PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Imunisasi Baby Jane


__ADS_3

"Mau sate kambing atau sate sapi nih? Ry mau sete-rusnya sama kamu."


Tary terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Zainel. Zainel terus saja menoleh ke arah Tary.


"Gak ada."


"Nah pasti ada apa-apa nih?"Zainel tidak mempercayai ucapan Tary.


"Gak ada."


"Heleh gak percaya aku."


"Terserah kamu mau percaya atau gak."


"Kamu itu anggap apa?"


"Teman."


"Kalau kamu anggap aku itu sebagai teman, maka kamu itu harus terbuka kepada aku."


"Kalau aku terbuka sama kamu maka aku pasti akan malu."


"Lah, kenapa kamu malu? sedangkan kamu masih baju. Kalau kamu gak pakai baju baru malu."


"Isisis kamu menyebalkan."


"Kalian berdua ini balai warga bukan pasar jangan berisik." Perdebatan Zainel dan Tary di dengar oleh bibik sehingga bibik menegur mereka.


"Ini semua gara-gara kamu, maka nya aku di tegur oleh bibik."Tary berdecik kesal kepada Zainel.


"Lah kok kamu nyalahin aku sih, kamu yang salah." Zainel tidak Terima di salahkan oleh Tary.


"Kalau kalian tidak bisa diam lebih baik kalian pergi dari sini."Bibik semakin geram melihat Tary dan Zainel bukannya berhenti berdebat malah mereka saling ngotot tidak ada yang mau kalah.


"Iya kami akan diam." Mereka serentak berbicara.


Setelah itu mereka terdiam sama sekali tidak mengeluarkan suara. Zainel melihat ke arah depan sedangkan Tary melihat ke arah banyak Jane yang berada di dalam gendong nya.


Beberapa menit kemudian akhirnya tiba giliran baby Jane yang namanya di panggil oleh bibik untuk maju kedepan.


"Buruan berdiri itu nama baby Jane di panggil." Setelah mendengar nama baby Jane di panggil maka Zainel berdiri dari tempat duduk nya.


"Hah, apa?" Tiba-tiba saja Tary merasa kursi yang dia duduk itu lengket seperti ada lemnya.


"Sekarang giliran baby Jane untuk imunisasi." Zainel berdiri di hadapan Tary, dia melihat Tary yang enggan untuk beranjak dari tempat duduk.


"Kalau begitu kamu saja sama baby Jane ke sana, biar aku di sini saja." Tary berdiri dari tempat duduknya, dia melepaskan baby Jane dari gendongannya lalu dia memberikan baby Jane kepada Zainel.


"Lah kok aku sih."


Baby Jane sudah berada di tangan Zainel langsung menangis.

__ADS_1


Hoek


Hoek


Hoek


Zainel menggendong baby sambil berusaha mendiamkan baby Jane yang sedang menangis.Semua orang yang berada di dalam balai warga menoleh ke arah baby Jane yang sedang menagis dalam gendongan Zainel.


"Baby Jane tidak mau di gendong sama PaMud."


"Tar cepat gendong baby Jane."


"Kalau Tar tidak mengendong baby Jane maka dia tidak akan berhenti menangis."


"Nih." Zainel menyerahkan baby Jane ke tangan Tary.


"Baby Jane sayang jangan nangis ini tante Ry." Tary mengendong baby Jane sambil berbicara kepada baby Jane, setelah itu baby Jane berhenti menangis.


"Tar bawak ke sini baby Jane." Bibik menyuruh Tary membawak baby Jane ke depan.


"Iya bibik." Dengan terpaksa dan berat hati Tary membawa baby Jane kedepan lalu di susul. oleh Zainel yang ikut kedepan.


"Berapa umur nya Tar?"


"Gak tahu bibik." Tary duduk sudah berdiri di depan meja bibik.


"Coba sini bibik lihat baby Jane."


"Jadi beberapa bulan umur baby Jane bibik?" Setelah melihat baby Jane berada di tangan bibik, Zainel yang penasaran langsung bertanya kepada bibik.


