
"Mencintai seseorang walaupun tidak bisa bertemu dengannya setiap hari adalah bukti bahwa cinta itu bukan dari mata karena keindahan tapi dari hati karena ketulusan."
"Kenapa kamu tidak mau pesan apa-apa?" Fitri berbicara sambil menatap wajah Zainel.
"Saya masih kenyang buk." Zainel terpaksa berbohong dengan alasan bahwa dia masih kenyang padahal Zainel merasa lapar.
"Bukan tadi kamu mau pulang ke rumah karena mau makan siang, kenapa sekarang kamu bilang kenyang?" Kening Fitri berkerut, dia tidak mempercayai ucapan Zainel.
"Itu____."
"Sudah sudah saya tidak mau dengar apapun alasan kamu. Waiters saya pesan menu yang sama satu lagi." Fitri memotong pembicaraan Zainel.
"Baiklah, apa ada lagi tambahan nya?" Si Waiters menulis di buku kecil menu yang Fitri pesan.
"Tidak." Fitri berbicara sambil mengelengkan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Si waiters mengambil buku menu yang ada di meja setelah itu dia pergi dari meja mereka.
Setelah si waiters pergi, Fitri terus saja memandangi wajah Zainel sambil mencoba mengingat dia pernah bertemu Zainel di suatu tempat tapi dia lupa.
"Ada apa? dari tadi saya perhatian ibuk memandangi wajah saya terus." Zainel merasa tidak nyaman saat Fitri terus saja memandangi wajahnya.
"Memangnya saya tidak boleh memandangi wajah kamu." Fitri meletakkan tangannya dia atas meja sambil menompang dagunya dengan telapak tangan.
"Huft." Zainel hanya menghelahkan nafasnya saat mendengar ucapan Fitri, dia bingung menghadapi Fitri yang merupakan atasan di tempatnya bekerja.
"Kamu sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Kira-kira lebih dari 6 bulan buk."
"Kenapa kamu mau bekerja sebagai cleaning servis?"Fitri merasa penasaran dengan Zainel yang berkerja sebagai cleaning servis di hotel S sehingga dia ingin mengetahui alasan Zainel mau bekerja sebagai cleaning servis di hotel S.
"Memangnya ada yang salah kalau aku bekerja jadi cleaning servis di hotel S?"
"Gak ada, cuma aku pengen tahu alasan kamu mau bekerja sebagai cleaning servis di hotel ini?"Fitri menggelengkan kepalanya.
"Aku membutuhkan uang untuk biaya hidup."
"Kamu itu ganteng, kulit putih seperti susu bahkan lebih putih kulit kamu ketimbang kulit aku, hidung kamu mancung, rambut kamu lurus hitam, mata kamu sipit. Kamu itu mirip sama Lin Yi." Fitri berbicara sambil melihat ke arah yang dia sebutkan.
__ADS_1
"Siapa itu Lin Yi?" Nama yang Fitri sebut terasa asing di telinga nya.
"Jadi kamu gak tahu siapa Lin Yi itu?" Fitri balik bertanya kepada Zainel.
"Tidak, kalau aku tahu napain aku repot-repot nanya sama ibuk."
"Ternyata kamu kudet, Lin Yi itu aktor dracin yang lagi di gemari oleh seluruh perempuan yang berada di seluruh dunia."
"Iya, aku memang kudet." Zainel mengakui bahwa dirinya kudet.
Pov Fitri
Malam harinya Fitri yang tinggal seorang diri di sebuah rumah yang berada di komplek perumahan.Udara malam ini terasa begitu panas sehingga membuat Fitri merasa gerah. Fitri pun keluar dari rumahnya hanya mengunakan tank top serta hot pants.
Fitri sudah berada di depan di depan teras rumahnya, dia melihat sekeliling komplek perumahan yang terlihat sepi. Fitri tidak mendapati seorang pun berada di depan teras rumahnya.
"Ah mendingan aku cari angin." Melihat hal itu membuat Fitri berkeinginan untuk mencari angin. Fitri menutup pintu rumah lalu dia mengunci pintu rumah. Fitri berjalan meninggalkan rumahnya lalu di berjalan di jalan komplek perumahan.
