PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Bertemu Mama Tary


__ADS_3

"Belajar jadi orang bodoamat, hilang ya hilang, pergi ya pergi, don't fucking care."


"Berarti bukan cuma aku saja yang mengalami nasib seperti itu."


"Iya, jadi kamu jangan bersedih."


"Aku gak bakal sedih, lagian ada hikmah di balik semua yang terjadi."


"Kamu benar, gimana hari pertama kamu kerja?"


"Capek."


"Yang namanya kerja pasti capek."


"Aku juga tahu itu, seumur hidup baru ini aku kerja."


"Mendingan sekarang kamu pulang terus tidur."


"Terus kamu gimana?"


"Biar aku sendirian aja nunggu orang pln."


"Aku bakal temanin kamu sampai lampu di rumah kamu menyala."


"Kamu yakin mau nemanin aku? soalnya orang pln paling cepat datang jam 12 malam."


"Yakin lah."


"Terimakasih, apa kamu mau jadi teman aku?"


"Mau mau mau."


"Mulai sekarang kita berteman."


Sebulan kemudian malam harinya Zainel sudah berpakaian rapi berdiri di depan pintu rumah Tary.


Tok............. Tok


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam, kamu siapa dan cari siapa?" Mama membuka pintu rumah, mama melihat seorang laki-laki yang tidak di kenal berdiri di hadapan nya.


"Saya Zainel,apa Tarynya ada tante?" Zainel menyalim punggung tangan mama Tary.


"Ada, kamu punya hubungan apa dengan Tary?"


"kita cuma berteman tante."


"Kamu tinggal dimana?"


"Saya tinggal di kontrakan tante."


"Oh ternyata kamu saudara pak ustadz."


"Iya tante."


"Silahkan masuk." Mama bergeser dari pintu rumah.


"Iya tante." Zainel berjalan masuk ke dalam rumah Tary.


"Kamu duduk dulu biar tante panggil Tary." Setelah mengatakan itu mama berjalan meninggalkan ruangan tamu.


Mama sudah berdiri di depan pintu kamar Tary,


"Adek."


"Apa mama?" Tary membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Adek ada yang cariin tuh."


"Siapa ma?" Tary berbicara sambil menatap mama.


"Lihat saja sendiri di ruangan tamu."


"Cewek atau cowok ma?"


"Ayo adek ikut mama!" Mama menarik tangan Tary.


Mereka sudah berada di ruangan tamu, mereka duduk di sofa yang sama tepat berada di hadapan Zainel.


"Ada apa kamu cari aku?"


"Tante apa boleh aku ngajak Tary keluar?"


"Malam kayak gini, kamu mau bawak Tary kemana?"


"Mau ngajak Tary makan di luar, apa boleh tante?"


"Apa kamu belum makan?"


"Belum tante."


"Mendingan kamu makan malam di sini aja."


"Tapi tante."


"Gak ada tapi-tapi, ayo sekarang kita ke dapur!"


Mereka sudah duduk di kursi yang berada di depan meja makan.


"Kamu mau makan pakai apa?"Mama memasukkan nasi ke dalam piring yang berada di tangan.


"Mama, adek mau makan pakai ayam goreng."


"Yang anak mama itu aku bukan Zainel." Tary wajahnya berubah jadi cemberut setelah mendengar ucapan mama.


"Tante biar aku ambir sendiri." Zainel merasa tidak enak melihat mama Tary yang mengambil makanan untuk dia. Zainel sudah mendengar cerita dari pak ustadz dan ibuk ustadzah bawah kedua orang tua Tary itu begitu baik terhadap masyarakat yang ada di komplek perumahan itu.


"Mama dengarin itu biar dia ambil sendiri aja. Mama ambilin adek makan." Tary mengulurkan piring kosong ke arah mama.


"Adek itu udah besar ambil sendiri makanan nya. Kamu makan pakai apa? kamu gak boleh nolak tante ambilin makanan."


"Ah mama pilih kasih nih." Setelah mendengar ucapan mama, Tary memajukan bibir nya.


"Adek bibir gak usah di moyongkan kayak gitu."


Esokan Siang Harinya Pak ustadz dan Zainel sudah tiba di depan rumah pak ustadz. Pak ustadz yang hendak mengetuk pintu rumahnya.


