PaMud PaPa Muda

PaMud PaPa Muda
Tunggu Dulu Ry


__ADS_3

"Tujuh belas Agustus tahu empat lima, kitanya udah putus sayang nya masih ada."


Pak Ustadz menasehati Zainel untuk menjalin kembali hubungan tali silahturahmi dengan keluarga nya yang sudah terputus beberapa bulan yang lalu.


"Tapi abang ustadz." Zainel ragu untuk kembali menjalani hubungan tali silaturahmi dengan keluarganya, Daddy yang memutuskan hubungan tali silaturahmi antara Zainel dengan keluarga di karena Zainel ketahuan berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf.


"Sambung lah dan jangan putuskan tali silaturahmi. Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan ( yaitu hubungan tali silaturahmi) HR. BUKHARI."


"Kan bukan saya yang memutuskan hubungan tali silaturahmi itu abang Ustadz."


"Iya saya paham, tapi kamu harus menyambung kembali hubungan tali silaturahmi itu, bagaimana pun keadaannya mereka itu tetap keluarga kamu. Ingat Zai darah itu lebih kental dari pada air." Pak Ustadz menasehati Zainel.


"Semua yang abang ucapkan itu memang benar, bahkan kita yang tidak punya hubungan darah sama sekali sudah seperti saudara."


"Kalau kamu anggap abang saudara maka kamu lakukan yang abang minta."


"Abang ustadz mau minta apa dari aku?"


"Kamu menyambung kembali hubungan tali silaturahmi dengan keluarga kamu, apa kamu mau?" Pak Ustadz berbicara sambil menatap wajah Zainel.


"Insyallah akan saya coba abang."


"Alhamdulillah kalau kamu mau, bagaimana dengan pekerjaan kamu?"


"Ada berita baik baik yang ingin saya sampaikan kepada abang ustadz."


"Apa itu?"


"Saya naik jabatan abang."


"Kamu naik jabatan sebagai apa?"


"Asisten manager."Zainel berbicara dengan wajah yang sumeringah.


"Alhamdulillah, akhirnya usaha dan kerja keras kamu membawa hasil sehingga kamu naik jabatan." Pak Ustadz merasa bahagia mendengar Zainel naik jabatan, sehingga bibir pak ustadz membuat lengkungan garis yaitu senyuman.


"Terimakasih, ini juga berkat abang ustadz yang sudah memasukkan saya bekerja di sana sehingga saya punya perkerjaan dan sekarang saya di percaya menjadi asisten manager.


"Sama-sama, berarti kamu jadi asisten pak Doni."


"Tidak abang ustadz."


"Jadi manager kamu sekarang siapa?" Pak Ustadz merasa penasaran dengan manager Zainel yang sekarang sehingga dia langsung bertanya kepada Zainel.


"Ibuk Fitri Yani."


"Lalu pak Doni kemana?"


"Pak Doni pindah ke kota P abang Ustadz."


"Apa sudah lama Pak Doni pindah kerjanya?"


"Kira-kira dua bulan lalu abang Ustadz.


"Pasti karyawan hotel S merasa senang, karena pengganti pak Doni itu seorang perempuan."


"Tidak juga abang Ustadz."


"Kalau kamu bagaimana?"


"Aku lebih senang pak Doni dari pada ibuk Fitri."


"Kenapa?"


"Kalau pak Doni kerja profesional sedangkan ibuk Fitri tidak profesional kerjanya."

__ADS_1


"Tidak profesional bagaimana?"


"Dia merubah peraturan sesuka hatinya tanpa musyawarah dulu sama semua karyawan.Salah satu aturan baru nya saat jam istirahat makan siang kami tidak boleh pulang kerumah, kami harus makan di hotel."


"Berarti sekarang makan siang kamu di tanggung oleh hotel S."


"Tidak, seperti itu abang ustadz."


"Jadi bagaimana?"


"Makan siang karyawan tidak di tanggung hotel S."


"Terus bagaimana kamu makan siang?"


"Setiap makan siang dia mengajak saya abang Ustadz."


"Pasti kamu gak nolakkan kan makan gratis sama perempuan cantik."


"Huft, mau nolak juga gak bisa.Kalau nolak bakal di ancam sama dia, jadi mau gak mau saya harus makan siang bareng dia." Zainel menarik nafas terlebih dahulu sebelum bercerita kepada pak ustadz.


"Prinsib di lingkungan tempat kerja itu cuma ada dua aturan, aturan pertama bos tidak pernah salah kalau bos salah maka kembali ke peraturan pertama itu lah aturan nomor dua di perusahaan."


Fitri sedang duduk bersama Mia di salah satu food court yang berada di dalam mall di kota D.


"Apa kamu sudah menjalankan rencana aku?"


