PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Dikira Suami Istri


__ADS_3

"Jika pada akhirnya aku tidak bisa memilikimu setidaknya aku pernah ada menemani mu."


...➳➳➳➳➳➳➳ Zainel ➳➳➳➳➳➳➳...


"Sudah sembuh, apa kita bisa pulang sekarang?"


"Apa kamu yakin mau pulang?"


"Yakin, aku udah gak betah lama-lama tinggal di disini." Tary berbicara sambil berbisik kepada Zainel.


"Kenapa kamu gak betah tinggal di sini?"


"Nantik aku ceritakan tapi tidak di sini.Yang terpenting sekarang kita harus keluar dari rumah ini.


"Memang nya om dan bibik kamu akan mengizinkan kita pulang kerumah?"


"Belum tahu sih, tapi ayo kita coba bicara sama mereka dulu!"


Setelah melewati perdebatan yang panjang dan alot antara bibik dan Tary, akhirnya bibik memberikan izin kepada mereka untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Terimakasih bibik." Tary merasa gembira karena di perbolehkan pulang ke rumahnya sehingga dia menghamburkan pelukan kepada bibik.


"Sama-sama, ingat kalian pulang kerumah masing-masing. Awas aja kalau sampai kalian kegerbek tinggal serumah akan bibik gundulin rambut kalian terus di arak-arak keliling komplek perumahan." Ancaman bibik.


"Amit amit deh bibik." Tary bergedik ngeri membayangkan ucapan bibik.


"Saya berjanji insyaallah itu tidak akan terjadi bibik." Zainel menyakinkan bibik dengan cara mengucapakan janji kepada bibik.


"Ingat laki-laki itu yang di pegang omongan nya dan janjinya."


"Saya paham bibik."


Zainel sudah berada di atas motor Tary sementara Tary sambil mengendong baby Jane masih berada di teras rumah bibik bersama dengan bibik dan Ulfa.


"Bibik aku pulang dulu ya." Tary menyalim punggung tangan baby Jane.


"Tar kalau ngurus baby Jane itu benar-benar jangan sampai dia jatuh atau kenapa-kenapa. Kalau baby Jane sakit segera bawa kesini, selain itu kalau ada yang tidak kamu ketahui tentang cara mengasuh bayi silakan bertanya kepada bibik jangn sungkan-sungkan untuk menghubungi bibik." Bibik memberikan nasehat kepada Tary.


"Baiklah bik, maaf ya kami sudah merepotkan bibik."


"Bibik tidak merasa di repotkan sama sekali, malah bibik merasa senang karena kehadiran kalian rumah bibik jadi terasa ramai. Sering-sering lah kalian kesini main kerumah bibik."


"Insyaallah bik."


"Mbak Tar, apa aku boleh cium dekbay?" Ulfa mendongak kepalanya melihat ke arah Tary.


"Boleh." Tary menurunkan gendongan baby Jane supaya Ulfa bisa mencium .

__ADS_1


"Cup cup cup." Ulfa menghujani wajah baby Jane dengan ciuman.


"Dek sudah jangan di cium lagi baby Jane nantik nangis." Bibik menghentikan baby Jane yang di hujani ciuman oleh Ulfa.


"Iya mama." Ulfa berhenti menghujani ciuman kepada baby Jane.


"Cup, ini buat baby Jane." Bibik mengecup pipi gembul baby Jane, lalu bibik meletakkan sesuatu di tangan baby Jane.


"Bibik ngasih apa buat baby Jane?" Tary melihat bibik meletakkan sesuatu di tangan baby Jane.


"Buat beli susu baby Jane."


"Gak usah bik, uang aku dan Zainel ada untuk beli susu baby Jane." Tary mengambil uang yang berada di tangan baby Jane, Tary hendak mengembalikan uang tersebut kepada bibik.


"Bibik ngasih buat baby Jane, harus di Terima kalau tidak di Terima bibik marah." Bibik tidak menerima penolakan dari Tary, bibik memaksa Tary untuk menerima uang pemberiannya dengan cara mengancam Tary.


"Baiklah bik, aku Terima.Terimakasih bibik." Dengan terpaksa Tary menerima uang pemberian bibik.


Tary sudah berada di atas motor yang di kendarai oleh Zainel. Zainel mengendarai motor milik Tary dengan kecepatan standar, Zainel menoleh kearah kaca spion motor melihat Tary yang berada di jok belakang sambil mengendong baby Jane. Zainel merasa aneh karena dari tadi Tary dan baby Jane sama sekali tidak mengeluarkan suara.


