PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Tangisan Bayi


__ADS_3

"Beli beras di campur ketan, naik becak sampai perempatan. Berkerja keras untuk masa depan, semoga yang baca di beri kesuksesan."


Hari-hari berlalu begitu cepat tidak terasa sudah dua bulan Zainel bekerja sebagai cleaning servis di hotel S. Setiap hari Zainel selalu menyempatkan diri untuk belajar mengaji di rumah pak ustadz. Apabila Zainel bekerja shift pagi maka malam dia belajar mengaji begitupun sebaliknya apabila Zainel shift malam maka siang hari dia belajar mengaji.


"Alhamdulillah sekarang kamu sudah fasih membaca alquran."


"Benar kah itu abang?" Zainel berbicara sambil menatap pak ustadz.


"Benar, selain bacaan ayat-ayat pendek kamu juga sudah tepat dan lancar."


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga abang." Zainel tersenyum.


"Kamu itu pintar dan cepat nangkap saat di ajarkan, sehingga kamu cepat bisa." Pak ustadz memuji Zainel.


"Ah abang bisa saja mujinya."Zainel merasa senang mendapat pujian dari pak ustadz.


"Kamu udah bisa jadi imam tinggal cari makmum nih." Goda pak ustadz.


"Maksudnya, bagaimana abang? saya belum paham." Kening Zainel berkerut mendengar ucapan pak ustadz.


"Ah, masak kamu gak paham dengan ucapan saya ."


"Benaran saya gak paham abang."


"Maksudnya abang, kamu sudah bisa cari calon istri Zai." Buk ustadzah sedang berdiri di ruangan tamu dengan membawa nampan yang berisi dua gelas kopi dan bakwan goreng.


"Apa ada perempuan yang mau dengan aku? sedangkan aku hanya bekerja jadi cleaning servis."


"Ada." Pak ustadz dan buk ustadzah serentak berbicara.


"Siapa perempuan yang mau dengan aku?'


"Tary." Lagi-lagi pasangan pasturi tersebut berbicara serentak.


"Hah, mana mau dia sama aku buktinya aja dia cuek banget sama aku."


"Maka nya itu kamu sebagai laki-laki itu harus punya inisiatif buat dekatin dia terlebih dahulu." Pak ustadz menyarankan agar Zainel mendekati Tary terlebih dahulu.


"Lagian bude juga udah ngasih lampu hijau buat kamu dekatin putri bungsunya." Buk ustadzah angkat bicara, meletakkan nampan di depan pak ustadz.


Setiap seminggu sekali Zainel mendapatkan libur kerja, seperti hari ini Zainel libur kerja. Sore harinya Zaine baru saja keluar dari pintu rumahnya dengan berpakaian rapi. Zainel mendengar bunyi klakson motor.


Tiiinn.......... Tiiinn


"Kamu mau kemana?" Zainel menoleh ke arah suara klakson motor.


"Kerumah teman. Kamu gak kerja?" Tary melihat Zainel keluar dari pintu rumah kontrak nya memberhentikan motornya lalu dia membunyikan klakson motornya.


"Aku lagi libur. Mumpung aku lagi libur kerja mau ngajak kamu makan di luar malam ini, bagaimana?"


"Maaf ya malam ini aku gak bisa, bagaimana kalau besok malam?"


"Besok malam aku gak bisa."


"Kenapa gak bisa?"

__ADS_1


"Aku kerja shift malam."


"Kalau gitu nunggu kamu libur lagi baru kita makan diluar, gimana?"


"Iya deh." Zainel berbicara dengan wajah lesu.


"Lain kali kalau ngajak aku jalan jangan mendadak kayak gini."


"Memang kamu mau kalau di ajak jalan sama aku?"


"Mau, kalau gak ada janji dengan orang lain."


"Apa kamu gak malu kalau jalan sama aku?"


"Gak lah, kenapa mesti malu?"


"Aku cuma cleaning servis hotel."


"Malah lebih bagus kamu dari pada aku cuma Pengacara yang masih menjadi beban orang tuaku."


Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah Zainel keluar dari mesjid.


"Kamu mau kemana?" Yudi menghampiri Zainel yang sudah berada di depan mesjid.


