
"Cikini Kegondang dia orang iri tandanya tak bahagia, Cikampek Tasikmalaya apa gak capek kepoin hidup Sayaa."
"Jangan cuma di lihatin, kamu biasanya minum yang tablet atau yang botolan?"
"Yang ini."Tary mengeluarkan obat peredang nyeri yang berbentuk botol dari kantong plastik, lalu dia menujukan kepada Zainel.
"Mendingan sekarang kamu minum obatnya." Zainel melihat botolan yang berada di tangan Tary.
"Ini mau diminum, kok susah sih buka tutup botolnya." Tary mengalami kesulitan saat membuka tutup botol.
"Sini biar aku bukak." Zainel mengambil botol yang berada di tangan Tary, botol itu sudah berada di tangannya hanya dalam satu kali putaran dia berhasil membuka tutup botol tersebut.
"Nih di minum." Zainel memberikan botol yang sudah terbuka kepada Tary.
"Glug glug glug."Tary meminum air yang ada di dalam botol tersebut hanya dalam sekali teguk.
"Apa rasanya?"Melihat Tary menghabiskan minuman itu hanya dalam sekali teguk, membuat Zainel penasaran dengan rasa obat itu.
"Apa Zaza tahu jamu?"
"Tahu, jamu adalah ramuan tradisional yang terbuat dari tanaman herbal. Beberapa jenisnya antara lain beras kencur, kunyit asam, brotowali dan kunci sirih.”
"Apa Zaza pernah minum Jamu?"
"Belum pernah."
"Ini itu Jamu tapi sudah di kemas dalam bentuk moderen."
"Memangnya rasa Jamu itu kayak mana?"
"Bagi yang suka enak tapi kalau gak suka gak enak, tergantung selera."
"Berarti yang kamu minum enak, hanya dengan segala teguk langsung habis tidak tersisa."
"Iya enak."
Minggu sore Tary sedang menyapu lantai teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum."Zainel berdiri di halaman rumah Tary sambil mengendong baby Jane.
"Walaikumsalam."Tary berhenti menyapu lantai teras lalu dia menoleh ke arah sumber suara.
"Ry lagi ngapain?"Zainel erbicara sambil melihat ke arah Tary.
"Lagi makan."Sungut Tary.
"Lagi nyapu gitu di bilang makan."
"Nah itu tahu, terus ngapain nanya."
"Bertanya-tanya."Zainel menyambung ucapan Tary.
"Ah nih anak benar-benar ngeselin deh."Wajah Tary berubah jadi kesal.
"Ry sana mandi udah sore nih."
"Bentar lagi, aku mau nyapu dulu." Tary melanjutkan menyapu lantai teras.
__ADS_1
"Apa aku boleh masuk ke teras rumah kamu?"
"Gak boleh, kamu berdiri di situ aja."
"Huft akhirnya selesai juga, kamu ngapain berdiri disitu sini masuk ke teras rumah."Tary sudah selesai menyapu lantai teras lalu dia melihat ke arah Zainel masih berdiri di halaman rumah Tary seperti patung. Tary menyuruh Zainel masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu di situ lagi cosplay jadi patung."
"Iya."
"Ya udah kalau mau cosplay jadi patung pancuran di situ." Setelah mengatakan itu Tary beranjak pergi dari tempat tersebut.
Tidak butuh waktu lama kira-kira lima belas menit kemudian Tary sudah keluar dari pintu rumahnya.
"Ternyata kamu masih berdiri di situ." Tary berdiri di teras rumah sambil melihat ke arah Zainel yang masih berdiri di tempat yang sama, Tary melihat sedikitpun Zainel tidak beranjak dari tempat dirinya berdiri.
"Iya tapi kamu yang nyuruh aku cosplay jadi patung pancuran."Cibir Zainel.
"Ry cuma bercyandaa bercyandaa bercyandaa."Tary berbicara dengan nada seperti perempuan yang sedang viral saat ini.
"Ckckckck tertular yang lagi viral."
"Baby Jane mau kemana udah cantik?"Tary menghampiri baby Jane.
"Jjs ( Jalan-jalan sore), apa kamu mau ikut?"
"Memang mau Jjs kemana?"
"Kesimpang komplek perumahan, apa kamu mau ikut?"
"Iya aku ikut, kalau begitu aku ambil kunci motor dulu."Tary hendak berjalan melangkahkan kaki nya.
"Kenapa?"
"Kita Jjs nya, jalan kaki aja bagaimana?" Zainel berbicara sambil menatap ke arah Tary.
"Baiklah, kita perginya kapan?"
"Ya sekarang lah masak tahun depan."