"Stoooop." Tary meneriaki Zainel untuk menghentikan kendaraannya.


Zainel yang terkejut mendengar teriakan dari Tary lalu di reflek menarik rem tangan motornya sehingga menimbulkan suara bunyi.


Ciiiiittt............... Ciiiiittt


"Hem, itu____." Tary merasa malu untuk mengatakan itu kepada Zainel.


"Itu apa?" Zainel membalikkan badan, dia berbicara sambil menatap wajah Tary.


"Aku lapar, kita makan dulu ya sebelum pulang." Tary tersenyum cengengesan kepada Zainel.


"Baiklah, kamu mau makan apa?"


"Bakso."


"Kamu mau makan bakso yang dimana?" Zainel merasa legah karena Tary menyebutkan makanan yang ingin dia makan. Biasanya cewek itu ribet kalau di ajak makan pasti jawabannya terserah tetapi berbeda dengan Tary, dia akan mengatakan keinginan tentang yang ingin dia makan maka nya aku menyukai dia karena cewek yang berbeda dari yang lain batin Zainel.


"Gimana kalau yang di simpang perumahan aja?" Tary berbicara sambil menatap wajah Zaine.


"Aku mah cuma supir ngikut aja."


"Bukan supir mah kamu tapi ____."


"Tapi apa?"


"Abang Ojol, hehehe." Tary tersenyum sambil berbicara.

__ADS_1


"Aku abang Ojol nya Ry."


"Hah Ry." Tary terkejut saat Zainel memanggilnya dengan nama Ry.


"Kenapa? kamu gak suka aku panggil dengan sebutan Ry." Zainel memperhatikan wajah Tary yang berubah menjadi terkejut saat dia memanggil Tary dengan sebutan Ry.


"Aku suka, dulu waktu SMK aku di panggil dengan sebutan Ry oleh teman-teman sekelas aku." Tary berbicara sambil tersenyum mengingat kenangan waktu SMK dulu teman-teman sekelasnya memanggilnya dengan sebutan Ry.


"Tapi kenapa di komplek perumahan semua warga memanggil kamu dengan sebutan Tar?"


"Oh itu karena aku manis seperti kue Tar." Tary berbicara sambil tersenyum manis kepada Zainel.


"Heleh, mana ada kamu manis seperti kue Tar."


"Aku manis lihat baik-baik." Tary memajukan wajahnya agar dekat dengan wajah Zainel.


"Eh kamu mau ngapain?" Zainel terkejut saat mendapati wajah Tary yang mendekati ke arahnya.


"Biar kamu bisa lihat wajah aku dari dekat." Tary semakin menipiskan jarak di antara wajah mereka.


"Gak perlu." Zainel mulai merasa takut saat mendapati wajah Tary sudah dekat dengan wajahnya.


"Ya perlulah, aku manis kan?" Tary berbicara sambil tersenyum ke arah Zainel.


"Gak ada manis-manisnya." Zainel dapat menghirup aroma parfum Tary, Zainel merasa tidak kuat kalau harus berlama-lama dengan posisi seperti itu sehingga Zainel membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Kenapa kamu membuang wajah?" Tary melihat Zainel membuang wajahnya.


Zainel tidak menanggapi ucapan Tary, Zainel membalikkan badan menghadap ke arah depan dia menyalakan motor. Setelah motor menyala Zainel mengendarai motor, dia mengendarai motor dengan kecepatan standar.


Mereka sudah tiba di warung bakso Tary berjalan sambil mengendong baby Jane masuk kedalam warung bakso.


"Pakde bakso jumbo satu dan es jeruknya satu." Tary sudah berada di dalam warung bakso.


"Mbak Tar udah lama tidak kelihatan ternyata udah menikah sama mas Leo." Pemilik warung bakso langganan Tary melihat Tary sedang mengendong bayi.


"Kami udah lama putus pakde."


"Lah terus mbak Tar nikah sama siapa?"


"Udah pesan Ry?" Zainel masuk ke dalam warung bakso, dia menghampiri Tary yang sedang mengobrol dengan pemilik warung bakso.


"Wah, ternyata ini suami mbak Tar. Mas nya cocok sama mbak Tar, ganteng dan cantik pantas saja anaknya cantik terus mirip kalian berdua. Mas dan mbak nya pasangan serasai." Pakde pemilik warung bakso terus saja berbicara.



...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2