
"Hidup tanpa Ayang Ry udah biasa, hidup tanpa makanan maaf Ry gak bisa."
Melihat wajah Tary yang di tutupi mengunakan sebelah telapak tangannya membuat baby Jane berhenti menangis.
Cilub Baba
Tary membuka sebelah telapak tangan yang menutupi wajahnya, melihat hal itu membuat baby Jane tergelak tawa dengan khas bayi.Mendengar gelak tawa baby Jane mereka pun ikut tersenyum.
"Wah, kayak Tar udah cocok nih."Buk ustadzah merasa legah melihat baby Jane berhenti menangis, bahkan buk Ustadzah merasa salut dengan Tary belum menikah dan mempunyai anak tapi sudah bisa membujuk baby Jane berhenti menangis bahkan sekarang baby Jane tertawa.
"Cocok apa buk ustadzah?" Tary tidak mengerti dengan ucapan buk ustadzah.
"Tar sudah cocok menjadi seorang ibu."
"Hahahaha."Mendengar ucapan buk ustadzah membuat Tary tertawa.
Mereka menatap Tary dengan tatapan bingung.
"Lah, kenapa tertawa?"Buk ustadzah penasaran sehingga dia bertanya kepada Tary.
"Gimana Ry mau jadi ibu? sementara nikah aja Ry belum." Tary berhenti tertawa lalu dia berbicara kepada buk ustadzah.
"Nah tuh, Tar udah ngasih kode-kode biar Zai segera menghalalkannya." Pak Ustadz menyenggol lengan Zainel sambil berbicara setengah berbisik kepada Zainel.
"Hah jadi itu kode-kode buat aku menghalalkan dia abang Ustadz?" Zainel merasa tidak yakin bahwa itu kode-kode yang di berikan Tary untuk nya.
"Hah kamu jadi laki-laki tidak peka.Apa Zai pernah lihat Tar dekat ama cowok lain selain kamu?"
"Aku bukan laki-laki yang peka. Tidak pernah abang ustadz." Zainel menggelengkan kepalanya secara pelan-pelan.
"Hanya kamu satu-satunya cowok yang dekat dengan Tar."
"Apa itu betul abang Ustadz?"Zainel merasa ragu sehingga dia bertanya kepada Pak Ustadz.
"InsyaAllah itu betul Zai."
Pak Ustadz dan Zainel terus saja berbicara mengenai Tary.Mereka tidak menyadari bahwa Tary yang mereka bicarakan sudah tidak ada di situ, selain itu Tary sudah tidak berada di sana buk Ustadzah dah baby Jane juga sudah tidak ada di sana.
Setelah selesai membicarakan mengenai Tary pak Ustadz menoleh ke arah tempat buk ustadzah berdiri tadi.
"Kemana istri saya ?" Pak Ustadz tidak melihat keberadaan buk ustadzah.
"Tidak tahu, Ry dan baby Jane juga tidak." Zainel menoleh ke arah samping dia tidak menemukan keberadaan Tary dan Baby Jane yang tadi berdiri di samping dirinya.
Mereka melihat sekeliling taman komplek perumahan untuk menemukan keberadaan buk ustadzah, Tary dan baby Jane.
"Kenapa mereka tidak tidak kelihatan?"
"Ayo kita cari mereka Zai!" Pak Ustadz melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut untuk mencari keberadaan istrinya, Tary dan baby Jane.
__ADS_1
"Baiklah abang Ustadz." Zainel ikut melangkahkan kakinya sehingga mereka berjalan berdampingan.
Mereka sudah berjalan menyusuri taman komplek perumahan tetapi mereka belum menemukan buk ustadzah, Tary dan baby Jane.
"Kenapa mereka tidak terlihat?"Pak Ustadz berhenti melangkah kaki nya.
"Seperti mereka sudah tidak ada di taman." Zainel juga ikut berhenti melangkahkan kakinya, dia berada tempat di samping pak Ustadz.
"Jadi sekarang kita mencari mereka kemana?"
"Sekarang kita pergi dulu dari taman ini."
Mereka melangkah pergi meninggalkan taman tersebut, sekarang mereka sudah berada di luar taman komplek perumahan. Mereka berjalan di jalan komplek ke rumahan.
"Kalian kemana?"Seorang perempuan berteriak sambil melihat punggung kedua laki-laki yang sedang berjalan.
Mereka terus saja berjalan tanpa memperdulikan suara teriakan seorang perempuan.
"Zainel Arifin."Si perempuan itu berteriak sambil memanggil nama lengkap Zainel.
Mereka berhenti berjalan saat mendengar nama lengkap Zainel di panggil.
