
"Penyanyi terbaik adalah nyamuk, suka tidak suka, kita harus bertepuk tangan."
"Apa Ry udah ngatuk."
"Belum, kenapa memang nya?"
"Ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Zaza mau ngomong apa?"
"Apa aku gak di suruh duduk dulu? pegel kaki aku tadi jalan dari rumah pak ustadz ke sini."
"Ya elah biasanya gak si suruh duduk juga, Zaza langsung duduk sendiri."
"Berarti aku boleh duduk nih?"
"Ya boleh."
Zainel duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Ry ngapai masih berdiri di situ?mau cosplay jadi patung."Zainel melirik ke arah pintu rumah, Tary masih berdiam diri di tempat tersebut.
"Gak lah, siapa juga lagi yang mau cosplay jadi patung." Tary berjalan sambil menghentakkan ke dua kakinya ke arah kursi. Tary duduk di kursi yang berada di samping Zainel.
"Huftt." Zainel menghelas nafasnya.
"Apa Zaza lagi ada masalah?" Tary menoleh ke arah samping, Tary melihat raut wajah Zainel yang berbeda dari tadi sore.
"Tidak Ry." Mulut Zainel berkata tidak tetapi hatinya berkata Ada, inilah pepatah yang sering di sebut lain di mulut lain pula di hati.Ketika apa yang di ucapkan berlawanan dengan isi hati.
"Apa Zaza yakin tidak masalah?" Mata Tary menatap penuh seledik ke arah wajah Zainel. Dari raut wajah Zainel saja Tary sudah mengetahui bahwa Zainel memiliki masalah.
"Sebenarnya ada Ry."Zainel terlihat ragu untuk memberitahukan Tary.
"Apa masalahnya?" Tary terlihat begitu antusias saat Zainel mengatakan bahwa dia memiliki masalah.
"Ry aku haus."
"Lah terus apa hubungannya dengan masalah?" Raut wajah antusias Tary berubah menjadi bingung dengan ucapan Zainel.
"Ambilin."Bukan menjawab pertanyaan Tary, Zainel malah meminta Tary mengambilkan sesuatu.
"Ambilin apa?
"Minum."
"Gak mau ah, ambil saja sendiri."
"Ih kok gitu sih Ry."
"Lah kan biasanya kamu kalau haus ambil sendiri minumnya."
"Aku itu di sini tamu Ry, ingat adab menerima tamu itu menyuguhkan minuman kepada tamu."
"Iya iya iya nih mau Ry ambilin." Dengan berat hati Tary berdiri dari tempat duduk nya, Tary berjalan ke arah pintu rumahnya.
"Air nya yang dingin."
"Ah nih anak udah di kasih hati malah minta jantung." Tary berhenti berjalan lalu dia melirik ke arah Zainel.
"Hah, apa gak salah dengar aku?"
__ADS_1
"Yang kamu dengar itu benar."
"Jadi benar dong kalau kamu itu udah ngasih hati kamu buat aku." Zainel melengkung sebuah garis di bibirnya yang di sebut senyuman.
"Iya benar."
"Wah, jadi kamu cinta sama aku."
"Lah, kok jadi gini sih." Kening Tary berkerut tampak kebingungan setelah mendengar ucapan Zainel.
"Lah tadi kamu bilang udah ngasih hati kamu buat aku, berarti itu kan cinta."
"Ah itukan cuma peribahasa aja."
"Ooo jadi itu peribahasa."
"Iya." Setelah mengatakan itu Tary berjalan pergi meninggalkan Zainel seorang diri di teras rumah.
Zainel duduk sambil memikirkan ucapan Pak Ustadz yang meminta dirinya untuk menjalin kembali hubungan tali silaturahmi.
"Huft."Zainel menghembuskan nafasnya berkali-kali.
"Apa aku bisa?" Zainel masih ragu untuk menghubungi keluarga nya.
"Bagaimana kalau mereka masih menolak kehadiran aku?"Tiba-tiba bayangan waktu Zainel di usir dari rumah oleh Daddy nya terlintas di kepala Zainel, sehingga dia merasa ketakutan.
Zainel terlalu sibuk dengan pikiran sendiri sehingga dia tidak menyadari keberadaan Tary .
"Ini diminum dulu."Tary menyodorkan gelas yang berisi air dingin ke hadapan Zainel.
"Eh, iya." Zainel menyambar gelas yang berada di tangan Tary.
Glug
"Tunggu Ry ambil lagi minuman." Ry mengambil gelas dari tangan Zainel.
"Gak usah, aku udah gak haus lagi. Sini kami duduk lagi."
