PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Bocil Kecentilan


__ADS_3

"Dari hujan aku mengerti bahwa manusia itu unik, ada yang meneduh karena takut jatuh sakit dan ada juga yang mandi hujan melepas rasa sakit."


Tengah malam Tary terbangun dari tidur karena kebelet buang air kecil. Tary turun dari tempat tidur dengan keadaan yang masih mengantuk. Tary berjalan ke arah pintu kamar, Tary membuka pintu kamar setelah itu dia berjalan ke arah kamar mandi.


Tary keluar dari kamar mandi setelah selesai buang air kecil. Tary berjalan kembali ke arah kamar Ulfa. Tary sudah berada di dalam kamar Ulfa. Tary berjalan ke arah tempat tidur, saat Tary sudah berada di pinggir tempat tidur. Dia hanya melihat Ulfa yang tertidur di atas tempat tidur.


"Dek bangun." Tary menggoyang lengan Ulfa.


"Iya mbak." Ulfa membuka kedua matanya secara berlahan-lahan.


"Dek baby Jane kemana?" Tary berbicara sambil melihat ke arah Ulfa.


"Lah bukanya tadi baby Jane tidur di sebelah mbak." Ulfa bangun dari tidurnya lalu dia duduk di atas tempat tidur. Dia menoleh ke arah tempat tidur yang berada di samping nya.


"Iya, tapi sekarang baby Janenya gak ada." Wajah Tary terlihat panik.


"Lah terus baby Jane kemana mbak?"


"Gak tahu."


"Ayo kita cari baby Jane mbak!" Ulfa turun dari tempat tidur.


"Kita mau cari baby Jane dimana?"


"Di kamar ini dulu."


"Dek sedang apa?" Tary melihat Ulfa yang berjongkok di bawah tempat tidur sambil melihat ke kolong tempat tidur.


"Aku lagi cari baby Jane mbak di bawah kolong tempat tidur." Ulfa melihat di bawah kolong tempat tidur.


"Apa baby Jane ada di kolong tempat tidur?"


"Gak ada mbak." Ulfa mendongakkan kepalanya.


"Jadi gimana nih?" Tary melihat sekeliling kamar untuk mencari keberadaan baby Jane tetapi tidak ada.

__ADS_1


"Coba kita cari di kamar tamu mbak." Ulfa sudah berdiri di pinggir tempat tidur.


"Ayo kita kesana!" Tary menggandeng tangan Ulfa lalu mereka berjalan ke arah pintu kamar.


Mereka sudah berdiri di depan pintu kamar tamu, om dan bibik tidak mengizinkan Tary, Zainel dan baby Jane pulang sehingga mereka menginap di rumah bibik dan om. Tary dan baby Jane tidur di kamar Ulfa bersama dengan Ulfa sedangkan Zainel tidur di kamar tamu yang berada di sebelah kamar Ulfa.


"Mbak tunggu apa lagi? cepatan ketuk pintu kamarnya." Ulfa mendesak Tary untuk mengetuk pintu kamar tamu.


Tok....... Tok


"Zainel." Tary mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama Zainel. Tetapi tidak ada jawaban dari Zainel.


"Mbak coba ketuk pintu kamarnya lagi."


"Masih sama." Tary kembali mengetuk pintu kamar tamu, tetapi sudah dua kali tidak ada respon dari dalam.


"Kalau begitu lebih baik kita langsung masuk aja mbak." Ulfa yang tidak sabaran ingin segera masuk kedalam kamar tamu, Ulfa sudah memegang gagang pintu kamar.


"Tunggu dulu, Zainel aku masuk." Tary menghentikan Ulfa untuk membuka pintu kamar, Setelah itu Tary berbicara bahwa dia akan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Mbak coba lihat tempat tidurnya kosong." Ulfa melihat kearah tempat tidur, disana dia tidak melihat ada orang.


"Iya, terus kemana perginya Zainel?" Tary menoleh ke arah tempat tidur, dia tidak mendapati Zainel berada di atas tempat tidur.


