
"Lelahku untuk masa depan mu dan senyummu adalah semangatku."
Zainel terdiam sambil memikirkan ajakan Yudi, Zainel merasa sungkan untuk menerima ajakan Yudi makan siang bersama.
"Udah gak usah kebanyakan mikir mendingan kamu ikut aku makan siang bersama." Yudi menarik tangan Zainel untuk ikut makan siang di rumahnya.
"Tapi____." Zainel enggan untuk beranjak pergi dari tempat tersebut.
"Gak ada tapi, Ayo kamu ikut aku!" Yudi menarik tangan Zainel dengan kencang.
"Iya aku ikut, tapi lepasin tangan aku." Zainel mencoba melepaskan tangan Yudi dari tangannya.
"Baiklah." Yudi melepaskan tangannya dari tangan Zainel.
Sore harinya jama kerja shift pagi sudah berakhir mereka sudah di perbolehkan pulang. Mereka berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pulang. Setelah berganti pakaian Zainel berjalan keluar dari hotel melewati pintu belakang hotel. Zainel terus saja berjalan ke arah pos security.
"Sore pak." Zainel berhenti berjalan saat tiba di depan pos security.
"Sore, sebelum kamu melewati pos ini. Saya harus melakukan pemeriksaan kepada kamu." Si pak security keluar dari pos, dia sudah berdiri di hadapan Zainel.
"Baiklah pak."
"Angkat kedua tangan kamu."
"Baiklah pak." Zainel mengangkat kedua tangannya.
"Kamu sudah boleh pergi." Si pak security memeriksa semua saku baju dan celana yang di kenakan oleh Zainel, Si pak security tidak menemukan apa-apa lalu dia menyuruh Zainel pergi.
Zai berjalan kaki melewati gapura komplek perumahan.
"Kamu kenapa pulang duluan? padahal dari tadi aku cariin kamu." Yudi memberhentikan motornya di samping Zainel.
"Aku kira kamu sudah pulang duluan." Zainel berhenti berjalan menoleh ke arah Yudi.
"Ayo naik ke atas motor aku! lagian rumah kita searah." Yudi menyuruh Zainel untuk naik ke atas motornya.
"Baiklah." Zainel naik ke atas motor Yudi.
Malam harinya Tary tengah asik sedang menonton drakor di televisi yang berada di ruangan keluar sambil rebahan. Tiba-tiba saja listrik padam sehingga semua ruangan yang berada di rumah Tary terlihat gelap. Tary segera meraba bagian samping bantan untuk mencari ponselnya.
"Uh ketemu juga." Tary sudah menemukan ponselnya lalu dia menyalakan senter di ponselnya.
Zainel yang baru pulang dari rumah pak ustadz berjalan kaki menuju ke arah rumahnya. Saat Zainel sudah berada di dekat rumah nya, dia melihat ke arah rumah pemilik kontrakan terlihat gelap sementara di rumah yang lain lampunya menyala.
Tok......... Tok
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Zainel berdiri di depan pintu rumah sambil mengetuk pintu.
"Walaikumsalam."Tary berdiri sambil memegang ponselnya, dia membuka pintu rumahnya.
"Kenapa listrik di rumah kamu padam?"
"Hah, apa?" Tary berjalan keluar dari pintu rumah lalu dia terkejut saat melihat ke arah rumah tetangga yang lampu nya menyala.
"Sepertinya ada masalah dengan listrik di rumah kamu?"
"Apa kamu bisa memperbaiki listrik di rumah aku?" Tary menoleh ke arah Zainel.
"Dimana meteran listrik nya?"
"Itu di dinding samping pintu rumah." Tary berjalan mendekati amper listrik lalu dia mengarahkan cahaya senter ke arah meteran listrik.
"Biar aku lihat dulu." Zainel sudah berdiri di depan meteran listrik, Zainel mencoba membolak balikan amper yang berada di meteran listrik.
"Bagaimana?" Tary sudah berdiri di samping Zainel, Tary mendongakan wajahnya melihat ke arah meteran listrik.
