PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Tertidur Di Sofa


__ADS_3

"Jadi perempuan harus punya harga diri jangan mengejar jika tidak dicari karena kodratnya wanita dikejar bukan mengejar. Jangan berjuang jika sudah dibuang, harus kuat jangan rapuh nanti mahkotamu jatuh."


Mereka melihat ke arah sumber suara bariton yang berada di ruangan tamu.


"Kamu sudah bangun." Tary terkejut saat mendapati Zainel sudah bangun dari tidur nya.


"Sudah." Zainel berbicara sambil menatap ke arah Tary sehingga mata mereka saling bertemu.


"Mas tolongin aku, telinga aku di jewer sama mbak Tar." Ulfa berbicara dengan Zainel dengan wajah yang memelas.


"Lepasin telinga dia." Zainel menyuruh Tary untuk melepaskan tangannya dari telinga Ulfa.


"Iya iya iya, aku lepasin nih." Tary melepaskan tangannya dari telinga Ulfa.


"Uh akhir lepas juga tangan mbak Tar dari telinga aku. Terimakasih mas." Ulfa mengusap telinga yang sakit bekas di jewer Tary.


"Kembali kasih, ini masih malam sebaik Ulfa kembali ke kamar lalu tidur lagi besok harus sekolah."


"Iya mas, aku ke kamar dulu." Setelah mengatakan itu Ulfa berjalan pergi meninggalkan ruangan tamu.


"Kamu kenapa masih berdiri di situ?"


"Lah terus aku harus kemana?" Tary terlihat bingung dengan ucapan Zainel.


"Ya sana balik ke kamar Ulfa." Zainel berdiri dari sofa dengan baby Jane yang berada dalam gendongannya.


"Lah terus baby Jane gimana?"


"Baby Jane biar tidur sama aku di kamar tamu."


"Jangan biar baby Jane tidur sama aku." Tary mencoba merebut baby Jane dari gendong Zainel.


"Tidak usah baby Jane akan bersama aku. Aku gak mau kejadian kayak tadi baby Jane sudah nangis lama tapi kamu tidak bangun untung tadi aku kebangun mendengar tangisan baby Jane." Zainel menepis tangan Tary yang ingin menggendong baby Jane.


"Masak sih baby Jane nangis, tapi kenapa aku gak dengar?" Tary meragukan ucapan Zainel.


"Gimana kamu mau dengar? kamu aja tidur kayak kebo."


"Enak aja kamu ngatain aku tidur kayak kebo." Tary tidak terima di katain tidur kayak kebo.


"Memang kenyataan kayak gitu." Zainel berbicara tanpa merasa bersalah.


"Kamu benar-benar ngeselin, rasakan ini." Tary mencubit perut Zainel.

__ADS_1


"Aduh, udah dong cubit-cubitannya aku lagi gendong baby Jane takut entar jatuh." Zainel meminta Tary untuk berhenti mencubit perutnya.


Hoek


Hoek


Hoek


"Nah lihat gara-gara kamu baby Jane terbangun dari tidurnya." Zainel melihat baby Jane yang berada di gendongannya sudah terbangun.


"Maka nya sini biar aku gendong." Tary mengambil baby Jane dari gendong Zainel.


Kuruyuk............. Kuruyuk


Terdengar suara ayam jago berbunyi menandai hari sudah pagi, rumah om Diko yang letaknya jauh dari mesjid sehingga suara adzan tidak terdengar sampai ke rumah om Diko berbeda dengan rumah Tary yang berdekatan dengan mesjid sehingga suara adzan terdengar.


Om Diko terbangun terlebih dahulu dari tidurnya lalu dia membangunkan istrinya. Setelah istrinya terbangun mereka mandi bersama-sama di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar. Mereka melaksanakan shalat shubuh berjamaah di dalam kamar.


Setelah selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah mereka berjalan keluar dari kamar.


"Papa bangun Ulfa dan Tar suruh shalat, mama mau kedapur masak buat sarapan dulu." Bibik berjalan kedapur.


"Iya mama." Om Dikin berjalan ke arah kamar Ulfa.


