PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Tidak Mau


__ADS_3

"Sebagus bagusnya kertas kado tetap yang paling penting adalah isinya, sebagus bagusnya penampilan seseorang, tetap yang paling penting adalah perilaku nya."


"Tapi diluar hujan, aku gak bisa pulang. Jadi boleh kan aku nginap di sini."Zainel mencari alasan agar bisa menginap di rumah Tary.


"Gak boleh titik, sebentar aku ambil payung."Tary mengambil payung yang berada di dapur. Tary mengendong bayi sambil membawa payung di tangannya.


"Apa kamu bisa mengurus bayi itu sendirian?"


"Bisa, ini ambil payung nya. Sana kamu pulang ini sudah malam, takutnya nantik kita di gerbek sama warga terus di nikahi malam ini juga." Tary mengulurkan payung kepada Zainel.


"Kan malah bagus kita nih gratis." Zainel enggan mengambil payung dari tangan Tary.


"Ah, itu sih maunya kamu."Bibir Tary mengerucut.


"Memangnya ada laki-laki yang nolak buat nikah gratis sama perempuan secantik kamu."


"Ada."


"Siapa laki-laki bodoh itu? yang telah menolak kesempatan itu."


"Percuma aku kasih tahu kamu, kamu juga gak bakal tahu orangnya." Tary berbicara dengan ketus kepada Zainel.


"Iya juga ya."


Duar........ Duar


Tiba-tiba saja terdengar suara petir yang mengelegar sehingga si bayi tersebut terbangun dari tidurnya lalu si bayi tersebut menangis.


"Astagfirullah." Tary yang terkejut tanpa sengaja menjatuhkan payung dari tangannya.


Oeak


"Cup cup sudah jangan nangis." Zainel mendekati Tary yang sedang mengendong bayi tersebut.


Esokan paginya Zainel mulai membuka kedua matanya secara berlahan-lahan setelah mendengar suara pak ustadz sedang membaca surat al-fatiah saat sedang menjadi imam melaksanakan shalat subuh berjamaah.


"Aku dimana?" Zainel menatap langit-langit yang berbeda dari kamar kontrakan nya. Setelah itu Zainel melihat sekeliling tempat tersebut.


"Ah, iya tadi malam aku menginap di rumah Tary." Zainel pin teringat bahwa dia menginap di rumah Tary, Zainel bangun dari tidurnya sehingga posisi nya duduk di atas kasur lantai yang berada di ruangan tamu.


Oeak


Zainel mendengar suara tangisan bayi segera beranjak dari tempat tersebut. Zainel sudah berdiri di depan pintu kamar Tary, Zainel mengetuk pintu rumah Tary tetapi tidak ada jawaban Tary. Sementara bayi tersebut terus saja menangis sehingga Zainel pun membuka pintu kamar Tary.


Setelah pintu kamar Tary terbuka Zainel berjalan masuk ke dalam kamar Tary. Zainel sudah berdiri di pinggir tempat tidur.


"Tary bangun." Zainel membangunkan Tary yang sedang tertidur lelap. Tetapi Tary tidak bangun juga sedang bayi tersebut terus saja menangis. Zainel naik ke atas tempat tidur, Zainel sudah berada di atas tempat tidur.


"Ah berisik, suara bayi siapa sih?" Suara tangisan bayi tersebut terdengar di telinga Tary sehingga menganggu Tary.

__ADS_1


"Cup cup sudah jangan nangis." Zainel hendak mengangkat tubuh si bayi tersebut.


"Aww, apa yang kamu lakukan di atas tempat tidur aku?" Tary yang mendengar ada suara laki-laki mulai membuka kedua matanya, Tary terkejut saat melihat Zainel sudah berada di atas tempat tidur. Tary segera bangun dari tidurnya segera melempar bantal ke arah Zainel.


Bough.......... Bough


"Tunggu dulu dengarin penjelasan aku dulu." Zainel mencoba menghentikan Tary yang hendak melemparkan bantal ke arah Zainel.


"Apa?"Tary menahan diri untuk melempar bantal yang sudah berada di tangannya.


"Aku kesini itu karena bayi ini dari tadi nangis terus." Zainel mengangkat bayi tersebut lalu dia menujukan kepada Tary.


