
"Sorry, aku hanya bisa menjadikanmu yang kedua karena yang pertama bagiku tetap Tuhan Yang Maha Esa."
"Kamu kenapa ngucap?" Zainel bingung melihat respon Yudi saat melihat foto yang berada di ponselnya.
"Jadi, apa itu balon yang kamu maksud tadi?"Yudi terkejut saat mendapati balon yang ada di pikirannya berbeda dengan balon yang di maksud oleh Zainel.
"Iya, kenapa memangnya?" Zainel masih penasaran melihat respon Yudi yang tampak terkejut saat melihat foto tersebut.
"Asal kamu tahu yang ada di foto ini itu bukan balon."
"Lah kalau bukan balon terus itu apa?"
"Apa kamu tidak tahu ini apa?" Yudi menunjukan foto yang berada di ponsel Zainel kepada Zainel
"Itu balon." Zainel dengan enteng mengatakan bahwa itu balon.
"Bukan Zai, ini bukan balon. Apa kamu tidak tahu ini benda apa?" Yudi bertanya sekali kepada Zainel untuk memastikannya.
"Tidak, kalau ini bukan balon lalu apa ?"Zainel menggelengkan kepalanya.
"Sarung."
"Hahahaha, kamu bisa aja bercandanya." Zainel terkekeh geli saat Yudi mengatakan bahwa benda itu sarung.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?" Yudi menatap mata Zainel dengan tatapan serius.
"Gak, tapi itu benda tidak mirip kain sarung lebih mirip balon."
"Huft, apa kamu waktu sekolah tidak pernah belajar sistem reproduksi manusia?" Yudi menarik nafasnya lalu dia menghembuskan nafasnya baru lah dia berbicara kepada Zainel.
"Gak." Zainel menggelengkan kepalanya.
"Memang kamu dulu sekolah menengah umum jurusan apa?"
"Ips, kalau kamu jurusan apa?"
"Ipa, uh pantas aja kamu gak tahu ternyata anak ips."
"Menangnya kenapa kalau aku anak ips?"
"Kamu pasti tidak mempelajari tentang sistem reproduksi manusia."
"Aku memang tidak mempelajari itu karena itu bukan jurusan aku."
"Walaupun itu bukan jurusan kamu harusnya kamu mencari tahu juga tentang sistem reproduksi manusia."
"Buat apa?"
"Hah, itu penting agar kamu gak polos-polos banget kayak gini." Yudi makin pusing dengan kepolosan Zainel sehingga dia menguyur rambutnya kebelakang.
"Hah, makin ke sini aku kok semakin gak ngerti dengan ucapan kamu."Zainel semakin bingung dengan ucapan Yudi.
"Kamu itu laki-laki masak sarung aja gak tahu."
"Kata siapa aku gak tahu sarung itu apa."
"Memang nya sarung itu apa?"
"Sarung itu di pakai untuk menutup aurat dari pinggang hingga ujung mata kaki saat melaksanakan shalat."
"Aduh bukan kain sarung yang aku maksud, tapi sarung." Yudi menepuk jidatnya karena sarung yang di pikirkan dengan sarung Zainel pikirkan itu berbeda.
__ADS_1
"Memang sarung yang kamu masuk itu sarung apa sih?" Zainel penasaran dengan sarung yang di maksud.
"Ah nih anak benar-benar polos banget sih jadi orang."
"Maka kasih tahu aku tentang sarung yang kamu maksu itu."
"Sini kamu biar aku bisikan." Yudi menyuruh Zainel untuk mendekati dirinya karena dia mau membisikkan sesuatu.
"Kenapa harus pakai bisik-bisik sih? kayak lagu aja bisik-bisik tetangga yang sering di dengarin bibik.
"Kamu mau aku kasih tahu apa gak nih?"
"Ya mau lah, soal nya aku masih penasaran dengan sarung yang kamu maksud."
"Ya udah sini biar aku bisikan."
"Ya" Zainel maju selangkah sehingga posisi mereka sudah berdekatan.
Yudi mendekatkan mulutnya ke telinga Zainel lalu dia memberitahukan sarung yang di maksud kepada Zainel. Yudi juga memberitahukan kegunaan sarung tersebut kepada Zainel. Zainel yang mendengar penuturan Yudi bola matanya membulat selain itu dia juga menutup mulut yang tadi terbuka dengan telapak tangannya.
Di waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda Tary sedang mengendong baby Jane sambil menyapu lantai teras rumah.
"Baby Jane." Seorang ibuk berhenti berjalan saat melihat Tary sedang menyapu sambil mengendong baby Jane di teras rumah.
"Iya ibuk." Tary berhenti menyapu lalu dia menoleh ke arah si ibuk yang memamggil baby Jane.