"Apa abang mendengar suara itu?"Zainel takut salah dengar sehingga dia memastikan nya dengan bertanya kepada pak ustadz.
"Iya abang dengar."Pak Ustadz juga mendengar suara seorang yang berteriak sambil memanggil nama Zainel dengan lengkap.
"Sepertinya begitu Zai."
"Tapi kalau aku dengar tadi itu mirip suara perempuan."Zainel merasa yakin bahwa suara yang memanggil namanya dengan lengkap itu seorang perempuan.
"Apa kamu penasaran itu suara milik siapa?"
"Iya saya penasaran abang ustadz."
"Sebaiknya kita membalikkan badan Zai."
Mereka membalikkan badan secara berlahan-lahan,saat mereka sudah membalikkan.
"Ternyata kalian." Mereka mendapati buk ustadz, Tary dan baby Jane menghampiri mereka.
"Kalian dari mana saja?"Pak Ustad berbicara sambil melihat ke arah istrinya.
"Maafin Umi, tadi Umi merasa haus maka nya pergi ke warung membeli minuman bersama Tar dan baby Jane."Umi nenudukan kepalanya merasa takut kepada pak Ustadz karena dia tadi pergi tidak berpamitan kepada pak Ustadz.
"Sebelum Umi minta maaf udah Abi maafkan tapi Umi jangan ulanggi lagi pergi tanpa pamit dengan Abi."Abi berbicara dengan suara lemah lembut kepada Umi.
"InsyaAllah lain kali Umi akan pamit sama Abi, kalau Umi pergi."
"Saat Abi sudah selesai berbicara dengan Zai, Abie tidak melihat Umi begitu juga dengan Zia tidak melihat Tar dan baby Jane maka nya Abi merasa khawatir sehingga Abi dan Zai mencari Umi, Tar dan baby Jane di taman komplek perumahan tapi kami tidak menemukan keberadaan kalian di taman komplek perumahan."Pak Ustadz berceloteh panjang lebar.
__ADS_1
"Kamu kenapa gak bilang sama aku kalau mau pergi?" Zainel berbicara dengan nada ketus kepada Tary.
"Ry tadi gak mau ganggu Zaza lagi ngomong sama pak Ustadz."
"Heleh itu cuma alasan kamu."Cibir Zainel.
"Bukan alasan tapi memang seperti itu."
Pak Ustadz dan Buk Ustadzah melihat Tary dan Zainel sedang berdebat mereka tidak ada yang mau mengalah.
"Abi lihat tuh mereka." Buk Ustadz menyenggol lengan Pak Ustadz.
"Kalian mau ke taman atau tetap di sini?"
"Ya taman lah baru juga nyampai masak udah pulang lagi.' Cerocos Tary.
"Kalau begitu, ayo kita cari tempat duduk di taman." Buk Ustadzah menggandeng tangan Tary, mereka berjalan ke arah taman. Saat mereka sudah berada di. taman, mereka mencari bangku yang kosong pada taman komplek perumahan tersebut.
Mereka menemukan bangku kosong yang berada di samping pohon cemara. Mereka mendudukkan pantatnya di atas bangku tersebut, Bangku tersebut hanya bisa di duduki oleh dua orang saja. Sehingga pak Ustadz dan Zainel hanya bisa berdiri di. depan bangku tersebut.
"Umi mau makan apa?"
"Terserah."Begitu lah kaum hawa kalau di tanya makan apa jawabannya pasti terserah makin membuat bingung kaum adam, kalau jawabannya sudah seperti itu.
"Lah, Abi kan jadi binggung kalau Umi jawab terserah."Pak Ustadz merasa bingung mendengar jawaban Umi.
"Kalau Ry mau makan bubur kacang hijau."
"Aku gak nanya tuh."Zainel berbicara dengan ketus.
"Kan Ry ngasih tahu Zaza biar gak bingung beliin Ry sarapan."
"Siapa yang mau beliin kamu sarapan?"
"Ya Zaza lah masak pak Ustadz."
"Kamu kalau mau sarapan sana beli sendiri."
"Buk Ustadzah Zaza jahat sama Ry masak Ry di suruh beli sarapan." Tary mengadu kepada buk Ustadzah.
"Heleh, kayak bocil aja sikit ngadu nih." Cibir bocil.
"Sudah sudah kalau kalian masih ribut natik saya nikah kalian berdua." Pak Ustadz mencoba menengahi keributan antara Tary dengan Zainel.
"Idih ogah Ry nikah sama dia pak Ustadz."
"Sekarang ogah-ogah lihat aja besok pasti ngebet minta aku nikahin."
...~ Bersambung ~...
__ADS_1