
"Percayalah bicara lemah lembut kepada perempuan itu jauh lebih baik dari pada bicara manis."
"Wah ternyata baby Jane sudah menanggap Tar sebagai mamanya." Nenek melihat serta mendengar baby Jane memanggil Tary dengan sebutan mama dalam bahasa bayi.
"Betul yang nenek ucapkan, tapi dia gak mau di panggil dengan sebutan mama oleh baby Jane nek."
"Apa betul itu Tar?"
"Siapa yang bilang kayak gitu nek?"
"Kamu sendiri yang bilang kayak gitu sama aku."
"Kapan aku ngomong kayak gitu sama kamu?"
"Ada waktu itu." Zainel berbicara sambil menatap Tary.
"Masa sih? tapi aku kok gak ingat."
"Heleh, gak usah pura-pura lupa." Zainel berbicara sambil menaiki sebelah alisnya.
"Aku bukan lupa tapi emang gak ingat."
"Ah, lupa sama gak ingat itu sama saja." Zainel frustasi sehingga dia menguyurkan rambut nya kebelakang.
"Kalian kenapa masih di sini?ayo masuk ke dalam rumah." Kakek baru keluar dari kamar mandi mendengar suara ribut-ribut sehingga dia berjalan menghampiri mereka. Kakek sudah berada di depan pintu rumah kontrakan.
"Eh ada kakek, ini kami juga baru mau masuk." Zainel maju selangkah mendekati kakek lalu dia menyalim punggung tangan kakek.
__ADS_1
Mereka sudah duduk di atas lantai yang beralas tikar di ruangan tamu.
"Tar letakan saja baby Jane di bantal ini." Nenek memberikan sebuah bantal kepada Tary.
"Iya nenek." Tary mengambil bantal yang nenek berikan Tary menaruh bantal di atas tikar. Tary mengeletakan baby Jane di atas bantal tersebut.
Belum ada satu menit Tary mengeletakan baby Jane di atas bantal baby Jane sudah menangis.
"Baby Jane tidak mau di geletakan di atas bantal." Tary kembali mengendong baby Jane.
"Sepertinya baby Jane sudah bauk tangan Tar."
"Iya nenek."
"Jadi bagaimana makan malam bersama nya?" Kakek berbicara sambil melihat ke arah Tary.
"Baiklah, bunda ambilkan nasi dan lauk-pauk untuk ayah." Nenek sudah memegang piring kosong lalu nenek mengisi nasi ke dalam piring tersebut.
"Bunda nasi sudah cukup segitu." Kakek melihat nenek yang hendak menambah nasi ke dalam piring tersebut, kakek segera mengatakan kepada nenek untuk tidak menambahkan nasi lagi karena kakek merasa sudah cukup.
"Ini ayah." Nenek memberikan piring yang sudah ada nasi dan lauk-pauk kepada kakek.
"Terimakasih bunda, bunda ambilkan juga buat Zainel."Kakek mengambil piring yang berada di tangan nenek.
" Tidak usah nenek biar aku ambil sendiri."Zainel merasa tidak enak kepada nenek sehingga dia menolak nenek mengambil makanan untuknya.
Piring mereka sudah terisi oleh makanan lalu mereka membaca doa sebelum makan terlebih dahulu yang di pimpin oleh kakek . Mereka mulai makan dengan hening tanpa ada suara hanya terdengar dentingan sendok yang berada di dalam piring.
__ADS_1
Melihat mereka makan membuat perut Tary yang keroncongan mengeluarkan bunyi.
Kruuuk........Kruuuk
Mereka mendengar bunyi keroncongan dari perut, mereka menoleh ke arah suara tersebut. Mereka mendapati suara tersebut berasal dari perut Tary.
"Apa kamu lapar?"Zainel menoleh ke arah Tary.
"Sudah cendana kayu pulak, sudah tahu bertanya pulak." Tary berbicara dengan bersungut-sungut kepada Zainel.
"Apa kamu mau aku suapin?"
"Gak mau." Tary menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu gak mau?"
"Aku malu."
"Kamu mau malu atau kelaparan?"
"Sudah Tar mau aja di suapin Zainel dari pada kelaparan."Nenek membujuk Tary agar mau di suapin oleh Zainel.
"Sebaiknya kamu makan di suapin dengan Zainel dari pada kamu kelaparan." Kakek juga ikut-ikutan membujuk Tary untuk makan di suapin oleh Zainel.
Tary terdiam sambil memikirkan ucapan kakek dan nenek. Tary juga merasakan kelaparan karena belum makan malam Tary sedang di hadapakan dengan dua pilihan yang membuat dia bingung. Kalau Tary mau di suapin oleh Zainel makan dia akan merasa malu karena di lihat oleh kakek dan nenek. Tetapi kalau Tary tidak mau di suapin oleh Zainel berarti dia memilih kelaparan.
Menurut kalian Readers Apa yang Tary pilih?
__ADS_1
...~ Bersambung ~...