"Aku tidak bisa, amper nya rusak."
"Terus gimana?"
"Kamu hubungi aja call center pln."
📞"Kami akan mengirim orang untuk memeriksa keadaan listrik di rumah kakak."
📞"Kapan?"
📞"Mungkin tengah malam, karena orang yang akan kirim ke sana masih memeriksa di daerah lain yang terlebih dahulu menelpon kak."
📞"Mohon kak besar menunggu orang yang kami kirim buat memeriksa keadan listrik rumah kak."
📞"Baiklah kalau seperti itu." Setelah mengatakan itu Tary mematikan panggil telpon nya.
"Apa kata call center?" Zainel menoleh ke arah Tary.
"Di suruh nunggu sampai tengah malam." Tary berjalan ke arah kursi yang berada di teras rumahnya.
"Bagimana kalau aku temani kamu di sini?"
"Tidak usah biar aku tunggu sendiri saja."
"Kamu yakin mau nunggu di gelap sendirian kayak gini." Zainel duduk di kursi yang berada di samping Tary.
__ADS_1
"Yakin lah."
"Berarti kamu tidak takut gelap, kalau Lea takut kegelapan. Lea pasti akan kesulitan bernapas di kegelapan." Zainel teringat kepada Lea yang mengalami trauma akan kegelapan.
"Jadi adek kamu takut kegelapan, btw apa aku boleh tanya sesuatu kepada kamu?"
"Boleh kamu tanya apa?"
"Apa kamu kabur dari rumah karena di jodoh oleh orang tua kamu?"
"Hah, kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" Zainel terkejut saat mendapatkan pertanyaan dari Tary.
"Aku tahu kamu berasal dari anak orang kaya?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Telapak tangan kamu begitu halus dan lembut saat kita berjabat tangan."
"Aku tidak kabur dari rumah."
"Terus kenapa?" Tary menjadi penasaran ingin mengetahui tentang Zainel.
"Aku di usir dari rumah oleh Daddy."
"Apa kamu sudah melakukan kesalahan sehingga di usir oleh Daddy kamu?"
"Sebelum nya aku itu nonis, beberapa bulan yang lalu motor aku tiba-tiba mogok lalu aku mendorong motor ke arah pinggir jalan raya. Karena cuaca saat itu begitu terik aku mencari tempat berteduh di depan aku ada sebuah mesjid jadi aku mendorong motor ke arah mesjid yang berada di depan sana. Setelah aku sampai di mesjid aku mendengar suara seorang sedang adzan di sana, setelah itu beberapa orang mulai berdatangan ke mesjid tersebut. Aku memperhatikan yang mereka lakukan di dalam mesjid tersebut."
"Waktu itu aku tidak tahu shalat itu apa, sehingga aku penasaran dan mencari tahu tentang shalat dari browsing di internet. Akhirnya aku mengetahui tentang shalat, sebulan kemudian di dalam sebuah mesjid yang berbeda aku melihat beberapa bocil dengan seorang pak guru sedang belajar membaca sesuatu yang bahasa sulit aku mengerti."
"Mereka membaca al-quran."
"Iya kamu betul, mereka membaca alquran yang merupakan kita suci umat islam. Aku semakin tertarik untuk mempelajari tentang agama Islam. Sehingga akhirnya aku memutuskan untuk menjadi mualaf."
"Masyallah jadi kamu seorang mualaf." Tary kagum mendengar cerita Zainel yang memutuskan menjadi mualaf.
"Aku seorang mualaf."
"Sudah berapa lama kamu menjadi mualaf?'
"Kira-kira empat bulan lalu."
"Pasti kamu di usir dari rumah oleh Daddy karena kamu menjadi mualaf."
"Kenapa kamu bisa tahu?"
__ADS_1
"Karena kebanyakan orang yang menjadi mualaf, biasanya keluarganya akan marah lalu mereka akan mengusir dari rumah oleh keluarga nya.
...~Bersamabung ~...