Pagi ini seluruh warga komplek perumahan sudah berkumpul di balai warga. Pak ustadz yang menyuruh mereka untuk berkumpul di balai warga.


"Assalamu'alaikum wr wb." Pak ustadz berdiri di hadapan semua warga.


"Walaikumsalam wr wb."


"Bapak-bapak dan ibuk-ibuk apa kalian tahu, kenapa kita semua berkumpul di sini?"


"Tidak tahu pak ustadz."


"Kenapa memang pak ustadz?"


"Tadi malam salah satu warga komplek perumahan ini menemukan seorang bayi perempuan. Saya ingin bertanya kepada kalian semua apa mengenali bayi tersebut."


"Zainel bawak bayinya masuk." Pak ustadz menyuruh Zainel membawak bayi tersebut untuk masuk.


Zainel mendengar suara pak ustadz menyuruh dia membawa si bayi tersebut masuk maka dia berjalan sambil mengendong bayi tersebut untuk masuk ke dalam balai desa. Saat Zainel berjalan masuk sambil mengendong si bayi tersebut, seluruh warga melihat ke arah bayi yang berada di gendong tersebut.


Zainel sudah berdiri di hadapan semua warga, dia berdiri di samping pak ustadz.


"Apa ada di antara kalian yang mengenal bayi ini?"


"Tidak ada pak ustadz."


"Jadi bagimana ini pak ustadz?"


"Apa ada dari kalian yang mau mengurus bayi ini?"


Tidak ada seorang pun yang bersedia mengurus bayi tersebut.


"Paling itu anak dia. "


"Biarin aja dia yang ngurus nya."


"Itu pasti anak haram."


"Pasti orang tua tuh bayi sengaja membuang anaknya."

__ADS_1


"Anak yang tidak di inginkan."


"Anak hubungan terlarang."


"Sudah-sudah kalian tidak pantas berbicara seperti itu, sekali lagi saya bertanya apa ada dari kalian yang ingin mengurus bayi ini sampai orang tua bayi di temukan?" Pak ustadz merasa kesal mendengar ucapan mereka yang begitu kasar.


"Tidak ada."


"Kami semua tidak ingin mengurus anak haram."


"Kalian tidak pantas berbicara seperti itu, kita belum mengetahui tentang bayi tersebut."


"Tapi kami yakin bahwa bayi itu anak haram."


"Tidak ada anak haram semua bayi terlahir suci, bahkan bayi yang saya gendong ini masih suci." Zainel yang merasa geram dari tadi mendengar ucapan mereka yang menyudutkan bayi tersebut.


"Kenapa bukan kamu saja yange ngurus bayi itu?"


"Saya mau mengurus bayi ini, tetapi saya juga harus bekerja untuk mencari uang."


"Dimana kamu menemukan bayi itu?"


"Di depan pintu rumah kontrak saya."


"Memangnya kamu ngontrak dimana?"


"Bude Eli."


"Kalau begitu kamu dan Tary yang akan mengurus bayi ini."


"Aku gak mau ngurus bayi ini." Tary yang mendengar namanya di sebut berjalan masuk ke balai warga.


"Kenapa kamu gak mau?" Zainel tidak menyaka bahwa Tary menolak mengurus si bayi tersebut sama dengan warga yang lain.


"Ngurus hidup aku sendiri aja ribet masak aku harus ngurus bayi ini." Tary sudah berdiri di hadapan semua warga dengan wajah tidak suka.


"Pokoknya kami semua mau kamu dan dia ngurus bayi tersebut."


"Pokoknya aku gak mau titik." Tary menolak sambil berteriak.


"Kenapa bukan pak ustadz dan buk ustazah yang mengurus bayi ini?" Tary berbicara sambil menoleh ke arah pak ustadz.


"Buk ustadzah sedang ngidam jadi tidak bisa ngurus bayi. Saya sudah putuskan bahwa kalian berdua yang akan mengurus bayi itu sampai orang tuanya di temukan."


"Tidak." Tary berteriak.


"Ini sudah keputusan seluruh warga bahwa kalian berdua akan mengurus bayi tersebut." Pak ustadz berbicara sambil menatap tajam ke arah Tary.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2