau begitu biarkan Ry cerita ama Zaza.


Tidak terasa satu jam sudah berlalu Tary masih bercerita tentang penyebab putus nya hubungan Tary dengan mantan pacarnya. Mata Tary sudah berkaca-kaca saat menceritakan penyebab mereka putus.


"Menangis lah Ry."


Mendengar ucapan Zainel maka Tary mengeluarkan tangisan nya.


Hiks


Hiks


Hiks


Zainel membiarkan Tary menangis, Zainel melihat di pergelangan tangannya sebuah jam tangan melingkar di sana. Zainel memandangi jarum pada jam tangan sudah bergerak.


"Sudah cukup nangis nya." Zainel meletakan kepala Tary di punggung nya.


Tary tidak menyadari kapan Zainel sudah berpindah tempat duduk.Sekarang Zainel sudah duduk di sofa yang sama dengan Tary bahkan duduknya tepat di samping Tary hanya berjarak satu jengkal saja. Bahkan sekarang kepala Tary sudah berdasar di bahunya.


Mendengar ucapan Zainel sehingga Tary pun menghentikan tangisannya.


"Setelah ini aku harapan kamu tidak akan menangis lagi."


"Aku tidak suka melihat kamu menangis."


"Kamu kalau lagi nangis terlihat jelek." Zainel mengusap rambut Tary.


"Apa ada orang nangis terlihat cantik?" Tary mengangkat kepalamya dari bahu Zainel, lalu dia berbicara sambil menatap wajah Zaniel.


"Sepertinya tidak ada." Zainel menoleh ke arah Tary sehingga tatapan mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan membiarkan air mata kesedihan jatuh dari mata mu." Zainel berbicara sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Tary.


"Hanya akan ada air mata kebahagiaan dari mata mu." Zainel menangkup wajah Tary dengan mengunakan kedua telapak tangannya.


Hari-hari terus saja berlalu hingga tak terasa sudah sebulan berlalu.Selama sebulan ini Zainel di sibukan dengan banyaknya pekerjaan sehingga dia pergi kerja lebih awal dan pulang kerja lebih lama lagi dari biasanya bahkan sudah sebulan ini dia tidak libur.


Selama sebulan ini Zainel sibuk dengan pekerjaan lembur setiap hari bahkan dia susah tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan Tary dan baby Jane.Saat Zainel berangkat kerja mereka belum bangun dari tidur sedangkan saat Zainel pulang dari kerja mereka sudah tertidur. dengan.


Zainel sedang berada di depan meja kerjanya, pandangan Zainel fokus pada layar laptop sambil jari-jari terus mengetik di keyboard laptop.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka Fitri melangkah keluar dari pintu ruangan nya. Fitri menutup kembali ruangan nya lalu dia menghampiri meja kerja Zainel.


"Zai."Fitri sudah berdiri di depan meja kerja Zainel.


"Iya buk."Zainel menghentikan tangannya yang sedang mengetik mengunakan keyboard laptop.


"Apa perkerjaan kamu sudah selesai?"


"Belum buk." Zainel mendongkan wajah nya sehingga menatap wajah Fitri.


"Ya sudah lanjutkan saja besok, ayo kita pulang!"


"Baik buk." Zaniel mematikan laptop nya setelah itu dia memasukkan laptop ke dalam tas ransel.


Mereka sudah berada dalam mobil milik Fitri, Zainel berada di bangku pengemudi.


"Kita mau kemana buk?" Zainel berbicara sambil menyalakan mobil.


"Pulang ke rumah ku."


Zainel mengendarai mobil dengan memandang fokus kedepan melihat jalan raya yang tampang lengah. Zainel melakukan kecepatan mobil dengan kecepatan standar. Mobil yang dikendarai oleh Zainel sudah tiba di depan gerbang komplek perumahan Fitri. Mobil itu melaju di jalan komplek perumahan tersebut.


Mobil sudah terpakir tepat di halaman rumah Fitri. Zainel membuka safety belt lalu dia menoleh ke arah samping. Dia mendapati Fitri sedang tertidur pulas dibangku.


"Buk bangun."Zainel membangunkan Fitri.


Fitri belum juga bangun setelah di bangunkan oleh Zainel, sehingga Zainel mencoba membangunkan Fitri kembali hasilnya sama saja Fitri tetap tidak terbangun. Zainel kembali membangunkan Fitri dengan menggoyang lengannya.


Fitri yang merasakan lengan di goyang oleh seorang berlahan-lahan mulai membuka kedua mata secara berlahan-lahan. Saat mata Fitri sudah terbuka dia mendapati wajah Zainel jaraknya cukup dekat dengan dirinya.


Deg Deg Deg


Jantung Fitri berdetak kencang begitu melihat posisi mereka yang terlihat dekat. Fitri mecoba mengontrol detak jantung nya agar tidak terdengar oleh orang lain.


"Oh ya, kita sudah sampai mana?"


"Halaman rumah ibuk?"


"Hah, apa?"Mendengar hal itu Fitri otomatis menjadi terkejut.


Fitri mencoba membuka safety belt tetapi dia tidak bisa membuka safety belt.


Kenapa membuka safety belt susah sekali?


Zainel semakin mendekatkan wajahnya ke arah Fitri. Fitri yang melihat hal itu tiba-tiba menutup kedua matanya.


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2