
"Dear uang bisa nggak dewasa sedikit, sekali-kali kamu yang cari aku. Jangan aku terus yang cariin kamu, aku lelah."
"Zainel off hari ini buk."
"Hah, apa?"Pekik Fitri.
"Astagfirullah buk."Yudi yang terkejut lalu dia memegang dadanya sambil mengucap istighfar.
"Kenapa kamu tidak ngasih tahu saya dari tadi?" Fitri berdecak sambil meluapkan emosinya kepada Yudi.
"Maaf, saya pikir ibuk tahu kalau Zainel itu hari ini off maka nya saya tidak langsung memberitahukan ibuk." Yudi yang mendapatkan kemarah d ari Fitri hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maaf maaf enak sekali kamu ngomong seperti itu, asal kamu tahu waktu saya terbuang sia-sia gara-gara kamu." Fitri masih meluapkan kekesalan kepada Yudi.
"Iya, saya mengaku salah." Yudi malas memperpanjang urusan dengan atasannya memilih mengakui kesalahan nya, supaya masalahnya cepat selesai.
"Bagus kalau kamu sudah mengakui salah,kamu bersihkan rungan saya." Fitri memerintah Yudi untuk membersihkan ruangan.
"Setelah selesai saya makan siang, barulah saya membersihkan ruangan ibuk."
"Tidak ada setelah makan siang, saya mau sekarang kamu bersih ruangan saya."
"Tapi buk."
"Tidak ada tapi tapi, kamu mau membersihkan ruang saya sekarang atau kamu saya pecat?"
"Jangan pecat saya buk, baiklah saya akan membersihkan ruangan ibuk sekarang." Yudi mengambil peralatan bersih-bersihdi pojok ruangan.
Esokan Sorenya Zainel sudah terlihat rapi mengunakan baju kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam berbahan dasar kain. Zainel berdiri di depan cermin, dia mengoleskan minyak rambut yang berupa gel di helaian rambutnya setelah itu barulah dia menyisir rambutnya hingga sehingga terlihat rapi. Zainel menyemprotkan parfum keseluruh pakaian yang dia kenakan.
Ceklek......... Ceklek
Saat pintu rumah kontrakan di buka oleh Zainel, dia melihat seorang perempuan yang berdiri membelakangi dirinya.
"Hm." Zainel sengaja berdehem.
"Apa kamu sudah mau berangkat kerja?" Si perempuan tersebut membalikkan badan.
"Iya Ry."
"Papa papa papa." Baby Jane yang berada di gendong Tary, merentangkan tangan seperti meminta di gendong oleh Zainel.
"Sini papa gendong." Zainel mengambil baby Jane dari gendong Tary.
Cup Cup
"Hum, wanginya anak papa" Zainel mengecup pipi gembul baby penuh dengan bedak secara bergantian.
"Ya wangi lah kan udah aku mandiin."
"Apa kamu udah mandi?" Zainel berbicara sambil menatap wajah Ry.
"Udah."
Zainel yang sudah berdiri di hadapan Tary, Zainel merapat tubuhnya dengan tubuh Tary. Setelah itu Zainel menundukkan kepalanya.
"Kaaamu mau ngapain ?" Melihat posisi mereka yang kelihatan intim membuat Tary merasa ketakutan.
"Mencium." Zainel mendekatkan hidungnya ke arah wajah Tary.
Deg......... Deg
__ADS_1
Mendengar ucapan Zainel yang mau mencium Tary membuat jantung Tary merasa deg deg kan.
"Hum, kamu harum." Zainel mendenguskan hidungnya di dekat leher Tary, sehingga dia dapat mencium sabun pada tubuh Tary.
Setelah itu Zainel menjauhkan wajahnya dari leher Tary, Zainel menatap wajah Tary, dia melihat Tary sedang melamun.
"Hei kamu, lagi ngelamunin apa?" Zainel berbicara dengan nada suara yang tinggi.
"Siapa juga yang ngelamun?"Tari yang tersadar dari lamunan nya segera menepis tuduhan Zainel yang mengatakan bahwa dia melamun.
"Kamu pasti lagi ngelamunin aku kan?"
"Gak, kepedean kamu."
"Hayo ngaku aja kamu tadi pasti ngelamunin aku." Zainel mendesak Tary.
"Gak." Tary menyakal ucapan Zainel.
"Gak salah lagi kamu pasti mikirin aku."
"Mana ada aku mikirin kamu."
"Kamu tadi pasti mikirnya kalau aku bakal cium kamukan?"
"Aku gak mikir kayak gitu." Ah kok bisa sih dia tahu tadi itu aku mikirnya kalau dia bakal cium pipi aku seperti baby Jane ternyata bukan batin Tary.
