
"Ry mengenalmu secara virtual tapi Ry menyayangimu secara nyata."
Zainel berjalan meninggalkan Tary yang berdiri sambil mengendong baby Jane.
"Kamu mau kemana?" Melihat Zainel berjalan pergi meninggalkan dirinya.
Zainel terus saja berjalan tanpa menanggapi ucapan Tary, dia berjalan ke arah rak sebelah nya. Tary yang penasaran pun menyusul Zainel, Tary berjalan di belakang Zainel. Zainel sudah berada di depan rak tersebut, dia mengambil beberapa potong pakaian bayi perempuan dari rak tersebut.
"Kamu sedang apa?" Tary sudah berdiri di belakang Zainel.
"Aku membeli beberapa potong pakaian untuk baby Jane." Zainel membalikkan lalu dia menujukan beberapa potongan pakaian bayi yang berada di tangannya.
"Wah kamu tahu saja yang di butuhkan baby Jane." Tary merasa salut dengan sikap Zainel yang mengerti akan kebutuhan baby Jane.
"Iyalah kan aku papanya baby Jane, apa ada lagi yang mau kamu beli?"
"Tidak ada." Tary mengelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita bayar ke kasir!" Zainel berjalan terlebih dahulu menuju ke kasir.
Zainel sudah berdiri di depan meja kasir di meletakkan semua pakaian bayi perempuan yang berada di tangan nya ke atas meja kasir. Sementara Tary tiba-tiba berhenti berjalan saat melihat jaket bayi.
Tary melihat jaket bayi yang tergantung di dinding toko pakaian bayi.
"Hah jadi pengen beli satu buat baby Jane." Melihat jaket bayi dengan model seperti itu membuat Tary ingin membeli satu buat baby Jane.
"Aku mau beli warna apa nih buat baby Jane?" Tary memegang jaket bayi tersebut yang ada tiga warna coklat, putih dan abu-abu.
"Ah kalau warna putih nantik cepat kotor."
"Abu-abu atau coklat?" Tary tampak berpikir untuk memiliki antara warna abu-abu atau coklat.
Sementara di depan meja kasir, si kasir yang merupakan seorang perempuan melihat satu persatu bandol harga yang terdapat pada pakaian tersebut. Setelah itu si kasir mulai menghitung semua harga pakaian tersebut. Kasir memberitahukan total harga semuanya kepada Zainel.
Setelah itu Zainel mengeluarkan dompet yang berada di saku celananya, Zainel mengeluarkan lima lembaran uang kertas berwarna. Zainel memberikan lima lembar uang kertas berwarna merah kepada si kasir, si kasir mengambil uang kertas dari tangan Zainel.
"Ini kembalianya." Si kasir memberikan dua lembar uang kertas, selembar uang kertas berwarna hijau dan selembar lagi uang kertas berwarna ungu.
"Terimakasih." Zainel mengambil uang yang berada dari tangan si kasir.
__ADS_1
"Sama-sama, ini pakaiannya." Si kasir memasukkan semua pakaian yang berada di atas meja kasir ke dalam sebuah kantong plastik yang berukuran besar sehingga semua pakaian yang berada di atas meja kasir bisa masuk semua. Si kasir memberikan kantong plastik kepada Zainel.
"Iya." Zainel mengambil kantong plastik dari tangan si kasir. Saat Zainel hendak membalik badan.
"Kak hitung ini." Tary yang sudah berada di samping Zainel meletakkan jaket bayi di atas meja kasir.
"Baiklah."Si Kasir melihat bandol harga pada jaket bayi tersebut, setelah itu dia menyebutkan kepada harga yang harus di bayar.
"Biar aku yang bayar." Zainel mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari saku baju.
"Tidak usah biar aku saja yang bayar." Tary menolak Zainel yang ingin membayarkan jaket baby Janet, Tary juga mengeluarkan uang dari saku celananya.
"Ini uangnya." Zainel tidak memperdulikan ucapan Tary, dia mengulurkan uang ke arah si kasir.
"Jangan di terima, ini terima uangku." Tary melarang si kasir mengambil uang dari tangan Zainel malah Tary menyuruh si kasir untuk menerima uang dari tangannya.
"Hah." Si kasir terlihat bingung sambil menoleh ke arah Zainel dan Tary secara bergantian.
"Gak usah bingung, cepatan ambil uangnya." Zainel melihat wajah si kasir yang terlihat bingung, lalu dia meminta si kasir untuk tidak bingung . Zainel menyuruh si kasir untuk mengambil uang yang berada di tangannya.
