PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Pilihlah Aku


__ADS_3

"Pinokio mancung karena sering berbohong, Ry pesek karena sering di bohongin."


Fitri sudah berdiri di atas panggung live music.


"Mau nyanyi lagu apa?" Si penyanyi berjalan menghampiri Fitri.


Si penyanyi sudah berdiri di hadapan Fitri, Fitri membisikan judul lagu yang ingin dia nyanyikan kepada si penyanyi tersebut.


"Ini mikrofonnya." Si penyanyi menyerahkan mikrofon kepada Fitri.


"Cek satu dua tiga di coba." Fitri mengambil mikrofon dari tangan si penyanyi tersebut lalu dia berbicara dengan menggunakan mikrofon tersebut.


"Selamat malam semuanya."


"Selamat malam juga."


"Atas permintaan kalian semua saya akan menyumbangkan sebuah lagu, lagu ini spesial saya nyanyikan untuk seorang."


"Siapa seorang orang itu?" Seorang pengujung cafe yang penasaran bertanya kepada Fitri.


"Gebetan saya, semoga kalian bisa terhibur dengan lagu yang saya nyanyikan."


Jreng........... Jreng


🎵Setiap kali kumelihatmu


🎵Berganti pacar yang tak tentu


🎵Kali ini kucoba


🎵Tuk beranikan diri


🎵Mencoba ungkapkan


🎵Perasaan yang ada dihati...


Reff :


🎵Pilihlah aku jadi pacarmu


🎵Yang pasti setia menemanimu


🎵Jangan kau salah pilih yang lain


🎵Yang lain belum tentu.. setia..


🎵Jadi pilihlah aku..


🎵Setiap kali kumelihatmu


🎵Berganti pacar yang tak tentu


🎵Kali ini kucoba


🎵Tuk beranikan diri


🎵Mencoba ungkapkan


🎵Perasaan yang ada dihati...

__ADS_1


🎵Kali ini kucoba


🎵Tuk beranikan diri


🎵Mencoba ungkapkan


🎵Perasaan yang ada dihati


Zainel keluar dari toilet cafe lalu dia berjalan kembali ke arah tempat duduknya. Saat dia kembali ke tempat duduknya dia tidak menemukan Fitri di sana.


"Kemana dia?" Zainel kembali duduk di kursi nya semula. Dia menoleh ke segala arah cafe tersebut.


"Itu kaya suara dia." Zainel mendengar suara Fitri yang sedang menyanyikan reff lagu. Zainel menoleh ke arah panggung live music.


Fitri melihat Zainel sudah kembali duduk di tempat nya semula, lalu Fitri berjalan turun sambil bernyanyi. Bertepatan dengan lagu yang Fitri nyanyikan selesai, dia sudah berdiri di hadapan.


Prok......... Prok


Semua pengujung cafe tersebut bertepuk tangan. Sementara Zainel hanya duduk sambil meletakkan tangannya di atas pahanya.


"Bagaimana menurut kamu?" Fitri menatap bola mata Zainel dengan intens.


"Suara kamu merdu, sepertinya kamu sudah biasa bernyanyi di panggung maka nya tidak terlihat gerogi saat kamu bernyanyi bernyanyi di atas panggung." Walaupun Zainel tidak melihat dari awal Fitri bernyanyi tapi dia bisa melihat Fitri terlihat santai saat bernyanyi di atas panggung. Fitri tidak demam panggung saat bernyanyi maka dia mengambil kesimpulan bahwa Fitri sudah biasa bernyanyi di panggung.


"Aku sudah biasa nyanyi di atas panggung, Apa aku boleh bertanya sesuatu kepada kamu?"


"Memangnya kamu mau nanya apa?"


"Apa kamu pernah menolong seekor kucing yang hampir di tabrak oleh sebuah mobil honda jazz berwarna putih?"


"Tunggu sebentar, coba aku ingat dulu." Zainel mencoba mengingat terlebih dahulu sebelum menjawan ucapan Fitri.


"Sudah, memang kenapa?" Zainel balik bertanya karena di penasaran.


"Apa kamu masih ingat dengan si pengendara mobil itu?"


"Aku gak ingat." Zainel mengelengkan kepalanya.


"Si pengendara mobil itu aku." Fitri memberitahukan kepada Zainel bahwa si pengendara mobil yang hampir menabrak kucing yang hendak menyeberangi jalan.


"Ooo jadi si pengendara mobil itu kamu."


"Dari situlah aku sudah pertama kali bertemu dengan kamu. Setelah itu kita bertemu di dalam lift hotel S, saat itu aku sudah merasa pernah bertemu dengan kamu di suatu tempat tapi aku lupa tempatnya . Dan akhirnya kemarin aku ingat semuanya.


