
"Kenapa abis ABC itu D? karena 'A'krab terus 'B'ercanda lalu timbul rasa 'C'inta dan akhirnya 'D'itinggal.'
Zainel sudah berdiri di depan keranjang tersebut lalu dia membungkuk badan untuk melihat ke dalam keranjang tersebut.
“Hah bayi."
Oeak
"Aduh gimana nih?" Zainel terlihat bingung melihat bayi yang berada di dalam kerajang menangis.
"Cup cup cup, jangan nangis." Zainel berusaha membuat bayi tersebut berhenti menangis.
Oeak
Bukannya berhenti menangis bayi tersebut malah semakin kencang suara tangisannya. Zainel menjadi semakin panik saat melihat bayi tersebut terus saja menangis.
"Ah, mau aku gendong tapi aku gak bisa gendong tuh bayi." Zainel hendak mengendong bayi tersebut tetapi dia tidak tahu cara mengendong bayi tersebut. Sehingga Zainel merasa takut untuk mengendong bayi tersebut.
"Lebih baik baik aku ketuk pintu rumah kak Era." Zainel berjalan ke arah pintu rumah Era.
Zaine sudah berdiri di depan pintu rumah Era, Zainel mengetuk pintu rumah sambil berteriak-teriak memanggil Era tetapi tidak ada respon. Zainel berpindah kerumah nenek dia melakukan hal yang sama di depan pintu rumah nenek tetapi tidak ada respon juga.
Zainel kembali kedepan pintu rumahnya melihat bayi yang berada di dalam keranjang terus saja menangis. Zainel mengangkat keranjang tersebut, Zainel berlari di bawah hujan sambil membawa keranjang bayi ke arah rumah Tary.
Tok.......... Tok
"Tary."Zainel sudah berdiri di depan pintu rumah Tary sambil memegang keranjang yan berisi bayi, Zainel mengetuk pintu rumah Tary.
Sementara Tary yang masih berada di ruang keluarga mendengar suara pintu rumahnya di ketuk. Tary beranjak dari tempat duduknya dia berjalan ke arah pintu rumahnya.
"Tary buka pintunya." Zainel berteriak.
"Kamu siapa?" Tary menyibak kain gorden di jendela rumahnya, dia mencoba mengintip orang yang berada di depan pintu rumahnya melalui kaca jendela.
"Ini aku Zainel."
"Ada apa kamu tengah malam kerumah aku?" Tary membuka pintu rumah, dia melihat ke arah Zainel yang sedang berdiri sambil memegang sebuah keranjang.
"Ini coba kamu lihat." Zainel maju selangkah lalu dia menujukan keranjang tersebut kepada Tary.
"Hah bayi, bayi siapa?" Tary melihat ke dalam keranjang tersebut terdapat bayi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, apa kamu bisa mendiamkan bayi ini? dari tadi dia terus menangis."
Oeak
"Sini biar aku gendong." Tary mengeluarkan bayi tersebut dari keranjang lalu dia mengendong bayi tersebut.
"Hah, kami kok bisa gendong bayi?" Zainel heran melihat Tary yang bisa mengendong bayi tersebut.
"Bisalah, dulu aku sering gendong keponakan aku yang masih bayi kayak gini, abang ipar dan mbak aku sibuk kerja jadi aku dan mama yang ngurusin anaknya dari bayi."Tary berjalan sambil mengendong bayi tersebut.
"Kamu udah cocok jadi seorang ibu." Zainel masih berdiri di depan pintu rumah Tary.
"Kamu kenapa masih berdiri di situ? ayo masuk." Tary sudah berada di ruangan tamu, dia membalikkan badan melihat Zainel yang masih berada di depan pintu rumah Tary.
"Pakaian aku basah, kalau aku masuk nantik rumah kamu basah." Pakaian yang di kenakan oleh Zainel basah kuyup sehingga dia enggan untuk masuk ke dalam rumah Tary.
"Sudah masuk saja." Tary menyuruh Zainel masuk ke dalam rumahnya.