"Jangan di ambil kak, uangku saja yang di ambil." Tary melarang si kasir mengambil uang dari tangan Zainel, lalu dia menyuruh si kasir mengambil uang dari tangannya.
Si kasir makin di buat bingung menghadapi mereka yang masih memperebutkan uang yang di pakai untuk membayar jaket bayi.
"Kalau kalian mau berdebat jangan di sini, cepat selesai kan pembayaran." Si ibuk tersebut menghentikan perdebatan mereka, si ibuk menyuruh mereka untuk menyelesaikan pembayaran.
"Aku juga mau bayar."
"Apa kalian dengar?"
Mereka hanya mengangguk kepala secara bersamaan sebagai tanda Iya. Zainel membungkukkan kepalanya lalu dia mendekat bibir nya ke arah telinga Tary. Zainel membisikkan sesuatu ke telinga Tary, setelah mendengar bisikan dari Zainel dia menarik tangan yang berada di depan meja kasir.
Esokan pagi semua karyawan hotel S berkumpul di room. Pagi ini mereka sengaja di kumpulankan di room untuk menyambut kedatangan manager baru.
"Menurut kalian manager barunya perempuan atau laki-laki?"
"Laki-laki."
"Perempuan."
"Semoga saja manager baru nya seorang perempuan."
__ADS_1
"Kenapa kamu berharap manager baru seorang perempuan?"
"Biar aku semangat bekerja nya."
"Apalagi kalau cantik dan seksi."
"Makin betah aku berlama-lama kerjanya."
"Kalau aku sih mau perempuan atau laki-laki gak jadi masalah asalkan dia jauh lebih baik di bandingkan manager yang lama."
Zainel hanya diam sambil mendengarkan beberapa karyawan hotel membahas manager baru. Seorang berjalan melangkah kaki menuju ke arah room tersebut.
Tak............. Tak
Terdengar langkah kaki seorang yang menggunakan high heels. Beberapa karyawan yang masih sibuk berbicara tidak menyadari kehadiran seorang yang sudah memasuki room.
"Selamat pagi semuanya." Seorang sudah berdiri di hadapan semua karyawan.
"Selamat pagi juga buk." Mendengar suara seorang, mereka semua menoleh ke arah sumber suara tersebut. Mereka mendapati seorang perempuan cantik dan seksi berdiri di hadapan mereka.
"Perkenalkan nama saya Fitri Yani, biasa di panggil Pipit. Umur saya 23 tahuan, saya tinggal di komplek perumahan yang berada dekat dengan hotel S. Saya manager baru yang mengantikan manager lama mulai hari ini. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan saya untuk memajukan hotel ini, Apa kalian bersedia bekerja sama di bawah kepimpinan saya?"
"Kami semua bersedia buk."
"Baguslah kalau seperti itu, saya berharap kalian semua bisa memberikan kinerja yang terbaik bagi para tamu hotel ini. Sehingga para tamu merasa puas dengan layanan hotel S lalu mereka akan kembali lagi hotel ini."
"Apakah kalian semua mengerti?" Fitri berbicara dengan suara yang lantang kepada semua karyawan yang berada di room tersebut.
"Mengerti ibuk." Mereka semua berbicara dengan serentak.
"Baiklah kalau kalian sudah mengerti, sekarang kalian semua bisa kembali bekerja." Fitri menyuruh mereka semua untuk kembali bekerja.
Seluruh karyawan hotel S berjalan menuju ke arah pintu, saat mereka sudah berada di depan pintu mereka berdesak-desakan untuk bisa melewati pintu tersebut.
"Kalian jangan berdesak-desakan di depan pintu." Fitri yang melihat karyawan hotel S berdesak-desakan di depan pintu menegur mereka. Sehingga mereka tidak lagi berdesak-desakan di depan pintu.
Siang harinya Zainel sedang berdiri di depan pintu lift, dia memencet tombol lift. Dia berdiri sambil menunggu pintu lift yang berada di depannya terbuka.
Ting............ Tong
Terdengar suara pintu lift terbuka, melihat pintu lift terbuka Zainel membawak peralatan bersih-bersih sambil berjalan masuk ke dalam lift. Setelah Zainel masuk kedalam lift pintu lift tertutup.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu?" Seorang perempuan yang berada di dalam lift menatap wajah Zainel.
...~ Bersambung ~...