"Tidak di kunci, sebaiknya aku masuk." Om Diko membuka pintu kamar Ulfa.


Ceklek........ Ceklek


"Dek, Tar bangun." Om Diko berjalan melewati pintu kamar, Om Diko sudah berada di dalam kamar. Dia melihat ke arah tempat tidur hanya ada Ulfa yang tertidur sendirian.


"Dek dek dek bangun." Om Diko sudah berada di pinggir tempat tidur, dia memegang menggoyang lengan Ulfa.


"Iya papa." Ulfa membuka kedua matanya secara berlahan-lahan.


"Mbak Tar mana?"


"Hah, gak tahu papa." Ulfa bangun dari tidurnya melihat ke arah sampingnya ternyata kosong.


"Jangan jangan." Om Diko segera berjalan keluar dari kamar.


"Jangan apa papa?" Ulfa turun dari tempat tidur lalu dia menyusul Om Diko.


Om Diko sudah berada di depan kamar tamu, om Diko langsung membuka pintu kamar tamu tanpa mengetuk pintu. Setelah pintu kamar tamu terbuka om Diko berjalan masuk ke dalam kamar. Saat om Diko berada di dalam kamar tamu, dia melihat ke arah tempat tidur ternyata kosong.

__ADS_1


"Papa ngapain kesini?" Ulfa berjalan masuk ke dalam kamar tamu, Ulfa sudah berdiri di belakang papa.


"Cari mbak Tar, Zainel juga tidak ada di dalam kamar tamu. Kemana mereka pergi?"


"Sepertinya aku tahu, ayo ikut aku papa!" Ulfa menarik tangan om Diko.


"Kita mau kemana?"


"Sudah papa gak usah banyak tanya, ikut aku aja."


"Baiklah." Om Diko berjalan sambil mengikuti Ulfa.


"Nah itu mereka papa."Mereka sudah tiba di ruangan tamu, Ulfa melepaskan gandengan tangannya lalu dia menujuk ke arah sofa ruangan tamu.


Om Diko melihat ke arah sofa yang berada di ruangan tamu. Terlihat Tary yang tertidur dengan posisi duduk di atas sofa sambil mengendong bayi Jane sedangkan kepala Tary bersandar di bahu Zainel yang tertidur dengan posisi yang sama seperti Tary.


"Uhuk Uhuk."Om Diko sengaja batuk.


Zainel mendengar suara batuk membuka kedua matanya. Ketika mata Zainel sudah terbuka dia melihat Om Diko dan Ulfa yang sedang melihat ke arah.


"Om, Ulfa. Tary bangun itu ada om Diko dan Ulfa." Zainel mengeserkan kepala Tary dari bahunya,


"Aku masih ngatuk lima menit lagi." Tary enggan membuka matanya, dia menyandarkan kepalanya kembali di bahu Zainel.


"Tar bangun sekarang atau om nikah kamu sama Zainel." Om berbicara dengan suara yang lantang.


"Aku udah bangun om." Mendengar suara om yang berbicara dengan lancang di sertai ancam Tary langsung membuka kedua matanya.


"Kalian ngapain tiduran di sini?" Om berbicara menatap tajam ke arah Zainel dan Tary secara bergantian.


"Tadi malam baby Jane rewel makanya aku ketiduran di sini om." Tary berbicara sambil menatap mata om Diko.


"Apa benar begitu?" Om menatap Zainel.


"Benar om." Zainel menyakinkan om Diko.


Esokan Sore sepulang kerja Zainel mengendarai motor Tary ke arah rumah Om Diko. Motor yang di kendarai Zainel sudah berada di depan halaman rumah Om Diko. Setelah memakirkan motor Tary, Zainel turun dari motor.


"Assalamu'alaikum."Zaine berjalan ke arah rumah om Diko.


"Walaikumsalam, kamu sudah pulang." Tary sedang mengendong baby Jane di teras rumah om Diko, Dia menoleh ke arah halaman rumah om Diko.


"Sudah, gimana keadaan baby Jane?" Zainel sudah berdiri di hadapan Tary, dia menundukkan kepalanya melihat baby Jane dalam gendong Tary.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2