" Zainel." Fitri berbicara sambil memegang mikrofon.


"Iya saya."


"Malam ini di hadapan semua pengujung cafe Nongki Cuy, saya ingin mengutarakan perasaan saya kepada kamu."


"Saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kamu, apa kamu mau menerima saya jadi pacar kamu?"


"Terima."


"Terima."


"Terima."


Teriakan seluruh pengunjung cafe nongki yang meminta Zainel untuk menerima cinta Fitri. Fitri yang tersenyum ke arah Zainel, dia merasa di atas angin karena seluruh pengunjung cafe nongki Cuy, mendukung dirinya. Bahkan mereka berteriak minta Zainel untuk menerama cintanya.

__ADS_1


Sementara Zainel masih terdiam karena merasa shock, seumur hidup baru kali ini dia mengalami di tembak oleh seorang perempuan di hadapan banyak orang. Zainel merasa bingung mau menolak atau menerima Fitri sebagai pacarnya.


Menerima Fitri menjadi pacarnya itu tidak mungkin sebab Zainel tidak memiliki perasaan apa-pun kepada Fitri sementara kalau Zainel menolak Fitri sebagai pacarnya, pasti Fitri akan merasa malu di tolak di hadapan banyak orang.


Kita berpindah tempat ke kota B, malam ini Lea baru tiba di depan pintu rumah nya. Lea menekan bel rumahnya sehingga berbunyi.


Ting......Tong


"Bibik bukak pintunya." Pekik Lea.


"Kamu dari mana?" Pintu rumah terbuka Sam berdiri sambil menatap tajam ke arah Lea yang masih mengunakan seragam sekolah.


"Rumah Yora."


"Kamu pulang sekolah bukan nya langsung pulang malah makin kerumah Yora." Sam berdecak pinggang.


"Lagian pulang kerumah cuma ada bibik. Mom, Dad dan Koko Sam tidak pernah ada di rumah saat aku pulang sekolah maka nya itu membuat aku malas pulang kerumah." Lea mengungkapkan unek-unek yang selama ini dia pendam kepada Sam.


"Walaupun kami tidak ada di rumah, setelah pulang sekolah kamu harus tetap pulang kerumah. Mana kunci motor?" Sam mengulurkan tangannya ke arah Lea.


"Emang buat apa kunci motor koko Sam?"


"Cepatan siniin kunci motornya." Sam mendesak Lea untuk memberikan kunci motor kepadanya.


"Nih kunci motornya koko Ren." Lea menyerahkan kunci motor ke tangan Sam.


"Mulai besok pagi dan seterusnya kamu akan koko antar jemput ke sekolah." Setelah kunci motor berada di tangan Sam, baru lah Sam mengatakan kepada Lea bahwa dia akan mengantar jemput Lea ke sekolah.


"Aku gak mau, emangnya aku anak Tk pakai di antara jemput sama koko Sam." Lea menolak diantar jemput oleh Sam.


"Mau gak mau kamu akan tetap koko antar jemput ke sekolah, atau kamu mau tidak koko kasih uang jajan." Sam mengancam tidak akan memberikan yang jajan kepada Lea.


"Jahaaaat, aku benci koko Sam." Lea berlari masuk ke dalam rumah.


Setibanya Lea di lantai dua rumahnya, Lea tidak berjalan ke arah kamarnya melainkan dia berjalan ke arah kamar Rendy. Lea masuk ke dalam kamar Rendy lalu dia mengunci kamar Rendy.


"Hiks hiks hiks." Lea berdiri di belakang pintu kamar Zainel sambil menangis.


"Koko Ren." Lea menangis sambil memanggil nama Rendy.


"Koko Ren, dimana? aku kangen." Lea terduduk menangis sambil memegang lututnya.


Sam menutup pintu rumah lalu dia berjalan menyusul Lea yang sudah berlari lebih dahulu. Saat Sam sudah berada di depan lalu dia hendak menaiki tangga.


"Tuan muda." Bibik menghampiri Sam yang sudah berada di depan tangga.


"Ada apa bik?" Sam tidak jadi menaiki tangga, dia menoleh ke arah bibik yang berada di sampingnya.


"Apa itu tadi non Lea tuan muda?"


"Iya Bik."


"Puji Tuhan non Lea sudah pulang tuan." Bibik merasa bersyukur Lea sudah pulang.


"Apa setiap hari Lea pulang malam bik?"


"Itu sebaiknya tuan muda tanya langsung sama non Lea." Bibik takut salah menjawab pertanyaan Sam maka nya bibik menyuruh Sam untuk bertanya langsung kepada Lea.


"Baiklah bik, saya mau nyusul Lea ke atas dulu." Setelah mengatakan itu Sam berjalan menaiki tangga.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2