Ceklek............. Ceklek


"Baru saja abi mau ngetuk pintu rumah malah sudah di buka oleh umi." Pak ustadz melihat pintu rumah dibuka oleh buk ustadzah.


"Alhamdulillah akhirnya Abi pulang juga." Buk ustadzah menyalim punggung tangan suaminya.


"Memang ada apa Umi?"


"Rumah kita kedatangan tamu."


"Abang dan kakak kalau gitu aku pulang." Zainel yang mendengar di rumah mereka kedatangan tamu memilih untuk pulang ke rumah kontrakan nya.


"Kamu jangan pulang." Buk ustadzah melarang Zainel untuk pulang kerumah nya.


"Aku kenapa tidak boleh pulang kak?"


"Tamunya ingin berbicara dengan Abi dan Zainel."

__ADS_1


"Siapa tamunya Umi?" Pak ustadz dan Zainel merasa penasaran dengan tamu yang ingin bicara dengan mereka.


"Lebih baik sekarang Abi dan Zainel masuk ke dalam rumah." Buk ustadzah menyuruh mereka masuk kedalam rumah. Setelah itu buk ustadzah berjalan ke ruang tamu.


"Assalamu'alaikum." Pak ustadz masuk ke dalam ruangan tamu di susul oleh Zainel yang berada di belakangnya.


"Walaikumsalam."


"Ternyata tamu dari jauh, bude apa kabar?" Pak ustadz melihat seorang wanita yang memakai gamis syar'i duduk di hadapan istrinya, pak ustadz mengenali si wanita tersebut yang merupakan mama Tary.


"Alhamdulillah kabar saya baik Pak ustadz." Mama menoleh ke arah pak ustadz yang duduk di sebelah buk ustadzah.


"Ternyata tante di sini." Zainel menyalim punggung tangan mama Tary.


"Sini duduk di samping tante." Mama menyuruh Zainel duduk di sampingnya.


"Bude ke sini sama siapa?"


"Sendirian."


"Pakde kemana?"


"Di kampung."


"Kalau Tarynya mana Tante?"


"Pergi sama temannya."


"Bude mau minum apa biar aku buatin?" Buk ustadzah berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak usah repot buk ustadzah."


"Tidak merepotkan sama sekali bude." Setelah mengatakan itu buk ustadzah berjalan pergi meninggalkan ruangan tamu.


"Sebenarnya apa yang ingin bude bicarakan kepada saya?"


"Apa Tary sering keluyuran malam-malam?" Mama melihat ke arah Tary.


"Sebaiknya bude tanyakan langsung kepada Tary."


"Sudah saya tanya kan pak ustadz."


"Apa jawaban Tary bude?"


"Dia bilang pernah tidak sering."


"Saya mendapat info Tary sering keluyuran malam makanya saya jadi cemas pak ustadz. Apalagi saat ini saya dan suami sering berada di kampung ngurus ibuk saya yang sakit sedangkan Tary di sini." Mama Tary wajahnya tampak cemas.


"Kenapa Tary tidak tinggal di kampung ikut bersama bude dan pakde?"


"Kalau Tary tinggal di sana dia akan sering di ganggu oleh laki-laki desa sana, maka nya kami tidak memperbolehkan dia tinggal disana."


"Apa yang bisa saya bantu bude?"


"Saya minta tolong pak ustadz untuk mencarikan calon suami untuk Tary." Mama Tary berbicara sambil melirik ke arah Zainel.


"Maaf bukanya saya menolak untuk membantu bantu bude. Tetapi saya yakin kalau Tary tidak akan mau dengan laki-laki pilihan saya untuk dijadikan calon suami nya jadi lebih baik biarkan Tary memilih sendiri calon suami nya. Bahkan pakde sudah menjodohkan dengan anak temannya saja gagal."


"Sampai saat ini Tary tidak memperkenalkan pacarnya kepada pada saya, tetapi tadi malam dia datang kerumah saya pak ustadz."


"Apa benar itu Zainel?" Pak ustadz menatap wajah Zainel.


"Iya abang."


"Apa hubungan kamu dengan Tary?"


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2