"Tapi___." Zainel terlihat ragu untuk masuk ke dalam rumah Tary.
"Gak ada tapi, cepatan kamu masuk ke rumah aku." Tary memaksa Zainel untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Baiklah, assalamu'alaikum." Setelah mengucapakan salam Zainel berjalan masuk kedalam rumah.
Mereka duduk di sofa yang berada di ruangan tamu, Tary duduk sambil mengendong bayi.
"Apa bayi anak kamu?" Tary berbicara sambil menatap mata Zainel.
"Ya bukanlah."
"Lah, terus ini anak siapa?"
"Gak tahu."
"Kamu nemuin bayi ini dimana?"
"Di depan pintu rumah kontrakan aku."
"Uh tega benar lah orang tua nih bayi buang nih bayi di depan pintu rumah kontrakan kamu." Tary menoleh ke arah bayi yang berada di gendong nya.
"Kalau mereka gak mau punya mendingan gak usah buat anak." Zainel berbicara sambil melihat ke arah bayi yang terlihat anteng dalam gendong Tary.
__ADS_1
Oeak
"Lah kenapa dia nangis?" Zainel berdiri lalu dia menghampiri sofa yang di duduki oleh Tary.
"Cup cup jangan nangis. Aduh gimana nih kayaknya dia haus?" Tary berdiri dari sofa sambil mengoyangkan tangannya yang sedang mengendong bayi.
"Ya udah kamu kasih minum saja bayinya."
"Apa kamu tahu nih bayi minumanya apa?"
"Ya susu lah masak gitu aja kamu gak tahu."
"Mana susu nya?"
"Gak ada. Terus dia mau minum apa?" Zainel melihat keranjang yang berada di atas meja, Zainel mencari susu di keranjang tersebut tetapi Zainel tidak menemukan susu di keranjang tersebut.
"Nih kamu gendong dulu." Tary mendekat bayi tersebut ke arah Zainel.
"Aku gak bisa gendong bayi." Zainel berjalan mundur selangkah.
"Kamu duduk dulu di sini." Tary menyuruh Zainel duduk di sofa.
"Aku udah duduk nih." Zainel duduk di sofa.
Tary meletakan bayi tersebut di tangan Zainel. Setelah itu Tary berjalan pergi ke arah dapur. Tary sudah berada di ruangan tamu dengan membawa nampan yang berisi dua gelas, di dalam dua gelas tersebut terdapat air yang berbeda di gelas tersebut. Tary meletakkan nampan tersebut di atas meja.
Tary duduk di sofa yang sama dengan Zainel, Tary menyuapi air putih dengan menggunakan sendok ke arah mulut bayi. Secara berlahan-lahan air putih masuk ke dalam mulut bayi tersebut. Tary terus saja menyuapi air putih kedalam mulut bayi tersebut.
"Seperti dia sudah tidak haus lagi." Tary melihat air putih yang dia suapi di sembur oleh bayi.
"Iya, sekarang coba kamu tidurkan bayi ini." Sudah merasa mengantuk sehingga meminta Tary untuk menidurkan bayi tersebut.
"Sini biar aku gendong." Tary meletakkan sendok ke dalam gelas. Setelah itu Tary mengambil si bayi dari tangan Zainel. Tary mengendong bayi tersebut sambil mengoyangkan tangnya.
"Gimana udah tidur dia?" Zainel menoleh ke arah bayi yang berada dalam gendong Tary.
"Sssttt, kecil kan suara kamu. Nantik dia bisa bangun." Tary meminta Zainel untuk mengecilkan suaranya.
"Alhamdulillah akhirnya bayi tidur juga. Apa aku boleh menginap di sini?" Mendengar hujan belum juga berhenti sehingga Zainel meminta izin untuk menginap di rumah Tary.
"Tidak boleh, kalau sampai kita tertangkap berduaan di dalam rumah sudah di pastikan kita berdua kan akan di gerbek." Tary merasa ketakutan saat Zainel meminta izin untuk menginap di rumah Tary.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...