"Baiklah." Tary kembali duduk di kursi nya yang tadi.
Tary menoleh ke arah Zainel sambil menunggu Zainel untuk membuka suara tetapi hingga semenit berlalu Zainel masih diam membisu.
"Kamu punya masalah apa? coba sini cerita sama Ry kalau kamu diam saja kayak gini,Ry mana bisa tahu masalah kamu.Walaupun setelah kamu bercerita sama Ry tidak mendapatkan solusi paling tidak kamu sudah membagi beban pikiran kamu."
"Baiklah aku akan cerita, Aku kan pernah cerita sama Ry kalau aku di usir Daddy dari rumah karena aku ketahuan menjadi mualaf. Setelah itu aku berdiri di pinggir jalan raya tanpa tujuan saat ada bus yang berhenti di hadapan aku. Si kernet bus pun keluar dari bus lalu dia menawarkan untuk naik bus itu aku pun sehingga di kota P aku bertemu dengan abang Ustadz hingga kami berkenalan. Abang ustadz yang tahu aku tidak memiliki tujuan dan tempat tinggal hingga dia menawarkan diri untuk tinggal sementara di rumah nya . Abang ustadz mencari kontrak untuk aku yaitu kontrak mama Ry sehingga kita bertemu."
"Aku sering memimpikan Lea."
"Pacar kamu ya?"
"Bukan."
"Terus, siapa?"
"Adek kandung aku."
"Berarti kamu merindukan dia, kenapa tidak kamu coba menghubungi dia?"
"Sudah aku coba menghubungi dia, tapi nomor ponselnya gak aktif."
"Bukan kah kamu punya abang, apa kamu pernah menghubungi abang kamu?"
"Ada koko Sam, aku belum pernah menghubungi koko Sam."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku takut, koko Sam sama seperti Daddy sudah tidak menanggap aku sebagai anggota keluarga mereka lagi." Zainel berbicara dengan raut wajah sedih.
"Gak boleh souzon dulu sama koko Sam, maka nya coba kamu hubungi dulu koko Sam dulu."
Zainel terdiam sambil memikirkan ucapan Tary. Zainel masih ragu untuk menghubungi koko Sam.
Telpon tidak telpon tidak telpon tidak telpon tidak
"Ponsel kamu mana?"
"Ada di saku celana, kenapa memangnya?"
"Siniin ponsel kamu." Tary mengulurkan tangan ke arah Zainel.
"Buat apa?"
"Ry mau pinjam ponsel kamu, apa boleh?"
"Boleh, nih ponsel aku." Setelah Zainel mengeluarkan ponsel dari saku celananya , dia meletakkan ponsel miliknya di telapak tangan Ry.
"Apa kamu masih ingat nomor ponsel koko Sam?"
"Masih, kenapa Ry?"
"Berapa nomornya? sebutkan."
"0812XXXXXXXX." Zainel menyebut nomor ponsel Sam.
Tary menekan angka pada layar ponsel tersebut setelah itu Tary menghubungi nomor ponsel tersebut. Panggil telpon ke nomor Sam masuk tapi belum juga di angkat oleh Sam, sehingga panggil telpon tersebut mati dengan sendirinya. Tary kembali menghubungi nomor ponsel Sam untuk kedua kalinya tetapi masih sama tidak di angkat.
Sehingga panggil telpon tersebut berakhir tanpa di jawab. Tary hendak mencoba menghubungi kembali nomor ponsel Sam.
"Jangan di telpon lagi Ry. " Zainel mencegah Tary menghubungi nomor ponsel Sam.
"Ini yang terakhir kali, kalau setelah ini tidak di angkat juga maka Ry akan mencoba menghubungi koko Sam lagi."
"Baiklah."
Tuuutt........ Tuuutt
📞"Halo." Terdengar suara seorang perempuan di seberang sana mengangkat panggi telpon.
Tary memberikan telpon Zainel kepada pemiliknya yaitu Zainel.
📞"Halo, maaf sebelumnya mengganggu. Apa benar ini nomor ponsel Koko Samuel Martien?"
📞"Iya benar, kamu siapa?"
📞"Saya Rendi Martien, Kalau boleh tahu saya sedang berbicara dengan siapa?"
📞"Kamu tidak perlu tahu saya siapa." Berbicara dengan nada yang ketus kepada Zainel.
📞"Apa saya bisa berbicara dengan Koko Sam?"
📞"Tidak bisa."
📞"Kenapa?"
📞"Samuel sedang pergi,"
📞"Apa saya boleh menitipkan pesan buat Koko Sam?"
__ADS_1
...~ Bersambung ~...