Setelah mereka keluar dari kamar tamu, mereka memutuskan berpencar mencari keberadaan Zainel. Tary mencari Zainel ke ruangan tamu sedangkan Ulfa mencari Zainel ke ruangan keluarga. Ulfa berjalan terlebih dahulu di ruangan keluarga saat Ulfa sudah berada di ruangan keluarga dia tidak menemukan siapa-siapa di ruangan tersebut.


Tary sudah di tiba di ruangan tamu dia melihat Zainel yang sedang tertidur di sofa dengan posisi duduk sambil mengendong baby Jane. Tary merasa legah melihat Zainel dan baby Jane berada di ruangan tamu. Tary berjalan dengan berjinjit agar tidak menimbulkan suara, Tary tidak ingin mereka terbangun karena mendengar suara langkah kaki Tary.


Tary sudah berdiri di hadapan mereka, Tary memperhatikan papa dan anak yang sedang tertidur di sofa.


"Tampan." Tary terus saja memperhatikan wajah Zainel, walaupun Zainel sedang tertidur tetapi kadar ketampanan tidak berkurang sama sekali malah Zainel semakin tampan saat terlihat sedang tidur.


"Kamu memang penyayang, sama bayi yang asal usulnya tidak jelas saja kamu begitu menyayanginya apalagi sama anak kamu sendiri." Tary berbicara sambil menatap wajah Zainel.


"Ah aku ini mikirin apa sih?"Tary memukul kepalanya sendiri karena pikirannya telah jauh.

__ADS_1


"Eh ternyata di sini orangnya."Setelah tidak menemukan Zainel di ruangan keluarga Ulfa mencari keberadaan Zainel di dapur dan kamar mandi. Tetapi Ulfa tidak menemukan keberadaan Zainel di dapur ataupun kamar mandi. Sehingga Ulfa memutuskan untuk pergi keruangan tamu. Saat Ulfa sudah berada di ruangan tamu dia melihat Tary yang sedang berdiri di hadapan Zainel dan baby Jane yang berada dalam gendongan Zainel. Ulfa berjalan dengan kaki berjinjit ke arah Tary. Ulfa sudah tiba di belakang Tary lalu dia menepuk bahu Tary.


"Astagfirullah."Tary terkejut saat bahunya di tepuk oleh seorang.


"Mbak Tar ini aku, habis mbak terlalu fokus ngelihat mas Zai sampai gak sadar bahwa aku datang."


"Uh ternyata adek ngagetin mbak aja." Tary berbalik badan sambil memegang dadanya lalu dia melihat Ulfa yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Cie cie cie kayak mbak suka ya sama mas Zai." Ulfa meledek Tary.


"Adek kalau ngomong jangan ngacok deh." Wajah Tary berubah jadi tersipu-sipu malu.


"Aku gak ngacoknya, tuh buktinya aja wajah mbak tersipu-sipu malu." Ulfa melihat wajah Tary yang tersipu-sipu malu sehingga dia terus saja mengoda Tary.


"Mana ada, sudah sudah jangan ngeledekin mbak. Ini sudah malam sana balik ke kamar adek terus tidur besok pagi mau sekolah."Tary menyuruh Ulfa untuk kembali ke kamarnya.


"Aku masih mau di sini ngelihatin mas Zain, kalau mbak gak mau sama mas buat aku aja."Ulfa berbicara sambil melihat ke arah Zainel yang sedang tertidur.


"Kamu itu masih kecil gak boleh kecentilan." Tary menjewer telinga Ulfa.


"Aduuuh sakit, mbak lepasin." Ulfa meringis kesakitan karena telinga di tarik oleh Tary.


"Gak mau, maka nya jadi bocil jangan kencentilan." Tary yang enggan melepaskan tangannya dari telinga Ulfa.


"Apa mbak cemburu sama aku?"


"Gak."


"Kalau gak cemburu kenapa mbak jewer telinga aku?"


"Mbak gak suka aja ngelihat bocil kayak kamu udah kecentilan."


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2