PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Warung Bakso


__ADS_3

"Kerja kalian apa? Menggosip? macam aku lah, dirumah aja. Gak keluar-keluar di bilang sombong, sekalinya keluar langsung jadi bahan Ghibah."


Zainel tersenyum mendengar ucapan pakde sambil mengangguk kepalanya. Tary kesal melihat Zainel bukannya membantah ucapan pakde pemilik warung bakso tetapi sikap Zainel seperti itu seakan-akan membenarkan ucapan pakde pemilik warung bakso. Tary melengos pergi meninggalkan Zainel yang berdiri di belakang nya.


"Mas mau makan apa?"


"Mie ayam dan es teh pak." Setelah memesan makanan dan minuman Zainel menyusul Tary yang sudah duduk di bangku panjang warung bakso.


"Ngapain kamu duduk di sini?" Tary menatap Zainel dengan wajah tidak suka karena duduk di bangku yang sama dengan dirinya, bahkan Zainel duduk di samping Tary dengan jarak cukup. dekat.


"Baby Jane sini sama papa." Zainel tidak mengubris ucapan Tary, dia mengambil baby Jane dari gendongan Tary.


"Papa papa papa." Baby Jane merasa senang di gendong oleh Zainel, lalu Baby Jane berceloteh ala bayi dengan menyebut papa kepada baby Jane.


"Ah anak papa sudah pintar manggil papa nya, coba bilang mama." Zainel berbicara sambil menatap baby Jane, Zainel mengajari baby Jane menyebut mama.


"Mama mama mama." Baby Jane menyebut mama dengan celotehan bayi.


"Cup, good baby Jane." Zainel mencium pipi gembul bayi Jane secara bergantian.


"Ngapain kamu ajarin baby Jane nyebut mama harusnya tante?"


"Kalau begitu coba kamu ajarin baby Jane nyebut Tante." Zainel berbicara sambil menoleh ke arah Tary.


"Okey."Tary bergeser sehingga dia duduk tepat disamping Zainel tanpa jarak.


"Baby Jane panggil Tante." Tary melihat baby Jane sambil mengajari baby Jane memanggil dia dengan sebutan tante.


"Mama mama mama." Baby Jane menyebut Tary dengan sebutan mama dengan suara khas bayi.


"Tante bukan mama."


"Mama mama mama."


"Tante tante tante."


"Mama mama mama."


"Sudah sudah Ry, jangan di paksa biarkan baby Jane memanggil dengan kamu dengan sebutan mama."


"Tapi aku mau nya di panggil tante."


"Ry baby Jane itu masih bayi di susah menyebut tante jadi biarkan dia menyebut kamu dengan sebutan mama." Zainel mencoba memberikan pengertian kepada Tary.


"Iya deh." Dengan terpaksa akhirnya Ry mengerti juga.


"Papa papa papa, mama mama mama." Baby Jane berceloteh menyebut papa mama dengan suara khas bayi.


"Mas mbak nih pesanan." Pakde meletakkan makanan dan minuman yang mereka pesan di atas meja.


"Iya pak."

__ADS_1


"Apa ada lagi yang mau di pesan?"


"Tidak ada pak."


"Kalau begitu selamat makan mas mbak." Setelah mengatakan itu pakde berjalan sambil membawa nampan di tangannya.


"Iya Pakde."


"Apa kamu bisa menghabiskan bakso jumbo itu?" Zainel melihat bakso dengan ukuran besar berada dalam mangkok yang berada di atas meja hadapan Tary.


"Habislah aku lagi lapar. " Tary memasukkan saos, kecap dan cabe ke dalam mangkok bakso miliknya. Tary hendak menyuapi bakso yang berada dalam sendok ke arah mulutnya.


"Tunggu dulu." Zainel menghentikan Tary yang hendak memasukkan bakso kedalam mulut nya.


"Apa lagi?" Tary menoleh ke arah Zainel.


"Sebelum makan baca doa dulu." Zainel mengingatkan Tary untuk membaca doa sebelum makan terlebih dahulu.


"Iya ini aku baca doa sebelum makan." Tary meletakan kembali sendok yang berisi bakso kedalam mangkok setelah itu Tary mengangkat kedua tangannya sambil berdoa.