"Kalau gitu aku kunci rumah dulu." Tary berjalan mendekati pintu rumah, Tary mengunci pintu rumah.
Mereka sedang berjalan kaki melintasi jalanan komplek perumahan.Mereka menyapa beberapa orang yang mereka temui saat berjalan kaki melewati komplek perumahan. Sepanjang perjalanan menuju ke simpang komplek perumahan mereka berjalan sambil ngobrol.
Mereka tiba di persimpangan komplek perumahan.
"Akhirnya sampai juga, kamu mau kemana?" Tary melihat Zainel terus berjalan ke arah jalan raya.
"Gak usah banyak nanya cepat ikutin aku saja."Zainel membalikkan badan.
Mereka sudah berdiri di pinggir jalan raya, Zainel menoleh ke arah kanan kiri untuk melihat lalu lintas kondisi jalan raya. Situasi jalan raya terlihat lengah sehingga Zainel berjalan maju selangkah ke jalan raya.
Zainel sudah berada di jalan raya tetapi dia tidak melihat Tary mengikuti dirinya, sehingga dia menoleh ke arah Tary.
"Kamu kenapa masih berdiri di situ?" Zainel melihat Tary yang tidak beranjak dari pinggir jalan raya.
Tiba-tiba saja Zainel mengandeng tangan Tary, mereka berjalan sambil bergandengan di jalan raya tersebut.Mereka sudah berhasil menyeberangi jalan raya tersebut. Mereka sedang berdiri di pinggir jalan raya.
"Apa Ry pernah naik angkot?"
__ADS_1
"Gak pernah, bagaimana dengan Zaza pernah naik angkot?"
"Aku juga belum pernah naik angkot, bagaimana kalau kita naik angkot?"
"Memang kita mau pergi kemana?"
Sebuah mobil angkot berhenti di tepat di hadapan kami.
"Abang kak naik?"Si kernet angkot turun dari angkot.
"Apa ada bangku kosong?"
"Buat berapa orang abang?"
"Dua."
"Ada."
"Ry naik duluan." Zainel menyuruh Tary untuk naik duluan."
"Baiklah."Tary menundukkan kepalanya sebelum naik ke dalam angkot.
"Hati-hati Ry."Zainel meletakkan telapak tangannya di atas kepala Ry, saat Tary melewati pintu angkot.
Tary masuk kedalam angkot dia duduk di bangku angkot, Zainel naik ke atas angkot dia duduk di sebelah Tary di bangku yang sama. Si kernet juga naik dengan duduk di bangku yang berada di dekat pintu.
Mobil angkot tersebut bergerak meninggalkan tempat tersebut.Beberapa penumpang angkot melihat ke arah kami secara berganti.
"Kok dari tadi Ry perhatikan mereka melihat ke arah kita."Ry menoleh ke arah samping lalu dia berbicara berbisik kepada Zainel.
"Itu cuma perasaan Ry saja."Zainel menepis ucapan Tary.
"Btw, kita mau kemana?"
"Ada deh, natik juga kamu tahu."
Dua orang ibuk-ibuk yang duduk di bangku angkot yang berada di hadapan kami, sedang berbicara berbisik-bisik sambil melihat ke arah kami secara bergantian.
"Tuh lihat mereka berpegangan tangan." Si Ibuk berbicara sambil memoyongkan bibir nya.
Tary menyadari bahwa si ibuk sedang membicarakan dirinya dan Zainel, lalu dia menoleh ke arah yang di maksud si ibuk itu. Dia mendapati tangan sedang di pegang oleh Zainel.
"Lepasikan tanganku." Tary mencoba melepaskan tangannya yang di pegang oleh Zainel.
" Eh, iya." Zainel baru tersadar bahwa dari tadi dia terus memegang tangan Tary, Zainel melepaskan tangan Zainel.
Tary menoleh ke arah depan pak supir angko tiba-tiba saja seorang ibuk berteriak.
"Kiri kiri."
Mendengar teriakan si ibuk tersebut maka pak supir angkot menginjak rem angkot nya.
Ciiitt Ciiitt Ciiitt
Pak Supir menginjak rem mendadak sehingga penumpang pun menabrak tubuh penumpang yang lainnya. Tubuh Zainel pun tergeser ke arah tubuh Tary begitu pun tubuh Tary tergeser ke tubuh ibuk yang berada di depannya.Seluruh tubuh penumpang angkot jadi mempet kedepan hal ini di sebabkan pak supir angkot ngerem mendadak.
"Astagfirullah."
"Pak Supir kalau mau ngerem jangan mendadak."
__ADS_1
...~Bersambung~...