
"Ngeliat temen yang apa-apa di bantuin pasangannya bikin gue sadar kalo ternyata gue hebat bisa ngelakuin apa-apa sendiri."
"Hah, panas." Zainel meletakkan tangannya di atas kening baby Jane.
"Terus ini gimana nih?" Wajah Tary terlihat khawatir.
"Ayo kita bawa baby Jane ke Rs!" Zainel mengajak Tary untuk membawa baby Jane ke Rs.
"Gak mau." Tary menolak ajakan Zainel ke Rs.
"Kenapa?"
"Mendingan kita bawa baby Jane kerumah bibik."
"Baiklah, tapi aku ganti baju dulu." Zainel memberikan baby Jane kepada Tary.
Mereka sudah berada di depan pintu rumah bibik, saat Tary hendak mengetuk pintu rumah bibik.
Ceklek......... Ceklek
"Mbak Tar." Pintu rumah bibik terbuka seorang anak perempuan membuka pintu rumah bibik.
"Ulfa, apa bibik ada di rumah?" Tary berbicara sambil melihat ke arah Ulfa.
"Ada, Lah mbak Tar kapan nikah? kok udah punya baby." Ulfa melihat ke arah bayi yang berada dalam gendong Tary.
"Boro-boro nikah, pasangan aja mbak gak punya."
"Lah, terus mas yang di samping mbak Tar ini siapa?" Ulfa beralih melihat ke arah laki-laki yang berada di samping Tary.
"Perkenalkan nama saya Zainel." Zainel mengulurkan tangan ke arah Ulfa.
"Ulfa, mas pasti pacar mbak Tar." Ulfa menjabat tangan Zainel.
"Bukan." Zainel melepaskan jabatan tangannya kepada Ulfa.
"Apa mbak boleh masuk? kaki mbak pegal nih dari tadi berdiri terus di sini."
"Boleh-boleh, silahkan masuk mbak mas." Ulfa mengeserkan badannya dari pintu rumah.
"Bibik." Tary berjalan masuk sambil mengendong baby Jane, dia berteriak memanggil bibik.
"Assalamu'alaikum." Setelah mengucapakan salam barulah Zainel berjalan masuk kedalam rumah bibik. Zainel sudah berada di dalam ruangan tamu.
"Walaikumsalam, silahkan duduk dulu mas." Ulfa melihat Zainel yang masih berdiri di ruang tamu.
"Baiklah." Zainel mendudukkan pantat nya di sofa yang berada di ruangan tamu.
__ADS_1
"Mas mau minum apa?"
"Tidak usah repot-repot."
"Gak ngerepotin kok jadi mas mau minum apa?"
"Kalau tidak repot air putih aja."
"Kalau begitu aku ambil air putih dulu." Setelah mengatakan itu Ulfa berjalan pergi meninggalkan ruangan tamu.
Tary dan baby Jane sudah berada di ruangan keluarga.
"Bibik om." Tary menghampiri bibik dan om yang sedang duduk di kursi yang berada ruangan keluarga.
"Tar, itu bayi siapa yang di gendong?" Om Diko melihat ke arah Tary yang sedang mengendong bayi.
"Bayi orang lah masak bayi monyet." Tary berdiri di hadapan bibik dan om nya.
"Om juga itu bayi orang, siapa orang tua bayi itu?"
"Gak tahu om.".
" Baby Jane kenapa menangis?"
"Baby Jane demam bik."
"Ayo kita periksa dulu baby Jane."Bibik berdiri dari kursi lalu dia mengajak Tary untuk pergi keruangan pemeriksaan pasien.
"Kamu mau kemana?"Zainel melihat Tary berjalan sambil mengendong baby Jane melewati ruangan tamu.
"Mau keruangan pemeriksaan.Tary berhenti berjalan lalu dia menoleh ke arah Zainel yang sedang duduk di sofa yang berada ruangan tamu.
"Boleh, Tar bawa Zainel keruangan pemeriksaan. Diakan papa baby Jane." Bibik berjalan melewati pintu rumah dia mendengar pembicaran Zainel dan Tary.
Bibik sudah selesai memeriksa keadaan baby Jane.