"Sudah." Fitri berbicara dengan wajah datar.


"Apa dia menolak jadi asisten kamu?" Melihat raut wajah Fitri yang datar Mia menebak kalau gebetan Fitri menolak menjadi asisten Fitri.


"Tidak."


"Berarti di Terima dong."


"Apa kamu lagi sakit gigi?" Mia terus saja memperhatikan Fitri yang sedang duduk di kursi yang berada di hadapan nya.


"Tidak."


"Kalau gitu kamu lagi sariawan ya?"


"Tidak juga, menang nya kenapa sih?" Fitri berbicara sambil menoleh ke arah Mia.


"Habis dari tadi aku tanya kamu jawaban nya sudah, Iya dan tidak. Kamu itu kenapa irit sekali bicaranya hari ini?"Mia menatap Fitri dengan tatapan penuh selidik.


"Aku lagi malas bicara aja."


"Hari ini kamu aneh, gak kayak biasanya."


"Memang aku biasanya gimana?"


"Asik di ajak ngobrol, ini gak asik."


"Apa ada lagi yang mau kami obrolin ke aku?"


"Gak ada, kenapa memang nya?"


"Kalau gitu aku pulang." Fitri berdiri dari kursinya.


"Kenapa kamu mau pulang?" Mia merasa heran biasanya Fitri tidak mau pulang kalau sudah bertemu dengan dirinya.


"Aku capek besok mau kerja." Setelah mengatakan itu Fitri berjalan pergi meninggalkan meja tersebut.


Setelah berpamitan kepada pak ustadz dan buk ustadz mereka berjalan pergi meninggalkan rumah pak Ustadz. Tary berjalan bersama-sama dengan Zainel yang sedang mengendong baby Jane di sisi kanan nya. Tary mempercepat langkah kakinya sehingga Zainel tertinggal di belakang nya.


"Ry tunggu." Zainel yang berjalan di belakang Tary sambil mengendong baby Jane.

__ADS_1


"Lah, kok di belakang." Tary berhenti berjalan lalu dia menoleh ke arah samping ternyata Zainel tidak ada lalu dia membalikkan badan. Dia melihat Zainel berjalan ke arahnya sambil mengendong baby Jane.


"Kamu itu kalau jalan pelan-pelan jangan kayak di kejar hantu gitu." Zainel sudah tiba di samping Tary.


"Ckckckck kamu aja tuh jalan nya lelet kayak kura-kura." Ejek Tary.


"Aku sengaja jalan lambat biar baby Jane gak kebangun Ry. "


"Iya juga ya." Tary membalikkan badan lalu dia berjalan beriringan dengan Zainel.


"Baby Jane tidur sama siapa?"


"Sama aku aja."


"Apa gak apa-apa baby Jane tidur sama kamu?"


"Ya gak apa-apa lah tadi malam juga baby tidur sama aku."


Mereka sudah tiba di depan pintu rumah Tary, Tary membuka kunci rumah lalu dia memegang knalpot pintu.


"Assalamu'alaikum." Ucapan Zainel


"Walaikumsalam." Ucapan Tary.


"Apa aku boleh masuk?"Zainel yang berdiri di samping Tary.


"Silahkan masuk Zaza." Tary membuka pintu rumahnya.


"Baby Jane mau di letakan dimana?" Zainel berjalan masuk kedalam rumah Tary.


"Kamar aku." Tary ikut berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Mereka sudah tiba di dalam kamar Tary, mereka berjalan mendekati tempat tidur Tary.


"Aku letakan baby Jane di atas kasur ya." Zainel sudah berada di pinggir tempat tidur.


"Tunggu dulu, aku bersihkan dulu kasurnya." Tary menepuk kasur.


"Gimana udah bersih?"


"Udah."


"Aku letakan baby Jane di kasur." Zainel merebahkan tubuh baby Jane di atas kasur. Zainel menarik selimut untuk menyelimuti tubuh baby Jane.


Selamat malam anak papa, tidur ya nyenyak sampai besok pagi. Mimpi papa dan mama ya sayang.


Zainel berbicara sambil memgelus pucuk kepala baby Jane. Baby Jane memeringkan tubuhnya.



Cup


Zainel mengecup pipi gembul baby Jane yang begitu gemas. Apalagi melihat baby Jane yang tertidur begitu pulas.


"Sudah jangan di cium terus baby Jane entar dia kebangun bisa begadang aku."


"Baiklah." Zainel berjalan keluar dari kamar Tary.


Zainel sudah berdiri di luar pintu rumah, Tary sudah memegang knalpot pintu hendak menutup pintu rumah.


"Tunggu dulu Ry." Zainel mencegah Tary menutup pintu rumahnya.


"Ada apa Zaza?" Tary melepaskan tangannya dari knalpot pintu.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2