"Lagi ngapain Tar?" Si ibuk berjalan mendekati Tary dan baby Jane.
"Nyapu, ibuk mau kemana?" Tary melihat si ibuk sudah berada di hadapan nya.
"Warung, wah wanginya baby Jane." Si ibuk mencium pipi gembul baby Jane yang penuh dengan bedak bayi di pakai oleh Tary.
"Kan baby Jane udah aku mandiin buk."
"Aku memang mandi ibuk." Tary tersenyum sambil cengengesan.
"Isis dasar jorok jadi anak gadis jam segini belum mandi, pantas aja gak ada cowok yang mau dengan kamu." Si ibuk terus saja mengerocos tanpa henti kepada Tary.
"Aku memang jorok buk maka nya gak ada cowok yang mau dengan aku." Tary sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan si ibuk tersebut malah Tary membenarkan ucapan si ibuk tersebut.
"Bagus lah kalau kamu sadar diri." Ketus si ibuk tersebut.
"Baby Jane nantik kalau sudah besar jangan seperti mama Tar ya." Si ibuk tersebut berbicara sambil melihat baby Jane yang berada di gendongan Tary.
"Mama mama mama." Baby Jane menyebut mama dengan celotehan bayi.
Siang harinya waktu jam makan siang motor yang dikendarai oleh Zainel sudah tiba di halaman rumah Tary. Tary yang mendengar suara motor miliknya membuka pintu rumah. Setelah pintu rumah terbuka Tary berjalan melewati pintu rumah tersebut.
"Akhirnya kamu pulang juga." Tary menghampiri Zainel yang masih berada di atas motor.
"Assalamu'alaikum." Zainel memakirkan motor lalu dia turun dari motor.
"Walaikumsalam."
"Anak papa lagi ngapain?" Zainel melihat baby Jane yang berada dalam kain gendongan.
"Lihat nih anak kamu dari tadi gak mau di taruk di atas tempat tidur mau nya di gendong terus." Tary yang langsung ngerocos kepada Zainel.
"Sini baby Jane sama papa." Zainel tidak menanggapi ocehan Tary, lalu dia mengambil baby Jane dari gendong Tary.
"Apa kamu udah makan?" Zainel mengendong baby Jane.
__ADS_1
"Boro-boro mau makan, mau mandi aja aku gak bisa."
"Hah, apa kamu belum mandi?" Zainel menoleh ke arah Tary yang masih memakai pakaian piyama tidur yang dia pakai tadi malam sampai pagi.
"Belum." Tary berbicara dengan wajah cemberut.
"Kenapa belum mandi?"
"Anak kamu itu dari tadi gak mau tidur, aku tinggal buang air kecil aja dia nangis."
"Ya udah sana kamu mandi biar baby Jane sama aku." Zainel menyuruh Tary untuk mandi.
"Gak usah kamu suruh juga nih aku mandi habis udah gerah badan aku pengen mandi." Tary melengos pergi.
Di ruangan keluarga rumah Tary, Zainel mengendong baby Jane sambil memegang botol dodot yang di isap oleh baby Jane. Zainel melihat baby Jane matanya masih melek sehingga Zainel menyanyikan sebuah lagu.
🎵Allahul kaafii rabbunal kaafi
🎵Qashadnal kaafi wajadnal kaafi
🎵Likullin kaafi kafaa nal kaafi
🎵Wa ni’mal kaafi Alhamdulillah
🎵Allahul kaafii rabbunal kaafi
🎵Qashadnal kaafi wajadnal kaafi
🎵Likullin kaafi kafaa nal kaafi
🎵Wa ni’mal kaafi Alhamdulillah
🎵Jangan duduk di depan pintu
🎵Lihat debu ambilah sapu
🎵Hiasi hidup dengan ibadahmu
🎵Jangan tinggalkan sholat lima waktu
🎵Sungguh indah main di taman
🎵Kupu-kupu berterbangan
🎵Seitap hari bacalah Quran
🎵Jangan lupa sholawatan
🎵Allahu kaafii rabbunal kaafi
🎵Qashadnal kaafi wajadnal kaafi
🎵Likullin kaafi kafaa nal kaafi
🎵Wa ni’mal kaafi Alhamdulillah
Zainel melihat baby Jane yang berada dalam gendong sudah terlelap tidur, Zainel melepaskan botol dodot dari mulut baby Jane.
"Apa baby sudah tidur?"
"Astagfirullah, sudah." Zainel menoleh ke arah Tary, dia terkejut saat menoleh ke arah Tary sehingga dia segera membuang wajah nya untuk melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Kamu kenapa terkejut seperti itu melihat aku?"
...~ Bersambung ~...