"Hayo ngaku." Zainel mendesak Tary buat mengakui yang diucapkan Zainel itu benar.
"Semua yang kamu ucapkan itu gak benar."
"Papa mama papa mama." Baby Jane yang menyaksikan perdebatan mereka lalu dia menyebut papa mama dengan ciri khas bayi.
"Sini baby Jane biar sama aku." Tary mengambil baby Jane dari Zainel.
Hoek
Hoek
Hoek
"Sudah sudah, jangan nangis baby Jane." Tary menggendong baby Jane sambil menggoyangkan tubuh baby Jane yang berada dalam gendongannya.
Tary berusaha membujuk baby Jane agar berhenti menangis tetapi tangisan baby semakin kencang.
"Sayang jangan nangis ini papa." Zainel mengambil baby Jane dari gendong Tary, saat baby Jane sudah berada di dalam gendong Zainel. Seketika itu baby Jane berhenti menangis.
"Lah, kenapa baby Jane berhenti menangis?"Tary heran melihat baby Jane berhenti menangis saat di gendong dengan Zainel.
"Seperti baby Jane masih ingin di gendong oleh papanya."
"Lah terus bagaimana ini? bukanya kamu mau berangkat kerja."
"Iya, mana baby Jane gak mau lepas dari gendong aku lagi."
"Jadi gimana nih?"
Mereka tampak bingung karena Zainel mau bekerja sedang baby Jane tidak mau lepas dari gendongan Zainel. Terdengar suara motor berhenti di halaman rumah kontrakan. Mereka menoleh ke arah suara motor tersebut.
"Assalamu'alaikum." Sepasang suami-istri turun dari motor berjalan ke arah mereka.
"Walaikumsalam." Mereka serentak menjawab salam.
__ADS_1
"Kalian sedang apa?"Sepasang suami-istri menghampiri mereka.
"Aku sedang gendong baby Jane."
"Apa kamu tidak kerja?" Mereka sudah berada di hadapan Zainel dan Tary.
"Kerja kak."
"Lah sebentar lagi, Zai masuk kerja."
"Iya kak."
"Terus kenapa Zai tidak berangkat kerja?"
"Baby Jane tidak mau lepas dari gendongan aku kak."
"Memangnya mengapa kalau baby Jane lepas dari gendongan Zai?"
"Dia menangis."
"Kalau dia nangis kasih aja susu."
"Baby Jane sama mama ya, papa mau kerja dulu." Zainel berbicara sambil menatap baby Jane setelah itu Zainel memberikan baby Jane kepada Tary.
Saat baby Jane sudah berada di gendongan Tary, baby Jane langsung menangis.
"Coba kasih susu."
"Dimana botol dotnya?"
"Itu di saku celana aku."
"Sebelah mana?"
"Kanan."
"Baby Jane minum susu dulu ya." Setelah mengambil botol dot dari saku celana Tary, Zainel memasukan botol dot ke dalam mulut baby Jane.
Baby Jane melepehkan botol susu dari mulutnya, baby Jane tambah kencang menangis. Zainel kembali mengambil baby Jane dari Tary, saat sudah berada di gendongan Zainel baby Jane berhenti nangis.
Mereka menoleh ke arah baby Jane yang berhenti menangis saat berada di gendongan Zainel.
"Seperti nya baby cuma mau di gendong sama papa nya." Era angkat bicara.
"Iya, jadi ini gimana kak?" Zainel terlihat bingung, dengan baby Jane sore ini maunya cuma di gendong oleh Zainel.
"Aku gak tahu Zai."
"Aku punya ide." Suami Era angkat bicara.
"Apa ide abang?" Zainel yang penasaran dengan ide dari suami Era.
Suami Era membisikkan idenya kepada Zainel, Zainel yang tidak mempunyai pilih lain mencoba ide dari suami Era.
Sebuah motor sport di kendarai oleh seorang perempuan yang tidak memakai helem melaju dengan kecepatan sedang melewati komplek perumahan tersebut. Sepanjang perjalanan melewati jalan kompleks perumahan tersebut.Beberapa ibu-ibu yang mereka temui di jalan kompleks perempuan tersebut terus saja menatap ke arah si pengendara motor tersebut dengan tatapan aneh.
"Kenapa mereka dari tadi ngeliatin kita seperti itu?" Seorang laki-laki yang berada di jok belakang motor sport merasa beberapa ibu-ibu melihat ke arah mereka.
"Kamu perhatikan aja mana ada seorang perempuan memboncengin seorang laki-laki yang sedang mengendong bayi dengan motor sport."
...~ Bersambung ~...
__ADS_1