
"Sedang menunggu seseorang yang bilang gini, aku tahu kamu apa-apa sendiri, tapi kedepannya sama aku yaa jangan sendiri lagi."
Mereka sudah berada di dapur rumah Tary, mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan di depan meja makan.
Zainel melihat Tary yang makan dengan begitu lahap.
"Kamu kenapa dari tadi ngelihatin aku kayak gitu?" Tary menoleh ke arah Zainel, Tary mendapati Zainel sedang tertangkap basah memandangi dirinya.
"Apa aku tidak boleh memandangi Ry?"
"Kamu pasti ifiel ngeliatin aku makannya rakus."
"Aku gak ifiel ngeliatin kamu makan, aku malah suka ngeliatin kamu lahap kayak gitu." Zainel berbicara sambil menatap mata Tary, dia menyakinkan Tary bahwa dia tidak merasa ifiel melihat Tary makan dengan lahap.
"Kamu kenapa tidak makan?" Tary juga menatap mata Zainel sehingga tatapan mereka saling bertemu. Tary menemukan kejujuran dalam pancaran mata Zainel. Tary menoleh ke arah piring yang berada di atas meja yang di hadapan Zainel. Tary melihat makanan di dalam piring yang berada di hadapan Zainel masih utuh sama sekali tidak di sentuh oleh Zainel.
"Gak." Zainel mengelengkan kepalanya
"Kenapa?"
"Aku udah kenyang."
"Lah, nasi yang ada di dalam piring kamu saja sama sekali belum di sentuh.Bohong kalau kamu bilang udah kenyang." Tary tidak mempercayai ucapan Zainel.
"Aku gak bohong Ry." Menyakinkan Tary.
"Heleh, aku gak percaya pasti kamu bohong."
"Aku gak bohong Ry."
"Terus bagaimana kamu bisa kenyang? padahal kamu belum makan."
"Aku udah kenyang lihat kamu makan."
__ADS_1
"Hah, memang bisa begitu." Mulut Tary terbuka saat Zainel berbicara seperti itu kepada Tary.
"Bisalah kamu yang makan tapi aku yang kenyang."
"Mana bisa begitu."
"Bisa buktinya sekarang aku udah kenyang lihat kamu makan."
"Kalau begitu nantik malam kamu gak usah makan tapi lihatin aku makan aja."
Malam harinya Zainel berjalan pulang dari mesjid, saat Zainel hendak berjalan melewati rumah kontrak. Pintu rumah kontrak yang di tempati nenek terbuka, nenek berjalan keluar melewati pintu rumah.
"Assalamu'alaikum nenek." Melihat nenek sedang berdiri di depan pintu rumah kontrak saat Zainel lewat maka dia memberhentikan langkah kakinya.
"Walaikumsalam, Zai dari mana?" Nenek yang berbasa-basi kepada Zainel, padahal nenek sudah tahu bahwa Zainel dari mesjid it7 terlihat dari kain sarung, baju koko dan peci yang Zainel kenakan.
"Dari mesjid nenek."
"Baby Jane mana?"
"Apa Zainel sudah makan?"
"Belum, memangnya kenapa nenek?"
"Nenek mau ngajak Kalian untuk makan malam bersama di rumah nenek, apa kalian mau?"
"Kalian siapa nenek?"
"Zai, Tar dan baby Jane."
"Aku kasih tahu Ry dulu ya nenek."
"Nenek tunggu kalian."
Zainel dan Tary sudah berada di depan pintu rumah nenek. Zainel mengendong baby Jane sedangkan Tary berdiri di samping Zainel.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, akhirnya kalian datang juga." Nenek mendengar suara mereka lalu berdiri dari tempat duduk. Nenek menghampiri mereka yang berada di depan pintu rumah.
"Iya nenek." Mereka berdua serentak berbicara.
"Ayo silahkan masuk!" Nenek mengajak mereka untuk masuk kedalam rumah.
"Iya nenek." Tary menyalim punggung nenek terlebih dahulu barulah setelah itu Tary berjalan masuk ke dalam rumah nenek.
"Sini baby Jane sama nenek." Nenek melihat baby Jane berada dalam gendong Zainel, nenek pun mengambil baby Jane.
Baby Jane berada di dalam gendong nenek langsung menangis.
Hoek
Hoek
Hoek
"Cup cup baby Jane jangan nangis ini nenek." Nenek mencoba membujuk baby Jane untuk berhenti menangis. Tetapi baby Jane terus saja menangis.
"Nenek sini biar baby Jane nya sama saya." Melihat baby Jane terus saja menangis sehingga Zainel mengambil kembali baby Jane dari gendongan nenek.
"Kenapa baby Jane tidak berhenti menangis?" Nenek melihat baby Jane sudah berada dalam gendong Zainel tetapi baby Jane masih menangis.
"Tidak tahu nenek." Zainel juga merasa bingung karena baby Jane tidak berhenti nangis.
"Sini sini baby Jane sama tante Ry." Tary mendengar suara tangisan baby Jane, Tary segera menghampiri mereka yang masih berada di depan pintu rumah.
"Nih gendong baby Jane." Zainel memberikan tubuh baby Jane kepada Tary.
"Baby Jane sayang ini tante." Tary mengendong baby Jane.
"Mama mama mama." Baby Jane langsung berhenti menangis, baby Jane berceloteh khas bayi menyebut Tary dengan sebutan mama.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...