"Pulang."


"Apa kamu sudah makan?" Yudi sudah berdiri di samping Zainel.


"Belum."


"Setuju tapi malam ini biarkan aku yang traktir kamu."


Mereka sudah berada di depan warung pecal lele yang berada di pinggir jalan raya. Mereka sudah berada di dalam warung pecel lele, mencari bangku kosong.


"Abang sini." Seorang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka.


"Apa kamu mengenal perempuan itu? seperti dia memanggil kamu." Zainel melihat ke arah si perempuan yang tidak dia kenal lalu dia menyenggol lengan Yudi.


"Iya dia teman kuliah. Ayo kita kesana!" Yudi menoleh ke arah si perempuan tersebut ternyata dia Yeni teman kampusnya waktu kuliah dulu. Dia berjalan menghampiri Yeni.


"Iya." Zainel berjalan mengikuti Yudi yang berada di depannya.


"Apa kami boleh duduk di sini?" Yudi berdiri di hadapan Yeni.


"Boleh abang."


"Kamu kesini sama siapa?" Yudi duduk di bangku yang berada di hadapan Yeni.


"Teman aku, dia siapa?" Yeni melihat ke arah Zainel yang duduk di samping Yudi.


"Dia teman kerja aku."


"Perkenalkan nama aku Yeni." Yeni mengulurkan tangannya ke arah Zainel.


"Zainel." Zainel menjabat tangan Yeni setelah itu dia melepaskan jabatan tangan Yeni.

__ADS_1


"Apa abang Zainel udah punya pacar?"


"Sudah."


"Aduh patah hati Yeni jadinya." Yudi meledek teman kuliah.


"Gak lah abang."


"Lah terus kenapa kamu nanya Zainel udah pacar?"


"Tadinya kalau teman abang jomblo mau aku jodohkan dengan teman aku yang jomblo."


"Memang teman kamu itu siapa namanya?" Yudi penasaran dengan teman Yeni.


"Nah itu dia abang." Yeni menujuk ke arah seorang perempuan yang berjalan ke arah mereka.


"Tary." Mereka membalikan badan secara bersama melihat ke arah si perempuan tersebut, mereka menyebut nama perempuan itu secara bersamaan.


"Abang Zaine kenapa bisa kenal dengan Tary?" Yeni terkejut saat mengetahui Zainel kenal dengan Tary.


"Aku tinggal di rumah kontrakan mama Tary."


"Jadi kalian sdah saling kenal?" Tary melihat ke arah Zainel dan Yudi secara bergantian.


"Sudah, jadi kamu janjian sama teman itu dia." Zainel membalikkan badan ke arah Yeni.


Seminggu kemudian hari ini Zainel mendapatkan shift pagi sehingga sore harinya dia harus pulang. Saat Zainel sudah berganti pakaian dan mengambil tas di lokernya.


"Kamu mau kemana?" Seorang yang pria yang berdiri di belakang Zainel.


"Pulang pak."


"Hari ini kamu lembur, jadi belum boleh pulang."


"Kenapa saya lembur pak?"


"Kita kekurangan karyawan untuk membersihkan ruangan yang sedang di pakai untuk acara resepsi pernikahan."


Tengah malam Zainel berjalan melewati jalan komplek perumahan yang terlihat sepi. Zainel merasa kelelahan karena dari pagi hingga malam dia sama sekali tidak beristirahat.


"Untung saja tadi kami di kasih tips oleh orang tua yang anak resepsi pernikahan di ruangan itu."


"Lumayan lah obat capek." Zainel tersenyum mencium dua lembar uang kertas berwarna merah dengan mulutnya.


Zainel sudah berada di dekat rumah kontrakan tiba-tiba air dari atas langit berjatuhan. Zainel berlari ke arah rumah kontrakan. Zainel sudah tiba di teras rumahnya hujan pun bertambah deras.


Oeak


Oeak


Oeak


Zainel mendengar suara tangisan bayi, Zainel menoleh ke arah sumber suara tersebut. Tepat di depan pintu rumah kontrak Zainel terdapat sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Zainel berjalan mendekati pintu rumah untuk melihat isi dari keranjang tersebut.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2