PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Aku Tidak Baik-Baik Saja?


__ADS_3

"Dari martabak kita belajar, bahwa yang spesial aja masih bisa di kacangin."


Zainel melihat ke arah kedua ibuk itu yang baru masuk di Ampera. Zainel mengenali kedua ibuk tersebut karena mereka tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Zainel dan Tary.


"Ibuk-ibuk, ayo makan !" Ajakan Zaniel.


"Tidak sudi kami makan bareng dia."Si ibuk itu berbicara sambil menujuk jari telunjuk ke arah Tary.


"Kenapa?"


"Pasti kamu tidak tahu, kalau dia itu perempuan tidak benar."


"Hah, perempuan tidak benar bagaimana maksud ibuk?" Zainel tidak mengerti maksud ucapan si ibuk.


"Apa kamu tidak tahu bahwa dia sudah hamil di luar nikah bahkan dia sudah memiliki anak?"


"Hah Hamil di luar nikah, punya anak."Zainel terkejut mendengar penuturan si ibuk tersebut, sambil dia mengulang ucapan si ibuk tersebut.


"Iya, apa kamu mau tahu anak itu berada di mana?"


Zainel hanya terdiam sambil mencerna setiap ucapan si ibuk tersebut.


"Anak yang berada dalam gendong mu itu anak nya."Si ibuk itu berbicara sambil menujukan jarinya ke arah baby Jane.


"Apa ibuk punya bukti kalau baby Jane anak Ry?"


Zainel merasa jengah dengan ucapan si ibuk tersebut sehingga dia melontarkan pertanyaan kepada si ibuk tersebut.


"Apa kamu tidak lihat wajah mereka berdua mirip seperti ibu dan anak?"


Beberapa pengunjung Ampera menoleh ke arah mereka lalu mereka menatap wajah baby Jane berada di gendong Zainel setelah itu beralih menatap wajah Tary.


Terlihat mirip


Seperti ibu dan anak


"Tapi itu tidak bisa di jadikan bukti kalau mereka ibu dan anak, banyak orang di luar sana mirip tetapi tidak memiliki hubungan darah."


Mendapatkan pembelaan dari Zainel membuat Tary merasa legah.


Prok prok prok


"Wah, ternyata ada pahlawan kemalaman disini."Si ibuk yang satu lagi bertepuk tangan setelah itu dia bicara.


"Iya benar, udah tidak usah sok-sok jadi pahlawan kemalaman.Kamu pasti akan menyesal belain perempuan seperti ini."


Melihat Zainel di pojokin oleh kedua ibuk-ibuk itu, maka Tary pun diri dari bangku tempat duduk.


"Zaza, ayo kita pergi dari tempat ini!" Tary mengajak Zaza pergi dari Ampera.


Pelayan datang membawa makanan dan minuman yang mereka pesan. Pelayan meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


"Tapi makanan dan minumannya udah datang Ry."Zainel melihat pelayan yang meletakkan makan dan minum di atas meja


Melihat Zaza tidak beranjak dari tempat duduk nya, maka Tary pun melangkahkan kaki. Zainel melihat Tary sudah berdiri di depan meja kasir.

__ADS_1


Mau apa Dia di situ?


Apa Dia mau membayar semuanya?


Tary membalikkan badannya sekarang dia membelakangi meja kasir.


"Apa kamu masih mau makan di sini?" Belum sempat Zainel menjawab pertanyaan Tary.


"Kalau begitu aku pulang dulu."Setelah mengatakan itu Tary melangkahkan kaki keluar dari Ampera.


Tary sudah berada di atas motor sport milik nya, saat Tary hendak menyalakan motornya.


"Ry tunggu dulu."Zainel mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di parkiran.


Tary tidak jadi menyalakan motornya, dia menoleh ke arah belakang, dia mendapati Zainel yang sudah mendekati ke arahnya.


"Nunggu apa lagi Ry?"Zainel sudah berada di atas jok motor di belakang Tary.


"Ya nungguin kamu naik lah."


"Aku udah naik Ry."


Tary menyalakan motor sport lalu dia melajukan motornya ke arah jalan raya. Melihat motor sport miliknya di salip oleh motor lain di jalan raya membuat Tary menambah kecepatan motornya.


"Ry bawa motornya jangan ngebut, kita belum nikah."


Mendengar ucapan Zainel membuat Tary menginjam rem motor nya mendadak sehingga menimbulkan bunyi.


