
"Jangan jadi pelangi, pelangi hanya datang lalu pergi, tapi jadilah seperti senja karena senja berjanji akan datang kembali."
"Baby Jane udah tidur." Zainel berjalan melewati Tary.
"Kamu mau kemana?"
"Pulang." Zainel terus berjalan sambil mengendong baby Jane tanpa menoleh ke belakang.
"Tunggu." Tary membalikkan badan melihat Zainel terus berjalan tanpa membalikkan badan.
"Apa?" Zainel berhenti berjalan.
"Jangan lupa tutup pintu nya."
"Iya, tapi kamu jangan lupa kunci rumahnya." Setelah mengatakan itu Zainel terus berjalan ke arah pintu rumah Tary.
Zainel sudah tiba di dalam kamar nya lalu dia membaringkan tubuh baby Jane di atas tempat tidur. Setelah itu Zainel ikut membaringkan tubuh nya di samping baby Jane. Zainel menatap langit-langit kamarnya lalu tiba-tiba terlintas bayangan wajah Lea.
"Apa aku telpon saja Lea?"Terbesit dalam pikiran Zainel untuk menghubungi nomor ponsel Lea. Zainel bangunan dari tidurnya lalu dia duduk di atas tempat tidur. Zainel mengambil ponsel yang berada di atas narkas yang berada di samping tempat tidur.
Ponsel sudah berada di tangan Zainel lalu dia menekan tombol nomor ponsel Lea, setelah itu Zainel menghubungi nomor ponsel.
Maaf nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan silahkan hubungi beberapa saat lagi.
Setelah panggil telpon tersebut mati Zainel kembali mencoba menghubungi nomor Lea hingga tetap saja hanya suara operator. Zainel menghubungi sebanyak tiga kali hanya suara operator yang terdengar.
Besok lagi aku coba menghubungi nomor ponsel Lea.
Zainel turun dari tempat tidur lalu dia berjalan keluar dari kamarnya. Saat Zainel membuka pintu rumah nya bersamaan dengan itu sebuah motor sport melewati rumah nya.
Brum.......... Brum
Zainel sangat mengenali motor sport yang baru saja melewati rumah nya. Zainel melihat punggung pengendara motor tersebut, dia yakin si pengendara motor tersebut Tary.
Itu motor Ry, mau pergi kemana dia malam kayak gini?
Setelah motor yang di kendarai oleh Tary tidak terlihat lagi. Zainel mencoba menghubungi nomor ponsel Tary tetapi tidak di angkat oleh Tary. Zainel masukan ponselnya kedalam saku celananya.
Nantik aku telpon dia lagi
Zainel menutup pintu rumah lalu dia duduk di bangku kayu yang berada di teras rumah nya, lalu terdengar bunyi deringan ponsel Zainel yang berada di saku celananya.
Itu pasti telpon dari Ry.
Zainel tersenyum sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ponsel sudah berada di tangannya lalu dia melihat layar ponsel nama kontak orang yang sedang menghubungi nya. Senyum di wajah Zainel berubah melihat nama penelepon terbut bukan Tary melainkan Fitri.
Zainel enggan untuk mengangkat panggil telpon dari Fitri walaupun Fitri meruapakan atasnya di tempat kerja. Akhirnya panggil telpon dari Fitri berhenti lalu dia kembali menelpon Zainel tetapi tidak di angkat oleh Zainel.Fitri kembali menelpon Zainel lagi, dengan terpaksa akhirnya Zainel mengangkat panggil telpon dari Fitri.
Drrrtt........ Drrrtt
"Selamat malam Zai."
"Selamat malam juga buk."
"Huft, kamu lupa ya padahal baru dua jam lalu saya bilang jangan panggil ibuk kalau kita sedang berada di luar."
"Maaf."
__ADS_1
"Iya udah aku maafin, jangan di ulangi lagi."
"Insyaallah gak akan saya ulangi lagi."
"Kamu lagi ngapain?"
"Duduk."
"Sama aku juga lagi duduk sambil ngambil ngemil."
"Hm."
"Kamu tahu gak ngemil apa yang enak?"
"Semua snack juga enak buat ngemil."
"Ih bukan itu maksud aku."
"Terus apa?"
"Ngemil ikin kamu."
"Hah, kamu lagi gombalin aku?"
"Iya." Fitri yang sedang telponan dengan Zainel merasa bahagia.