"Kira-kira dua bulan."Bibik memeriksa baby Jane yang berada dalam gendongannya.


Hoek


Hoek


Hoek


"Sudah sudah jangan nangis lagi ini tante Ry." Mendengar baby Jane kembali menangis Tary mengambil baby Jane dari gendongan bibik.


Tary berhasil menghentikan tangisan baby Jane, beberapa ibuk-ibuk yang berada di dalam balai mengatakan bahwa Tary cocok menjadi mama baby Jane.


"Tidurkan baby Jane di dalam timbangan itu Tar." Bibik menyuruh Tary meletakkan baby Jane di atas timbangan bayi.


"Baiklah bibik, berapa berat baby Jane bik?" Tary menidurkan baby Jane di atas timbangan bayi.


"Bb 4,7 kg dan Tb 54 cm, Tar angkat lagi baby Jane."


"Iya bibik." Tary menangkat baby Jane, setelah itu dia mengendong baby Jane.


Bibik diri dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke arah Tary sambil membawa jarum suntik.

__ADS_1


"Tar duduk, gulung lengan baju baby Jane." Bibik sudah berdiri dihadapan Tary, lalu dia menyuruh Tary untuk duduk dan mengulung lengan baju bayi Jane.


"Buat apa bibik?" Tary duduk sambil mengendong baby Jane.


"Buat di imunisasi." Bibik menujukkan jarum suntik kepada Ry.


"Apa gak ada jarum lebih kecil lagi buat nyutik bayi?" Wajah Tary berubah menjadi pucat pasi melihat jarum suntik yang di pegang oleh bibik.


"Apa kamu takut jarum suntik?" Zainel memperhatikan wajah Tary yang berubah menjadi pucat pasi saat melihat jarum suntik yang berada di tangan bibik.


"Tar itu takut dengan jarum suntik. Cepat gulung lengan baju baby Jane." Bibik mendesak mereka untuk segera mengulung lengan baju baby Jane.


"Iya bibik." Zainel mengulung baju lengan baby Jane.


Baby Jane yang mau di suntik tapi Tary yang merasakan ketakutan di suntik.


"Kamu itu mirip sama mom aku takut dengan jarum suntik. Kamu gak usah takut ada aku." Seketika Zainel teringat oleh mommy yang takut jarum suntik seperti Tary, Zainel mencoba menenangkan Tary dengan memegang tangan Tary. Dia mengelus punggung tangan Tary agar rasa takut Tary berkurang.


"Bibik mau ngapain itu?" Tary melihat bibik sedang mongeleskan kapas di lengan baby Jane.


"Imunisasi baby Jane."Bibik hendak menyuntik baby Jane.


"Tunggu dulu bibik aku takut." Melihat jarum suntik hendak menusuk lengan baby Jane Tary merasa takut.


"Kamu jangan lihat kalau takut." Bibik menyuruh Tary untuk tidak melihat bibik.


"Terus aku lihat apa?"


"Kamu lihat saja aku." Zainel menyuruh Tary untuk melihat wajahnya.


"Bibik setuju lebih baik pandang wajah dia yang ganteng itu mirip oppa korea kesukaan Tar."


Tary menoleh ke arah Zainel, dia menatap wajah Zainel. Zainel juga melakukan hal yang sama seperti Tary. Sehingga mereka beradu pandang dalam hitungan detik lalu setelah itu Zainel mengalihkan pandangan menuju ke arah baby Jane.


Zainel melihat jarum suntik menusuk bagian lengan baby Jane, baby Jane sama sekali tidak menagis.


"Anak pintar." Bibik mencabut jarum suntik dari lengan baby Jane.


"Bibik udah belum?" Tary tidak berani menoleh ke arah baby Jane. Dia masih memandangi wajah Zainel.


"Zainel ganteng ya Tar?"


"Iya Bibik."


"Apa kamu menyukai Zainel?"


"Ah, bibik kenapa nanyanya seperti itu?"


"Sepertinya kalau bibik lihat-lihat kalian itu____."


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2