Ciiitt Ciiitt Ciiitt


"Kenapa ngerem mendadak Ry?"Tubuh Zainel terhuyun kedepan, untung saja tubuh baby Jane tidak sampai membentur punggung Tary.


"Jangan ngebut bawa motornya aku dan baby Jane belum mau mati Ry."


"Memangnya kamu pikir aku mau mati muda?"Tary berbicara dengan nada ketus kepada Zainel.


"Jangan lah, entar aku jadi duda beranak satu kalau kamu mati."


"Lah kok kamu jadi duda beranak satu sedangkan nikah aja kamu belum."


"Kan orang-orang mikirnya kita udah nikah."


Tary menghentikan laju motor sport nya sebab mereka sudah tiba di halaman rumah Tary.


"Lah, kamu nunggu apa lagi? cepatan turun dari motorku."Merasa tidak ada pergerakan dari Zainel yang berada di jok motor belakang nya, Tary pun menyuruh Zainel untuk turun.


"Ah kok cepat sih udah nyampai saja."Zainel masih ingin berlama-lama di bonceng oleh Tary, setelah mendengarkan ucapan Tary dengan berarti hati Zainel turun dari motor dengan mengendong baby Jane.


Tary memakirkan motor nya setelah itu Tary turun dari motornya.Tary membuka pintu rumahnya yang terkunci.


"Baby Jane sudah tidur, mau di letakan dimana?"


"Dalam kamar aku saja."


Setibanya Zainel di kamar Tary, dia melepaskan baby Jane dari gendongan. Zainel naik ke atas tempat tidur lalu dia meletakkan baby Jane di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Selamat malam anak papa."Zainel menarikmenarik selimut menutupi tubuh baby Jane.


"Semoga mimpi yang indah anak papa."Zainel tersenyum menatap wajah gembul baby Jane yang terlihat mengemaskan.


Cup


Zainel mengecup kening baby Jane sambil mengelus rambut bayi Jane yang sedikit.


"Jangan di ciumin terus entar baby Jane terbangun." Tary sudah berada di dalam kamarnya, Tary menegur Zainel yang sedang mengecup kening baby Jane.


Cup


Cup


Cup


Zainel tidak menghiraukan ucapan Tary, dia menghujani seluruh wajah baby Jane dengan ciuman. Zainel turun dari tempat tidur lalu dia berdiri di hadapan Tary.


"Ry."


"Apa?"


"Gak ada aku cuma manggil nama kamu aja." Zainel berbicara sambil menatap mata Tary.


"Yakin cuma itu saja."Tary juga menatap mata Zainel sehingga tatapan mata mereka saling beradu pandang.


"Gak sih."


"Terus apa?"


"Apa kamu baik-baik saja?"Zainel merasa khawatir kepada Tary.


"Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?"Bukannya menjawab pertanyaan Zainel tetapi Tary malah bertanya sebaliknya kepada Zainel.


"Apa kamu ada masalah?"


"Ada."


Nah benarkan perasaan aku kalau kamu punya masalah


Tary tipe orang yang tidak bisa punya beban pikiran apabila dia punya beban pikiran walau sekecil apapun dia akan tetap terpikir. Tary tipe orang yang pemikir.


Tary tidak bisa menyembunyikan masalah, apabila dia memiliki masalah bisa terlihat dari. sikapnya.


"Apa masalah kamu? Coba sini cerita sama aku, siapa tahu aku bisa membantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini.


"Dari tadi pagi sampai malam hari sebagian besar ibuk-ibuk komplek perumahan menatap aku dengan tatapan menjijikkan. Selain itu mereka melontarkan kata-kata kasar dan sindiran kepada ku. Aku bingung kenapa mereka bisa bersikap seperti itu kepada ku."Tary menceritakan keluh kesay kepada Zainel.


"Jadi dari tadi pagi kamu sudah mengalami hal yang tidak mengenakan dari sebagian ibuk-ibuk komplek ini."


"Iya benar, seumur hidup baru kali ini mereka bersikap seperti itu kepada aku.Terimakasih." Tary mengucapakan Terima kasih dengan perasaan tulus kepada Zainel.


"Buat apa?"Zainel masih binggung mendapatkan ucapan terimakasih dari Tary.


"Kamu tadi membela aku, sampai-sampai mereka mengatakan kamu pahlawan kemalaman."

__ADS_1


"Sama-sama Ry, lagian sudah seharusnya aku membela kamu."


~ Bersambung~


__ADS_2