"Apa obat yang bibik berikan tadi kalian minum ke baby Jane?" Bibik berbicara sambil menatap mereka secara bergantian.
"Aku tidak tahu bibik, karena saat sampai di depan rumah baby Jane sudah tidur setelah itu Zainel membawa baby Jane kerumah kontrakan nya.
"Aku lupa meminumkan baby Jane obat bibik." Zainel menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah tidak meminumkan obat kepada baby Jane.
"Pantas aja baby Jane demam, harusnya tadi siang setelah pulang dari posyandu kamu minumkan obat kepada baby Jane." Bibik berdecak pinggang sambil ngomel kepada mereka.
"Maafkan kami bibik." Mereka serentak meminta maaf kepada bibik secara bersamaan.
"Lain kali jangn seperti ini, bibik sudah memaafkan Kelalaian kalian berdua." Bibik mengambil berjalan ke arah lemari, dia mengambil obat.
__ADS_1
"Bibik obatnya jangan yang puyer tapi yang sirup." Tary melihat bibik mengambil obat yang berbentuk tablet yang akan di giling oleh bibik untuk di jadi akan obat baby Jane.
"Iya Tar."Bibik meletakkan kembali obat-obat yang berbentuk tablet lalu bibik mengambil obat yang berbentuk sirup.
"Bibik supaya demam baby Jane cepat turun harus di kompres pakai air hangat atau dingin?"
"Pakai air hangat, tapi lebih bagus lagi pakai baby Fever."
"Apa bibik punya baby fever?"
"Punya, sebentar bibik ambil." Bibik berjalan ke arah lemari pendingin yang berada di pojok ruangan tersebut. Bibik mengambil baby fever dari dalam lemari pendingin.
"Mana baby fever nya bik?" Tary berjalan menghampiri bibik setelah itu Tary mengulurkan tangannya kepada bibik.
"Ini." Bibik memberikan sebungkus baby Fever kepada Tary.
"Bik ini kayak mana pasangnya?" Baby Fever sudah berada di tangan Tary lalu dia membuka bungkus baby fever yang berada di tangan nya.
"Tar baca aja cara pasangnya ada di bungkus baby fever."
Mereka duduk di kursi yang berada di ruangan keluarga.
"Dia siapa Tar?" Om Diko melihat ke arah laki-laki yang duduk di samping bangku Tary.
"Perkenalkan om nama saya Zainel." Zainel berdiri dari tempat duduk lalu dia menyalim punggung tangan om Diko.
"Diko omnya Tar, apa hubungan kamu dengan Tar?"Om Diko merasa penasaran dengan hubungan Tary dan Zainel. Setelah di tinggal nikah oleh Leo, Tar sama sekali tidak pernah memperkenalkan laki-laki kepada kepada keluarga nya. Malam ini baru lah Tary membawa seorang laki-laki ke rumah om Diko sehingga Om Diko ingin mengetahui hubungan Tary dengan Zainel.
"Kami cuma tetangga saja om, saya tinggal di rumah kontrakan bude Eli."
"Om kira kalian pacaran."
"Tidak om." Zainel dan Tary serentak berbicara.
"Cie cie cie, ngomong aja serentak sih." Ulfa dengan sengaja meledek mbak sepupunya.
"Ulfa apapa-apaan sih." Tary merasa tidak suka kepada Ulfa yang meledeki dirinya dan Zainel.
"Apa bayi itu kalian berdua yang urus?"
"Iya om."
"Bagimana ceritanya kalian berdua mengurus bayi itu?"
"Baby Jane saya temukan saat pulang kerja tengah malam di depan pintu rumah kontrakan saya."
"Kenapa kalian berdua yang ngurus baby Jane?"
__ADS_1
"Besok pagi nya semua warga perumahan di kumpulkan si balai warga untuk membahas penemuan baby tersebut. Tidak ada seorang pun dari warga yang ingin mengurus baby Jane. Sehingga aku memutuskan untuk mengurus baby Jane. Tapi karena aku bekerja maka nya aku butuh bantuan seorang untuk bergantian menjaga baby Jane. Semua warga setuju bahwa Tary yang membantu aku menjaga baby Jane."
...~ Bersambung ~...