Setelah selesai membaca doa sebelum makan Tary memakan bakso dengan lahap tanpa berbasi menawarkan Zainel makan. Zainel melihat Tary makan bakso begitu lahap hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Makanya pelan-pelan saja gak ada yang mau rebut bakso kamu, kalau kurang nantik pesan lagi."


"Gak bisa, aku lagi lapar."


"Sama aku juga lapar."


"Gimana aku makan coba Ry?" Kedua tangan Zainel di pakai untuk mengendong baby Jane sehingga dia tidak bisa makan.


"Ya udah tunggu sebentar lagi aku juga siap makannya."


"Aduh Ry perut aku sakit nih udah kelaparan." Zainel meringis kesakitan.


"Ya udah sini aku suapin kamu." Tary yang tidak akhirnya mau menyuapi Zainel.


"Nah gitu dong Ry cantik baik." Zainel merasa senang sehingga dia tersenyum.


"Ckckckck udah lah gak usah gombal, cepatan buka mulut kamu."


"Jangankan buka mulut, buka hati buat kamu saja aku mau."Zainel membuka mulut nya.


Tary tidak mengubris ucapan Zainel, dia menyupal mulut Zainel dengan mie ayam. Zainel mengunyah mie ayam yang sudah berada di dalam mulutnya.


"Ry aku mau."


"Mau apa?" Tary berbicara dengan nada ketus.


"Mau itu."


"Itu apa?"

__ADS_1


"Bakso punya kamu, boleh kan?" Zainel berbicara sambil berharap Tary mau memberikan bakso itu kepadanya.


"Gak."


"Boleh lah Ry sedikit aja." Zainel mencoba membujuk Tary.


"Sekali gak tetap gak."


"Jangan pelit Ry entar kuburannya sempit." Zainel menakut-nakuti Tary.


"Ah ngapa pakai bahas kuburan lagi kan ngeri." Tary berdecik ngeri membayangkan kuburan.


"Maka nya itu kamu jangan pelit."


"Iya deh aku gak pelit."


"Kamu suapin aku lagi pakai bakso."


Tary menyuapi bakso dengan menggunakan sendok kearah mulut Zainel. Tanpa mereka sadari dari tadi semua pengunjung yang berada di warung bakso melihat ke arah mereka. Terdengar beberapa pengujung warung tersebut berbicara sambil melihat ke arah mereka.


"Mereka pasangan serasi."


"Laki-laki ganteng dan perempuan cantik, bayi cantik dan comel."


"Keluarga bahagia."


"Mereka saling mencintai dan menyayangi."


"Tuh coba kamu lihat, mereka seperti nya sedang membicarakan kita." Tary menoleh ke arah lain sehingga dia mendapati beberapa pengujung yang ketahuan sedang melihat sambil membicarakan mereka.


"Biarkan saja Ry, mereka kan punya mulut." Zainel terlihat cuek tidak memperdulikan beberapa pengunjung yang menoleh ke arah mereka sambil membicarakan mereka.


"Ah tapi aku gak suka jadi bahan ghibah." Tary menoleh ke arah Zainel, dia berbicara dengan wajah tidak suka.


"Malah bagus kita jadi bahan ghibah, hitung-hitung mengurangi dosa kita." Zainel berbicara dengan lemah lembut kepada Tary.


"Iya juga ya."


"Cepat kita habiskan makanan terus pulang, aku udah gerah nih belum mandi."


"Pantas aja aku mencium bauk."


"Bauk apa?"


"Bauk ketiak kamu." Tary menutup hidungnya dengan menjepit ibu jari dan jari telunjuk.


"Masak wangi gini di bilang bauk ketiak." Zainel mencoba menghendus ketiaknya, Zainel mencium aroma wangi deodoran pada ketiaknya serta parfum yang menempel pada bajunya


"Hahahaha, mau aja aku Frank." Tary melepaskan hidungnya yang tertutup lalu dia tertawa.


Beberapa pengujung melihat Tary tertawa mereka pun ikut tertawa padahal mereka tidak tahu apa yang Tary tertawakan.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2