Zainel terdiam mendengar ucapan Fitri yang secara terang-terangan mengakui bahwa dia sedang gombalin Zainel. Zainel tidak habis pikir dengan Fitri berusaha mendapatkan cinta dia padahal sudah di tolak waktu itu sekarang pakai cara gombalin dia lagi.
"Apa suka kucing?"
"Iya."
"Maka nya kalau bawa mobil itu jangan ngebut-ngebut, apalagi ini jalan komplek perumahan. Jangan kamu pikir ini jalan nenek moyang kamu." Zainel berbicara ketus kepada Fitri.
"Iya, aku janji gak akan ngebut lagi bawa mobilnya."
"Hm." Zainel berdehem.
"Kamu tahu gak, kucing apa yang romantis?"
"Gak tahu."
"Masak kamu gak tahu sih."
"Gak, memang apa?"Zainel penasaran.
" Kucingta kamu."
"Hah." Terkejut.
"Kamu tahu gak, kuda-kuda apa yang bikin senang?"
"Hm, gak tahu." Zainel berpikir untuk menjawab pertanyaan Fitri tetapi dia tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Fitri.
"Kudapat pacar seperti kamu."
"Ckckckck, gombal." Zainel merasa risih mendengar gombalan dari Fitri, Zainel sudah menolak cinta Fitri tapi bukannya Fitri menyerah malah semakin gencar mengejar cintanya.
__ADS_1
"Hehehehe, kan aku lagi usah buat mendapatkan cinta kamu." Fitri cengengesan tertawa.
"Kamu kan sudah tahu bahwa aku sudah mencinta perempuan lain."
"Sebelum janur kuning melengkung kamu masih milik bersama.Jadi aku masih punya kesempatan untuk bisa mengejar cinta kamu." Fitri berbicara dengan penuh semangat serta keyakinan bahwa dia akan terus berusaha mengejar cinta Zainel.
"Sebaiknya kamu cari cowok lain yang juga mencintai kamu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Aku sudah mencintai perempuan lain." Zainel berbicara dengan tegas kepada Fitri.
"Kamu pasti bohong padaku kan, aku tidak pernah melihat kamu dekat dengan seorang perempuan mana pun di tempat kerja." Fitri tidak mempercayai ucapan Fitri.
"Aku tidak bohong, lagian dia tidak kerja di hotel S."
"Siapa namanya?"
"Kamu tidak perlu tahu namanya."
"Heleh, ini pasti hanya akal-akalan kamu saja. Padahal perempuan yang kamu ucapkan itu tidak ada."
"Huft, dia itu ada."
"Kalau begitu, kapan kamu mau kenalin dia ke aku?" Fitri menantang Zainel untuk mengenali perempuan yang di cintai oleh Zainel.
"Malam minggu."
"Dimana?"
"Cafe X.
" Pukul berapa?"
"Pukul 20.00 wib."
"Okey, jangan sampai kamu cuma datang sendirian."
"Insyaallah aku pasti datang.Kalau begitu udah dulu ya, assalamu'alaikum." Zainel mematikan panggilan telpon nya.
"Ya elah main di matiin aja lagi panggil telpon." Fitri terlihat kesal karena Zainel mematikan panggil telponnya.
Setelah mematikan panggil telpon dari Fitri, Zainel menghubungi nomor ponsel Tary tetapi tidak di angkat oleh Tary. Panggil telpon tersebut berakhir Zainel kembali menghubungi nomor ponsel Tary lagi-lagi tidak di angkat oleh Tary.
Ah tuh anak kemana sih?
Di telpon dari tadi gak di angkat-angkat
Mendingan aku tunggu aja Ry sampai pulang
Tary sudah tiba di depan warung bakso lalu dia berjalan masuk ke dalam warung bakso.
"Tar sini." Seorang memanggil nama Tary sambil melambaikan tangannya.
"Nah itu dia." Tary mendengar namanya di panggil oleh seorang lalu dia menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang yang menyuruh Tary datang ke warung bakso tersebut. Tary berjalan ke arah meja si orang tersebut.
"Apa kabar Tar?" Si orang tersebut berdiri dari bangku lalu dia memeluk Tary sambil cepika cepiki.
"Seperti yang kamu lihat, kalau kabar kamu gimana?" Tary membalas pelukan si orang tersebut.
"Aku lagi gak baik, ayo duduk dulu!" Si orang tersebut melepaskan pelukan lalu dia menyuruh Tary untuk duduk.
__ADS_1
"Baiklah, kamu ada masalah apa?" Tary duduk di bangku yang berhadapan dengan si orang tersebut.
...~ Bersambung ~...