Fitri terus saja berjalan lurus di jalanan komplek perumahan, Fitri sekali-kali menoleh ke arah kanan kiri untuk melihat susana komplek perumahan. Lagi-lagi suasana komplek perumahan tersebut sepi sepanjang berjalan kaki Fitri belum ada berpapasan dengan seorang.
"Kenapa komplek perumahan ini sepi?"
"Apa rumah yang ada di perumahan ini memang kosong seperti ini?" Fitri berpikir bahwa rumah yang berada di perumahan masih kosong tidak ada yang menempati maka nya komplek perumahan ini sepi.
Fitri terus saja berjalan hingga di depan dia melihat sebuah warung. Fitri berjalan menuju ke arah warung tersebut, sesampainya Fitri di warung tersebut dia membuka pintu kulkas. Fitri mengambil sebotol air mineral. Fitri menutup pintu kulkas, lalu dia membuka tutup botol air mineral tersebut.
Glug glug glug
Fitri langsung meneguk air mineral yang berada di dalam botol mineral tersebut.
"Lah kok ada manis manis." Fitri merasa air mineral yang dia minum ada manis-manis seperti yang ada di iklan televisi.
Fitri sudah menghabiskan setengah air mineral yang berada di dalam botol tersebut. Barulah Fitri berhenti meminum air yang berada di dalam botol tersebut. Fitri menutup kembali botol tersebut baru lah dia berjalan ke arah meja kasir untuk membayar sebotol air mineral tersebut.
"Buk ini berapa?" Fitri menujukan sebotol air mineral berukuran sedang kepada si ibuk pemilik warung tersebut.
"Tiga ribu rupiah." Si ibuk pemilik warung yang duduk di kursi depan meja kasir melihat ke arah sebotol air mineral yang di pegang oleh Fitri.
"Ini buk." Fitri mengeluarkan uang dari saku celana hot pants nya, dia memberikan selembar uang berwarna biru kepada si ibuk pemilik warung tersebut.
__ADS_1
"Apa tidak ada uang recehan?" Si ibuk pemilik warung melihat uang yang berada di tangan Fitri.
"Gak ada buk."
"Tunggu sebentar kembalinya." Si ibuk pemilik warung mengambil uang yang berada di tangan Fitri, lalu dia berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk mencari uang recehan buat kembalikan uang Fitri.
"Iya buk." Fitri melihat ke sekeliling isi warung tersebut. Fitri melihat jajan yang ada di warung tersebut tetapi tidak satu jajanan yang mengugah selera Fitri untuk membelinya.
"Ini kembalian nya."Si ibuk pemilik warung tersebut memberikan uang kembalian kepada Fitri.
"Iya, terimakasih ibuk." Fitri mengambil uang dari tangan si ibuk tersebut.
"Apa kamu baru pindah ke komplek ini?" Si ibuk pemilik warung tersebut memperhatikan wajah Fitri.
"Iya, apa komplek perumahan ini memang sepi buk?"
"Ooo pantas saja saya baru melihat kamu, tidak. Kenapa memang nya?" Si ibuk melihat pakaian yang di kenakan Fitri kekurangan bahan.
"Kenapa komplek perumahan terlihat sepi buk?"
"Komplek perumahan di sini memang seperti ini."
"Apa siang juga seperti ini?"
"Iya sama saja."
"Ooo begitu ya, kalau begitu saya pamit dulu buk." Setelah mengatakan itu Fitri berjalan pergi meninggalkan warung tersebut.
Fitri berjalan kembali ke arah rumah nya setiba di depan rumahnya, Fitri melihat ada jalan lain di sebelah rumahnya. Fitri yang penasaran pun akhirnya berjalan menyusuri jalan tersebut, Fitri ingin mengetahui jalan yang di susuli nya menuju ke arah mana.
Saat menyusuri jalan tersebut Fitri tidak menemukan adanya rumah untung saja di jalan tersebut terpasang lampu sehingga terlihat terang. Fitri terus berjalan menyusuri jalan tersebut sehingga akhirnya dia tiba di sebuah bangunan.
Fitri yang penasaran terus saja mendekati bangunan tersebut dia sudah berdiri di depan bangunan tersebut.
"Ternyata ini mesjid." Fitri melihat bangunan tersebut ternyata mesjid.
Tiba-tiba seorang berjalan keluar dari mesjid tersebut.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1